Header

NABI YUNUS, TELADAN PERUBAHAN

June 2nd, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel

NABI YUNUS, TELADAN PERUBAHAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ١٣٩  إِذۡ أَبَقَ إِلَى ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ١٤٠ فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُدۡحَضِينَ ١٤١ فَٱلۡتَقَمَهُ ٱلۡحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٞ ١٤٢  فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ ١٤٣ لَلَبِثَ فِي بَطۡنِهِۦٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ١٤٤  ۞فَنَبَذۡنَٰهُ بِٱلۡعَرَآءِ وَهُوَ سَقِيمٞ ١٤٥ وَأَنۢبَتۡنَا عَلَيۡهِ شَجَرَةٗ مِّن يَقۡطِينٖ ١٤٦ وَأَرۡسَلۡنَٰهُ إِلَىٰ مِاْئَةِ أَلۡفٍ أَوۡ يَزِيدُونَ ١٤٧  فَ‍َٔامَنُواْ فَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ١٤٨

sumber gambar: https://i.ytimg.com/vi/jnkf9ANN1-8/maxresdefault.jpg

“Sungguh Yunus benar-benar salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan. Kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Lalu, ia ditelan ikan besar dalam keadaan tercela. Maka, kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang bertasbih kepada Allah, niscaya ia akan tetap tinggal dalam perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon sejenis labu. Dan Kami mengutusnya kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu, mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu (QS As Shaffat [37]: 139-148).

Topik ini saya pilih karena penasaran, mengapa dalam satu ayat Al Qur’an Allah melarang kita meniru karakter Nabi Yunus. Untuk menjawabnya, akan saya uraikan terlebih dahulu kisah Yunus a.s. Ia dipanggil Allah dengan panggilan Dzun Nun, artinya orang yang mengalami penderitaan dalam perut ikan selama tiga hari, “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia berdoa (dengan bersuara) dalam keadaan yang sangat gelap, “La ilaaha illaa anta, subhaanaka innii kuntu minadh-dhaalimiin” (tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim).” Maka Kami telah mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al Anbiyak [21]: 87-88).

Pada ayat lain, Yunus a.s juga dipanggil dengan Shahibul Hut, artinya sama dengan Dzun Nun, “Atau apakah mereka memiliki pengetahuan tentang yang gaib, lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan). Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan yang berdoa ketika itu dalam keadaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, ia pasti dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Al Qalam [68]: 47-50).

Yunus bin Matta lahir di Palestina, lalu diutus untuk masyarakat Nainawa atau Ninive dengan penduduk 100.000 orang lebih, di dekat sungai Tigris, Irak pada abad 8 SM. Ia dimakamkan di Palestina di tepi barat Laut Mati (Shihab, 2002: 304). Ketika Nabi SAW berteduh di sebuah kebun kurma setelah dihujani batu oleh masyarakat Thaif, Mekah, ia dihampiri orang Kristen yang bernama ‘Adas. Setelah berbincang panjang, ternyata ‘Adas berasal dari kampung Nainawa. ‘Adas terkejut dan kagum ternyata Nabi SAW bercerita lebih lengkap tentang Nainawa dan amat hormat kepada Yunus a.s. Lalu, ia masuk Islam (Hamka, 1985: 166).

            Yunus a.s disebut enam kali dalam Al Qur-an, yaitu dua kali dengan nama panggilan Dzun Nun dan Shahibul Hut, sebagaimana disebut pada dua ayat di atas, dan empat kali dengan nama aslinya pada QS. An Nisa’, Al An’am, Yunus, dan As Shaffat (As Shabuni, 1994: 445-450). Suatu hari, ia marah kepada masyarakat yang menolak ajakannya, bahkan mereka mengancam untuk membunuhnya.  Ia lalu lari menuju tepi laut dan naik kapal yang sedang bersandar. Dalam perjalanan di tengah laut, kapal oleng. Para penumpang memutuskan membuang satu orang yang banyak dosa, karena dialah kapal oleng. Lalu, undian dilakukan untuk menentukan siapa yang harus dibuang, dan ternyata sampai diulang tiga kali, tetap saja nama Yunus a.s yang keluar. Mereka tidak tega, sebab Yunus orang yang baik. Yunus a.s kemudian meminta mereka untuk melemparkan dirinya ke laut, karena telah menjadi keputusan. Dalam perut ikan itupun, Yunus a.s masih tetap marah kepada masyarakatnya (Hamka,1985: 166).

            Dalam sejarah, cara undian seperti itu juga pernah dilakukan oleh para pemuka Nasrani untuk menentukan siapa yang berhak merawat Maryam, dan Nabi Zakariya a.s yang memenanginya. Nabi SAW juga selalu mengundi di antara istrinya, siapa yang berhak diajak keluar. Bagaimana Yunus bisa selamat? Pertama, sangat mungkin ikan Hiu yang menelannya sangat besar, panjang 20 m, tak bersirip, tak bergigi, dan sudah biasa menelan ikan sepanjang 3 m, sebagaimana banyak dijumpai di laut tengah. Karenanya, Yunus berada di tempat yang longgar, di langit-langit mulut Hiu. Tapi, ia pasti kesulitan bernafas. Untunglah Allah menggiring Hiu ke pinggir pantai dan memerintahkannya untuk memuntahkan Yunus.as (Shihab, 2002: 304). Sebab kedua, dan ini yang paling pasti, ia selalu bertasbih selama dalam perut ikan, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang bertasbih kepada Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal dalam perut ikan itu sampai hari berbangkit (QS. As Shaffat [37]: 139-148).

            Yunus a.s keluar dari perut ikan dalam keadaan lemas, dan baru sehat kembali setelah memakan buah sejenis labu yang ditanam Allah dengan cepat di dekatnya. Setelah sehat betul, ia kembali ke masyarakatnya dengan karakter baru, yaitu lebih sabar dan santun (Hamka, 1985: 166). Tasbih yang dibaca Yunus a.s dalam perut ikan itulah yang kemudian diajarkan Nabi SAW untuk semua umatnya. Nabi SAW bersabda,

دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطٌّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Doa yang diucapkan oleh Dzun Nun (Nabi Yunus) sewaktu  berada dalam perut ikan adalah “Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.” Siapapun muslim yang membaca doa ini untuk suatu keperluan, pastilah Alllah akan mengabulkannya” (HR. Tirmidzi no. 3505 dari Sa’d r.a).

Dari penjelasan di atas, dapat kita ketahui, bahwa larangan meniru Yunus a.s tertuju pada karakternya sebelum ia ditelan ikan. Tapi setelah itu, ia berubah total dari pemarah menjadi peramah, santun dan sabar sehingga masyarakat mencintai dan mengikuji ajakannya. Andaikan Yunus a.s bukan manusia mulia, tidaklah mungkin Allah memerintahkan kita untuk mengimaninya. Kisah Yunus a.s disebut dalam Al Qur’an untuk menunjukkan bahwa ia manusia biasa, yang bisa saja khilaf. Berikut inilah kata kunci yang menunjukkan pujian Allah untuk Yunus a.s yang telah berubah, “Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Al Qalam [68]: 47-50).

Anda tidak boleh berdalih tidak bisa merubah karakter karena watak dan pembawaan sejak lahir. Yunus menjadi bukti perubahan karakter, karena terus bertasbih, introspeksi, dan istighfar. Anda harus berubah sekarang menuju karakter mulia tanpa harus menunggu ditimpa musibah besar.

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 23, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985 (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vo. 11, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012 (3) Al Turmudzi,  Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah, Sunan Al Turmudzi, Beirut: Dar Al Fikr, 2005. (4) As-Shabuni, Muhammad Ali, Prof, An Nubuwwah wal Anbiya’, (Kisah-Kisah Nabi dan Masalah Kenabiannya) terj. Mushlikh Shabir, Penerbit Cahaya Indah, Semarang 1994.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *