Header

ISTRI KAYU PUTIH

May 13th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel

ISTRI KAYU PUTIH

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Sebelum membaca artikel ini, saya mengingatkan, “Jika Anda suami yang mudah tersinggung, Anda dilarang keras membaca artikel ini”. April 2013 yang lalu, dua anak saya: ketiga dan keempat ingin umrah dengan melintasi beberapa negara. Lalu saya putuskan mengikuti Travel umrah profesional Nurul Hayat Surabaya.  “Asyik sekali,” kata mereka berdua ketika naik bus dari Singapore ke Malaysia. Dalam hati saya, “Asyik bagi anak muda. Tapi bagi lansia yang bertongkat dan beroda tentu bukan mengasyikkan, tapi  melelahkan, karena harus naik turun membawa kopor besar.” Anehnya, saya tidak melihat tanda kesal pada wajah para lansia itu. Luar biasa. Setiap menghadapi  kesulitan dan kelelahan, mereka selalu berpikir positif, “Siapapun yang umrah menuju Baitullah pasti diuji dengan berbagai macam cobaan.”

Dalam pesawat Saudi Airlines dari Johor menuju Jedah itulah saya memperoleh pengalaman amat berharga. Saya ditakdirkan Allah duduk di barisan kursi tengah, bersebelahan dengan sepasang suami istri yang sama-sama berusia diatas 60-an tahun. Inilah pengalaman terlama saya mencium bau minyak kayu putih: 8 jam lebih. “Mama, tolong gosok yang ini. Terasa masuk angin,” kata sang suami sambil menunjuk punggung kanan di bawah pundaknya.  Istri yang setia itu lalu mengosoknya pelan-pelan. Tidak lama kemudian, ia meminta lagi, “Mama, ganti gosok leher saya, saya terasa mau muntah” Istri tetap melayani permintaan sang suami dengan ikhlas.

Beberapa menit kemudian saya tertidur, karena lelah melintasi dua negara melalui darat sebelumnya. Ketika terbangun, bau minyak kayu putih ternyata masih menyengat, karena si istri masih melanjutkan menggosokkan minyak itu. Semula di punggung dan di leher,  sekarang ganti di bagian kaki. “Ya itu mama, tekan agak keras sedikit,” pinta sang suami sambil menyelonjorkan kakinya di pangkuan istri. Menjalang turun di Jedah, saya masih melihat istri memegang botol minyak kayu putih di tangan kiri dan tangan kanan memegang kaki sang suami. Saya tidak tahu apakah selama dalam perjalanan delapan jam itu tiada menit tanpa gosokan minyak atau hanya beberapa jam. Yang pasti bagi saya, minyak itu menjadi saksi bakti istri kepada suami. Luar biasa, saya yakin dialah yang termasuk reward Nabi SAW, “Siapapun wanita yang meninggal, dan suaminya sedang bersuka hati atas kesetiaannya, ia dijamin masuk surga.”

Masih banyak istri yang menunjukkan kesetian seribu persen untuk suami. Anda mungkin pernah melihat istri yang tidak tidur semalam karena sibuk menyiapkan segala sesuatu keperluan suami yang akan pergi agak lama ke luar kota. Ia ingin suaminya menikmati perjalanan jauhnya. Sedangkan sang suami- mungkin Anda sendiri – tidur dengan pulas.  Anda juga pernah melihat istri yang berlari-lari mengejar suami yang akan memasuki mobilnya hanya karena dasi yang dipakai kurang tepat pemasangannya. Ketika Anda tertawa riang di tempat kerja, istri Anda di rumah justru sedang mengompres anaknya dengan cemas karena panas badannya tidak menurun. Pengabdian istri lebih-lebih dapat Anda lihat pada bulan suci Ramadlan. Pagi hari dimulai dengan pertanyaan, “Makanan apa lagi yang paling disukai suami untuk berbuka puasa?” Mereka juga tidak bisa tidur nyenyak karena takut terlambat bangun untuk menyiapkan sahur sang suami. Ketika suami bangun semua makanan sudah tersaji dengan hangat di meja makan.

Setelah melihat fenomena itu, terlintas dua pertanyaan besar di benak saya. “Bagaimana seharusnya para suami membalas kebaikan para istri mulia itu?” “Apakah dalam Islam, suami diijinkan meminta pelayanan seperti itu?” Di tengah mencari jawab itu, saya mendapat telpon dari ibu setengah baya dengan suara yang terisak-isak, “Pak tolonglah saya. Doakan saya tetap sabar menghadapi suami yang semalam menghajar saya, sampai darah mengucur dari hidung. Ia memaksa saya memberi ijin untuk menikah dengan wanita lacur pilihannya.” Saya kenal betul siapa wanita itu. Secara lahiriyah, saya tahu benar kesetiaannya kepada suami, dan pengabdiannya seperti budak melayani majikannya. Ia selalu membawa tissue harum untuk mengusap keringat di kening suami atau membersihkan sisa makanan di ujung kedua mulut setelah makan siang.

Karena adanya telpon itu, saya akhirnya membatalkan mencari jawaban dua pertanyaan di atas. Lebih baik saya membuat kesimpulan sementara saja, atau mengambil pelajaran dari fenomena di atas. Bahwa “Kepastian susu dibalas susu hanyalah rumus akhirat.” Sedangkan rumus dunia tidak selalu demikian. Tidak jarang kita menyaksikan atau bahkan merasakan sendiri dalam pengalaman hidup,  “Susu; jelas-jelas susu dibalas dengan air toba”. Saya benar-benar belum konsentrasi mencari jawaban pertanyaan di atas. Mungkin pada waktu lain, saya baru bisa menyuguhkan jawaban atas dua pertanyaan di atas ketika kegalauan saya melihat fenomena itu sudah hilang.  Saya tutup saja artikel ini dengan pesan penting untuk diri sendiri dan orang lain yang memiliki kepekaaan kemanusiaan, bahwa apapun alasannya, perlakuan yang bertentangan dengan martabat dan kemuliaan wanita harus dihentikan. Suami yang minta serba dilayani oleh istri sampai hal-hal yang sekecil-kecilnya adalah bentuk pelecehan kepada istri. Istri yang dititipkan orang tuanya kepada Anda tidak boleh diperlakukan seperti pembantu. Ia adalah belahan jiwa.  Jika perlakuan tidak manusiawi itu dipelihara, maka kita telah menyuburkan “perbudakan” baru di rumah tangga. Ketika Anda mengutuk perbudakan buruh di Tangerang, maukah Anda mengutuk perbudakan di rumah tangga?. Pesan penting Al Qur’an  (QS. An-Nisa’ ayat 19) harus kita perhatikan, bahwa setiap suami harus memperlakukan istrinya dengan makruf: menjaga martabat dan kehormatannya dan mengembangkan senyum untuknya. Al Aswad bertanya kepada Aisyah, istri Nabi SAW, “Bagaimanakah kehidupan Rasulullah di rumah?” Aisyah menjawab, “Ia selalu membantu semua pekerjaan rumah tangga. Dan ketika terdengar suara adzan, dia segera meninggalkan semua pekerjaan untuk segera shalat.“ (HR Bukhari).

Anda wajib bersyukur jika istri Anda memiliki cinta, kesetiaan dan semangat pelayanan seperti istri kayu putih di atas. Tapi, biarlah itu tumbuh dari dirinya sendiri, bukan atas permintaan atau “instruksi” Anda. Itupun Anda seharusnya menolak perlakuan yang berlebihan itu. Jika Anda bisa mengaduk kopi sendiri, mengapa harus istri yang Anda minta melakukannya? Ketika tangan Anda masih sehat, mengapa harus istri yang Anda suruh mengambilkan sepatu. Anda harus berkompetisi untuk saling melayani, bukan meminta dilayani. Itulah penghormatan martabat oleh dan untuk suami istri. Jika kompetisi itu yang kedepankan, dijamin seratus persen ketegangan suami istri bisa berkurangi secara drastis. Frekwensi amarah suami istri juga bisa dikurangi, bahkan bisa dieliminir sama sekali. Silakan memulainya.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

62 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *