Header

KOMUNITAS PENYUBUR SPIRITUALITAS

December 15th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel

KOMUNITAS PENYUBUR SPIRITUALITAS

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridlaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan ia melewati batas.” (QS. Al Kahfi [18]:28)

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah SWT memuji Para Pemuda Gua (Ash-habul Kahfi) yang mempertahankan keimanan dari penguasa lalim dengan bersembunyi di dalam sebuah gua. Sambil menunggu kejatuhan penguasa itu, Allah SWT menidurkan mereka di samping anjing kesayangan selama 309 tahun dan baru dibangunkan ketika dinasti yang lalim telah jatuh dan digantikan penguasa baru yang saleh.

Sebagai kelanjutan, ayat yang dikutip di atas (QS. Al Kahfi [18]:28) menjelaskan bahwa untuk mempertahankan keimanan, perlu perjuangan lahir batin  yang tidak ringan, yaitu memilih komunitas yang benar-benar menyuburkan spritualitas dan menjauhi komunitas yang diduga akan merusak keimanan sekalipun komunitas yang disebut terakhir itu amat menggiurkan dari segi imbalan materialnya. Ini sangat berat dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar kuat keimanan. Oleh sebab itu, ayat di atas diawali dengan kata washbir yang artinya kuatkan imanmu menghadapai tantangan itu.

Sa’ad bin Abi Waqqash  bercerita tentang latarbelakang turun ayat di atas. Ketika ia bersama enam temannya, antara lain Abdullah bin Mas’ud r.a dan Bilal r.a, tiba-tiba beberapa tokoh kafir datang dan meminta Nabi SAW agar mengusir mereka yang dipandang miskin dan tidak layak duduk bersama mereka. Hampir saja Nabi SAW menyetujui permintaan itu. Mungkin pertimbangan Nabi, apa salahnya mereka keluar sebentar dan tokoh-tokoh kafir itu bisa berdialog dan masuk Islam. Persis seperti pertimbangan Nabi ketika pada suatu saat fokus berbicara dengan tokoh-tokoh kafir sampai kurang perhatian terhadap kedatangan orang jelata dan buta, Abdullah bin Ummi Maktum. Maka turunlah ayat di atas yang mengingatkan Nabi SAW agar tidak terpancing dengan rayuan mereka sampai melupakan orang-orang jelata yang saleh dan amat setia kepadanya. Menurut Ibnu Abbas, orang-orang kafir itu memang tokoh elit dan bangsawan. Tapi Allah mengingatkan, untuk apa engkau mengikuti mereka yang lupa Allah, hati membatu, mengikuti hawa nafsu, mengumpulkan kekayaan dan mengejar kekuasaan tanpa mengenal batas-batas halal haram, baik dan buruk (amruhu furutha).

Orang-orang angkuh seperti di atas selalu ada setiap zaman. Jauh sebelum Nabi SAW, orang-orang elit zaman Nabi Nuh a.s juga pernah menyatakan siap mengikuti ajarannya dengan syarat orang-orang miskin, orang-orang tidak terpelajar, atau mereka dari keturunan jelata tidak dicampur dengan mereka. Berkumpul dengan orang rendah akan merendahkan status sosial mereka.

Ayat di atas sangat cocok untuk dibacakan di depan khalayak sekarang. Tidak sedikit agamawan muslim yang bercerita bangga sebagai orang yang dekat dengan politikus terkenal, penguasa, pengusaha sukses, dan selibritis, sampai jarang bercengkrama dengan orang-orang berpakaian kusut, bersandal jepit, bersepeda dayung, para pemulung, dan orang-orang kecil dan miskin lainnya. Allah SWT mengingatkan kita agar hati-hati, “Jangan-jangan orang-orang sukses yang engkau banggakan itu orang yang kering spiritualitasnya, karena hidup dalam kemewahan, habis energinya untuk berkompetisi meraih tiga ta (cinta, tahta, dan harta) tanpa mengenal halal dan haram, dan tidak lagi tersisa energy untuk berdzikir dan menunduk kepada Allah. Jika demikian, mereka telah berhati batu, lupa Allah dan bertuhan hawa nafsu. Jika tidak hati-hati, sangat besar kemungkinan engkau tidak terasa lambat laun seperti mereka, atau bahkan lebih rusak dari mereka.”

Dari segi kenikmatan hidup, pasti berkumpul dengan komunitas elit itu lebih bergengsi dan menyenangkan. Sebaliknya, berkumpul dengan orang kecil tidak mendapatkan apa-apa, bahkan justru lebih sering mendengar keluhan atau menerima amplop permohonan bantuan. Status sosial kita juga tidak terangkat.  Allah SWT mengingatkan, “washbir nafsak” (kuatkan mental melawan godaan menggiurkan itu). Sebaliknya, kita diperintah untuk mencari komunitas yang menuyuburkan spiritualitas. Dalam bahasa sekarang, bisa saja nasehat Allah itu berbunyi, “Tetaplah menjadi pengurus atau anggota jamaah Yasinta, jamaah istighasah, kelompok pengajian rutin, kajian Islam, KPK (Kelompok Peduli Kemiskinan), bersama para peshalat berjamaah di masjid, menjadi panitia pencari dana pembangunan mushala dan sebagainya.  Sekalipun tidak mendapatkan keuntungan material apapun dari mereka, aura dzikir mereka sangat besar artinya untuk menyuburkan spritualitasmu. Magnit kebajikan mereka menjadikanmu lebih mudah melakukan kebajikan yang sama.”

Selamat bertahan dalam komunitas penyubur spritualitas dan semoga semua pembaca sampai kapanpun tidak meninggalkan komunitas itu hanya karena godaan materi dan popuralitas. Berat, tapi berupayalah yang keras, hidayah Allah sungguh tak terbatas. Ketika menutup Surat Al-Ankabut [29] ayat 69, Allah berjanji, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridlaan Kami, pasti Kami akan menunjukkan mereka kepada jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah pasti bersama orang-orang yang berbuat baik.”

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

One Response



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *