Header

NABI, MENGAPA HANYA DIPUJI?

January 8th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel

NABI, MENGAPA HANYA DIPUJI?
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  

 (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Al A’raf [7]: 157).

                Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan ciri-ciri orang yang mendapatkan rahmat Allah. Orang-orang Yahudi mengklaim merekalah yang dimaksud pada ayat itu. Maka, ayat yang dikutip di atas menegaskan bahwa orang-orang yang mendapat rahmat itu bukan untuk satu kelompok, melainkan untuk siapapun yang beriman kepada Nabi SAW, mengikuti ajarannya dan mengajarkannya kepada umat manusia.  

sumber gambar: http://www.clker.com/cliparts

                Ayat di atas juga menegaskan, Nabi SAW yang harus diikuti itu telah dijelaskan dalam kitab Taurat dan Injil. Dalam Perjanjian Lama Ulangan XVIII antara lain disebutkan, “Seorang nabi akan Ku-bangkitkan bagi mereka seperti engkau ini. Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Ku- perintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan oleh nabi itu demi nama-Ku darinya akan Ku-tuntut pertanggungjawaban.” Maksud dari kata “orang seperti engkau (Musa)” adalah  Nabi SAW, karena keduanya sama-sama membawa syariat. Sedangkan Isa Al Masih tidak membawa syariat baru, tapi hanya melanjutkan syariat Nabi Musa as.

                Dalam ayat di atas ditegaskan, Nabi SAW adalah ummi, artinya tidak bisa membaca dan menulis. Ummi berasal dari kata umm (ibu) atau ummah (masyarakat umum). Pada saat itu, ibu Nabi SAW dan masyarakat pada umumnya buta aksara, kecuali beberapa orang sebagaimana disebut dalam Al Qur’an, “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu) (QS. Al Ankabut [29]: 48)

                Buta aksara sama sekali bukan berarti kebodohan. Sultan Akbar di Hindustan yang buta aksara ternyata ia filosuf cerdas sekaligus raja besar yang sukses sampai akhir hayatnya. Nabi SAW fathanah artinya genius, kuat ingatan, dan tajam analisis. Salah satu buktinya, Nabi menerima wahyu hanya melalui pendengaran dari Malaikat Jibril, tapi ia kuat menghafal semuanya. Jibril kadangkala memerintahkan Nabi SAW agar ayat yang diterimanya itu diurutkan dengan ayat-ayat yang diterima beberapa tahun sebelumnya, bahkan bisa jadi puluhan tahun, dan ia tidak pernah membuat kesalahan.

                Berdasarkan ayat di atas, tugas utama Nabi SAW adalah (1) amar makruf. Makruf berasal dari kata marifat yang artinya dikenal atau diterima oleh akal. Jadi, ajaran yang dibawa Nabi SAW bisa diterima akal sehat dan pasti benar karena bersumber dari Allah SWT. (2) nahi munkar. Munkar artinya tidak bisa diterima oleh akal sehat. Suatu contoh, semua orang waras dapat menilai bahwa mencuri, melukai, dan membunuh adalah munkar, karena tidak sesuai dengan akal orang beradab (3) menghalalkan makanan thayyibat, yaitu diperbolehkan agama sekaligus baik untuk kesehatan, dan mengharamkan khabaa-its, yaitu kebalikan dari thayyibat. Kita dilarang mengonsumsi makanan yang merusak kesehatan, meskipun ia halal, tidak dilarang agama, dan (4) menghapus ajaran yang memberatkan kaum Yahudi atau Bani Israil, yaitu ajaran bunuh diri sebagai syarat bertobat, larangan memakan hewan yang kukunya tak terbelah atau hewan yang tidak memamah biak, larangan memakan lemak hewan, larangan menikah bagi pendeta, perintah qishah, yaitu hukuman mati untuk pembunuh tanpa mempertimbangkan disengaja atau tidak, dan keluarga terbunuh telah memaafkan atau tidak, dan juga menghapus perintah menggunting atau membuang pakaian yang terkena najis.

Itulah tugas Nabi SAW menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya. Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata, Wahaii Bani Israil, sungguh aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan isi kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Maka, ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata” (QS. Shaf [61]: 6).

                Pada ujung ayat di atas disebutkan bahwa orang yang akan mendapat kemuliaan dan kebahagiaan di sisi Allah SWT adalah yang percaya kepada Nabi SAW, memuliakannya, menjalankan perintahnya, dan mengajarkannya kepada umat manusia. Berdasar kriteria ini, maka Abu Thalib, paman Nabi SAW tidak mendapat kemuliaan dan kebahagiaan akhirat, meskipun ia penolong dan penyelamat Nabi SAW dari upaya pembunuhan orang kafir, sebab ia tidak beriman dan menjalankan ajarannya. Dengan demikian, tidaklah pengikut Nabi yang sejati, jika Anda hanya menyanjungnya, namun tetap berakhlak yang tercela. Gebyar shalawat akan bermakna jika mendorong percepatan kesejahteraan dan perdamaian dunia. Shalawat yang dikumandangkan haruslah shalawat yang melahirkan perubahan. Pujilah Nabi dan bertekadlah menjadi pribadi yang terpuji.          

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 9, penerbit Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 76, (2) M.Qureish Shihab, Tafsir Al Misbah, Vol 4, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 322.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *