Header

KONSENTRASI PADA HAK-HAK ILAHI

July 16th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel

KONSENTRASI PADA HAK-HAK ILAHI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 “Hanya kepada-Mu, kami menyembah, dan hanya kepada-Mu pula kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah [01]: 5).

Inilah firman Allah paling populer yang menjelaskan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. Istilah hak selalu terkait dengan kewajiban. Artinya, adanya hak seseorang berarti adanya kewajiban pihak lain untuk memenuhinya. Demikian juga sebaliknya, adanya kewajiban seseorang berarti adanya hak bagi pihak lain yang harus dipenuhi. Akan tetapi, ketentuan itu tidak berlaku dalam hubungan antara  manusia dan Allah. Hak-hak Allah melahirkan kewajiban manusia, akan tetapi hak-hak manusia tidak mendatangkan kewajiban bagi Allah, karena manusia sebagai makhluk tidak berhak menuntut kewajiban dari Allah, Tuhan yang menciptakannya. Meskipun tidak ada yang berhak menuntut kewajiban dari Allah, tapi Allah telah menjamin pelaksanaan ”kewajiban-Nya” dan tidak akan mengurangi sedikitpun hak-hak hamba-Nya, ”Dan Aku sekali-kali tidak akan berbuat zalim kepada hamba-hamba-Ku” (QS. Qaf [50]: 27-29). Allah juga menegaskan dalam hadis Qudsi, ”Sunguh Aku mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zalim.”

Allah tidak hanya menunjukkan keadilan-Nya terhadap manusia, tapi juga kemurahan-Nya yang melimpah, antara lain dengan memberikan hak hidup manusia dan pemenuhan semua kebutuhannya, meskipun orang itu mengingkari Allah, ataupun orang itu belum melakukan penyembahan apapun kepada-Nya, misalnya, si bayi. Anda bisa memperhatikan sejumlah ayat Al Qur-an tentang bagaimana Allah melaksanakan ”kewajiban-Nya” kepada manusia sebelum memerintahkan penyembahan kepada-Nya. Antara lain, dalam surat Al Kautsar,

”Sungguh Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah” (QS. Al Kautsar [108]: 1-2).   

Dalam surat Al Waqi’ah juga dijelaskan macam-macam pemberian Allah kepada manusia, ”Maka terangkanlah (kepadaKu) tentang (tumbuhan) yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya?. Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan tanaman itu hancur dan kering, maka  kamu menjadi heran dan tercengang, (sambil berkata), “Sungguh kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apapun. Maka terangkanlah  (kepada-Ku) tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kami yang menurunkannya?. Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan ia asin. Mengapakah kamu tidak bersyukur? Maka terangkanlah  (kepada-Ku) tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau kami yang menjadikannya? Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu  Yang Maha Besar” (QS. Al Waqi’ah [56]: 63-74).

Pemberian Allah kepada manusia tidak hanya bersifat fisik, tapi juga non-fisik, yaitu menjaganya, merawatnya, mengambil-alih kesulitan yang dihadapinya, menutupi dan mengampuni dosa-dosanya, memberi kekuatan untuk melakukan kebaikan, dan yang tak kalah pentingnya, memberi kekuatan untuk melawan setan, karena tanpa bantan Allah, manusia tidak akan mampu mengalahkannya, sebagaimana firman Allah,  

”Sungguh (wahai) hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka (setan-setan) dan cukuplah Tuhanmu sebagai Pelindung”  (QS. Al Isra’[17]: 65). Nabi Yusuf a.s pun tidak mampu melawan nafsu syahwatnya menghadapi godaan wanita cantik dan kaya-raya, Zulaikha, seandainya tidak dibantu Allah, sebagaimana diceritakan Allah,  

وَلَقَدۡ هَمَّتۡ بِهِۦۖ وَهَمَّ بِهَا لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَٰنَ رَبِّهِۦۚ كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ

“Sungguh wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami menjauhkannya dari kejelekan dan kekejian (zina). Sungguh Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf [12]: 24).

Secara garis besar, ada dua macam hak Allah yang harus dipenuhi manusia, yaitu, pertama,  mengimani eksistensi-Nya beserta sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Kedua, berupa tindakan nyata yaitu menunaikan shalat, puasa Ramadhan, mengeluarkan zakat, berhaji, dan menjalankan semura perintah-Nya. Manusia harus memenuhi hak-hak Allah sebelum menuntut haknya untuk dikabulkan doa-doanya. Allah berfirman dalam hadis qudsi,

لَسْتُ بِنَاظِرٍ فِى حَقِّ عَبْدِى حَتَّى يَنْظُرَ فِى حَقِّى (رواه الطبرانى)

Aku tidak akan memberikan hak hamba-Ku sebelum ia menunaikan hak-Ku. (HR. Thabarani dari Ibnu Abbas ra).

            Allah SWT akan lebih mencintai orang yang mendepankan hak-hak Allah berupa shalat, puasa, zakat, haji, berzikir, membaca Al Qur’an, bertawakal, dan semua bentuk penyembahan lainnya kepada Allah daripada orang yang menuntut haknya untuk dikabulkan doanya oleh Allah. Allah SWT berfirman,  

               عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ يَقُوْلُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْأَنُ وَذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِى أَعْطَيْتُهُ اَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِيْنَ وَفَضْلُ كَلَامِ اللهِ عَلَى سَا ئِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ رواه الترمذي

Abu Said Al Khudry r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, Allah ‘Azza Wajalla berfirman, “Barangsiapa sibuk membaca Al Qur’an dan berdzikir sampai tidak sempat mengajukan permohonan kepada-Ku, maka Aku akan memberinya anugerah yang lebih berharga daripada yang Aku berikan kepada para pemohon. Ketahuilah, nilai kalam Allah lebih tinggi dari semua perkataan makhluk seperti ketinggian Allah dibanding makhluk-Nya (HR. Al Turmudzi).

Sungguh, Allah memenuhi hak-hak manusia lebih banyak daripada manusia itu sendiri memenuhi hak-hak Allah SWT. Saatnya, Anda berkonsentrasi kepada hak-hak ilahi dengan memuji dan menyembah-Nya. Semakin besar konsentrasi Anda untuk memuji-Nya, semakin banyak nikmat Allah yang Anda diterima, meskipun Anda tidak sempat memintanya.

Surabaya, 03/12/2018

Referensi: (1) Ali Usman dkk, Hadits Qudsi, Penerbit CV Diponegoro,  Bandung, 1979. P. 3219-322; (2) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 446-449).

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *