Header

MENGEJEK REMPEYEK

November 28th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel

MENGEJEK REMPEYEK
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

rempeyek

sumber gambar: http://ricepaddies.webs.com/photos/Menus/Rempeyek%20Kacang.jpg

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka,  dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka, dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. Panggilan terburuk adalah (panggilan) sesudah iman, dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim(QS. Al Hujurat [49]:11)

Ayat di atas saya pilih untuk kajian Al Qur’an kali ini, setelah pada tanggal 12 Oktober 2013, saya tinggal semalam bersama para mahasiswa, anak buah kapal, pekerja pabrik dan pembantu rumah tangga asal Indonesia di Hualien, kota kecil sebelah timur Taipei. Terpaksa naik pesawat, karena saya dan rombongan dari KDEI (Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia) kehabisan tiket kereta api. Salah satu tujuan kunjungan ini adalah apresiasi kepada wanita Indonesia yang menjadikan tokonya untuk pusat kegiatan Islam dan perlindungan untuk semua warga Indonesia di Hualien. Anda pasti bertanya-tanya, apa hubungan Hualien dengan ayat ini.

15 tahun yang lalu, Yani (45 tahun) pembantu rumah tangga (PRT) dianggap “gila” oleh orang sekampungnya di Jawa Tengah dan teman sekerja di Taiwan. Ia menikah dengan penduduk Taiwan yang lumpuh total karena enam tulung punggungnya patah dan sistem syarafnya rusak karena sebuah kecelakaan. Ke manapun ia pergi, hanya ejekan yang diterima. Janda dengan dua anak asal Purwokerto itu benar-benar hanya ingin menyemangati orang walaupun tidak seiman, dan sama sekali tidak ada yang bisa diharapkan darinya, karena pria itu tidak hanya cacat, tapi juga amat miskin.

Sebagai istri yang setia, setelah menyuap makanan untuk suami, ia keluar untuk menjual rempeyek (kerupuk tipis) yang dititipkan di sejumlah toko. Sore hari, ia cepat-cepat pulang untuk merawat sang suami, dan keluar lagi untuk melanjutkan usahanya. Itu dilakukan bertahun-tahun untuk suami yang masuk Islam sebelum pernikahan, dengan tulus dan tanpa keluhan sama sekali.

Suatu saat, hati Yani goyah, karena seorang teman mengejeknya, “Gila kamu ini.  Andai mau kerja di majikan, tentu kamu dapat bayaran Rp. 6 juta perbulan untuk keluarga di Indonesia.?” Tapi, jiwa kemanusiaan istri ini luar biasa. Ia sangat iba, sehingga tidak mungkin meninggalkan suaminya yang sudah menderita. Suami juga benar-benar menyemangatinya. Sekalipun ia hanya bisa menggerakkan tangan, ia selalu berusaha sebisanya untuk membantu sang istri membuat rempeyek. Beberapa kali ia terjatuh, dan bangkit lagi. “Benar-benar ia orang Taiwan: gila kerja, pantang menyerah,” puji sang istri.

Setelah 4 tahun berlalu, tiba-tiba sang suami bisa bangkit. Sedikit demi sedikit dengan obat dan operasi jutaan dolar yang ditanggung pemerintah, sang suami, Ye Ming Cen bisa berjalan. Dengan tenaga sekuatnya, ia berternak ayam di halaman rumah. Usaha itu berhasil bersamaan dengan semakin terkenalnya “Rempeyek Yani.” Sekarang, ia memiliki toko Indonesia di Tzi Chians Road yang terbesar Hualien. Tidak hanya terkenal dengan Toko Yani, tapi juga Mushala Yani. Sekalipun Ming Cen belum shalat lima waktu, tapi dialah yang paling bersemangat menyiapkan tempat dan peralatan shalat untuk ratusan pekerja Indonesia di salah satu ruang tokonya. Bahkan pada pelaksanaan shalat idul Fitri pertama kali di Hualien yang diadakan di pinggir pantai, Agustus 2013 yang lalu, dialah yang paling sibuk menyiapkan tikar, sound system, dan memintakan ijin kepada pemerintah setempat. Ia terpanggil “menghidupi” orang Indonesia, yang selama ini telah “menghidupinya.

Roda hidup selalu berputar. Jika Anda di atas, bersiaplah, suatu saat untuk berada di bawah. Jika sedang di bawah, jangan berkecil hati, optimislah, cepat atau lambat, Anda akan di atas. “Dan masa (kejayaan dan kehancuran itu) Kami pergilirkan di antara manusia…” (QS. Ali Imran [3]:140). Warga sekampung di Indonesia, yang dulu mengejek Yani, sekarang merekalah yang paling sering meminta bantuannya. Teman-teman sekerja di Taiwan yang mengolok-oloknya sekian tahun silam, sekarang menjadikan Toko Yani sebagai tempat ibadah dan pusat posko perlindungan setiap kali mengalami masalah pekerjaan di negeri Formosa.

Firman Allah di atas memberi peringatan, jangan mudah mengejek orang karena status, profesi, etnis, atau apapun alasannya. Jika Allah merubah nasib orang yang Anda pandang hina, lalu ia berada di atas roda, dan Anda di bawah kakinya, betapa derita psikologis Anda? Jika ejekan itu menyangkut prilaku seseorang, jangan-jangan Anda seperti burung merak, yang memukau orang karena bulunya, dan dengan kemilau bulu itu, ia pandai menutupi kakinya yang jelek. Orang yang Anda ejek itu orang lugu dan jujur, tidak pandai beretorika, dan miskin asesori penampilan, sehingga yang terlihat keasliannya. Tapi bagi Allah, ia jauh lebih terhormat dari Anda. Jika Allah membuka aib  Anda, dengan apalagi Anda menutup muka-malu Anda? Bisa saja, orang yang Anda pandang sebagai “setan” itu suatu saat bertobat, lalu kesalahennya melampaui Anda.

Dalam firman Allah di atas, Allah juga berpesan, “Jangan mencela dirimu sendiri.” Artinya orang lain itu saudaramu sendiri. Berarti, ejekan kepada mereka, sebenarnya memantul kepada diri Anda sendiri. Jika Anda suka dipanggil dengan panggilan kerhormatan yang menyenangkan, maka jangan memanggil mereka dengan label-label kehinaan. Kasihilah sesama, Allah dan semua penduduk langit akan mengasihi Anda. Buatlah mereka tersenyum, Allah pasti akan tersenyum kepada Anda. Senyum ibu Yani dan kasihnya yang tulus kepada orang menderita dengan sejuta pengurbanan, membuahkan senyum Tuhan kepadanya, dan senyum itu baru ditunjukkan oleh-Nya setelah sekian tahun berlalu.

Ayat di atas secara tersirat mengingatkan Anda untuk berhati-hati setiap bicara. Ucapan itu bagaikan anak panah yang terluncur dari busurnya. Berhati-hatilah dari perkataan yang bernada merendahkan orang. Luka hati lebih menyakitkan dari tusukan belati. Semakin sering Anda menghina seseorang, semakin jelaslah bagi orang lain, siapa Anda sebenarnya. Pintu rizki di langit juga semakin tertutup untuk Anda, karena semakin sedikitlah orang yang mau bekerjasama dengan Anda.

Jika Anda mendapat ejekan, diamlah. Dengarkan, dan biarkan pengejek itu mati dengan kelelahannya sendiri. Jangan membantah walau dengan sepatah katapun. Bantahlah dengan perbuatan nyata, sebagaimana yang dilakukan ibu Yani dengan kerja keras, pantang menyerah untuk merubah nasibnya. Andaikan ia bukan wanita, saya pasti merangkulnya untuk menyerap nilai cinta kasih, pengurbanan, dan ketauladanaan kesabaran dan kerja kerasnya. Keberpihakan Anda sesaat kepada orang menderita, lebih baik baginya daripada kedekatannya dengan orang lain yang tidak peduli sepanjang masa.

“..dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim(QS. Al Hujurat [49]:” Firman Allah ini mengandung anjuran untuk bertobat bagi siapapun yang terbiasa memandang rendah orang lain.  Oleh sebab itu, setelah membaca artikel ini, mohonlah ampun kepada Allah. Lalu berjanjilah untuk menebar kasih dan penghormatan, bukan ejekan dan kebencian. Wallahu a’lamu bisshowab. (Taipei, 15 Oktober 2013)

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

12 Responses

  • wati.wati says:

    Astaqfirullah……….. hal addhiiim………….Ya allah ……..Ya Rob………ampuni doss dosa hamba yang masih banyak kekurangan untuk menebar kasih sayang sesama,Semoga kedepan nya Saya Pribadi mampu berbuat lebih baik dengan sesama,dan hanya mengharap Ridho Allah.Amiiiin………………

    • moh ali aziz says:

      Keinginan kebaikan Anda adalah investasi keshalehan Anda. Setiap keinginan bernilai pahala sekalipun karena beberapa sebab tidak terlaksana. Tks

  • Fatimah says:

    Subhanallah….luar biasa.

  • Andhy PW says:

    Subkhanaloh……ini wujud kekuasaan ALLOH

  • adjj says:

    Subhanallah janjinAllah tidak pernah melesetpun sekecil atom pun kalau Allah sdh Kun Fayakun terjadilah.

  • Priy Atmaja says:

    Subhanallah, terimakasih atas inspirasi kisah yg membakar semangat untuk lebih gigih berjuang Prof, dan membuka mata hati agar kita bisa lebih menghargai orang lain. Matur nuwun Prof

  • السلام عليكم يا أستاذي
    سبحان الله أشكر شكرَا جزيلا عليكم
    لقد حصلت درسّا مفيدّا من هذه المقالة التي كتبتها بأنّ الناس لن يبدوا محسنا إذا أهان من دونه بل أن يكون شخصيّا رائيا لإحسان نفرٍ

    saya berterimakasih kepada antum, karena saya mendapatkan pelajaran yang bermanfaat dari artikel yang antum tulis. Bahwasannya manusia tidak akan terlihat baik jika merendahkan orang lain, tetapi jadilah pribadi yang melihat kebaikan orang lain .

  • Miftakhurrozaaq says:

    السلام عليكم يا أستاذي
    سبحان الله أشكر شكرَا جزيلا عليكم
    لقد حصلت درسّا مفيدّا من هذه المقالة التي كتبتها بأنّ الناس لن يبدوا محسنا إذا أهان من دونه بل أن يكون شخصيّا رائيا لإحسان نفرٍ

    saya berterimakasih kepada antum, karena saya mendapatkan pelajaran yang bermanfaat dari artikel yang antum tulis. Bahwasannya manusia tidak akan terlihat baik jika merendahkan orang lain, tetapi jadilah pribadi yang melihat kebaikan orang lain .

  • Suyoto says:

    Subhanallah……



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *