Header

MENATA KALBU DENGAN BUKU BERDEBU

January 18th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel

MENATA KALBU DENGAN BUKU BERDEBU

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Tiba-tiba saja Jum’at pagi itu, seorang pria kurus bersandal jepit dengan jaket coklat yang mulai hilang warnanya menghadang saya di depan pintu Radio El-victor. “Apa boleh saya berbicara sebentar pak,” pintanya sambil memegang tas kresek hitam. Saya sempat berpikir, ia lagi punya masalah yang perlu alternatif solusi, seperti orang-orang yang meminta pertemuan khusus sebelumnya. Ternyata, dugaan saya salah seratus persen. “Saya punya buku kuno yang isinya sama persis dengan apa yang bapak jelaskan dalam siaran tadi,” katanya dengan menyerahkan buku yang diambil dari tasnya. Buku dengan tulisan Arab Jawa (pego) itu sangat kusut, penuh debu dan sudah berganti sampul dengan kertas manila. “Buku ini saya simpan bertahun-tahun dan hanya saya berikan kepada orang yang saya pilih,” katanya meyakinkan. Saya haru.

Kitab amat kuning yang berjudul Hidayatul Ummah tulisan KH. Hasan Husen dari Cerme Gresik itu menjelaskan keimanan dengan berbagai analogi. Dalam hal shalat, buku tulisan tangan dengan cetak stensil itu menjelaskan, manusia tercipta dari api, angin, air dan tanah. Sifat api berdiri tegak dan manusia tercipta darinya, maka manusia diperintah berdiri tegak untuk shalat.  Angin memiliki watak merobohkan.  Karena nafas manusia terbuat darinya, maka manusia diperintah membungkuk rukuk. Air berwatak naik-turun. Darah manusia tercipta darinya, maka manusia diperintah bersujud. Terakhir, sifat tanah diam. Karena badan manusia tercipta darinya, maka manusia diperintah duduk diam dalam shalatnya. Masih banyak lagi penjelasan lain yang sebagian besar sulit saya pahami.

Saya sebenarnya sudah tidak sabar melanjutkan membaca buku tersebut, karena susahnya difaham. Tapi saya lawan godaan itu, karena teringat betapa mulia pria miskin yang memberikan kepercayaan menerima buku yang paling berharga baginya. Saya kuatkan kemauan untuk menyelesaikan membacanya sampai saya menemukan setitik mutiara di dalamnya. “Saya harus membacanya tuntas sebagai apresiasi kepada pemberi buku itu” kata saya dalam hati untuk memberi semangat membaca. Dalam perjalanan menuju Semarang untuk melantik Pengurus Daerah Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia (APDI), buku itu saya baca di atas pesawat menuju Semarang. Menjelang turun dari pesawat, barulah saya temukan mutiara di halaman terakhir (p.66) tentang cara menata kalbu menuju tumakninah (tenang, sabar dan ridlo).

Anda tentu suatu saat dipanggil Allah dengan panggilan mesra-Nya, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya,  Maka masuklah ke dalam kumpulan hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS. Al Fajr [89]:27-30). Untuk  hidup tenang (tumakninah), ruh dicabut Malaikat Izrail dengan tenang, dan menghadap Allah dengan tenang pula, maka penulis buku itu memberi enam resep. Pertama, welas (rasa kasihan) terhadap orang-orang yang menderita secara fisik, ekonomi, mental dan sebagainya. Carilah orang-orang demikian di sekitar Anda. Catatlah alamat dan nomor telponnya. Jika Anda berkunjung ke rumahnya atau menelpon untuk menunjukkan empati, itu sudah bagian dari welas Anda. Jika Anda juga bersujud yang lama, menyebut nama lengkapnya (dalam hati) khusus untuk mendoakannya, itu lebih baik lagi. Jika Anda mencari amplop kecil, memasukan beberapa uang di dalamnya dan menyerahkan kepadanya, Anda telah menunjukkan welas secara sempurna.

Kedua, asih (cinta). Kepada siapapun, tanpa memandang latarbelakang agama dan aliran, Anda harus memegangi nasehat Nabi SAW, “Cintailah orang lain seperti Anda menyintai diri sendiri.” Ini adalah pesan yang amat populer, tapi kita lebih banyak menggunakannya sebagai bahan nasehat untuk orang lain daripada menghayati dan menerapkannya sendiri. Jika Anda senang mendapat  apresiasi dan ucapan terima kasih, maka berikan keduanya sebanyak-banyaknya untuk orang lain. Jika Anda merasa senang diperlakukan secara terhormat, apapun posisi Anda, maka perlakukan semua orang, tidak peduli siapa dia, secara terhormat pula.

Ketiga, ibadah, artinya kerjakan perintah Allah sekuat tenaga dan kerjakan dengan penuh keikhlasan. Jalankan perintah agama dengan senang bukan beban. Keempat, syukur, artinya tunjukkan rasa terima kasih atas apapun pemberian Allah. Salah satu bukti rasa syukur itu adalah wajah riang-bahagia, banyak sedekah, dan ketiadaan mengeluh dalam banyak pembicaraan.

Kelima, ridla, artinya menerima dengan hati yang ikhlas apapun takdir Allah, enak atau tidak enak. Orang tumakninah selalu yakin bahwa tidak ada satupun takdir Allah yang tidak baik untuk dirinya. Keenam, khosy-yah (rasa takut) yaitu takut akan murka dan siksa Allah, jika Anda melanggar aturan-Nya. Bukan takut kepada kemiskinan, cemoohan orang, ketidakpopuleran dan sebagainya.

Anda tidak perlu mencari buku berdebu itu, karena sudah tidak terbit lagi dan menurut saya sulit dimengerti. Bisa karena isinya yang mendalam, atau bahasa dan sistematikanya, atau karena saya yang tidak cerdas. Tulisan ini semata-mata wujud terima kasih saya kepada seseorang yang tulus memberikan “kekayaan termahalnya” kepada saya. Lalu,  agar ia juga mendapat pahala yang tetap mengalir, saya nukilkan mutiara di dalamnya untuk masyarakat yang lebih luas, khususnya Anda.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

6 Responses

  • farhan says:

    Mengamalkan enam resep itu bs jd insan kamil / manusia paripurna… smg sj Q bs…. yes I Can , I will , I Do

  • bambang hariadi says:

    Alhamdulillah, suatu sentuhan kalbu yang sangat mengena. Saya dulu waktu kecil juga sempat membaca buku “Budi Luhir” karangan Ust. Mustofa Baisa dari Sepanjang. Pengenalan sederhana tentang budi luhur sangat mendalam bahkan sampai sekarang ada beberapa yang masih teringat. Tapi sekarang saya tidak menemukan lagi buku tersebut, padahal buku ini sangat tepat untuk anak-naka dibanding harus membaca buku sincan atau semacamnya dan buku ini sangat baik untuk membangun karakter bangas ini.

  • Yudha Ar says:

    majlis ilmu nya masih ada sampai hari ini , Morowudi Cerme Gresik

  • andy eko purnomo says:

    Alhamdulillah.. semoga menjadi berkah bagi kita semua yg membacanya,
    Saya baru saja mendengarkan ceramah Jumat Njenengan Prof.., mohon bisa di tulis juga tentang doa Rosulullah tentang bertasbih, trm ksih wasalam



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *