Header

MUKMIN GUNDUL

December 15th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel

MUKMIN GUNDUL

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Ketika saya melihat semakin banyak selebritis berkepala plontos di berbagai acara televisi, saya teringat tahun tujuhpuluhan di pondok pesantren. Pada tahun-tahun itu, santri yang pulang dari pondok dalam keadaan gundul, pasti orang tua malu, karena itu berarti si anak terkena hukuman berat di pondok. Orang-orang di kampung juga selalu menduga orang gundul orang yang baru keluar dari penjara. Itulah mode, pantas atau tidak pantas tergantung perkembangan waktu. Tentu yang dibicarakan di sini bukan gundul di Saudi Arabia, sebab berkepala plontos di tempat kelahiran Nabi itu, berarti seseorang baru saja selesai menjalankan ibadah haji atau umrah.

Ternyata tidak hanya manusia yang gundul. Setan pun mengikuti mode. Ketika masih kanak-kanak,  saya sering mendengar orang memanggil-manggil setan itu. Ketika sedang mencari sesuatu yang hilang, mereka berdoa, “Wahai setan gundul, tolong temukan barangku yang hilang.”. Pada saat memasuki musim hujan pada minggu-minggu ini, saya juga mendengar salah satu warga Surabaya  mengucapkan doa yang aneh, “Oh buyut, udano sing deres..” (Wahai  kakek-nenek  turunkan hujan yang deras..)”

Dua jenis doa unik di atas bertahun-tahun telah berkembang di tengah masyarakat pedesaan kita, tanpa disadari bahwa doa itu bertentangan dengan keimanan. Mengapa meminta pertolongan kepada setan, gundul lagi. Mengapa pula meminta hujan kepada kakek nenek?. Padahal mereka orang-orang yang bersyahadat  dan shalat. Inilah mukmin gundul karena berkepala syahadat tapi cabang-cabang keimanannya tidak ditumbuhkan. Sudah berikrar mengakui Allah sebagai Tuhannya, tapi masih meminta tolong kepada selain Allah. Sudah bersyahadat, tapi masih lebih banyak curhat kepada manusia daripada kepada Allah. Sudah muslim, tapi lebih mengandalkan pertolongan manusia daripada pertolongan Allah. Ketika menghadapi masalah, lebih banyak datang ke paranormal daripada mendatangi Allah yang sudah menunggu kehadirannya di ujung malam. Tanda-tanda mukmin gundul lainnya adalah banyak mengeluh, cemas dan khawatir menyangkut apa yang akan terjadi terkait dari sebuah ikhtiar, dan tidak percaya diri: hanya mengingat kekurangannya dan melupakan kelebihan yang diberikan Allah. Mengenalkan siapa dan bagaimana sifat-sifat Allah kepada orang jauh lebih mudah daripada meyakinkan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Penguatan keyakinan tidak bisa hanya dengan ceramah atau beca buku, tapi diperlukan pengalaman hidup khususnya pahit getirnya roda kehidupan.

Hadis berikut ini penting dihayati agar kita terjauh dari pribadi mukmin gundul. Dari Abu ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas R.A berkata, “Pada suatu hari, saya berada di belakang Nabi SAW. Beliau bersabda, “Wahai anak laki-laki, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa pesan: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat manusia bersatu untuk memberikan sesuatu yang berguna bagimu, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah ditetapkan Allah untukmu. Sekiranya mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi)

Sabda Nabi di atas menyuruh kita untuk menggantungkan semua hal kepada Allah semata, meminta kenikmatan, pertolongan, pemecahan masalah hanya kepada Allah, merasa cukup dengan pertolongan Allah, dan tidak perlu mengharap pertolongan dari makhluk-Nya.

Nabi Ibrahim as memberi tauladan yang luar biasa dalam keimanan dan kepasrahan. Ketika menghadapi api yang telah disiapkan untuk membakarnya, Jibril datang dan menawarkan bantuan, ”Apa yang kau butuhkan?” Nabi Ibrahim menjawab. ”Saya tidak butuh apapun darimu, sebab aku sudah merasa cukup dengan pertolongan Allah.”

Syahadat adalah kepala Anda. Tumbuhkan dari kepala itu sejuta keyakinan akan pertolongan Allah. Rukuk dan sujudlah dalam setiap shalat lebih dari tigapuluh detik, dan katakan, “Allah Maha Kuasa, Allah pasti menolong saya”.  Optimislah dalam berdoa. Iblis saja dikabulkan permohonannya oleh Allah, apalagi Anda. Orang-orang non-muslim saja bisa meyakini dan mengalami keajaiban pertolongan Tuhan, maka apalagi Anda yang beragama yang benar. Jika hari ini, Anda masih tetap saja gelisah seperti kemarin, tetap saja tidak terbakar semangat dan optimisme, serta belum yakin akan kemukjizatan pertolongan Allah, maka Anda masih termasuk mukmin gundul.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *