Header

KIAT HIDUP 3800 TAHUN

June 27th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel

KIAT HIDUP 3800 TAHUN

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Allah menciptakan kalian, kemudian mewafatkan kalian; dan diantara kalian ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. An-Nahl [16]:70)

Jeanne Louise Calment (Perancis, usia 122 th)

Jeanne Louise Calment (Perancis, usia 122 th)

Beberapa ayat sebelumnya, Allah menjelaskan, untuk kelangsungan hidup dan kenikmatan manusia, Allah telah menurunkan air dari langit untuk menyuburkan tanaman dan menghasilkan buah kurma, anggur dan sebagainya. Lebah juga diberi “wahyu” oleh Allah untuk menghisap bunga dan membuat rumah yang bagus agar menghasilkan madu untuk kekuatan dan obat bagi manusia. Sayang, sebagian manusia tidak mensyukuri anugrah Allah itu. Sebaliknya, mereka menggunakan buah-buahan itu untuk minuman memabukkan. Pada ayat yang dikutip di atas, Allah menegaskan bahwa sesehat apapun, usia manusia ada batasnya. Kematian itu disebabkan karena usia tua atau karena kecerobohan pola makan dan minum. Sebagian mereka meninggal pada usia muda dan sebagian yang lain diberi panjang usia.

Sangat manusiawi, jika Anda bersedih karena salah satu keluarga Anda meninggal pada usia muda. Tapi, sebaiknya Anda berbaik sangka kepada Allah. Bisa jadi, ia diwafatkan oleh Allah agar ia menghadap-Nya ketika masih dalam keadaan beriman. Tidak jarang orang shaleh ketika muda, lalu banyak maksiat ketika tua dan mati dalam keadaan tercela. Rasulullah SAW sendiri mengajarkan doa,”Wahai Allah, jika Engkau berkehendak rusaknya suatu masyarakat, maka wafatkan aku sebelum terkena pengaruh negatif itu. (HR Ahmad dari Mu’adz bin Jabal r.a). Umur yang terbaik bukan dilihat dari kuantitas namun kualitasnya. Usia yang pendek namun penuh kebaikan jauh lebih baik daripada usia 100 tahun, tapi penuh dosa. Kita berharap panjang usia, panjang pula pahalanya. ”Orang yang terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik perbuatannya” (HR Ahmad dari Abu Bakrah r.a.). Tentu, yang kita harapkan usia panjang yang tidak sampai pada keadaan ardzalil ’umur (usia lemah alias pikun) sehingga menjadi beban bagi keluarga.

Rasulullah SAW diberi hidup oleh Allah SWT 63 tahun Hijriyah atau 61 tahun Masehi. Bagi orang sesuci beliau, cukuplah usia itu untuk menghadap Allah. Beliau tekun beribadah dan selalu menangis setiap memohon ampunan, padahal ia tidak punya dosa. Bagi kita, usia 61 tahun terlalu singkat untuk mengumpulkan bekal menghadap Allah SWT dan menghapus dosa kita yang menumpuk.  Kita harus berusaha hidup lebih lama dari usia Nabi SAW. Mungkin idealnya dua kali lipat dari usia Nabi: 122 tahun seperti usia wanita tertua di dunia, Jeanne Louise Calment di Perancis (meningggal 1997 dalam usia 122). Untuk itu, kita wajib menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat, membangun keakraban dengan sanak famili dan bergaul sebanyak-banyaknya dengan orang lain di masjid, majlis dzikir, perkumpulan olah raga dan sebagainya. Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa ingin dimudahkan rizkinya dan ditunda ajalnya (dipanjangkan usianya) hendaklah ia menyambung tali persaudaraan” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik r.a). Dr. Nil Barzilai, direktur Albert Einstein College of Medicine’s Institute for Aging Research di New York menyimpulkan mereka yang panjang umur adalah yang selalu positif dalam hidupnya: optimistis, mudah bergaul, extrovert, lebih banyak tertawa dan emosi yang terungkap. (Strait Time)

Berdasar hadis di atas, timbul pertanyaan: bisakah umur manusia diperpanjang? Muhammad Ibrahim An-Nu’aim dalam bukunya Kaifa Tuthilu Umrakal Intajiy (Misteri Panjang Umur) menjawabnya dengan mengutip tiga pendapat ulama. Pertama, menambah jatah umur manusia bukanlah hal yang sulit bagi Allah. Sekalipun umur manusia telah ditulis di sisi-Nya, namun adalah hak mutlak bagi-Nya untuk  merubah atau menghapusnya. Nabi dan Malaikat tidak bisa melakukannya. “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh) (QS.Ar-Ra’d [13]:39).

Dengan kekuasaan mutlak Allah itu, bisa saja seseorang telah ditetapkan batas umurnya, namun karena ia berbaik-baik dengan sanak famili dan sebanyak-banyak orang, lalu Allah SWT merubah catatan-Nya untuk memberi tambahan umur kepadanya.

Kedua, yang dipanjangkan Allah SWT adalah keharuman nama setelah kematian seseorang. Ketika hidup, ia banyak bersedekah, sehingga pahalanya tetap mengalir kepadanya (shadaqah jariyah). Atau ia amat terkenal kebaikannya, sehingga setelah matinya, banyak orang menyebut-nyebut kebaikan itu. Semakin lama, semakin harum namanya. Nabi Ibrahim berdoa, ”Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian” (QS. As-Syu’ara [26]:84).

Ketiga, umur manusia tidak bisa ditambah atau dikurangi, karena sudah ditetapkan Allah sebelum kelahirannya (QS. Fathir [35]: 11 dan Qs Al A’raf [7]:34). Kita hanya bisa meminta tambahan keberkahan usia. Artinya hitungan usia kita memang pendek, namun karena banyak ibadah, usia yang pendek itu menandingi usia ratusan tahun orang lain, khususnya umat sebelum nabi Muhammad SAW. Misalnya, usia sehari bisa dinilai Allah setara dengan lima tahun. Setahun setara dengan 3.800 tahun. Caranya? Ikuti petunjuk Rasulullah SAW berikut, “Barangsiapa berjalan ke masjid untuk shalat fardlu secara berjamaah, maka shalatnya setara dengan sekali ibadah haji. (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Shalat berjamaah lima kali sehari sama dengan lima kali ibadah haji. Haji dikerjakan setahun sekali. Berarti, jika Anda shalat berjamaah di masjid setahun penuh (360 hari) tanpa absen, maka usia setahun itu sama dengan 3.800 tahun. Pada bulan suci Ramadlan, bonus untuk nilai usia Anda jauh lebih dahsyat. Semalam lailatul qadar sama dengan usia 83 tahun.

Demi usia yang berkualitas itulah, maka para sahabat dan orang-orang shaleh terdahulu tidak melewatkan waktunya dengan sia-sia. Abdullah bin Mas’ud berkata, ”Aku tidak pernah menyesali apapun melebihi penyesalanku akan terbenamnya matahari. Umurku berkurang sedangkan ibadahku tidak bertambah.” Dawud at-Tha’i lebih suka meminum fatiit (sup roti) daripada makan roti. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab, ”Minum sup roti lebih cepat. Waktu untuk mengunyah roti cukup untuk membaca 50 ayat al-Qur’an”. Majduddin Abul Barakat, kakek Ibnu Taimiyah tidak mau waktunya lewat tanpa memperoleh ilmu. Jika ia akan masuk kamar kecil, ia menyuruh seseorang untuk membacakan sebuah buku dengan suara keras agar ia bisa mendengarnya selama buang hajat itu. Sebagian ulama terdahulu selalu membaca al-Qur’an dalam perjalanan ke mana saja. Oleh karena itu, ia mengukur jarak perjalanan dengan jumlah ayat al-Qur’an”.  Begitulah usaha memperpanjang umur dengan kualitas keberkahan.

Menurut Nabi SAW, “Umur umatku antara 60-70 tahun, dan hanya sedikit yang lebih dari itu” (HR At Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a). Sekali lagi, Anda harus berusaha hidup melebihi usia Nabi SAW. Tapi, jika Allah menghendaki usia Anda lebih pendek, Anda tetap berbahagia, karena usia sependek itu telah setara dengan ratusan ribu tahun berkat kebaikan yang Anda lakukan. Maukah?

sumber foto: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/7/7f/Jeanne-Calment-1996.jpg/220px-Jeanne-Calment-1996.jpg

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

2 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *