Header

LEPAS DERITA MERANGKUL RASULULLAH TERCINTA

December 15th, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel

LEPAS DERITA MERANGKUL RASULULLAH TERCINTA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

mhmmd

sumber gambar: http://islamicstyle-img.al-habib.info/download/2011/12/My_Wallpaper_by_drDIGITALhamodi.jpg

“Dan Kami tidak mengutus seorangpun rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sungguh jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’ [04]: 64).

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah SWT menjelaskan adanya sejumlah orang yang menyatakan kesetiaan di depan Nabi SAW, tapi ternyata hanya pengakuan palsu. Mereka masih menyembah thaghut yaitu sesuatu yang dituhankan selain Allah. Hebatnya, Nabi SAW tetap diperintah untuk berbicara kepada mereka dengan perkataan yang sopan dan mengesankan (qaulan baligha). Sebaliknya, pada ayat berikutnya sebagaimana dikutip di atas (ayat 64) Allah menjelaskan sejumlah orang yang datang kepada Nabi untuk menyatakan kesetiaan sepenuh hati.

Imam As Sya’rawy memikirkan ayat ini sampai 10 tahun, “Betapa nikmatnya para sahabat yang hidup semasa dengan Nabi SAW. Mereka bisa setiap saat menemuinya untuk menyatakan penyesalan atas sebuah dosa, lalu ia memintakan ampunan untuk mereka dan Allah mengampuni mereka.” Inilah kemuliaan yang khusus diberikan Allah kepada Nabi SAW. Juga keistimewaan para sahabat yang semasa dengannya. Bagaimana nasib generasi sesudah wafatnya Nabi? Inilah kegelisahan Imam As Sya’rawy. Ia baru terhibur ketika menemukan sabda Nabi SAW, “Hidupku menguntungkan kalian, demikian juga kematianku. Semua perbuatanmu dilaporkan kepadaku. Jika aku saksikan itu perbuatan baik, maka aku bersyukur kepada Allah, dan jika buruk, maka aku memohonkan ampunan untuk kalian.” (HR. Ibn Sa’ad dari Bakr bin Abdillah r.a).

Dari hadis itulah, maka As Sya’rawy menyimpulkan istighfar Nabi SAW berlaku untuk semua umatnya sepanjang masa sekalipun ia sudah wafat, asalkan mereka bersedia datang kepadanya, sebagaimana disebut dalam ayat di atas, “..datang kepadamu (Muhammad) lalu memohon ampun kepada Allah.” Mendatangi nabi artinya berkomitmen untuk mengikuti ajarannya dan beristighfar kepada Allah. Berdasar ayat ini pula, Anda tidak cukup memuji-muji Nabi SAW secara lisan dalam shalat atau pada acara-acara keagamaan, tapi harus juga menjalankan ajarannya dalam kehidupan nyata atas pertolongan Allah (bi-idznillah).

Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah Vol 2 p. 597-599 menyebutkan ampunan yang dimintakan Rasulullah berlaku untuk siapa saja yang menghadapnya untuk menyesali dosanya. Mengapa demikian? Menurut Ar Razi, “Siapapun yang melanggar agama, maka ia sebenarnya melanggar ajaran Nabi. Maka untuk menunjukkan keseriusan bertobat, ia harus datang kepadanya.”

Tafsir Ibnu Katsir Juz II, p. 731 mengutip pernyataan As Syekh Abu Nashar ibn Shabagh, penulis kitab As Syamil tentang kisah Al ‘Utba, sebuah cerita yang amat terkenal. Al ‘Utba mengatakan, “Aku pernah duduk di depan makan Nabi SAW. Tiba-tiba datanglah orang Arab dari desa pegunungan memberi salam kepadanya, “Assalamu’alaika ya Rasulallah / salam untukmu wahai utusan Allah.” Tiba-tiba aku mendengar suara firman Allah sebagaimana dikutip di atas, “Sungguh jikalau mereka ketika menganiaya dirinya (atau berdosa) datang kepadamu (Muhammad) lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (QS. An Nisa’ [04]:64)” Setelah mendengar firman Allah itu, orang pedesaan berkata lagi, “Aku datang kepadamu, wahai Nabi untuk beristighfar kepada Allah dan memohon syafa’atmu.” Lalu pergilah orang itu. Pada malam harinya, saya bermimpi didatangi Rasulullah dan berkata, “Wahai Al ‘Utba, orang Arab itu benar. Beritahukan kepadanya Allah telah mengampuninya.”

Tahukah Anda bahwa sebenarnya Anda setiap hari datang kepada Nabi SAW berkali-kali dan mengucapkan salam kepadanya, “Assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh / salam untukmu, wahai Nabi. Semoga keselamatan, rahmat dan berkah Allah tetap untukmu.” Senangkanlah hati Anda dalam setiap tasyahud dan rangkullah Rasulullah ketika itu. Katakan kepadanya, “Wahai Rasulullah, aku datang kepadamu untuk mengakui dosa-dosaku sebagai suami atau istri kepada istri atau suamiku, atau dosa sebagai ayah/ibu kepada anak-anakku, atau dosa sebagai anak kepada orang tuaku, atau dosa-dosa meninggalakn perintah dan melanggar larangan-Mu. Wahai Rasulullah, aku mengakui belum menjadi suami atau ayah yang benar seperti akhlak yang engkau ajarkan. Wahai Rasulullah, aku merangkulmu agar keharuman akhlakmu mewarnai kehidupanku. Wahai Rasulullah, aku datang kepadamu agar engkau berkenan memintakan ampunan Allah untukku. Rangkullah Rasulullah lebih erat sekali lagi dan katakan, “Wahai Rasulullah, aku berharap bisa sering berziarah ke Mekah tempat kelahiranmu dan ke Madinah di depan makammu bersama orang tuaku, istri dan anak-anakku. Wahai Rasulullah, aku berharap engkau tersenyum kepadaku ketika Malaikat Izrail mencabut nyawaku. Wahai Rasulullah, gandenglah tanganku, ibu dan bapakku, istriku dan anak-anakku ke istana surga yang disediakan Allah untukmu. Wahai Rasulullah, aku yakin, yakin, yakin kehangatan kulitmu akan menyembuhkan semua penyakitku dan menyemangati hidupku. Assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh. Assalamu’alaika ya Rasulallah. Salam untukmu wahai Rasulullah.”

Setelah merenungkan ayat ini, maka bacalah dengan kesyahduan shalawat Nabi yang amat terkenal dan pasti Anda sudah menghafalnya: Ya sayyidi, ya Rasulallah. Ya man lahul jah ‘indallah. Innal musi-ina qad ja-u. Lidz dzanbi yastaghfirunallah (Wahai pemimpinku, wahai Rasulullah. Wahai manusia termulia di sisi Allah. Mereka yang berlumuran dosa termasuk aku sekarang datang kepadamu agar engkau memintakan ampunan Allah untukku).

Berdoalah, Allahummaj’al ayyamana ayyama Rasulillah, walayalana layala Rasulillah (wahai Allah, jadikan hari-hari kami hari-hari bersama Rasululullah dan malam-malam kami malam-malam bersanding dengan Rasulullah). Jadikan keluarga Anda tiada shalat tanpa merangkul Rasulullah. Rangkullah Rasullah tercinta dan sirnalah semua derita, sekarang dan kelak di alam baka.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

4 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *