Header

KATA SENILAI ISI DUNIA

February 5th, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel

KATA SENILAI ISI DUNIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: www.123rf.com

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan perbuatan yang baik, dan berkata, “Sungguh aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fussilat [41]: 33).

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kecintaan-Nya kepada orang yang istiqamah, yaitu tangguh keimanannya, tidak goyah ketika menghadapi godaan seberat apapun. Sebagai bukti kecintaan-Nya, Allah menyuruh para malaikat turun dari langit untuk memberi solusi masalah dan menghiburnya. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan bahwa orang yang istiqamah tidak hanya berpikir tentang dirinya, tapi juga tentang keimanan orang di sekitarnya. Ia tiada henti mengajak semua orang untuk tunduk dan patuh kepada Allah. Kata yang berisi ajakan kebaikan itulah yang paling pantas diucapkan atau didengarkan, dan paling tinggi nilainya di hadapan Allah.

Paling sedikit ada tiga ayat yang terkait dengan ayat ini. Pertama, ayat yang memerintahkan kita untuk menjadi komunitas terbaik (khairu ummah), yaitu orang-orang yang bersemangat memerintahkan kebaikan, mencegah perbuatan dosa, dan menguatkan keimanan diri (QS. Ali Imran [3]: 110). Kedua, ayat tentang perintah mengajak manusia dengan cara yang bijaksana, nasihat yang menyejukkan, dan bertukar pikiran yang sehat dan produktif (QS. An Nahl [16: 125). Ketiga, ayat yang tersirat di dalamnya perintah untuk mengajarkan Alquran dengan cara yang bijaksana (QS. Yasin [36]: 1).  

Adapun hadis yang memperjelas ayat ini adalah sabda Nabi SAW,

عَنْ اَبِى مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ ابْنِ عَمْرٍو الْأَنْصَارِىِّ الْبَدْرِىِّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ اَجْرِ فَاعِلِهِ رواه مسلم

Barangsiapa menunjukkan kebaikan, maka ia mendapat pahala  yang sama dengan pahala orang yang melakukan kebaikan itu” (HR. Muslim dari Abi Mas’ud, Uqbah bin ‘Amr Al Anshari r.a).

Sebaliknya, apakah orang yang melakukan dosa mendapat dosa yang sama dengan orang meniru dosanya? Nabi SAW menjelaskan, “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk (kebenaran), maka ia mendapat pahala seperti sejumlah pahala orang yang mengerjakannya, tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka. Dan, barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan (dosa), maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang melakukannya, tanpa sedikitpun dikurangi dosa-dosa mereka” (HR Muslim dari Abu Hurairah r.a).

Nabi SAW pernah kedatangan seorang sahabat yang bernama Hazanan. Mendengar nama itu, Nabi menyarankan untuk mengganti nama Hazanan, yang artinya kesedihan, dengan nama baru, Sahal, yang artinya kemudahan. Sahal bin Sa’ad As-Saa’idy r.a. lalu bercerita, bahwa pada hari-hari sebelum atau sesudah perang Khaibar, Nabi memberitahu para sahabat, “Besok, saya akan menyerahkan bendera perang (ar-raayah) kepada seseorang yang mencintai dan dicintai Allah dan Rasul-Nya. Dialah yang akan mengantarkan kemenangan perang nanti.

Pada malam harinya, para sahabat penasaran, siapa yang akan diserahi bendera itu. Pada esok harinya, para sahabat berdatangan ke rumah Nabi dengan harapan mereka yang mendapat tugas kehormatan itu. Ternyata, Nabi bertanya, “Di mana Ali bin Abi Thalib?” “Huwa yasytakii ‘ainayhi, ya Rasulallah (ia sakit mata, wahai Rasulullah),” jawab para sahabat. Nabi SAW meminta agar Ali menghadapnya. Ketika sampai di hadapan Nabi, beliau menyemprotkan sedikit air ludah ke mata Ali r.a, dan langsung sembuh, seolah-olah tidak sakit sama sekali sebelumnya. Setelah menerima bendera dari nabi, Ali r.a bertanya, “Apakah aku harus berperang sampai mereka (beragama) seperti kita?. Nabi menjawab, “Kerjakan dengan tenang sampai engkau memasuki wilayah mereka. Ajaklah mereka untuk Islam, dan beritahu semua kewajiban yang semuanya itu adalah hak Allah (untuk disembah). Nabi melanjutkan sabdanya,

فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمُرِ النِّعَمِ

“Demi Allah, ajakanmu kepada kebaikan yang diikuti satu orang, lebih baik daripada ternak merah yang bagus (hasil rampasan perang)” (HR. Muttafaq ‘alaih). Artinya ajakan kebaikan itu lebih bernilai daripada dunia dan semua isinya.

Dalam kitab Tafsir Ruuhul Ma’any karya Al Aluusy dijelaskan, para muazin termasuk pengajak kebaikan sebagaimana disebut dalam ayat ini. Mereka memperoleh pahala sebanyak orang yang datang untuk shalat memenuhi panggilan tersebut. Menurut Abu Umamah, ayat ini juga memerintahkan shalat setelah azan, baik shalat wajib atau sunah. Menurut Al Aluusy juga, berdasarkan ayat ini, para penganjur kebaikan harus menjadi tauladan pengamalan kebaikan, harus susuai antara kata dan tindakan agar mendapat kepercayaan dan berwibawa di depan orang yang menerima ajakan.

Anas r.a bercerita, seorang pemuda dari suku Aslam melapor kepada Nabi bahwa ia ingin ikut berperang, tapi tak punya bekal. Maka Nabi menyuruhnya datang ke rumah sahabat yang batal ikut perang karena sakit. Setelah menyampaikan salam dari nabi, pemuda itu menjelaskan maksudnya. Tuan rumah langsung menyuruh istrinya untuk menyerahkan semua perbekalannya kepada tamu itu demi penyiaran Islam, sebab itulah sumber keberkahan (fayubaaraka laki fiihi). (HR Muslim).

Abdullah Yusuf Ali, penulis The Holy Qur’an mengatakan, berdasar ayat ini, maka ada tiga syarat agar sebuah kata paling pantas diucapkan. Pertama, kata itu bersumber dari Allah dan diucapkan bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kemuliaan semua orang . Kedua, kata yang diucapkan itu telah sesuai dengan tindakannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, kata itu cerminan dari keimanan yang mendalam. ”Itulah gambaran yang dahsyat tentang kepribadian Nabi SAW,” katanya.  

Untuk meraih kekayaan dunia ternyata tidak susah. Cukup berkata yang baik berupa ajakan kebaikan. Jadilah pemrakarsa kebaikan, sekecil apapun di lingkungan Anda masing-masing, dan jadilah teladan kebaikan itu. Anda juga harus menunjukkan rasa bangga sebagai muslim, sama sekali tidak minder di depan semua orang. Sekali lagi, jadilah penganjur kebaikan, sebab kita akan memetik pahala yang terus mengalir sepanjang masa. Itulah kata semulia nilai dunia dan isinya. Sebaliknya, jauhilah yang dilarang Allah, sebab ia akan menjadi sumber aliran dosa sepanjang masa, jika ada orang yang menirunya. 

Referensi: (1) An Nawawi, Riyadus Sholihin Juz I, p. 180; (2) As Shiddiqy, Dalilul Falihin  Juz I, p. 336. (3) Mahmud Al Aluusy Al Baghdaady, Ruuhul Ma’aany Fii Tafsiiril Qur-aanil ‘Adhiim Was Sab’il Matsaany, Dar Ihya at Turats Al ‘Araby, Beirut, Libanon tt, p. 122. (4) ) Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an, Dar Al Arabia, Beirut, Lebanon, tt, p. 200, p. 1296.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *