Header

NURANI KRISTIANI

January 11th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel

NURANI KRISTIANI

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Yatemi. Dialah wanita pemberi inspirasi untuk dua tulisan saya pada akhir tahun 2012. Pertama, artikel berjudul, “Bersujud Untuk Mengangkat Kepala” yang berisi apresiasi saya atas usahanya melawan rasa minder dengan profesinya sebagai pembantu rumah tangga, dan bagaimana ia, sebagai single parent berhasil menanamkan optimisme diri dan anaknya untuk menjadi orang besar melalui rukuk dan sujud. Kedua, artikel yang sedang saya tulis ini, tapi apresiasi lebih kepada majikannya. Apresiasi yang sama telah saya tulis dalam artikel di media ini awal tahun yang lalu, “Para Pembantu Rahimakumullah”.

Pada saat umat Kristiani sibuk merayakan natal pada hari-hari itu, saya berdoa melalu siaran syiar pagi radio El-Victor, semoga semua umat kristiani bertambah sehat dan bahagia. Di tengah siaran, pembantu asal Bojonegoro itu datang ke studio diantar laki-laki tegap. “Pagi hari begini, kan banyak pekerjaan yang harus anda selesaikan. Apa diijinkan majikan keluar rumah?,” tanya saya.  “Ya pak. Tengah malam, ketika dua majikan saya pulang dari luar kota, saya tunjukkan SMS bapak yang ini”. Jawab Yatemi sambil membuka HP.  SMS  itu berbunyi, “Semoga mbak Yatemi tetap tegar menjalani hidup, dan semoga anak mbak menjadi orang hebat kelak. Jika diijinkan silakan datang ke radio.” Pesan singkat itu saya tulis karena beberapa kali ia bertanya tentang shalat bahagia melalui HP.

Tuan Siwi dan Nyonya Agnes tidak hanya mengijinkan, tapi memanggil sopir ini untuk mengantar saya dengan mobil Avanza kemari Pak”, kata Yatemi yang duduk bersebelahan dengan pak sopir di ruang studio. “Apakah tuan dan nyonya anda muslim sehingga mengijinkan untuk mengantar anda ke siaran Islam?”,  tanya saya keheranan. “Mereka kristen pak, tapi menurut saya, mereka orang terbaik di dunia yang pernah saya jumpai. Tutur katanya yang selalu lembut kepada saya dan tidak jarang mengirim uang untuk pendidikan anak saya di kampung.” Ternyata, ketika berjumpa dengan saya sebulan sebelumnya untuk mendapatkan buku “60 Menit Terapi Sahalat Bahagia” juga diantar oleh sopir yang sama.

Seumur hidup, baru kali ini saya menemukan majikan sebaik itu. Mereka beragama kristen, tapi toleransinya kepada pembantu yang muslim untuk menjalankan agama sangat mengagumkan. Untuk belajar agama, mereka memberi fasilitas waktu, mobil dan sopir. Mereka rela, pembantunya mempelajari Islam  pada jam-jam  paling sibuk dengan pekerjaan rumah. Dua minggu berikutnya, saya menelpon sang majikan dan ia mengulang-ulang pernyataan yang mengagumkan saya, “Siapapun yang serumah dengan saya adalah saudara kandung saya.”  Saya sebut mengagumkan, karena jujur saya katakan, saya belum bisa sebaik itu terhadap pembantu yang pernah tinggal serumah dengan saya.

Setelah menutup telpon, saya lalu membuka Al-Qur’an, dan saya temukan firman Allah SWT yang sedang saya cari, “Sungguh, kamu jumpai, orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan sungguh, kamu jumpai yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, “Sungguh, kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena mereka benar-benar tidak menyombongkan diri.” (QS. Al Ma-idah [5]:82).

Jika Qabil diperintah Allah untuk berguru kepada burung gagak bagaimana mengubur saudaranya, Habil yang ia bunuh (QS. Al Ma-idah [5]:31), maka, siapapun Anda: imam besar, kiai, ustad, guru Al Qur’an, dosen, atau orang paling penting di negeri ini harus berguru pula kepada dua majikan dengan nurani Kristiani itu. Soal keimanan antar kita bisa berbeda, tapi soal kemanusiaan pastilah universal. Sebagai penutup artikel, saya kutipkan kalimat penutup dalam percakapan telpon itu, “Saya amat salut kepada Bapak. Kapan kita menikmati semeja kare rajungan untuk makan siang bersama Pak?”. Saya berharap  artikel ini bagian dari usaha kita untuk membangun hubungan harmonis muslim dan kristiani, bagaikan dua jantung yang berdetak seperti satu, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

3 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *