Header

IBRAHIM, TAULADAN KERAMAHAN

November 6th, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel

IBRAHIM, TAULADAN KERAMAHAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةٗ قَانِتٗا لِّلَّهِ حَنِيفٗا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٢٠

Sungguh Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan) (QS. An Nahl [16]: 120).

            Artikel ini ditulis ketika bangsa Indonesia masih dalam suasana mensyukuri kemerdekaan, dan muslim Indonesia sebagai jamaah haji terbanyak di dunia sedang menyelesaikan rangkaian ibadah haji bersama jutaan muslim lainnya di Mekah. Inilah ibadah yang tahapannya merupakan warisan Nabi Ibrahim a.s, nabi yang disebut sebagai kekasih (khalilullah) Allah, dan bapak dari semua nabi. “Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya (QS. An Nisa’ [04]: 125).

Mengapa Nabi Ibrahim disebut sebagai kekasih Allah? Sebab, dialah satu-satunya nabi yang berpredikat hanif, artinya memiliki keimanan dan akhlak yang terpuji. Yaitu, pertama, ia berkepribadian labbaik, artinya tidak menunda sedetikpun perintah Allah, dan tidak selangkahpun diayunkan untuk melakukan larangan Allah. Ia berkhitan dengan kapak, bukan karena tidak ada pisau waktu itu, melainkan karena hanya kapak itulah yang ada di dekatnya. Ia tidak mau menunda sedetikpun melakukan perintah Allah hanya karena mencari ke sana kemari pisau atau alat potong lainnya. Inilah salah satu bukti konkrit kepribadian labbaik beliau.

Jika Anda muslim labbaik,  Anda pasti cepat bangkit dari duduk atau dari tidur untuk berangkat ke masjid ketika mendengar azan. Muslim labbaik selalu menaati aturan yang berlaku, dan tidak mengambil sedikitpun uang yang bukan haknya, meskipun tanpa diawasi. Semarak labbaikallahumma labbaik selama berhaji merupakan kampanye pembinaan muslim labbaik. Negara kita yang kaya raya ini akan cepat bangkit sebagai negara super power, jika dikelola oleh manusia-manusia labbaik.

Kedua, Nabi Ibrahim a.s selalu mengedepankan dialog, dan mendengar aspirasi dari bawah dalam membuat keputusan. Sebenarnya, ia bisa saja melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Ismail seketika. Tetapi, ia meminta pendapat terlebih dahulu kepada anaknya, anak yang berpuluh-puluh tahun dinantikan kehadirannya, tapi justru harus disembelihnya. Pada saat Ismail sedang sendirian bermain panah, Ibrahim memeluknya, lalu meminta pendapatnya tentang perintah penyembelihan tersebut (QS. As-Shaffat [37]: 102 dan Hud [11]: 71).

Mengapa banyak keputusan penting di negara kita gagal dalam implementasinya?. Ya, antara lain karena bersifat top down, tidak bottom up, atau tidak menyerap aspirasi masyarakat yang akan menjadi pelaku aturan tersebut.

Ketiga, Ibrahim menjadi contoh dalam “penyembelihan” kepemilikan, keakuan atau ego. Negara kita lambat kemajuannya, disebabkan sikap kenegarawanan para tokoh kita sangat rendah. Masing-masing orang mengedepankan ego golongan, partai atau kelompoknya, bukan menjadikan kepentingan nasional sebagai panglima.

Keempat, Nabi yang lahir di Irak itu juga terkenal paling ramah dan hormat dalam menyambut tamu. Oleh sebab itu, ia mendapat julukan abud dlaifan (tauladan penghormatan tamu), sebab ia selalu menyembelih hewan untuk suguhan terbaik para tamunya, tanpa memandang ia muslim atau tidak, atau sudah dikenalnya atau belum. Ketika ia kedatangan tamu para malaikat yang memberi kabar akan dikaruniai anak, ia memotong sapi besar dan menyuruh isterinya untuk membakarnya untuk suguhan tamu tersebut, tapi mereka tidak mau makan. Ia baru tahu bahwa mereka bukan manusia (QS. Adz Dzariyat [51]: 24-25).

Mengapa industri pariwisata Indonesia tidak bisa maksimal? Padahal tourisme termasuk sumber keuangan negara yang bisa dijadikan andalan. Arab Saudi akan tetap kaya bukan karena kekayaan alamnya semata, sebab ia bisa habis, akan tetapi kaya raya dari sumber “tourisme spiritual” yang selalu meningkat setiap tahun. Sejumlah duta besar kita berkali-kali mengeluh, “Kami beriklan milyaran rupiah untuk merangsang turis mengunjungi Indonesia. Tapi, iklan itu selalu gagal, sebab mereka kecewa, tidak mendapat perlakukan yang menyenangkan selama di Indonesia, mulai dari aparat yang tak bermoral di bandara, aparat pelayanan publik, dan tindakan kekerasan atau kriminal lainnya.”

Indonesia bisa bangkit ekonominya bermodal kekayaan alam yang luar biasa, jika aparat dan masyarakatnya berakhlak seperti yang dicontohkan abud dlayfan tersebut dalam menyambut para tamunya, tanpa memandang agama, etnis dan negara asalnya. Tidak hanya kekayaan alam yang kita miliki. Jutaan masjid dan pondok pesantren, atau tempat ibadah lain dengan segala keunikannya, serta toleransi komunitas kita terhadap penganut agama yang beraneka juga bisa dikemas menjadi objek wisata, sebagaimana telah dilakukan oleh beberapa negara. Mengapa turis dunia berbondong-bondong mengunjungi danau kecil Grand Bassin di Republik Mauritius, negara mungil di Afrika. Padahal danau itu seribu persen tidak lebih baik dari danau-danau Indonesia? Para turis itu berkomentar, “Ya, saya menyukai danau ini karena masyarakatnya lancar berbahasa Inggris dan Perancis, dan memberikan hot welcome and courtesy (sambutan hangat dan keramahan).”

Industri pariwisata tidak bisa hanya bermodal keindahan alam, fasilitas lengkap maupun harga akomodasi yang ditawarkan, namun juga harus dengan sambutan yang ramah dari penduduk lokal, terutama kepada wisatawan asing. World Economic Forum membuat laporan tahunan yang memuat data kasar dari sejumlah survey yang terdiri dari sejumlah variabel, yang diantaranya adalah tingkat keterbukaan dan keramahan yang ditunjukkan masyarakat pribumi terhadap wisatawan asing. Dalam laporan itu disebutkan sepuluh negara yang sukses industri pariwisatanya karena keramahan penduduknya dengan skor masing-masing, yaitu Eslandia (6,8), Selandia Baru (6,8), Maroko (6,7), Macedonia (6,7), Austria (6,7), Senegal (6,7),  Portugal (6,6), Bosnia dan Herzegovina (6,6), Irlandia (6,6), dan Burkina Faso (6,6).

Kita bersyukur negara kita tidak termasuk sepuluh negara yang paling tidak ramah terhadap para tamu turisnya, yaitu Bolivia (4,1), Venezuela (4,5), Rusia (5,0), Kuwait (5,2), Latvia (5,2), Iran (5,2), Pakistan (5,3), Slowakia (5,5), Bulgaria (5,5), Mongolia (5,5). Indonesia selamat dari peringkat negatif ini dengan skor 5,8.

Saatnya, Indonesia bangkit dengan kekayaan alam dan keramahan terhadap tamu, sebagaimana ditcontohkan Nabi Ibrahim a.s, bapak kita.

Sumber: Muhammad Ali As-Shobuni, An-Nubuwwah Wal-Anbiya’, terj. Muslich shabir, Cahaya  Indah, Semarang, 1994: 220-249.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *