Header

JIHAD MENUJU MAKRIFAT

April 30th, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel

JIHAD MENUJU MAKRIFAT
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/83/Wind_turbine_dawn.JPG

sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/83/Wind_turbine_dawn.JPG

”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami, dan sungguh Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Ankabut[29]:69)

Ayat diatas adalah salah satu dari ayat-ayat tentang jihad, tapi bukan jihad dengan samurai atau bom, seperti yang diartikan secara sempit oleh sebagian orang. Melalui ayat penutup surat Al Ankabut yang turun di Mekah ini, Allah memberi jaminan petunjuk bagi siapapun yang melakukan jihad (bekerjakeras) untuk mencari kebenaran. Ayat ini merupakan kelanjutan ayat sebelumnya tentang murka Allah kepada orang-orang yang mengabaikan perintah Rasul, padahal utusan Allah itu telah menyampaikan ajaran kitab suci dengan jelas dan terang. Mereka tidak bisa menangkap cahaya kebanaran karena tidak berusaha dengan sungguh-sungguh (jihad) untuk mencarinya.

Beberapa ahli tafsir memberikan penafsiran yang beragam tentang ayat di atas. Menurut Al Alusi dalam TafsirRuhul Ma’ani, maksud ayat di atas adalah, ”Siapapun yang berjihad dalam mencari ridla Allah, akan diberi tambahan petunjuk dan kemudahan untuk sampai kepada-Nya.” Ibnu Abbas dalam Tanwirul Miqbas memberikan tafsir bahwa, ”Siapaun yang berjihad untuk taat kepada Allah sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki, ia akan diberi tambahan petunjuk dan pengetahuan baru untuk bisa meningkatkan ketaatannya kepada Allah. Allah Maha Menolong orang yang berusaha meningkatkan kebajikan dalam tutur dan tindakannya.” Menurut Hamka dalamTafsir Al Azhar, ayat di atas merupakan jaminan petunjuk bagi siapapun yang menyediakan dirinya menempuh jalan Allah. Tujuan mereka hanya satu, yaitu Allah dan tekadnya telah bulat, yaitu ridla Allah. Ia berjihad: mendaki bukit betapapun tingginya, menyeberangi laut berapapun luasnya, dan mengurbankan harta bahkan jiwa raga untuk meraih ridla-Nya.

   Allah memang Maha Dekat dengan hamba-Nya. Akan tetapi untuk bisa benar-benar dekat, manusia harus berusaha dengan penuh kesungguhan. Tanpa kesungguhan, ia tidak akan bisa mendobrak dinding hawa nafsu yang menyekat dirinya dengan Allah SWT. Oleh sebab itu, Imam Al Qusyairi dalam Tafsir Al Qusyairi menjelaskan ayat di atas lebih sufistik, bahwa siapapun yang berjihad dalam ibadah lahiriyah, akan memperoleh kelembutan batiniah. Untuktujuan itu, setiap orang harus menempuh lima jihad. Pertama, meninggalkan yang haram; kedua, meninggalkan yang samar: diragukan halal haramnya(syubhat); ketiga, meninggalkan hal-hal duniawi yang sekunder (al-fudlolat); keempat memutus ketergantungan kepada makhluk Allah; dan kelima, menghindari kesibukan yang tidak bermakna sepanjang waktu.

Pada ujung ayat, Allah berfirman ” dan sungguh, Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (muhsin)”. Orang yang muhsin tidak hanya memandang agama secara formal namun juga fungsional. Tidak hanya meninggalkan yang haram, tapi juga perbuatan yang makruh atau yang tidak bermakna, sekalipun tidak dilarang. Tidak hanya menjalankan yang wajib, namun juga yang sunnah sebanyak-banyaknya. Tidak hanya berpedoman keabsahan ibadah semata, namun juga kehadiran hati dan kekhidmatan. Tidak hanya memandang ibadah dari segi kulitnya, namun lebih pada isi atau hakekatnya. Inilah ladang jihad untuk lebih dekat kepada Allah. Allah SWT pasti memberi kemudahan bagi setiap orang yang mendekat kepada-Nya, bagaikan magnit besar yang menarik dengan cepat butir-butir pasir besi yang mendekatinya. Ketika masih jauh dari magnit, harus ada usaha untuk mendekatkan butir-butir pasir besi itu. Namun ketika sudah dekat magnit, ia tidak perlu mendekat, karena magnit itulah yang secara aktif menariknya. Ia benar-benar telah menjadi kekasih Allah (waliyullah). Mohammad bin Allan Ash-Shiddiqi dalam Dalilul Falihin mendefinisikan waliyullah orang yangamat dekat dengan Allah karena pendekatannya (taqarrub) yang tiada henti kepada-Nya dengan menjalankan kewajiban, meninggalkan larangan, memperbanyak perbuatan sunnah, dengan cahaya makrifatnya, ia melihat Allah dalam setiap makhluk-Nya, tidak mendengar kecuali ayat-ayat Allah, tiada berucap kecuali pujian untuk Allah dan tidak bertindak kecuali untuk ketaatan kepada Allah. Ia telah mengenal lebih dekat siapa diri dan siapa Tuhannya (ma’rifat). Dalam keadaan demikian, maka Allah telah menjadi sensor semua inderanya dan motor dalam semua langkahnya.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, اِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ اَذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ, وَمَاتَقَرَّبُ اِلَىَّ عَبْدِىْ بِشَىءٍ اَحَبَّ اِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ, وَمَا يَزَالُ عَبْدِىْ يَتَقَرَّبُ اِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى اُحِبَّهُ, فَاِذَا اَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِىْ يُبْصِرُبِهِ وَيَدُهُ الَّتِى يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا وَلَئِنْ سَاَلَنِى َلاُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى َلاُعِيْذَنَّهُ. (رواه البخارى)

”Rasulullah SAW bersabda, ”Allah SWT berfirman, “Barangsiapa memusuhi kekasih-Ku (waliyullah), maka Aku menyatakan perang kepadanya. Yang paling Aku senangi dari apa yang dikerjakan hamba-Ku untuk mendekatkan dirinya kepada-Ku adalah ketika ia mengerjakan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dia lalu tiada henti mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan beberapa yang sunah, sehingga Aku menyintainya. Apabila Aku menyintainya, maka Aku adalah telinga yang ia gunakan untuk mendengar. Aku adalah mata yang digunakan untuk melihat, Aku adalah tangan yang dipergunakan untuk menyerang, dan Aku adalah kaki yang digunakan untuk melangkah. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku akan mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan dari-Ku, Aku pasti akan melindunginya.” (HQR. Bukhari dari Abu Hurairah r.a)

عَنْ اَنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّوَجَلَّ, قَالَ: اِذَاتَقَرَّبَ الْعَبْدُ اِلَىَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ اِلَيْهِ ذِرَاعًا, وَاِذَاتَقَرَّبَ اِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا, وَاِذَا اَتَانِىْ يَمْشِ اَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً. (رواه البخارى)

Allah SWT berfirman,”Bila seseorang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta, bila ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan bila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku menyambutnya dengan berlari.”(HQR. Bukhari dari Anas r.a)

Betapa mulia para kekasih Allah (waliyullah) itu. Mereka telah makrifat atau memahami dengan benar keberadaan diri dengan segala kekuarangannya di hadapan Allah. Adakah orang sejenis ini di lingkungan kita? Saya yakin ada, namun hanya Allah Yang Maha Mengetahui siapa dia. Bisa jadi, ia adalah Anda sendiri, sekalipun tidak pernah ada orang memanggil Anda ustadz atau kiai. Predikat waliyullah tidak ada hubungannya dengan simbol-simbol penampilan fisik dan pakaian, apalagi mengaku diri sebagai waliyullah. Setiap Anda mempunyai hak menjadi waliyullah asalkan ada kesungguhan usaha ke arah itu. ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, mereka benar-benar akan Kami tunjukkan kepada jalan-jalan kamiMaukah?

(Sumber: Hadits Riyadus Shalihin I:115, Kitab-kitab Tafsir, Dalilul Falihin I: 226)

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

5 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *