Header

PEDOMAN PENYEMBELIHAN QURBAN

June 17th, 2021 | Posted by admin_tsb in Lain-lain

PEDOMAN PENYEMBELIHAN QURBAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

  1. Definisi. Istilah yang benar, al udl-hiyah yaitu penyembelihan hewan pada hari raya kurban dan 3 hari sesudahnya (11-13 Dzulhijjah). Di Indonesia, lebih dikenal istilah kurban (pendekatan), seperti persembahan yang dilakukan dua putra Adam a.s untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT (QS. Al Maidah [5]: 27). 
  2. Dasar Hukum:  QS. Al Kautsar [108]: 2; QS. Al Hajj [22]: 28, 36-38; dan sabda Nabi SAW, bahwa kurban adalah perbuatan yang paling dicintai Allah, dan darahnya diterima oleh-Nya sebelum menyentuh tanah (HR. At Tirmidzi dari Aisyah r.a).
  3. Hukum: Sunah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi yang mampu, dan wajib bagi yang bernazar. Nabi SAW: “Siapa yang tidak berkurban padahal mampu, maka jangan mendekat tempat shalat kami” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah r.a). Nabi SAW menyembelih sendiri 2 ekor kambing dengan bertakbir (HR. Bukhari dan Muslim). “Aku diperintah berkurban, dan itu sunah bagimu” (HR. At Tirmidzi). Abu Bakar, r.a dan Umar, r.a tidak pernah menyembelih kurban, karena khawatir dianggap wajib oleh masyarakat.  
  4. Jenis Hewan: hewan ternak (al-an’am): unta, sapi, kerbau, dan kambing (QS. Al Hajj [22]: 34) dengan ketentuan: (a) umur kambing (1 th), sapi (2 th), unta (5 th), (b) tidak cacat fisik (misalnya sakit, buta, pincang, sangat kurus, tanduknya putus, dsb), (c) tidak ada ketentuan jenis kelamin. Di Indonesia, ternak betina yang produktif dilarang untuk disembelih  (UU 18/2009, pasal 18 ayat 2).
  5. Waktu Penyembelihan: selama 4 hari, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah setelah shalat idul adha sampai tanggal 13 Dzulhijjah sebelum maghrib. Nabi SAW: ”Semua hari tasyriq (11-13 Dzulhijjah) adalah hari-hari penyembelihan” (HR. Ahmad). Pada 4 hari itu, dianjurkan membaca takbir setiap usai shalat fardlu.
  6. Jumlah Pengorban: 1 ekor sapi dan sejenisnya untuk 7 orang, dan 1 ekor kambing untuk satu orang atau satu keluarga berapa pun anggotanya (Maadzhab Syafi’i). Menurut madzhab Maliki dan Hanbali: boleh 1 ekor kambing untuk dirinya sendiri dan semua anggota keluarganya, sebab kurban adalah fardlu kifayah. Para sahabat juga melakukan demikian (HR. Ibnu Majah dan At Tirmidzi). Jika jumlah pengorban melebihi ketentuan di atas, maka statusnya bukan kurban, melainkan sedekah, sekaligus pendidikan dan syiar Islam.
  7. Kurban untuk yang telah meninggal. Madzhab Syafi’i: tidak boleh, kecuali ia berwasiat sebelum meninggal. Semua dagingnya harus diberikan kepada fakir miskin. Madzhab  Maliki: makruh. Madzhab Hanafi dan Hanbali: boleh, seperti sedekah pada umumnya dari keluarga untuk menambah pahala si mayit.
  8. Porsi Pembagian Daging: 1/3 dimakan sendiri pada hari itu, 1/3 lagi disimpan untuk dimakan kapan saja, dan 1/3 sisanya dibagikan kepada masyarakat. Daging boleh juga diberikan semuanya untuk masyarakat. Khusus pengorban yang bernazar, haram memakannya.
  9. Penjualan Daging: daging dan kulit haram dijual oleh pengorban, tapi boleh bagi penerimanya. Nabi SAW: ”Jangan menjual daging hewan yang disembelih untuk denda haji dan kurban. Makanlah dan sedekahkan, nikmatilah dengan kulitnya juga, tapi jangan dijual” (HR. Ahmad dari Sa’id, r.a).
  10. Doa Peneyembelihan: jika memungkinkan, sebaiknya pengorban menyaksikan penyembelihan, atau lebih baik lagi menyembelihnya sendiri dengan berdoa, Bismillahi, wallahu akbar. Wahai Allah, terimalah penyembelihan kurban atas nama …..ini.
  11. Penerima Daging: muslim di daerah setempat. Boleh untuk luar daerah/negeri jika kedaannya lebih membutuhkan. Non-muslim yang hidup damai bersama umat Islam boleh menerimanya.
  12. Tambahan: selain orang yang berhaji, dianjurkan puasa ’arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah (sehari sebelum Idul Adlha). Allah SWT akan menghapus dosa tahun sebelumnya dan tahun berikutnya.  

Surabaya, 05-08-2018 / 25 Dzul Qa’dah 1439 H
Sumber: (1) Sabiq, As-Sayyid, Fiqh As Sunnah, Dar Al  Kitab Al  ‘Arabi, Bairut, 1973, Cet II, (2) Ibnu Rusyd Al Hafidh, Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid,Juz 1, Penerbit Dar Al Fikr, tt, (3)Wahbah Az Zuhaily, Al Fiqhul Islamy wa Adillatuhu, (4) Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, Sinar Baru Al Gensindo, Bandung, 2007, cet 40, (5) Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *