Header

MENYULAM DARUSSALAM

October 5th, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel

MENYULAM DARUSSALAM
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

 

sumber gambar: https://quakersireland.files.wordpress.com/2016/09/peace.gif

sumber gambar: https://quakersireland.files.wordpress.com/2016/09/peace.gif

وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلَٰمِ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ٢٥

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam) (QS. Yunus [10]:25)

            Artikel ini saya tulis ketika di telinga saya masih terngiang-ngiang suara tembakan teroris di restoran Balay Bakery di Dhaka, 1 km dari tempat istirahat saya di Ghulsan street. Malam lailatul qadar 1437 H atau 1 Juli 2016 di ibukota Bangladesh dinodai tujuh pemuda yang memancung satu persatu kepala pengunjung restoran warga negara Italy, Jepang, India, Amerika dan lain-lain yang ditest dan terbukti tidak bisa membaca Al Qur’an. Peristiwa serupa terjadi lagi setelah saya tiba di Indonesia, hati saya tersayat melihat gambar 84 mayat bergelimpangan di Perancis setelah Mohamed Lahouaiej Bouhlel menubrukkan truk pada kerumunan orang yang sedang berpesta kembang api untuk merayakan hari kemerdekaan Perancis. Masing-masing tindakan biadab itu dilakukan atas nama Islam.

            Dua peristiwa di atas menyadarkan kita sekali lagi untuk lebih intensif melakukan kampanye membangun citra Islam sebagai agama pelopor pembangun dunia damai (darussalam) sebagaimana tersirat dalam ayat di atas. Allah SWT menyeru umat manusia untuk bekerjasama membangun darussalam, yaitu dunia yang aman dan nyaman tanpa sedikitpun ketakutan. Juga yang lebih penting yaitu darussalam (surga) setelah kematian. Umat Islam sedunia selalu memohon darussalam setiap usai shalat sebagaimana diajarkan Nabi SAW:

اَللَّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ, وَمِنْكَ السَّلاَمُ, وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ, فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ, وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ

Wahai Allah, Engkaulah as-salam (sumber kedamaian), dari-Mu-lah as-salam (kedamaian), kepada-Mu-lah (kami berharap kembali) dengan as-salam. Hidupkan kami dengan as-salam, masukkan kami ke dalam surga (darussalam).

            Ketika Nabi SAW pertama kali menginjakkan kakinya di Madinah, pesan pertama yang disampaikan adalah tentang as-salam. Husein bin Salam, kepala pendeta Yahudi Madinah yang telah bertahun-tahun mengabdikan hidupnya sebagai pengajar Taurat merekam pidato pertama Nabi SAW tersebut. Mengapa ia tertarik dengan pidato itu? Sebab  ia pernah menemukan ayat dalam Kitab Taurat yang memberitakan akan datangnya seorang Nabi di Madinah (lihat QS. Al A’raf [07]: 157).  Sejak itu, ia  berdoa untuk diberi panjang umur agar bisa berjumpa dengan nabi yang diberitakan itu. Maka, ketika ia mendengar kedatangan Nabi di Madinah, ia berlari menemuinya untuk mencocokkan sifat-sifat Nabi sebagaimana tersebut dalam Taurat. Setelah mengamati wajah Nabi SAW dari dekat dan kelembutan budi pekertinya, ia menyimpulkan semua sifat-sifat yang diketahui dalam Kitab Taurat itu benar. Inilah pesan lengkap Nabi SAW tersebut:

يَا اَيُّهَا النَّاسُ اَفْشُوا السَّلاَمَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الارْحَامَ وَصَلُّوا بِالَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ   تَدْخُلُواالْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Wahai manusia, sebarkan salam, berikanlah makanan, sambunglah silaturrahim, dan shalatlah pada malam hari ketika (kebanyakan) manusia tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan as-salam (HR. At Tirmidzi dari Abdullah bin Salam r.a)

Di tengah kerumunan orang itu, sang pendeta tiba-tiba mengucapkan syahadat dengan suara yang nyaring. Nabi SAW menoleh dan bertanya,  ”Siapa namamu?”  ”Husein bin Salam,” jawabnya.  ”Sebaiknya namamu diganti dengan Abdullah bin Salam,” kata Nabi SAW. Ia pulang ke kampungnya dengan nama yang baru dan berhasil mengajak semua keluarganya untuk masuk Islam.

            Dari pesan Nabi SAW di atas, jelaslah bahwa kita hanya bisa memasuki darussalam, jika kita benar-benar mengembangkan empat kebajikan di bumi. Pertama, menebar salam, yaitu mengucap salam kepada sesama muslim dan menebar kasih dan damai kepada semua umat manusia, tanpa membedakan latarbelakang etnis dan agama. Setiap muslim harus menjadi pelopor as-salam (kedamaian dan ketertiban) dalam komunitas manapun. Nabi Ibrahim a.s juga memohon keamanaan dan kedamaian ketika selesai membangun Ka’bah bersama putranya, Ismail (QS. Al Baqarah [02]: 126). Dalam sejarah Islam, penduduk bumi lebih banyak mengikuti Islam karena tertarik akhlak as-salam yang ditauladankan oleh para tokoh Islam daripada pidato-pidato mereka di banyak mimbar, apalagi oleh kekerasan yang justru menimbulkan antipati.

            Kedua, berbagi kekayaan untuk kesejahteraan orang-orang miskin. Sudah menjadi keniscayaan bahwa dalam hidup bermasyarakat, selalu ada orang kaya dan miskin. Kedamaian masyarakat tidak akan terwujud tanpa adanya kesediaan orang kaya untuk berbagi kepada mereka yang miskin. Silakan Anda berlomba menjadi orang terkaya, sebab tidak ada satupun ayat al-Qur’an yang melarangnya. Tapi jangan buta dengan keadaan lingkungan Anda. Pengusaha, penguasa, anggota legislatif, atau siapapun sama sekali tidak dilarang menikmati rizki yang dikaruniakan Allah kepadanya. Tapi, ia harus memperhatikan keadaan orang-orang miskin melalui pembayaran zakat dan sedekah, terutama kepada mereka yang menahan diri dari meminta-minta (al qani’) (QS. Al Hajj [22]: 36).

Ketiga, merajut ikatan persaudaraan (silaturrahim). Dalam skop kecil, setiap muslim harus membangun keutuhan keluarganya, bahkan menjadikannya keluarga teladan bagi orang lain. Negara hanya kuat, damai dan sejahtera jika unit-unit keluarga di dalamnya kuat dan bahagia. Dalam skop yang lebih luas, setiap muslim juga harus bisa membangun hubungan sanak famili yang harmonis dan menghindari segala hal yang menimbulkan keretakan dalam keluarga besar. Perbedaan agama, ideologi, politik tidak boleh menjadi alasan keretakan hubungan dalam keluarga besar. Nabi Ibrahim a.s, Nabi Nuh a.s, Nabi Luth a.s, Nabi Zakaria a.s, Nabi SAW dan juga para sahabat seperti Abu Bakar r.a, Ali bin Abi Thalib r.a dan beberapa sahabat yang lain hidup di tengah keluarga besar yang multi agama. Umat Islam harus bisa membangun hubungan yang harmonis di tengah masyarakat multi etnis dan agama dengan tetap menjaga keutuhan aqidah Islam.

            Keempat, shalat malam. Inilah shalat sunah yang memiliki pengaruh besar dalam membangun kualitas keimanan, sekaligus menjadi indikator ketakwaan seseorang. Allah SWT mewajibkan shalat malam hanya untuk Nabi SAW. Itu berarti, siapapun yang menjadi pemimpin dalam level apapun, ia harus mewajibkan dirinya untuk shalat malam. Jangan mengharap cahaya dari battery yang sudah drop. Jangan mengharap pencerahan Allah, jika tidak ada charge untuk hati Anda di malam hari.

            Masa depan Darussalam hanya bisa kita raih jika kita secara terus menerus menyulam diri dengan tutur kata, sikap dan tindakan yang bernuansa assalam di tengah keluarga dan masyarakat kita.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

6 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *