Header

MEMBAKAR UANG

December 19th, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel

MEMBAKAR UANG
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Demi masa. Sungguh manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (QS. Al-Ashr [103]: 1-3).

Firman Allah di atas bukan satu-satunya ayat yang diawali sumpah dengan waktu. Masih banyak ayat lain yang sejenis, antara lain, “Demi waktu fajar” (QS. 89: 1), “Demi waktu subuh ketika fajar telah menyingsing” (QS. 81: 18), “Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalan), dan demi waktu malam ketika telah sunyi” (QS. 93: 1-2), “Demi waktu malam ketika menutupi cahaya siang, dan demi waktu siang ketika terang benderang” (QS.92: 1-2). Semua ayat di atas menunjukkan betapa pentingnya waktu dan betapa besar kerugian orang yang melewati waktu tanpa perencanaan yang jelas atau digunakan untuk perbuatan sia-sia, apalagi dosa.

Muhammad Ibrahim An Nu’aim dalam bukunya Kaifa Tuthilu ‘Umrakal Intaji bertanya, “Apa komentar Anda terhadap orang yang membakar uang setiap hari?” Tentu jawaban Anda, “Ia bodoh, sombong atau tidak waras.” Bagaimana jika seseorang menyia-nyiakan waktu? Tentu lebih bodoh dan gila, sebab jika uang hilang, kita masih bisa mendapatkannya di lain waktu. Namun, jika waktu yang terbuang sia-sia, kita tidak bisa mencarinya lagi, sebab waktu tidak terulang, seperti jarum jam yang tidak bisa diputar kembali.

Waktu adalah modal besar dan penentu bahagia atau tidaknya masa depan Anda.  Sumpah Allah dengan waktu merupakan peringatan agar tidak ada satu menitpun lewat tanpa kegiatan yang bernilai positif dan produktif.  Perjalanan usia kita harus diisi dengan kegiatan yang bisa menjadi investasi untuk masa depan, baik jangka pendek yaitu dunia, maupun jangka panjang yaitu akhirat. Satu menit untuk menyebut nama Allah lebih baik dari seribu tahun tanpa mengingat-Nya. Majduddin Abul Barakat, kakek Ibnu Taimiyah tidak mau sedikitpun waktunya lewat tanpa memperoleh ilmu. Oleh karenanya, setiap ia masuk WC, ia menyuruh seseorang untuk membacakan buku dengan suara yang nyaring agar selama dalam WC ia tetap bisa memperoleh tambahan ilmu.

Abdullah bin Mas’ud berkata, ”Setiap aku melihat matahari terbenam di ufuk barat, hatiku amat gundah dan menyesal, sebab jatah umurku berkurang sedangkan ibadahku tidak bertambah.” Dawud At Tha’i lebih suka meminum fatiit (sup roti) daripada mengunyahnya, sebab menurutnya, “Minum sup roti lebih cepat. Durasi waktu untuk mengunyah roti cukup untuk membaca 50 ayat Al Qur-an.”

Para ulama terdahulu selalu membaca Al Qur-an dalam setiap perjalanan ke mana saja. Oleh karena itu, ia mengukur jarak perjalanan dengan seberapa banyak ayat Al Qur-an dibaca. Syekh Abdullah bin Baz selalu memanfaatkan waktu perjalanan dengan merenungkan tafsir ayat-ayat Al Qur’an. Abu Bakar bin Ayyasy mengatakan, ”Kebanyakan orang bersedih ketika kehilangan uang, tapi tidak pernah mengeluh ketika sehari umurnya hilang secara sia-sia.”

Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Adh Dhabi’i mengingatkan, “Gunakan waktu secara maksimal untuk meraih apa saja. Tapi, jangan lupa menyediakan waktu untuk bersenang-senang dan istirahat, sebab tubuh juga mempunyai hak untuk diberi istirahat.” Abdul Wahhab Al Sya’rani dalam kitabnya Tanbihul Mughtarrin  berpesan, “Hiduplah dengan pengaturan waktu yang teliti. Jika tidak, Anda sejatinya telah mati. Segera lakukan pekerjaan yang lain, jika suatu pekerjaan telah selesai, sebagaimana firman Allah, “Jika engkau telah selesai dari suatu pekerjaan, maka tetaplah bekerja keras untuk pekerjaan yang lain” (QS. Alam Nasyrah [94]: 7). Hasan Al Bashri berkata, “Sedetik waktu yang engkau gunakan untuk kebaikan lebih berharga daripada sejuta dinar dan dirham.”

Abdullah bin Al Mubarak  berkata, “Yang paling aku sesali dalam hidup adalah jika ada waktu yang terbuang. Kecerdasan seseorang ditentukan sejauhmana ia mengatur waktu.” Sebagian ulama terdahulu membawa sejumlah kerikil. Mereka memasukkan satu kerikil ke saku kiri jika melakukan dosa, dan satu kerikil di saku kanan jika melakukan kebaikan. Lalu, menjelang tidur, kerikil di dua saku itu dihitungnya.

Syaikh Al Qusyairi berkata, “Introspeksi yang terpenting adalah tentang waktu, sejauhmana digunakan untuk kebaikan atau dosa, sebab setiap detik harus jelas kegunaannya.” Nabi SAW bersabda,

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ اَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ

“Dua telapak kaki manusia tidak akan bisa digerakkan pada hari kiamat sebelum menjawab (empat) pertanyaan, yaitu (1) tentang umurnya, digunakan untuk apa, (2) tentang ilmunya, sejauhmana pengamalannya, (3) tentang hartanya, darimana diperoleh dan untuk apa saja dipergunakannya, dan (4) tentang tubuhnya, sejauhmana dimanfaatkannya” (HR. At Turmudzi dari Abi Barzah Al Aslamy r.a). Nabi SAW juga bersabda, ”Orang-orang yang hadir dalam pertemuan tanpa mengingat Allah, mereka kelak pasti menyesal. Orang yang menempuh perjalanan tanpa mengingat Allah juga akan menyesal. Orang yang berbaring di tempat tidur tanpa mengingat Allah, ia pasti juga menyesal” (HR. Ahmad). Mereka meyesal bukan karena dosa, namun karena waktunya berlalu tanpa kegiatan yang dapat meningkatkan peringkatnya di surga.

Apakah Anda orang cerdas, dungu, gila ataukah waras ditentukan bagaimana Anda memanfaatkan waktu sebagai anugerah Allah yang termahal.

Referensi: (1) Kementerian Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Al Jumanatul ‘Ali, Bandung, 2005; (2) Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Adh Dhabi’i, Sanaabilul Khair, Investasi Akhirat, terj. Tsaniananda Fidyatul Ch, penerbit: Tinta Medina, Creative Imprint of Tiga Serangkai, Solo, Cet. I, 2016, hlm. 77-82. (3) Muhammad Ibrahim an-Nu’aim, Kaifa Tuthilu Umraka Al-intajy (4) Abdul Wahhab Al Sya’rani, Tanbih Al Mughtarrin, penyadur: W. Wikarta: Jalan-jalan Surga, Akhlak dan Ibadah Pembuka Pintu Surga, Penerbit Mizania, Bandung, 2017 cet. I, hlm.119.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *