Header

KEPEMIMPINAN RABBANI

January 17th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel

KEPEMIMPINAN RABBANI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.ted.com/topics/leadership

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤۡتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحُكۡمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَادٗا لِّي مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّ‍ۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ ٧٩

Tidaklah mungkin seseorang yang diberi Allah al Kitab, al hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, “Jadilah kalian penyembah aku, bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia pasti berkata),Jadilah kalian manusia rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al Kitab dan karena kamu tetap mempelajarinya (QS. Ali Imran [03]: 79).

Ayat di atas turun ketika Nabi SAW kedatangan beberapa pendeta Yahudi dan Nasrani di Madinah. Ketika diajak Nabi memeluk Islam, mereka menjawab sinis, “Apakah kamu menyuruh kami menyembahmu seperti kaum Nasrani menyembah Isa?” Nabi mengatakan, “ma’adzallah, semoga Allah melindungi saya. Sama sekali bukan itu maksud saya.”

Ayat di atas menegaskan bahwa, pertama, tidaklah mungkin nabi-nabi, termasuk Nabi SAW yang mendapat tugas kenabian dengan bekal kitab suci dan diberi kecerdasan lalu berkhianat atau menyalahi perintah dengan menyuruh manusia menyembah dirinya selain Allah. Pengkhianatan adalah dosa bagi manusia biasa, maka apalagi bagi seorang nabi. Kedua, semua nabi justru menyuruh manusia menjadi manusia rabbani atau manusia berketuhanan, yaitu dekat kepada Tuhannya, mendalami firman-firman-Nya dan berakhlak seperti akhlak-Nya. Menurut Quraish Shihab, rabbani adalah muslim yang terus menerus mempelajari kitab suci dan mengajarkannya kepada manusia. Menurut Ibnu Abbas r.a, muslim rabbani adalah ulama, hukama (ahli hikmah dan filsafat), fuqaha’ (ahli hukum) yang menguasai ilmu dan filsafat, sehingga memahami makna terdalam dari firman-firman Allah, dan mengetahui berbagai rahasia dari semua ciptaan Tuhannya, lalu mengajarkannya kepada orang lain.

Jika dikaitkan dengan kepemimpinan, maka kepemimpinan rabbani adalah kepemimpinan yang berbasis ilmu ketuhanan dan ilmu-ilmu lainnya untuk memberikan pelayanan terbaik, kesejahteraan dan keadilan untuk masyarakat yang dipimpinnya. Nabi SAW memberi contoh tanggungjawab kepemimpinannya sampai detik-detik terakhir hidupnya. Ketika Jibril mengatakan bahwa tugasnya sebagai pengantar wahyu sudah berakhir, Nabi SAW bertanya, ”Siapa yang akan mengurusi umatku sesudah aku mati?” Allah SWT lalu mewahyukan kepada Jibril, ”Beritakan kepada kekasihku, Aku tidak akan menelantarkan umatnya. Beritahukan pula, ia orang pertama yang dikeluarkan dari bumi kelak pada hari kiamat, dan dialah yang akan memimpin semua manusia saat itu. Dialah pula yang Aku ijinkan pertama kali memasuki surga.” Nabi SAW lalu terlihat ceria, kemudian menggosok gigi dengan siwak sebelum bersyahadat untuk menutup kehidupan selamanya.

Sepanjang hidupnya, yang dipikirkan Nabi SAW hanya satu, yaitu keadaan atau nasib orang-orang yang dipimpinnya. Ia mencintai umatnya seperti seorang ibu kepada anaknya, atau kakak kepada adik-adiknya. Kisah pendek ini merupakan tamparan keras bagi siapapun pemimpin negeri ini yang mengutamakan partainya dan menomor-duakan rakyatnya. Waktu yang semestinya untuk mengurus rakyat terkuras untuk mengurus partai dan menambah pundi-pundi kekayaan keluarga, sedangkan untuk mengurus rakyat hanya dengan sisa-sisa energi yang telah terkuras sebelumnya.

Dalam sejarah, Umar bin Khattab r.a pernah bertindak cepat, memberhentikan gubernur Syria yang terbukti melakukan penyelewengan, lalu mengangkat Sa’id bin Amir sebagai penggantinya, semata-mata karena potensi dan akhlaknya. Belum lama menjabat, Said mendapat ujian dari istrinya yang  menuntut rumah dan fasilitas yang serba mewah. Said tidak tunduk kepada kemauan istri, tetap hidup sederhana, bahkan memberikan gajinya kepada fakir miskin. Menghadapi istri yang marah dan kecewa, Said mengarahkan pandangannya ke atas, seraya berkata, ”Wahai istriku, Allah sedang memperlihatkan pada saya para syuhada’, teman-temanku bercengkerama dengan para bidadari yang amat cantik. Jika engkau tidak bisa mengikuti cara kepemimpinan saya, maka saya lebih suka memilih  bidadari itu daripada engkau.”

Suatu saat, Umar mendapat laporan, bahwa gubernur yang baru itu sering terlambat ke kantor, beberapa kali absen, menolak didatangi rakyat di malam hari, dan sering pingsan di saat kerja.

Umar meminta klarifikasi Said bin Amir di depan rakyatnya. Inilah rekaman keterangannya, “Saya sebenarnya tidak ingin membuka rahasia ini. Tapi, baiklah, terpaksa saya harus ceritakan semuanya. Pertama, saya sering terlambat ke kantor, karena saya tidak punya pembantu, dan saya harus mengaduk roti sendiri, lalu shalat dhuha, dan barulah ke kantor. Kedua, saya absen ke kantor dua kali sebulan, karena ketika satu-satunya baju saya ini dicuci, saya harus menunggunya sampai kering dan baru bisa saya pakai ke kantor. Ketiga, saya menolak anda semua ke rumah malam hari, karena siang hari saya maksimalkan mengurus rakyat dan malam hari saya khususkan untuk bersujud kepada Allah. Keempat, benar, saya sering pingsan ketika di kantor. Inilah yang perlu saya jelaskan lebih detail, sebab saya memiliki pengalaman pahit yang tidak bisa saya lupakan.

Sa’ad melanjutkan, “Sebelum masuk Islam, saya menyaksikan Hubaib Al Anshari disiksa orang kafir secara keji disertai cacian yang menyakitkan hati, ”Kami akan melepas kamu, jika nabimu menggantikanmu untuk kami hajar di sini?” Hubaib menjawab, ”Aku tidak akan rela nabiku disiksa walaupun hanya dengan tusukan duri.” Saat itulah, tubuhnya dicincang-cincang, dan saya hanya berpangku tangan. Saya takut kelak ditanya Allah, mengapa saya diam dan tidak melakukan pembelaan sedikitpun. Setiap kali saya mengingat kejadian itu, saya lemas dan langsung pingsan.”  Mendengar klarifikasi tersebut, Umar bin Khattab menunduk haru, lalu bangkit memeluk erat dan mencium kening Said bin Amir sambil berkata, ”Saya bangga dan bersyukur, saya tidak salah memilihmu sebagai seorang pemimpin.”

Nabi SAW memberi tauladan kepemimpinan rabbani, yaitu dekat dengan Allah dan mengutamakan pelayanan umat. Umar bin Khattab memberi tauladan memilih pejabat yang benar-benar profesional, bukan berdasar hubungan keluarga, setoran atau mahar politik, strategi “dagang sapi,” dan sebagainya. Komitmen, kejujuran, ketulusan, kecerdasan, dan kecekatan harus menjadi pertimbangan utama. Untuk apa memilih orang cerdas, kalau terhadap uang negara ia tukang kuras? Untuk apa pula bergelar doktor kalau koruptor? Utamakan pejabat rabbani, dan ukurannya bukan berapa kali ia umrah atau berhaji.

Negeri ini terkenal kaya raya, dan hanya pemimpin rabbani yang bisa mengantarkannya menjadi negara besar setelah China dan India di kemudian hari. Andalah calon pemimpin itu!

Surabaya, 30/09/2017

Referensi: (1) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol.2, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 161 (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 3, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 217-219. (3) Khalid, Muhammad Khalid, Rijalun Haular Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah), CV Diponegoro, Bandung, Cet VI, 1988.

 

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *