Header

MEMPERSUNTING KARAMAH

May 7th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel

MEMPERSUNTING KARAMAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: sportourism.id

“Dan jika kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al Kahfi [18]: 16)

Ayat di atas berkisah tentang tujuh orang (as-habul kahfi) yang ditidurkan Allah di dalam gua selama 309 tahun. Mereka bersembunyi untuk menghindari kekejaman raja yang zalim. Sebelum ditidurkan, mereka mengonsumsi makanan dan minuman (mirfaqa) yang disediakan langsung oleh Allah. Inilah keajaiban pertama. Keajaiban kedua adalah bahwa gua itu menghadap ke utara, sehingga tidak mendapat sinar matahari. Padahal, tanpa sinar dan sirkulasi udara, mereka bisa mati. Maka, setiap pagi, Allah “memindahkan” matahari ke utara agar dapat sejenak memberi cahaya gua. Keajaiban yang diberikan Allah kepada para pemuda gua itulah yang disebut “karamah,” bukan “mukjizat,” sebagaimana yang diperuntukkan khusus bagi para nabi.

Imam An Nawawi mengutip ayat tersebut dalam bab “Karamah Para Kekasih Allah” pada kitab Riyadhus Shalihin II: 368-373 dan Kitab Dalilul Falihin juz IV: 273. Pada bab itu juga dijelaskan karamah yang diberikan Allah kepada Maryam, ibu Nabi Isa a.s ketika dipingit Nabi Zakaria di sebuah tempat khusus sekaligus tempat ibadah. Suatu saat, Zakaria terkejut, ternyata dalam kamar yang telah tertutup rapat itu, ada buah segar di luar musimnya. Ketika ditanya, Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah. Sungguh, Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan” (QS. Ali Imran [3]: 37).

Ada lagi karamah yang diberikan Allah kepada Maryam. Ketika ia hamil, ia gelisah bercampur malu karena diolok-olok sebagai pezina, karena ia tidak bersuami. Ia lalu bersandar pada pohon kurma sambil merasakan sakit perut menjelang persalinan. Ia juga cemas, karena tidak ada makanan untuk dirinya yang sudah lemas, dan untuk sang bayi yang akan dilahirkan. Allah mengtus malaikat Jibril untuk memberitahu Maryam, “Jangan bersedih. Aku telah menyediakan untukmu sungai di bawahmu. Segera minumlah air segar dari sungai itu. Goyanglah pohon kurma tempat engkau bersandar. Nikmatilah bersama bayimu kurma segar yang berjatuhan di depanmu.” (QS. Maryam [19]: 24-25).

Dalam hadis, peristiwa karamah diceritakan oleh Abdurrahman bin Abu Bakar As Shididiq r.a. Ia mengatakan, keadaan penduduk Mekah yang hijrah bersama Nabi SAW ke Madinah yang ditampung di perkemahan belakang Masjid Madinah (ash-haabus shuffah atau ahlus-suffah) sangat memprihatinkan. Mereka hijrah tanpa membawa bekal sedikitpun dan tidak memiliki sanak keluarga di Madinah. Saat itulah, Abu Bakar bertindak karena teringat perintah Nabi SAW,

مَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اثْنَيْنِ فَلْيَذْهَبْ بِثَالِثٍ وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اَرْبَعَةٍ فَلْيَذْهَبْ بِخَامِسٍ بِسَادِسٍ

“Barangsiapa memiliki makanan untuk dua orang, maka hendaknya ia makan bertiga, dan barangsiapa memiliki makanan untuk empat orang, maka hendaknya ia makan berlima atau berenam” (HR. Muttafaq ‘Alaih dari Abu Muhammad, Adurrahman bin Abu Bakar As Shididiq r.a). Abu Bakar lalu mengundang  tiga orang ke rumahnya, dan Nabi menambahkan undangan sepuluh orang lainnya. Mereka yang diundang itu langsung menuju rumah Abu Bakar r.a. Ia berpesan kepada anaknya, Abdurrahman agar menjamu para tamu itu, karena ia harus menemani Nabi SAW di masjid sampai shalat isyak dan makan malam bersamanya.

Abu Bakar r.a pulang agak larut malam, dan mendapat teguran istrinya, “Mengapa kamu menerlantarkan tamumu?” Sebelum menjawab, Abu Bakar justru bertanya, “Apakah mereka sudah dijamu?” “Mereka tidak mau makan yang sudah saya hidangkan sampai engkau pulang,” Jawab sang istri. Ketika Abu Bakar r.a datang, Abdurrahman bersembunyi, takut dimarahi sang ayah, karena para tamu menolak makan yang sudah disiapkan. Benar, Abu Bakar memanggil dengan nada kesal, “Wahai si dungu, kenapa tamu tidak segera diberi jamuan.” “Ayah, mereka menolak makan jika tidak bersamamu,” jawab Abdurrrahman. Abu Bakar r.a lalu mempersilakan tamunya menikmati hidangan, sedangkan dia sendiri bersumpah tidak akan makan, karena baru saja makan bersama Nabi. Abu Bakar r.a baru membatalkan sumpahnya dan bersedia makan bersama setelah mereka bersikukuh hanya makan jika ditemani tuan rumah. Ia berkata, “Sumpah saya tadi terucap karena pengaruh setan.”

Ketika melayani para tamu, Abdurrahman berkata, “Demi Allah, saya menyaksikan keajaiban. Setiap kami mengambil makanan, selalu ada makanan baru di bawahnya, sehingga semua tamu puas. Bahkan makanan yang tersisa jauh lebih banyak daripada semula. Abu Bakar r.a juga heran dan bertanya kepada istrinya, “Wahai keturunan Bani Firas (panggilan untuk istrinya yang keturunan marga Firas), “Apa yang sedang terjadi?” Sang istri menjawab, “Aku sangat senang melihat hidangan ini menjadi tiga kali lipat banyaknya daripada ketika disuguhkan sebelumnya.” Abu Bakar r.a mengambil sedikit makanan untuk diberikan kepada Rasulullah yang sedang mengadakan rapat penandatanganan perjanjian dengan non-muslim. Setelah rapat, Abu Bakar menghidangkan makanan untuk mereka yang telah dibagi menjadi 12 kelompok yang masing-masing terdiri dari sejumlah orang yang hanya Allah SWT yang tahu. Ajaib, mereka semua bisa makan dari sisa makanan yang sedikit tadi” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Karamah juga disediakan untuk Anda, tidak hanya untuk pemuda gua, Maryam dan Abu Bakar r.a. Jika Anda ingin mempersunting karamah, tidak perlu Anda berdoa memintanya. Jika Anda terus menerus meningkatkan keimanan dan mengharumkan budi pekerti, yakinlah Allah akan memberi Anda karamah secara mengejutkan. Jika Anda menginginkan kupu-kupu, tidaklah perlu Anda mengejarnya. Cukup tanamlah bunga-bunga yang indah di taman, maka rombongan kupu-kupu yang berwarna warni akan datang menghampirinya.” Selamat berkompetisi memersunting karamah, dan saya yakin, Andalah pemenangnya.

            Referensi: (1) Al Nawawy, Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf,  Riyadush Shalihin,  CV. Thoha Putra, Semarang, 1981, p. 368-373  (2) As Shiddiqy, Muhammad bin ‘Allan, Dalilul Falihin, darul Kutub Al Ilmiyah, Bairut Libanon, tt.  juz IV: 273.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

No Responses

  • Z says:

    Assalamu”alaikum wr. wb.
    Subhannallah, artikelnya selalu keren Prof.Ali kangen sama Prof. Ali sama semua acaranya di suara muslim hehehe
    barakkallah Prof. Ali ilmunya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *