Header

MEMAJUKAN BANGSA DENGAN “JUS TOMAT”

July 13th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel

MEMAJUKAN BANGSA DENGAN “JUS TOMAT

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

jus tomatJus tomat bisa menyehatkan badan, itu sudah jelas. Seiring dengan kesadaran masyarakat tentang minuman kesehatan, saat ini semakin banyak penjual minuman sari buah itu di tepi-tepi jalan raya, dan saya senang melihat pembeli antri membelinya. Tapi bisakah Jus Tomat menjadi “jimat” untuk memajukan bangsa?

Semua tokoh masyarakat dari semua lapisan mengakui bahwa kemajuan ekonomi telah dirasakan. Bahkan jumlah orang kaya jauh meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi pada saat yang sama, kita menyaksikan sesuatu yang kontras. Orang miskin yang terdaftar (saja) penerima BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) atau kadang disingkat BALSEM berjumlah 15,5 juta orang.  Bersamaan dengan itu, kita menyaksikan dengan mata telanjang  kenyataan rapuhnya karakter semua elemen bangsa. Lembaga pendidikan umum dan Islam, yang seharusnya menjadi pusat penguatan karakter, juga terjangkit virus perusak karakter yang sama.  Setiap Ujian Nasional akhir tahun, kita selalu dikejutkan berita adanya kebohongan yang dilakukan guru atau tenaga kependidikan demi mercusuar sekolah atau daerah.

Dalam dunia politik, wajah para pemimpin kita digambarkan oleh pengamen di atas bus kota. Dua pemusik jalanan, masing-masing  dengan gitar dan harmonica menyanyikan lagu sindiran secara kompak. “Aku sudah tidak perlu rumah mewah, karena telah dibeli para wakilku. Tidak perlu memiliki rekening di bank,  karena telah diambil oleh wakilku. Tidak perlu kendaraan bermilyar, karena telah dinaiki wakilku. Jika aku mati, aku akan bebas, karena semua dosa telah diambil-alih para wakilku.”

Tidak sedikit pimpinan kita yang terseret ke meja hijau menjadi pemain sandiwara yang handal, padahal tidak pernah sekolah teater sebelumnya. Uh, untuk mendapat simpati dari para penegak hukum, mereka bisa bersandiwara sakit dengan infuse di tangan, atau perban di kepala dengan ekspresi yang luar biasa penghayatannya. Atau berlagak pikun dengan suara yang mantap di depan para hakim, padahal ia sebelumnya cerdas, kuat ingatan dan tidak pernah keliru menghitung kekayaannya.  Ada juga public figure yang tiba-tiba saja tampil beda: berjilbab rapat di kepala, atau baju koko-takwa ketika menjalani pemeriksaan. Semoga itu dandanan simbol kesungguhan bertobat.

 Inilah waktu yang tepat kita suguhkan “Jus Tomat” untuk kesehatan karakter bangsa kita ke depan. Jus Tomat yang saya maksud adalah singkatan dari delapan karakter mulia, yaitu Jujur, Ulet, Sabar, Tawakal, Optimis, Menghargai, Amanah dan Tanggungjawab. Karakter itulah yang menjadi cita-cita Nabi SAW, bahkan selalu memenuhi pikirannya sepanjang tugas membimbing umatnya. Allah SWT memuji kesunggguhan perjuangan Nabi itu. “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At Taubah [9]:128). Itulah orang yang harus Anda idolakan. “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” .(QS. Al-Ahzab [33]:21)

Tidak ada satupun orang yang meragukan kejujuran Nabi. Musuh yang paling jahatpun tidak bisa menemukan satupun bukti kebohongan Nabi. Mereka harus mengakui kebenaran gelar Al Amin (Manusia Terpercaya) yang diberikan oleh masyarakat kepadanya. Selain Nabi, sekalipun terkenal sedunia sebagai orang jujur, pasti pernah satu atau beberapa kali dusta. Minimal dirinya sendiri yang mengetahui. Negeri ini amat kaya orang cerdas intelektual tapi tidak cerdas emosional dan spiritual.

Dengan kecerdasan itulah,  seorang oknum pegawai negeri sipil bisa memiliki rekening ratusan milyar.  Sekian lama, ia aman saja melakukan korupsi dengan bersiul-siul karena aman dari diteksi penegak hukum. Ia juga lenggang kangkung menghabiskan uangnya di luar negeri. Atau juga menitipkan kepingan emas di manca negara itu. Beberapa hari terakhir, kita prihatin melihat beberapa orang yang selama ini kita kagumi bacaan Al-Qur’an dan bahasa Arabnya harus duduk di kursi pesakitan di Pengadilan Tinggi Korupsi.

Orang kecil juga tidak kalah cerdasnya. Dengan teknologi temuannya, bisa membuat makanan goreng terasa kremes lezat. Cukup dengan memasukkan tas kresek di minyak goreng yang telah mendidih. Mereka juga bisa membuat ayam tirin (mati kemarin) yang sudah busuk menjadi ayam goreng empuk dan sedap atau menjadi nugget. Atau menaburkan formalin (obat pengawet mayat) di tahu atau ikan sehingga tidak bisa busuk. Atau membuat gula merah menjadi keras dan tahan lama dengan mencampurkan sabun deterjen.

Di dunia kampus juga demikian.  Adalah peristiwa yang amat memprihatinkan, seorang wisudawan dianugerahi piagam penghargaan sebagai alumni terbaik. Tapi beberapa tahun kemudian, terbukti tugas akhirnya merupakan jiplakan sembilanpuluh lima persen dari karya orang lain. Inilah contoh-contoh kecerdasan intelektual yang  justeru membahayakan masa depan bangsa karena tidak disertai kecerdasan emosional spiritual atau karakter terpuji.

Jika tujuh puluh persen saja kepala pemerintahan di semua level, dan para wakil rakyat bertindak jujur, negeri ini akan melompat menjadi Negara terhebat di Asia, bahkan di dunia dalam waktu yang tidak lama.

Di samping kejujuran, kita harus menjadi bangsa yang ulet dan sabar, tahan bantingan dan tidak mudah menyerah pada tantangan. Sebuah cita-cita harus dilalui penuh keringat bahkan berdarah-darah dan perlu waktu. Perlu keuletan dan kesabaran, sebab tidak yang instant dalam meraih cita-cita. Setiap kesulitan lebih tepat dipandang sebagai tantangan daripada sebagai rintangan. Ketika Nabi menjadi karyawan pada wanita kaya, Khadijah, ia diberi bayaran dua kali lipat daripada yang diterima karyawan lain. Apa yang dijual sama dengan yang dijual pegawai lain. Tapi di tangan Muhammad (waktu itu belum diangkat sebagai nabi), omset penjualan jauh melampaui target, karena keuletan nabi dalam menjalankan tugas dan kejujurannya terhadap pembeli dan kepada majikan. Nabi mengajarkan keuletan umatnya dengan menanamkan keyakinan bahwa setiap tantangan pasti ada jalan keluarnya, setiap kesulitan pasti ada kemudahan di kemudian hari (inna ma’al ‘usri yusra). Putus asa dalam segala hal bertentangan dengan prinsip keimanan. Hanya orang kafirlah yang berputus asa dari kasih dan pertolongan Allah.

Jika usaha telah dilakukan secara maksimal, hanya ada satu kata yang diperlukan: tawakal,  yaitu menyerahkan sepenuhnya apapun hasil ikhtiar tersebut kepada Allah. Ulet bekerja itu baik, tapi jika tidak dibentengi dengan tawakal, kemungkinan stres sangat tinggi dan berbahaya. Sebab kemungkinan gagal, selalu ada dalam setiap usaha. Tidak ada usaha yang sukses selamanya. Jumlah orang stres selalu bertambah setiap tahun, karena ketiadaan sikap tawakal atau tawakal hanya dengan setengah hati.  Tawakal harus berbasis iman, yaitu didahului usaha yang maksimal. Nabi hanya mau berangkat berperang,  jika persiapan dan perhitungan yang matang berdasar analisis politik, logistik telah dilakukan.  Jika sudah, maka Nabi memimpin pasukan dengan komando hasbunallahu wani’mal wakil (Cukuplah Allah sebagai penolong dan pelindung kami).

Di samping tawakal, pemimpin baru bisa berhasil jika percaya diri dan optimistis. Ia harus yakin dan yakin bahwa Allah pasti dan pasti Maha Kuasa memberi pertolongan kepadanya. Hanya orang yang percaya diri dan optimis yang bisa meraih kesuksesan. Berlatihlah sampai menjadi kebiasaan untuk rukuk dan sujud yang lama (minimal 30 detik) setiap shalat. Katakan dalam hati, “Aku yakin, yakin, yakin akan pertolongan Allah. Pasti, pasti dan pasti Allah Maha Pengasih untuk memberi kemudahan menuju kesuksesan saya.” Anda akan terkejut, ternyata apa yang Anda takuti ternyata sama sekali tidak terjadi. Anda akan keheranan terhadap diri Anda sendiri: ternyata Anda bisa melakukannya. Sukses dan sukses sudah di depan mata.

Anda pasti mendapat simpati dan teman kerjasama yang menguntungkan, jika Anda pandai menghargai orang lain. Nabi tidak mungkin mendapat dukungan luas jika tidak pandai menghargai karya dan perasaan orang.  Tidak jarang Nabi mendengarkan dengan antusias pendapat peserta rapat. Hasil keputusan juga diikuti nabi, walaupun di kemudian hari, terbukti keputusan itu merugikan.  Nabi mengajarkan menghargai perasaan orang dengan larangan berbicara berdua ketika berada dalam kelompok. Orang lain bisa tersinggung, apalagi berbisik atau menggunakan bahasa yang tidak umum dalam lingkungan itu.

Bagi Nabi, tugas sebagai rasul adalah amanah. Demikian juga sebagai kepala Negara. Ia memikul dua amanah: sebagai rasul dan sebagai kepala Negara. Betapa berat tugas itu. Tugas itu dikerjakan dengan fokus dan sungguh-sungguh. Siang dan malam hanya berfikir tentang tugasnya. Sama sekali tidak menyalahgunakan kekuasaan dengan seenaknya.  Betapa sakit hati rakyat kecil yang membayar pajak di kantor kelurahan, ketika melihat seorang PNS pajak tidak amanah, dengan menyalahgunakan kekuasaanya untuk mencuri puluhan milyar rupiah. Atau mendengar setiap hari ada transfer haram mliyaran rupiah hasil korupsi. Betapa keras jeritan orang-orang yang sampai mempunyai anak empat belum punya rumah melihat orang punya rumah di semua propinsi hasil korupsi.

Sifat Nabi berikutnya yang patut kita tauladani adalah jiwa ksatria yaitu bertanggungjawab penuh sebagai pemimpin. Tidak mencari-cari alasan atau kambing hitam jika terjadi suatu kegagalan. Pada suatu persiapan perang, beberapa tentara muslim termakan psy-war musuh sehingga enggan berangkat perang.  Karena tanggungjawab perang di atas pundak nabi, maka di hadapan tentara yang lemah semangat, Nabi berkata, “jika kalian tidak berangkat,  saya sendirilah yang berangkat berperang”. Rasa tanggungjawab itulah yang membuat ia menangis ketika ia mendengar firman Allah yang sedang dibaca Abdullah bin Mas’ud. Ayat itu berbicara tentang keharusan Nabi untuk bertanggungjawab  atas semua umatnya di akhirat kelak.

Seumur hidup Nabi, ia selalu berfikir tentang orang lain daripada dirinya sendiri. Ia diharamkan menerima zakat dari umatnya. Jika menggunakan pakaian yang amat disukai, lalu ada seorang sahabat yang memintanya, baju itu segera diberikan. Ia memang menyukai baju itu, tapi membuat orang lain suka dan senang itulah yang lebih diutamakan. Beberapa menit sebelum ajal menjemput, Nabi masih bertanya kepada Malaikat Jibril, “Bagaimana umatku kelak?”. Negara ini rusak karena beberapa pemimpin kita lebih memikirkan diri, keluarga, kelompok dan partainya daripada orang lain yaitu kepentingan rakyat banyak.

Minumlah JUS TOMAT untuk bahagiaan rumah tangga Anda. Juga suguhkan kepada semua pemimpin untuk kejayaan bangsa ke depan! Selamat menikmatinya.

sumber gambar: http://media.viva.co.id/thumbs2/2013/02/14/192413_jus-tomat_663_382.jpg

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

3 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *