Header

MENEMBUS TANDUS

April 6th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel

MENEMBUS TANDUS
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦ نَبَاتَ كُلِّ شَيۡءٖ فَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهُ خَضِرٗا نُّخۡرِجُ مِنۡهُ حَبّٗا مُّتَرَاكِبٗا وَمِنَ ٱلنَّخۡلِ مِن طَلۡعِهَا قِنۡوَانٞ دَانِيَةٞ وَجَنَّٰتٖ مِّنۡ أَعۡنَابٖ وَٱلزَّيۡتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُشۡتَبِهٗا وَغَيۡرَ مُتَشَٰبِهٍۗ ٱنظُرُوٓاْ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثۡمَرَ وَيَنۡعِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمۡ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٩٩

Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu banyak butir, dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sungguh yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman(QS. Al An’am [06]: 99)

sumber gambar: http://www.solopos.com/2014/10/31

Ayat-ayat sebelumnya (QS. Al An’am 95-98) berbicara tentang alam semesta mulai biji-bijian sampai matahari, bulan dan bintang yang semuanya diciptakan dan diatur oleh Allah untuk kelangsungan hidup manusia. Ayat yang dikutip di atas (QS. Al An’am 99) merupakan penjelasan lebih lanjut tentang jenis tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang disuburkan oleh air hujan, antara lain kurma, anggur, zaitun dan delima. Ayat ini bisa juga ditafsirkan secara kiasan (isyari), bahwa cahaya Allah dari langit sejatinya bisa menyuburkan hati yang membuahkan tutur kata, sikap dan tindakan yang membahagiakan orang.

Tulisan ini merupakan respon terhadap kegelisahan ilmuwan dari beberapa kampus, termasuk Rektor UIN Sunan Ampel tentang kecerdasan emosional dan spiritual yang tidak simetris dengan kecerdasan intelektual. “Akhir-akhir ini, saya sulit menangis pada zikir malam, dan mudah marah dalam pergaulan,” katanya dalam pengukuhan tiga guru besar (28/12/2017).

Sehari sesudah itu, saya kedatangan guru mengaji dari sebuah desa pedalaman. Ia bercerita, ia tidak bisa shalat di masjid karena selalu mengganggu ketenangan shalat orang. “Setiap saya bershalawat kepada Nabi pada posisi tasyahud, hati saya bergetar, lalu lemas dan nyaris tubuh saya tersandar pada pundak jamaah di sebelah saya,“ kata ibu guru itu. Pada saat yang sama, pria tunantetra dari Gresik bercerita tentang kenikmatan shalatnya selama dua jam untuk dua rakaat karena hanyut dalam syukur dan tawakal.

Dari tiga peristiwa yang dikisahkan rektor dan dua orang pedesaan di atas, amatlah jelas betapa kontras antara kecerdasan spiritualitas ilmuwan kampus dibanding kecerdasan spiritualitas guru mengaji dan tunanetra. Inilah perbandingan tanah subur dan tandus yang digambarkan Nabi SAW:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ المَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ وَالعُشْبَ الكَثِيرَ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ، أَمْسَكَتِ المَاءَ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلَأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ، وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

Perumpamaan agama dan ilmu yang diberikan Allah kepadaku seperti hujan lebat yang membasahi tanah. Ada tanah gembur yang menyerap air, lalu menumbuhkan tanaman dan rumput yang lebat. Ada juga tanah yang tandus dan tidak menyerap air sedikitpun, tapi atas kemurahan Allah, ia bisa memberi manfaat kepada orang lain untuk diminum dan mengairi ladang pertanian. Ada pula tanah tandus yang sama sekali tidak menyerap air hujan, sehingga tidak menumbuhkan satupun tumbuh-tumbuhan. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan memberi manfaat pada orang lain. Ia memahami ilmu itu, lalu mengajarkannya kepada orang lain sebagaimana perintah Allah yang telah aku lakukan. Itu juga perumpamaan orang yang enggan menerima petunjuk Allah yang saya ajarkan” (HR. Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ari r.a).

Berdasar hadis di atas, ada tiga jenis manusia dalam menerima agama dan ilmu. Pertama, orang yang berhati lembut dan berakal cerdas untuk menyerap ilmu dan agama, menghayati, mengamalkan, dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain. Ia bagaikan tanah gembur yang menyerap air hujan dan menumbuhkan berbagai tanaman dan buah-buahan yang dibutuhkan manusia. Kedua, orang yang berakal cerdas, tapi berhati batu. Ia sangat cepat memahami ilmu dan agama, serta terampil mengajarkannya kepada orang, tapi ia sama sekali tidak menghayati, apalagi mengamalkannya. Inilah orang yang digambarkan Nabi SAW seperti tanah tandus yang tidak tertembus air hujan, tapi ia mengalirkannya untuk kebutuhan minum dan mengairi pertanian.

            Ketiga, orang dungu dan enggan menerima ilmu dan agama, termasuk melalui nasihat orang, sehingga tidak memiliki bekal keilmuan untuk diajarkan kepada orang lain. Ia batu dan tidak mungkin bisa menyuburkan tanah, bahkan bisa jadi membuat luka kaki orang. Orang jenis ketiga ini bagaikan tanah tandus yang tidak bisa menyerap air hujan sederas apapun, sehingga gersang tanpa satupun tanaman.

Ibnu Batthal, As Sufairi, dan At Thibby dalam kitab masing-masing mendorong kita untuk menjadi kelompok pertama, sebab mereka bercahaya dan memberi cahaya. Merekalah yang dipuji Nabi SAW, berakhlak mulia dan kontributif untuk kehidupan manusia.” Kelompok kedua juga mendapat apresiasi karena memiliki kemauan untuk menambah ilmu dan memiliki kepedulian kepada lingkungan, namun sayang, mereka  cacat karena hanya memberi cahaya semu, sebab sejatinya obornya telah redup, bahkan telah membakar dirinya, seperti sebatang lilin. Ia diibaratkan Imam Al Ghozali seperti jarum yang menjahit pakaian raja, tapi ia sendiri telanjang selamanya.

Bagi yang merasa berhati tandus, sebaiknya berguru kepada petani yang menyewa sapi dengan alat tradisional, atau traktor bajak tanah untuk mengeruk dan membalik tanah kering agar bisa gembur dan siap untuk ditanami. Tidak cukup hanya dengan cangkul dan skop. Untuk menyuburkan hati Anda yang tandus dan membatu tidaklah cukup dengan zikir-zikir konvensional yang telah rutin Anda jalankan. Diperlukan tindakan yang ekstra seperti petani yang mendatangkan traktor untuk menggemburkan sawahnya. Tidak cukup hanya dengan nasihat ulama, apalagi hanya nasihat orang di sekitarnya. Jika Anda tidak bersungguh-sungguh menyuburkan hati, bisa saja Allah mengambil tindakan drastis dengan mencabut kesempurnaan fisik, ketercukupan ekonomi dan daya intelektual Anda, na’udzu billah, karena hanya dengan cara itulah hati Anda bisa gembur dan siap menerima cahaya Allah.

Lihatlah mereka yang sedang bersiap menuai padi. Perhatikan padi yang semakin menunduk ke bumi karena isinya. Mengapa bobot intelektual Anda tidak bisa menundukkan emosi dan spritualitas Anda? Sudah sejauhmana kontribusi Anda untuk umat manusia dengan keilmuan dan serba-kecukupan Anda? Jika tidak bisa menjadi pohon yang berbuah, jadilah pohon rindang yang meneduhkan, atau menjadi rumput yang menyegarkan pendangan. jika Anda berspiritualitas emas dan tiada henti memberi manfaat untuk kesejahteraan dan kedamaian manusia, maka keharuman Anda kekal di alam semesta dan di sisi Allah. Tapi, jika Anda buih, maka segara lenyap tertiup angin, lalu keberadaan Anda sama dengan ketiadaan Anda (wujuduk ka’adamik). “Adapun buih itu, ia akan hilang dan tak berharga sama sekali, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia, maka ia tetap di bumi” (QS. Ar Ra’d [13]: 17).

Surabaya, 2-1-2018

Referensi: (1) Ibnu Batthal, Syarah Shahih Bukhari (Riyad: Al-Rusd, 2003), Vol. 1, p.164 (2) Muhammad bin ‘Amr bin Ahmad As-Sufairi, Al-Majalis al-Wa’idhiyyah fi Syarhi Ahadits Khairil Bariyyah (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2004), vol. 2, p. 139 (3) Husain bin Abdillah At-Thiby, Syarhu At-Thiby ‘Alaa Misykatil Mashabih (Riyad: Nizar Musthafa al-Baz, 1997), vol. 2, p. 616. (4) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 7, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 295-297 (5) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol 3,  Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 573-575, (6) Al Bukhari, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il, Shahih Al Bukhari, Toha Putra, Semarang, t.t. (7) Musthofa Muhammad ‘Umaarah, Jawahirul Bukhori wa Syarhil Qostholaani, Darul Kubutbil Ilmiyah, Beirut, Libanon, Cet. II, 2010, p. 43.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

One Response

  • Z says:

    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Keren Prof. Ali artikelnya.
    Rasanya ini seperti balasan dari komentar saya sebelumnya hehehe serta kasus tentang orang2 yang malas atau bahkan tidak mau belajar Syariah Islam karena merasa dirinya lebih dari Allah SWT na’udzu billah.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *