Header

LISAN SAUL, QALBUN AQUL

August 29th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel

LISAN SAUL, QALBUN AQUL
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.huffpost.com/entry/asking-questions-is-really-hard

“Kami tiada mengutus para rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Anbiyak [21]:07)

            Pada ayat-ayat sebelumya dijelaskan tentang penolakan orang kafir terhadap kepemimpinan Nabi SAW karena ia manusia biasa, bukan malaikat. Sebagai kelanjutan, ayat di atas menegaskan bahwa memang benar Nabi SAW dan semua nabi sebelumnya adalah manusia biasa, berjenis kelamin lelaki yang mendapat wahyu dari Allah. Jika masih meragukan penegasan itu, maka Allah menyuruh mereka bertanya kepada ahli kitab Injil dan Taurat, para pemuka agama Kristen dan Yahudi.

Inilah ayat yang menegaskan keleluasaan bagi kita mencari ilmu dan banyak bertanya kepada para ahli, meskipun berbeda agama dengan kita. Abdullah bin Abbas r.a adalah orang yang mempraktikkan ayat ini. Ia mengunjungi para sahabat senior untuk mendapatkan ilmu, bahkan seringkali tertidur di depan rumah mereka. ”Wahai keponakan Rasulullah SAW, mestinya saya yang mengunjungimu,” kata mereka. Sahabat Mughirah r.a  bercerita, Ibnu Abbas pernah ditanya:

كَيْفَ أَصَبْتَ هَذَا الْعِلْمَ؟ قَالَ بِلِسَانٍ سَئُوْلٍ وقَلْبٍ عَقُولٍ

“Bagaimana engkau bisa mendapatkan ilmu sebanyak itu?  Ia menjawab, “Bi lisaanin sa-uul, waqalbin ‘aquul” (dengan lisan yang banyak bertanya, dan otak yang terus berpikir).”  (HR. Ahmad 2/970)

Putra paman Nabi yang lebih sering dipanggil Ibnu Abbas ini sejak kecil mendapat ilmu dan nasihat-nasihat yang amat dalam dan berbobot dari Nabi. Beliau juga mendoakannya, ”Wahai Allah, berikan anak ini  keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab suci-Mu.” Berkat doa Nabi dan kegigihannya dalam mencari ilmu itulah, Ibnu Abbas  mendapat julukan ”Hibrul Ummah” (tinta manusia), dan ”Al Bahru” (samudera ilmu) dalam ilmu Alquran.

            Pada masa pemerintahan Umar r.a, ia sering diminta pendapat dalam banyak hal, padahal di sekelilingnya banyak sahabat veteran perang Badar yang lebih senior. Umar r.a memberinya julukan ”Pemuda Tua,” karena terlalu pintar untuk ukuran anak seusianya. Sedangkan pada masa Usman r.a, ia mendapat tugas mengembangkan dakwah di Afrika Utara. Adapun pada masa Ali r.a, ia mendapat kepercayaan untuk memberi pencerahan kelompok Khawarij, dan berhasil memengaruhi 15.000 orang dari mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

Siapapun yang ingin menjadi orang cendekia, ia harus mengikuti dua cara yang dinasihatkan oleh Ibnu Abbas r.a. Pertama, lisaanun-sauul, yaitu lisan yang banyak bertanya.  Silakan membuat pertanyaan sendiri tentang sesuatu masalah, lalu cailah jawabannya di buku-buku, atau bertanyalah kepada para ahli sesuai dengan bidangnya. Jika pertanyaan disampaikan dalam ruang kelas, diskusi, seminar dan sebagainya, Anda harus lebih berhati-hati mengajukannya, sebab didengar banyak orang. Ingat, pertanyaan yang baik mencerminkan kualitas dan kepribadian, yang selanjutnya ikut menentukan karir Anda, dan nama baik organisasi Anda. Pertanyaan yang berkualitas juga menentukan bagaimana respon narasumber dan semua peserta diskusi. Bahkan, pertanyaan yang baik akan diabadikan dalam dokumen penting. Elon Musk, seorang pebisnis dan pakar teknologi dari Amerika mengaku bisa menguasai ilmu roket berkat kegemarannya membaca dan banyak bertanya.

Ada sembilan kiat bertanya yang baik, yaitu (1) gunakan bahasa yang baku, singkat, dan  mudah dipaham, (2) sampaikan dengan suara yang jelas, (3) berbicaralah ketika Anda telah diberi kesempatan, jangan menyela pembicaraan orang, (4) hindari pertanyaan yang secara umum mudah dicari jawabannya, termasuk dari internet, (5) hindari pertanyaan yang menggiring narasumber pada suatu posisi yang tidak diinginkan, (6) hindari berprilaku agresif atau membuat narasumber merasa tidak nyaman mendengarnya, (7) pelajarilah topik masalah secara mendalam dari berbagai perspektif sebelum bertanya, atau lebih baik lagi, sebelum memasuki ruangan, (8) berikan apresiasi atas pengetahuan baru yang telah Anda peroleh dari narasumber sebelum bertanya, dan (9) bertanyalah tentang hal-hal yang kurang Anda pahami, tentang pendapat pribadi narasumber, atau sanggahan atas pendapatnya.   

Kedua, qalbun ‘aquul yaitu otak yang terus berpikir. Otak yang tajam hanyalah otak yang selalu diasah, sebagaimana menajamkan pisau dengan menggosoknya berulang-ulang pada alat pengasah. Alquran mendorong kita untuk berpikir kritis. Oleh sebab itu, kita harus memiliki keingintahuan intelektual (intellectual curiosity) yang tinggi tentang suatu masalah, dan secara tekun memaksimalkan waktu, tenaga dan motivasi untuk mencari jawabannya. Akan lebih produktif otak kita, jika tidak hanya berpikir kritis, tapi juga kreatif.

Ada sembilan cara berpikir kritis, yaitu (1) buatlah asumsi tentang suatu masalah, lalu berdasar asumsi itu, pikirkan jawabannya secara obyektif. Jangan terpangaruh emosi yang cenderung merusak obyektivitas Anda, (2) berpikirlah lebih maju daripada orang lain, (3) gunakan data yang valid untuk pijakan berpikir, (4) jangan takut hasil pikiran Anda ditertawai orang, (5) perbanyak membaca buku-buku berkualitas yang terkait dengan masalah yang sedang dipikirkan, (6) berpikirlah secara mendalam, bahkan out of the box, dan jangan terpengaruh pikiran kelompok, atau mainstream, (7) hargai semua pendapat yang berbeda, (8) tingkatkan fungsi otak dengan tiga cara, yaitu berfikir selama 30 menit setiap hari, berolah raga, dan mengonsumsi makanan yang menguatkan otak, (8) belajarlah kepada sebanyak mungkin orang tanpa melihat status sosialnya. Ibnu Samak berkata, ”Jika engkau tidak mau belajar kepada orang yang lebih rendah, engkau semakin congkak dan kehilangan ilmu darinya.” Syekh Abdus Salam juga berkata, ”Tanda tawadhuk adalah senang mendapat nasihat dari orang yang lebih rendah dan berguru kepadanya.”

Selamat berjuang menjadi manusia cendekia dengan B2 (bertanya dan berpikir) atau lisaan sa-ul dan qalbun ’aqul.

Sumber: (1) Muhammad bin Ali bin Muhammad As Syaukaany, Juz 13, Fat-hul Qadiir, Lajnah Lit Tahqiiq Wal Buhuths Al ‘Ilmy Bi Daaril Wafaa-i, tt p. 546 (2) Hepi Andi Bastomi, 101 Sahabat Nabi, Pustaka Al Kautsar, Jakarta Timur, 2004, 15-18. (3) Al Sya’rani, Abdul Wahhab, Tanbih Al Mughtarrin, penyadur: W. Wikarta: Jalan-jalan Surga, Akhlak dan Ibadah Pembuka Pintu Surga, Mizania, Bandung, 2017, Cet. 1

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *