Header

LAMUNAN KULI BANGUNAN

April 19th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel

LAMUNAN KULI BANGUNAN

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

“Kreek breek.. aduh.,” itulah suara yang mengundang semua guru dan karyawan berlarian menolong kuli bangunan yang jatuh dari atap bagian depan SD Kyai Ibrahim Surabaya. Ia lalu dibawa ke ahli pijat tulang, karena pada tahun 1990-an, belum ada bantuan pengobatan Jamkesmas di Rumah Sakit  seperti sekarang. Karena tulang kakinya patah, ia tidak bisa lagi bekerja. Padahal ia harus menanggung uang kontrak rumah dan biaya hidup istri dan dua anaknya. Ia hanya menunggu kesembuhan secara alami dengan mengusap-usap kakinya dengan air penghangat dari ramuan jahe, bawang merah dan garam. Istrinya yang bekerja sebagai buruh cuci baju tetangganya, harus bekerja lebih kratif lagi untuk mengambil alih tanggungjawab ekonomi keluarga. Tapi ia tidak tahu pekerjaan apa lagi yang bisa dilakukan.

Ketika sampai di rumah setelah menjenguk kuli itu, dalam hati, saya mengajukan pertanyaan kepada Allah, “Wahai Allah, tidakkah Engkau berfirman, “Kami tidak membebani seseorang di luar kekuatannya. Mengapa hamba-Mu yang miskin Engkau beri cobaan seberat itu?” Belum memperoleh jawaban dari pertanyaan itu, saya sudah mendapat berita duka yang lebih mengerikan lagi. Kuli bangunan yang sudah bekerja di rumah beberapa minggu, tiba-tiba pulang dan bunuh diri di Pacitan. Ia tidak sanggup menanggung beban hidup keluarganya. Lebih-lebih penagih hutang dari rentenir selalu datang dengan wajah dan suara yang menakutkan.

Pembaca yang budiman, sebelum membaca lanjutan tulisan ini, jawablah terlebih dahulu pertanyaan Allah, “Masih adakah alasan bagimu untuk tidak berterima kasih kepada Tuhanmu/ fabi-ayyi alaa-i rabbikuma tukadzdziban?”. Rehab bangunan rumah terus dilanjutkan bersama kuli-kuli lainnya. Sewaktu mereka istirahat selepas makan siang dengan sayum asam, sambal trasi dan pepesan ikan asin, saya mengajak mereka berbincang-bincang ringan. Saya memulai dengan memuji mereka sebagai orang-orang yang sehat dan kuat. Tidak pernah flu, seperti yang lebih sering saya alami. Saat itulah bos para kuli, Pak Warji menjelaskan rahasia kesehatan atau sebut saja “kuliah kebugaran.” Ia langsung berdiri mengambil pipa air yang biasa dipakai mengukur kesamaan tinggi rendahnya bangunan. Pipa berisi air itu digerak-gerakkan, lalu ia katakan, “Lihat pak, tidak ada kotoran yang menempel di dalam pipa ini kan?” Ia meyakinkan, air dalam pipa yang tidak bergerak akan menimbulkan krak yang menyempitkan saluran pipa. “Bapak kan banyak duduk di kantor, sedangkan saya mulai pagi dan petang terus mengangkat bata?” katanya. Ia menambahkan dengan semangat bahwa orang-orang yang banyak makan tapi kurang gerak terkena macam-macam penyakit: asam urat, kolestereol, diabet dan sebagainya.

Bagi saya, “kuliah” itu lebih memberi motifasi untuk berolah raga daripada buku-buku yang saya baca.  Pak Warji benar-benar mengikuti petunjuk  Les Giblin (2009) yang mengatakan “Jika Anda menjelaskan sesuatu kepada seseorang dengan peragaan yang memukau, dijamin lebih dari dua bulan ia akan tetap mengingatnya.” Ada lagi yang lebih mengesankan saya, yaitu cita-cita salah satu kuli bangunan di antara mereka, “Saya ingin anak saya menjadi dosen seperti bapak.” Saya lebih tepat menyebutnya lamunan, karena ia selalu mengakhiri harapan itu dengan pesimisme, “Tapi apa ya mungkin?”

Cita-cita kuli bangunan itu sangat mulia. Orang besar tidak dijamin melahirkan orang besar pula. Nabi Nuh a.s ternyata tidak bisa mencetak anaknya sehebat dirinya. Bahkan, berlawanan arah hidup dengannya. Orang besar tidak harus lahir dari keluarga kaya. Orang terhormat, tidak selalu dari lingkungan orang-orang mulia. Anda menyukai kopi luwak? Kopi itu justru menjadi mahal setelah bercampur dengan kotoran luwak. Tidak sedikit orang hebat lahir dari keluarga paling miskin di kampungnya. Kuli bangunan mempunyai hak yang sama untuk melahirkan orang besar. Melalui tulisan ini, saya ingin mengangkat tangan semua kuli bangunan dan mengepalkannya untuk menumbuhkan optimisme. Bekerjalah yang benar dan semangat agar makanan untuk keluarga Anda halal. Berdoalah dengan penuh keyakinan bahwa Allah mengabulkan doa Anda. Jangan sekali-kali berdoa sambil membiarkan lintasan keraguan, “Apa ya mungkin?” “Setan saja dikabulkan doanya oleh Allah, apalagi Anda,” nasehat Sufyan bin Uyainah.

Bagi semua kuli bangunan yang ingin mengantarkan anaknya menjadi orang besar, saya tidak bisa membantu biaya. Saya hanya menyumbangkan suport keyakinan Anda. Rukuk dan sujudlah yang sangat, sangat lama setiap shalat sendirian, lebih-lebih detik-detik terakhir menjelang shubuh. Bacalah doa-doa dari Rasulullah SAW dalam rukuk dan sujud itu.  Lalu katakan dalam hati, “Wahai Allah, Engkau Maha Tahu bahwa aku hanya kuli bangunan yang harus membesarkan anakku yang bernama….. Wahai Allah, Engkau Maha Besar, Maha Menguasai alam semesta. Aku yakin x3, Engkau pasti x3 Maha Kuasa menolong aku mendidiknya. Engkau pasti x3 Maha Kuasa menjadikan anakku itu orang besar dan sholeh. Wahai Allah, usahaku sudah maksimal dan umurku sangat terbatas. Aku pasrah x3 kepada-Mu.

Selamat memulai pekerjaan dengan semangat dan riang hati. Matahari dhuha pagi ini adalah simbol cerahnya masa depan anak Anda atas pertolongan Allah.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

5 Responses

  • wati wati says:

    Assalamualaikum Pfof,
    Hampir setiap pagi saya buka Blok Prof Ali saya tunggu2 kok belum ada yang baru,lha pagi ini udah muncul tulisan Prof Ali .
    Prof saya sangat terharu sampai tak terasa air mata menetes,ketika “Wahai Allah,Engkau Maha Tahu aku hanya Kuli yang harus membesarkan anakku yang bernama……..Wahai Allah,Engkau Mha Besar,Maha Menguasai alam Semesta.Aku Yakin x3,Engkau pasti x3 MahaKuasa menolong aku mendidiknya.Engkau Pasti x3 Maha Kuasa menjadikan anakku itu orang besar dan sholeh.Wahai Allah,Usahaku sudah maksimaldan umurku terbatas.Aku Pasrah x3 kepada -Mu.
    Karena saat ini saya sementara jadi single Parent menghandle tugas sebagai ortu mengasuh juga cari nafkah untuk suatu alasan problem rumah tangga.
    semoga Allah memberikan kekuatan kesabaran dan diridhoi Allah atas usahaku selama ini.Amin……

  • willy phalevi says:

    sama sperti yg dibahas di radio tadi pagi……
    sy akan tetap berdo’a…. bahwa suatu saat nanti, anak sy menjadi orang besar yg berguna bagi agama, bangsa dan negara…… walau saat ini mengidap autisme.

  • Farhan says:

    Alhamdulillah, semoga dengan perantara tulisan Prof Ali semakin banyak orangtua yang benar-benar mendoakan anak-anaknya… karena dengan doa beliau anak bisa menjadi pemimpin yang bertanggungjawab. sayangya, masih ada orangtua yang berbuat sebaliknya, bahkan menjadi bumerang bagi anaknya sendiri,…. naudzubillah. setelah saya membaca tulisan Prof Ali, saya teringat surat al-Ahkof ayat 15 (smoga benar) yang isi kandungannya adalah, betapa besar dan dominan pengaruh Ibu Bapak terhadap anak-anak. setidaknya selama 30 bulan pertama sejak anak dilahirkan peran Ibu teramat penting… doa dan usaha menjadikan anak berkualitas benar-benar ada dalam konsep al-Qur’an. Bismillah !!!!!

  • santi says:

    saya menangis ketika saya dlm perjalanan dan mendengar ceramah profesor tentang cerita kuli bangunan ini.

  • m.sirojuddin says:

    Assalamualaikum w w.
    Alhamdulillah …
    Trims



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>