Header

KHUTBAH: DEBU TAKWA PENGANTAR KE SURGA

February 1st, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel

KHUTBAH: DEBU TAKWA PENGANTAR KE SURGA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Khutbah Jum’at Masjid Ulul Azmi UNAIR Kampus C Surabaya, 01-02-2019

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ  اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ فَيَا عِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Para jamaah yang saya muliakan.

       Dalam Surat At Thalaq ayat 5 Allah SWT berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يُكَفِّرۡ عَنۡهُ سَيِّ‍َٔاتِهِۦ وَيُعۡظِمۡ لَهُۥٓ أَجۡرًا

Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya, dan akan melipatgandakan pahala baginya.

            Untuk menjelaskan ayat ini, saya akan menyampaikan dua kisah yang terkait dengan takwa dan surga. Pertama, kisah tentang seseorang yang hidup sebelum Nabi SAW. Orang tersebut hidup berlimpah harta dengan keturunan yang membanggakan. Menjelang matinya, ia bertanya, “Wahai anak-anakku, apakah ayahmu ini orang yang baik?” Mereka menjawab, “Tentu, orang baik.” Selanjutnya sang ayah mengatakan, “Ketahuilah wahai anak-anakku, aku lebih tahu tentang diriku. Aku tidak memiliki sedikitpun kebaikan di sisi Allah. Oleh sebab itu, pasti Allah akan menyiksaku kelak. Jika suatu saat aku mati, bakarlah tubuhku, lalu tumbuklah arangnya sampai menjadi abu selembut-lembutnya. Lalu, pergilah ke laut dan taburkan semua abu itu ketika angin sangat kencang!”

            Nabi SAW bersabda, “Semua anaknya berjanji untuk melakukan wasiat itu. Demi Tuhanku, mereka benar-benar melakukannya.” Ketika abu telah ditebar, Allah SWT berfirman, “Kun fayakun, maka berdirilah seorang lelaki yang utuh.” Allah kemudian bertanya, “Ay ‘abdii, maa hamalaka ‘ala an fa’alta maa fa’alta? Qaala: makhaafataka / Wahai hamba-Ku, mengapa kamu melakukan semua itu?” Lelaki itu menjawab, “Karena takut kepada (siksa-Mu).” Nabi SAW melanjutkan, “Maka sejak itu, ia mendapat limpahan rahmat Allah.” Nabi SAW mengulang sekali lagi, “Maka sejak itu, ia mendapat limpahan rahmat Allah” (HR. Al Bukhari No. 7.508 dari Abu Said r.a).

Para jamaah yang saya muliakan.

Kisah kedua berikut ini juga mirip dengan kisah pertama. Ada orang pada zaman Nabi Musa a.s yang meninggal di sebuah kampung, dan tak seorangpun bersedia memakamkannya. Mereka bahkan menyeret dan melemparkannya ke sampah. Allah SWT lalu memberitahu Nabi Musa a.s, “Wahai Musa, ada jenazah yang dibuang orang ke tempat sampah. Carilah ia sampai ketemu, lalu mandikan, bungkuslah dengan kafan, shalatilah dan makamkanlah secara terhormat. Ia benar-benar kekasih-Ku.”

Musa berjalan menyusuri sejumlah kampung, dan akhirnya menemukan “manusia sampah” itu, benar-benar membusuk di tumpukan sampah. Musa a.s terheran dan berkata, “Wahai Tuhanku, apakah Engkau memerintahkan aku melakukan shalat untuk orang yang mendapat julukan masyarakat orang sampah dan orang jahat ini?

Allah SWT mengatakan, “Wahai Musa, benar, ia memang orang jahat, tapi tahukah kamu, bahwa ketika menjelang matinya, ia meminta belas kasih-Ku. Apakah Aku, Tuhan Yang Maha Pengasih tidak mengasihinya? Ketahuilah wahai Musa, menjelang sakaratul maut, ia berkata lirih, “Wahai Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui gunungan dosa yang saya pikul di pundakku. Tapi, saya yakin, Engkau Maha Mengatahui isi hatiku. Aku sejatinya berontak setiap kali aku melakukan dosa. Aku ingin bertobat, tapi selalu saja gagal. Wahai Tuhanku, sekalipun penuh dosa, aku tetap senang dan hormat kepada orang-orang shaleh di sekitarku.”

“Wahai Tuhanku, jika Engkau mengampuni aku, pastilah Nabi-Mu tersenyum gembira karena salah satu umatnya mendapat ampunan dan surga. Sebaliknya, Iblis dan setan akan bersedih, karena gagal memasukkan aku ke naraka. Engkau pasti lebih menyukai senyuman Nabi-Mu daripada senyuman Iblis dan kawan-kawannya. Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kasihanilah aku.” Maka Allah SWT berfirman, “Aku, Tuhan Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Aku akan mengasihi dan mengampuni dia, karena ia telah mengakui dosa-dosanya kepada-Ku. Allah SWT berfirman, “Wahai Musa, segeralah shalat untuknya sesuai perintah-Ku. Aku akan mengampuninya atas keberkahan orang yang menshalatinya.”

Para jamaah yang saya muliakan.

Bagaimana takwa yang menghapus dosa itu? Umar bin Khattab r.a memberikan definisi yang praktis, takwa adalah kehatian-kehatian dalam setiap langkah, seperti kehati-hatian pejalan kaki di atas jalan yang penuh duri. Kaki baru diinjakkan ke tanah ketika ia yakin bahwa jalan yang diinjak itu benar-benar aman dari tusukan duri. Berdasar pengertian itu, maka tidak ada satupun orang yang bisa disebut bertakwa selain nabi. Tapi, bergembiralah, sebab Allah tetap mengampuni kesalahan kita, meskipun takwa kita hanya setitik debu. Tidak hanya itu, di samping mengampuni, Allah juga melipatgandakan pahala untuk sekecil apapun kebaikan kita, sebagaimana disebut pada ayat di atas, “..dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. At Thalaq [65]:5). Mengenai kasih dan kemurahan Allah tersebut, Ibnu ‘Athaillah mengatakan:

عَلِمَ وُجٌوْدَ الضَّعْفِ مِنْكَ فَقَلَّلَ أَعْدَادَهَا وَعَلِمَ اِحْتِيَاجَكَ اِلَى فَضْلِهِ فَكَثَّرَ اَمْدَادَهَا

Allah mengetahui kelemahanmu, maka Allah meminimalkan (tuntutan) bilangan (ibadahmu). Allah juga mengetahui kebutuhanmu akan karunia-Nya, maka Ia melipatgandakan pahala kebaikanmu.

 Dua kisah di atas memberikan optimisme kita akan ampunan Allah. Tidak ada kebahagiaan melebihi mendapat ampunan Allah. Kisah tersebut juga tamparan untuk kita. Orang yang dipandang penuh maksiat, bahkan secara keji disebut calon penghuni neraka,  bisa jadi ia dimasukkan Allah ke surga karena setitik debu takwa yang kita sama sekali tidak mengetahuinya. Sebaliknya, orang yang merasa lebih suci daripadanya, bisa jadi lebih dimurkai Allah karena setitik dosa yang tidak dia sadari, dan itulah penyebab utama murka Allah kepadanya. Jangan sekali-kali kita merasa lebih suci dari orang lain, apalagi dengan mudahnya menuduh seseorang sebagai calon penghuni neraka. Ketahuilah cara dan standar penilaian Allah berbeda dengan cara dan standar penilian kita.  

اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ, وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Referensi: (1) Muhammad bin Abu Bakar Al Usfuri, Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah, Penerbit Mutiara Ilmu Surabaya, Zeid Husein Al Hamid, 1994: cet II: 4-6; (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Panjimas, Jakarta (3) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 176; (4) Ibnu Atha’illah As-Sakandari, Al Hikam, (Al Hikam dan Syarahnya) terj. DA. Pakih Sati LC, Penerbit saufa Yogyakarta, 2015, cet.1.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *