Header

LAQAD JA-AKUM – RINDU RASUL

February 26th, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel

LAQAD JA-AKUM – RINDU RASUL
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://dapurpelangi.blogspot.com

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS. At Taubah [9]: 128).

Ada empat alasan saya memilih topik ini. Pertama, ayat ini terkenal di seluruh dunia, baik dalam berbagai diskusi ataupun dalam kaligrafi di sejumlah tempat umum. Di Indonesia, ayat ini hampir pasti dibaca dalam acara bershalawat bersama. Kedua, ayat ini oleh Ubay bin Ka’ab disebut sebagai ayat yang terakhir turun. Ketiga, ayat ini pernah membingungkan Zaid bin Tsabit, r.a yang mendapat tugas dari Khalifah Usman bin Affan r.a untuk membukukan Alquran. Mantan sekretaris Nabi SAW itu telah berhasil mengumpulkan semua ayat dari para sahabat. Namun, masih kesulitan menemukan ayat ini. Setelah dilacak bersama tim, barulah ayat ini ditemukan di rumah Abu Khuzaimah Al Anshary r,a. Itu pun, masih membingungkan, ayat ini turun di Makkah atau Madinah, lalu dimasukkan dalam surat yang mana.

Keempat, Rasyad Khalifah, ahli biokimia Mesir-Amerika yang menganalisis numerologis Alquran juga pernah bingung dengan ayat ini. Dalam risetnya, ia berkesimpulan bahwa semua kata benda dalam basmalah yang diulang-ulang dalam Alquran pasti bisa dibagi habis dengan angka 19. Angka pembagi ini adalah jumlah huruf dalam basmalah itu sendiri.

 Pakar Islam yang dibunuh pada tahun 1990 oleh para penentang pemikirannya itu membuktikan, bahwa kata ismi dalam basmalah terulang sebanyak 19 kali, sama dengan 1×19. Kata Allah terulang dalam Alquran sebanyak 2.698 kali, sama dengan 142×19. Kata ar-Rahman terulang sebanyak 57 kali, sama dengan 3×19. Lalu, kata terakhir dalam basmalah, yaitu ar-Rahim terulang dalam Alquran sebanyak 115 kali. Nah, jumlah ini tidak bisa dibagi habis dengan angka 19. Inilah yang membuat peneliti itu bingung. Setelah diteliti lebih mendalam, ternyata kata ar-Rahim dalam ayat ini terkait dengan akhlak Nabi SAW, bukan mensifati Allah. Dengan demikian, ar-Rahim yang mensifati Allah, Maha Penyayang, hanya berjumlah 114, sama dengan 6×19.

Mengapa dua sifat Allah, rauf (penyantun) dan rahim (penyayang) disematkan pada pribadi Nabi SAW? Sebab, kasih sayang Nabi kepada manusia di atas rata-rata yang dimiliki manusia pada umumnya. Oleh sebab itu, dalam ayat ini, Allah menggunakan kata, “telah datang kepadamu,” bukan “telah Kami datangkan kepadamu.” Dengan kata lain, sebelum adanya perintah Allah untuk mengasihi manusia dalam ayat ini, dalam diri Nabi telah terhunjam sifat mengasihi yang luar bisa kepada manusia.

Coba Anda perhatikan, bagaimana reaksi Nabi ketika mendengar berita kematian Ja’far bin Abu Thalib r.a dalam perang Mu’tah. Nabi langsung mengunjungi rumah duka dengan membawa sejumlah makanan yang dikumpulkan dari para sahabat. Para yatim yang ditinggalkan syuhadak itu diajak Nabi ke tukang cukur rambut, disuapi makanan, digendong, dan disayang melebihi orang tuanya sendiri. Berpuluh tahun kemudian, si yatim itu menjadi hartawan yang budiman dan bercerita bagaimana Nabi menyayanginya sejak yatim kecil, lebih mengesankan daripada sang ayah.

Berdasarkan ayat ini, ada tiga karakter Nabi SAW. Pertama, ‘aziizun alahi maa ‘anittum, artinya ikut merasakan derita orang lain. Sama seperti orang di depan cermin: sama-sama senyum, atau sama-sama sedih. Nabi merasakan sakit, persis sama dengan yang Anda rasakan. Hatinya teriris-iris, jika melihat Anda dizalimi orang. Pundaknya merasakan berat yang sama dengan beban pundak Anda yang memikul beban hidup yang berat. Nabi bahkan meminta Allah, agar semua derita sakaratul maut manusia ditanggung sendirian olehnya, agar kelak tidak ada lagi orang yang merasakan derita itu menjelang ajalnya.

Kedua, hariisun ‘alaikum, artinya, luar biasa keinginan Nabi untuk menjadikan Anda manusia yang berbudi dan terharum di langit dan di bumi. “Biarlah lenganku terlepas karena menarik badanmu, atau punggungku retak menggendongmu demi keselamatanmu.” Begitulah kira-kira pikiran Nabi sepanjang siang dan malam. Nabi menangis jika melihat satu saja pengikutnya melakukan dosa. “Mengapa engkau tega menyusahkan aku di hari pertanggung jawabanku atas tugas-tugas kenabianku? Apakah seruanku selama ini kurang jelas? Mengapa engkau tega menyiksa dirimu sendiri, sedangkan aku bersusah payah menyelamatkanmu.” Demikianlah kira-kira kekecewaan Nabi melihat orang yang melakukan dosa. Anda mungkin tertawa dalam dosa. Tapi, tahukah Anda, bahwa saat itu, Nabi berlinang air mata memikirkan nasib Anda.

Ketiga, bil mukminiina rauuf Rahiim, artinya Nabi adalah rauf yaitu bertindak langsung untuk mencarikan solusi atas masalah yang dihadapi pengikutnya. Nabi juga Rahim, yaitu  menyayangi orang secara umum, bermasalah atau tidak. “Saya amat mencitaimu. Apa yang bisa saya bantu?.” Begitulah kira-kira ungkapan simpatik Nabi kepada setiap umatnya. Apakah mata Anda belum juga berka-kaca membaca ayat ini?

Silakan Anda baca ayat ini berkali-kali di dalam shalat atau sesudahnya, dan resapilah, renungkan sedalam-dalamnya sampai karakter Nabi itu merasuk ke dalam jiwa Anda. Bacalah berkali-kali lagi, dan renungkanlah sampai ruh Anda bertemu dengan ruh Nabi SAW. Semoga cara ini mempercepat Anda menyerap keharuman akhlak Nabi SAW.   

Sebagai penutup, saya kutipkan kisah dalam buku, Ra-aitun Nabiyya SAW, Mi-atu Qisshatin Min Rua-an Nabi karya Abdul Aziz Ahmad Abdul Aziz. Dalam buku ini dikatakan, bahwa di kalangan masyarakat Iraq, nama Syibli sangat terkenal sebagai orang gila. Suatu saat, seorang syekh paling kharismatik mencari si gila itu dan mencium keningnya. Ketika masyarakat terheran-heran, Syekh itu menjelaskan, “Saya melakukan seperti ini, sebab semalam aku bermimpi melihat Nabi menciumnya. Nabi melakukannya, karena Syibli, yang selalu menyamar dan menyembunyikan kesalehannya itu, selalu membaca ayat Laqad jaa-akum rasuulun….dst setiap selesai shalat, lalu bershalawat, “Shallallahu ‘alaika ya Muhammad.

Semoga Anda seharum Nabi dan segera mendapat giliran ciuman kekasih Allah itu.

        Surabaya 17-8-2019

(1). Abdul Aziz Ahmad Abdul Aziz, Ra-aitun Nabiyya SAW, Mi-atu Qisshatin Min Rua-an Nabi, (100 Kisah Nyata Mimpi Melihat Nabi), terjemah oleh Kaserun AS Rachman, Penerbit Turos, Jakarta, 2015. P. 129, (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol.5 Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p.300-305 (3) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 23, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *