Header

PENDAKWAH TERPELAJAR DAN PEMBELAJAR

May 6th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel

PENDAKWAH TERPELAJAR DAN PEMBELAJAR
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://www.vectorstock.com

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan perbuatan yang baik, dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang yang tunduk kepada Allah?.” (QS. Fusshilat [41]: 33).

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan cinta-Nya kepada muslim yang menyatakan beriman, lalu konsisten dengan keimanannya (istiqamah). Sebagai kelanjutan, ayat yang dikutip di atas menjelaskan, bahwa keimanan itu harus juga disebarkan kepada orang lain. Sebuah kemuliaan yang tertinggi bagi seorang muslim yang tegar imannya, lalu mengerjakan kebaikan, dan mengajak orang melakukan yang sama, serta bangga untuk menyatakan dengan percaya diri sebagai muslim. Nabi SAW adalah contoh terbaik dalam hal semangat berdakwah, ketauladannya, dan keberanian serta kebanggaannya sebagai muslim di depan publik.    

Menurut satu pendapat yang dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir, bahwa yang dimaksud muslim pengajak kepada keimanan pada ayat di atas adalah muadzin, orang yang mengumandangkan adzan. Ibnu Mas’ud r.a berkata, “Andaikan aku dahulu sebagai muadzin, niscaya aku tidak perlu lagi berhaji,  umrah, ataupun ikut berperang.” Umar bin Khatthab r.a juga berkata, “Seandainya dulu aku seorang muadzin, niscaya cukuplah kemuliaan bagiku, sehingga aku tidak perlu lagi shalat malam dan puasa sepanjang hari, sebab aku pernah mendengar Rasulullah SAW berdoa tiga kali, “Wahai Allah, ampunilah para muadzin.”

Menurut kebanyakan ahli tafsir, apresiasi Allah untuk pengajak kebaikan itu bukan khusus untuk muadzin, tapi semua orang yang mengajarkan atau mengajak kepada kebaikan, baik dilakukan oleh muadzin, penceramah, ataupun orang awam, sekalipun hanya dengan satu kata kebaikan, dan dia sendiri menjadi tauladan dalam kebaikan itu. Nabi SAW memberi apresiasi yang besar kepada siapapun yang menyampaikan kebaikan, sebagaimana pernah dikatakan kepada Ali bin Abi Thalib, “Wahai Ali, usahamu untuk membimbing satu orang ke jalan yang benar lebih bernilai daripada dunia dan semua isinya” (HR Bukhari Muslim dan H.R Al Hakim).

Bersemangatlah menjadi pendakwah sekalipun minimalis, sebab Allah merahmati Anda, dan semua malaikat di langit, penghuni bumi, ikan di laut memintakan rahmat Allah untuk Anda. Nabi SAW bersabda,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

“Sungguh Allah, para malaikat, semua penghuni bumi, termasuk semut dalam liangnya dan ikan-ikan (dalam laut) semuanya memohonkan rahmat untuk siapapun yang mengajarkan kebaikan” (HR. At Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahily).

Jangan sekali-kali berhenti sebagai pendakwah, sebab keringat Anda untuk mencerahkan manusia akan menjadi cahaya untuk kuburan Anda, sebab pahala terus menerus terkirim ke buku catatan perbuatan Anda. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa mengajarkan atau merintis kebaikan, lalu kebaikan itu diikuti orang, maka ia mendapat pahala dari orang yang mengikuti kebaikan itu, tanpa dikurangi sedikitpun. Dan barangsiapa yang merintis kejelekan, lalu kejelekan itu diikuti orang, maka ia mendapat dosa dari yang mengikuti kejelekan itu, tanpa dikurangi sedikitpun.” (HR. Muslim dari Jarir bin Abdillah r.a). Nabi SAW juga bersabda, 

نَضَرَاللهُ امْرَءًا سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ اَوْعَى مِنْ سَامِعٍ

“Semoga Allah memberi cahaya berkilau (nadlrah) pada orang yang mendengar sesuatu (syai-an) dari kami, lalu menyampaikannya (kepada orang lain) sesuatu yang telah didengar (dari kami). Ketahuilah, tidak sedikit penerima pesan (muballagh) lebih menghayati daripada orang yang mendengarnya sendiri (secara langsung)” (HR. Al Turmudzi dari Ibnu Mas’ud r.a).

Berdasar hadis ini, setiap orang memiliki kemampuan komunikasi yang berbeda dengan yang lain. Oleh sebab itu, bisa saja sebuah pesan agama oleh pendakwah diterima pendengar tanpa kesan yang maksimal, tapi justru lebih mengesankan ketika pesan yang diterima itu disampaikan kembali oleh pendengar tersebut kepada orang lain, sebab ia memiliki keterampilan komunikasi yang lebih baik. Oleh sebab itu, jadilah pendakwah sekalipun hanya dengan materi pesan yang diterima dari pendakwah lain, bukan dari kitab suci dan literatur.     

Nah, ada sisi dakwah selain mengajak kepada kebaikan (amar makruf) yaitu nahi munkar (mencegah sebuah  kemaksiatan). Sisi kedua ini jauh lebih berat dari amar makruf, bahkan berisiko tinggi. Tidak sedikit pegiat nahi munkar masuk penjara atau bahkan mati di tangan orang yang terusik harga diri dan kenyamanannya oleh pegiat nahi munkar. Benar, nahi munkar sehari lebih berat daripada amar makruf seribu tahun.

Lalu, apakah kita harus diam terhadap kemaksiatan karena risiko yang berbahaya itu? Nabi SAW memberi jawaban, jika kalian mampu, hentikan kemaksiatan itu dengan kekuasaanmu. Jika tidak mampu, lakukan dengan nasihatmu, dan jika itupun  tidak mampu, cukup berdoalah saja agar kemaksiatan itu terhapus. Jika Anda tidak melakukan apapun di antara tiga pilihan tadi, maka Anda menanggung dosa kemaksiatan tersebut, doa-doa Anda juga tidak akan didengar Allah, dan Anda ikut bertanggungjawab akan kehancuran masyarakt itu dan sekitarnya, cepat atau lambat. Sebab, kemaksiatan ibarat sebuah kebakaran. Jika tidak Anda padamkan, maka semua kampung ikut terbakar. Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah Yang menguasai diriku, (pilihlah!) kalian lakukan amar makruf dan nahi munkar atau kalian rasakan siksa, lalu semua doa kalian tertolak karenannya. (HR. At Tirmidzi dari Hudzifah bin Al Yaman r.a)

Dakwah minimalis, dengan satu kata kebaikan mendatangkan pahala yang besar, maka apalagi jika yang Anda sampaikan lebih banyak lagi. Oleh sebab itu, Anda harus menjadi pendakwah terpelajar dan pembelajar, artinya kaya ilmu dan tiada henti menambah ilmu. Sebab masyarakat penerima dakwah telah berkembang pesat pengetahuan dan wawasannya. Pendakwah akan kehilangan wibawa jika ia miskin ilmu dan wawasan dibanding mitra dakwahnya.  Nabi SAW bersabda,

اَلدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِيْهَا اِلَّا ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمًا وَمُتَعَلِّمًا

 “Semua isi dunia ini terkutuk, kecuali dzikrullah, orang yang taat kepada-Nya, orang terpelajar dan pembelajar (pencari ilmu)” (HR Al Turmudzi dari Abu Hurairah r.a).

     Pada era milenial ini, tidak bisa tidak, Anda harus menjadi pandakwah maksimalis, yaitu pendakwah yang terpelajar dan pembelajar.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *