Header

MENJADI SEWANGI NABI

December 31st, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel

MENJADI SEWANGI NABI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://dianlatifani.blogspot.com

مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعٗا سُجَّدٗا يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗاۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِۚ وَمَثَلُهُمۡ فِي ٱلۡإِنجِيلِ كَزَرۡعٍ أَخۡرَجَ شَطۡ‍َٔهُۥ فَ‍َٔازَرَهُۥ فَٱسۡتَغۡلَظَ فَٱسۡتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعۡجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلۡكُفَّارَۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنۡهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمَۢا

“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat. Dan sifat-sifat mereka dalam Injil adalah seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, dan tunas itu menjadikan tanaman tersebut kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, sehingga Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan baik di antara mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al Fath [48]:29)

                Pada ayat sebelumnya, Allah membuktikan kebenaran mimpi Nabi tentang keberhasilannya memasuki Mekah yang telah lama diinginkan. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan karakter orang-orang yang menyertai perjuangan Nabi memasuki kota suci tersebut.

                Allah memberi pujian kepada Nabi sebagai utusan-Nya yang berhasil membentuk para pengikutnya berakhlak sewangi dirinya dengan lima karakter. Pertama, kuat dan tegas dalam keimanan, tidak berkompromi dalam keyakinan agama, meskipun terhadap keluarga sendiri. Tapi, ketegasan keimanan tersebut sama sekali tidak mengurangi sikap hormat terhadap penganut agama lain, sebagaimana difirmankan Allah, “Katakanlah, “wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak menjadi penyembah yang kamu sembah. (Sekali lagi), kamu tidak akan menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al Kafirun [09]: 1-6).

Allah memerintahkan kita untuk hormat kepada keyakinan non-muslim, sebab Allah telah merancang bumi ini dengan penghuni yang beraneka budaya dan penganut agama. Allah SWT berfirman, “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang yang di muka bumi seluruhnya beriman (kepada-Nya). Maka, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (QS. Yunus [10]:99). Bahkan kita dipersilakan untuk bekerjasama dengan non-muslim selama tidak merusak keimanan kita. Allah berfirman, ”Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al Mumtahanah [60]: 8). Itulah sebabnya, Allah tidak menegur Nabi SAW ketika bekerjasama dengan tokoh kafir, Abu Thalib, yang tidak lain adalah pamannya sendiri, dalam perjuangan dakwah di kota Mekah.

Hamka menyatakan, ”Masyarakat muslim selalu lunak dalam pergaulan, tapi kokoh dalam keimanan. Orang beradab pasti menghargai kepercayaan orang lain, walaupun kepercayaan itu sama sekali tidak sesuai dengan akal sehat.” Quraish Shihab mengatakan, sikap keras umat Islam terhadap orang kafir ini berlaku dalam peperangan, sedangkan terhadap sesama muslim adalah ketegasan dalam penegakan hukuman terhadap pezina, pencuri, dan sebagainya (QS. An Nur [24]: 2).

Kedua, kasih sayang sesama muslim tanpa membedakan etnis, warna kulit, pendidikan, dan status sosial mereka. Umat Islam telah mendapat doktrin Nabi  bahwa kesatuan mereka adalah laksana satu tubuh atau satu bangunan, yang saling menguatkan, bukan saling menyakiti dan meruntuhkan. Mereka seperti orang yang berkaca di depan cermin: sama-sama tersenyum ketika tersenyum, dan sama-sama menangis ketika menangis. Ketiga, mencitrakan diri sebagai komunitas yang seirama dalam beribadah dan serasa dalam kehidupan bersama. Rukuk dan sujud dalam shalat berjamaah adalah penggambaran kemauan dan kebersamaan dalam perjuangan menuju kemuliaan akhlak.

Keempat, ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah dalam semua tindakan, sama sekali tidak mengharap apresiasi manusia. Pengikut nabi itu bagaikan akar pohon yang tidak kecewa, apalagi iri hati dengan daun dan buah yang selalu mendapat sanjungan, meskipun akarlah yang memasok makanan untuk daun dan buah tersebut.

Kelima, tutur kata dan tindakannya selalu benar dan menyenangkan orang sebagai pengaruh atas sujudnya kepada Allah. Sayyid Qutb mengatakan,

لَيْسَتْ هَذِهِ السِّيْمَاالنُّكْتَةَ فِى الوَجْهِ وَاَثَارُ السُّجُوْدِ هُوَ اَثَارُ الْعِبَادَةِ

“Tanda keimanan bukan bekas hitam di wajah. Yang dimaksud bekas sujud adalah pengaruh ibadah dalam kehidupan.”

Al Biqa’i mengatakan, “Bekas sujud seorang muslim sejatinya adalah sebuah kharisma, kekaguman, kehormatan, dan magnit kebaikan bagi orang lain.”

Orang bijak berkata,

اِنَّ لِلْحَسَنَةِ نُوْرًا فِى الْقَلْبِ وَضِيَاءً فِى الْوَجْهِ وَسَعَةً فِى الرِّزْقِ وَمَحَبَّةً فِى قُلُوْبِ النَّاسِ

“Semua kebaikan menghasilkan sinar di hati, cahaya di wajah, kemudahan memperoleh rizki, dan simpati manusia).”  

Umar r.a berkata,

مَنْ اَصْلَحَ سَرِيْرَتَهُ اَصْلَحَ اللهُ تَعَالَى عَلَانِيَتَهُ

“Siapa yang bersih hatinya, maka Allah akan mempercantik penampilannya.”

Abu Darda’ r.a pernah menjumpai orang yang terdapat bekas sujud di dahinya. Lalu, ia berkata, “Akan lebih baik bagimu, jika tidak ada bekas sujud di wajahmu agar engkau terjauh dari rasa bangga atas pujian orang.”

Semua karakter pengikut Nabi seperti di atas telah dijelaskan dalam Kitab Taurat. Oleh sebab itu, pengikut Nabi Musa tidak asing dengan berita itu. Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa juga menjelaskan bagaimana respon dunia kelak terhadap para pengikut Nabi, bahwa semakin hari semakin banyak orang yang bergabung dalam komunitas muslim yang besar dan kuat itu. Itulah yang membanggakan umat Islam, tapi juga membuat iri dan menjengkelkan beberapa non-muslim. Semoga pembaca menjadi generasi sewangi nabi setelah mempraktikkan pesan-pesan keharuman dalam ayat ini. (Surabaya, 14-4-2019).

Referensi: (1) Sayyid Quthb, Tafsir Fi  Dhilal Al Qur’an, Jilid 6, Dar Asy Syuruq, Beirut, Libanon, 1972. (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, vol 12, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 558-563 (3) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 26, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 174 (4)  Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. X, p. 181.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *