Header

PENEGAKAN KEADILAN

August 22nd, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel

PENEGAKAN KEADILAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

timbangan keadilan“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sekelompok orang, mendorong kalian bertindak secara tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ma-idah [5]:8)

Perintah menegakkan keadilan pada firman Allah di atas didahului ayat-ayat tentang dua perintah, yaitu perintah berakhlak yang baik terhadap semua penerima kitab suci (ahlul kitab) dan perintah shalat. Hal ini berarti bahwa shalat diharapkan membentuk manusia yang memiliki komitmen keadilan dan keberanian menegakkan keadilan dengan segala resikonya. Ayat di atas juga menegaskan bahwa penegakan keadilan harus obyektif, apa adanya berdasar fakta, bukan berdasar suka atau tidak suka. Hubungan keluarga atau keakraban dengan siapapun tidak boleh mempengaruhi sedikitpun penegakan keadilan.

Ayat di atas menjadi penguat firman Allah pada surat sebelumnya, yaitu QS. An Nisa’ [4]:135, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia (tergugat atau terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu yang terbaik baginya. Maka janganlah kalian ikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sungguh, Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

Jika suatu saat Anda mendapat tugas sebagai hakim atau saksi untuk suatu perkara di pengadilan atau di luar pengadilan resmi, berkatalah sejujur-jujurnya. Janganlah kedekatan Anda dengan mereka yang berperkara mempengaruhi kejujuran Anda. Bisa jadi mereka adalah ibu, bapak, anak atau teman akrab Anda sendiri. Sebagai saksi, berkatalah yang sebenarnya, sekalipun itu akan beresiko pada diri Anda sendiri, antara lain perubahan status hukum Anda: semula sebagai saksi, lalu dalam proses selanjutnya dinaikkan menjadi tersangka. Kebencian atau kecintaan Anda kepada mereka, tidak boleh mengurangi sedikitpun kejujuran kesaksian. Abaikan mereka kawan atau lawan. Jangan berbohong untuk membela yang kaya karena kekayaannya, atau membela yang miskin karena kasihan atas kemiskinannya.

Sekali lagi, hindari kebohongan dan kepalsuan, dan tegakkan keadilan. Biarpun kejujuran itu mengantar ibu atau anak kesayangan Anda ke tiang gantungan, tidak bisa tidak, Anda harus tetap memegang teguh kejujuran. Apalagi kebohongan yang berlapis-lapis untuk membela keselamatan atau nama baik golongan atau partai. Jangan nodai keadilan, karena ia adalah ruh Islam. Anda harus berdarah-darah melawan hawa nafsu kebohongan, karena semangat itulah yang mencerminkan identitas Anda sebagai manusia yang shaleh. Allah SWT berfirman, “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” Perintah keadilan itu seringkali hanya Anda teriakkan ketika Anda sedang pada pihak yang lemah, dan diam sejuta bahasa, ketika Anda pihak yang diuntungkan dengan ketidakadilan. Jika demikian, sama sekali Anda tidak pantas mengaku sebagai muslim.

Cobalah Anda cermati bagaimana keadilan itu ditegakkan oleh Nabi SAW, sekalipun itu mencoreng nama baiknya di depan publik, dan beresiko keselamatan jiwanya. Berikut ini kisah yang disampaikan oleh Abdullah bin Abbas r.a. Menjelang wafat, Nabi SAW meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan di Masjid Madinah. Nabi masuk masjid, shalat dua rakaat dan langsung naik mimbar. Di depan kaum muslimin di masjid itu, ia berpidato cukup panjang. Itulah pidato yang menggetarkan hati semua pendengar dan memeras air mata mereka yang menyaksikannya. “Saudara-saudara, aku adalah nabi utusan Allah, pembawa kebenaran untuk kalian. Kedudukanku di tengah-tengah kalian bagaikan bapak dengan anaknya atau kakak dengan adiknya. Jika ada di antara saudara-saudara merasa saya perlakukan secara dhalim selama kepemimpinan saya, silakan maju sekarang untuk melakukan pembalasan sebelum aku diadili di akhirat nanti.” Kata yang terakhir itu diulang berkali-kali. Semua sahabat diam termangu. Beberapa sahabat menangis terisak-isak karena haru, betapa pemimpin agung yang sudah berkorban segala-galanya dan sedang sakit tetap bersemangat menegakkan keadilan.

Tiba-tiba, berdirilah seorang yang bernama ‘Akasyah bin Muhsin dengan suara yang memecah kesunyian, “Akulah yang akan meminta keadilan dari tuan.” Para sahabat seperti tersambar petir. Suara tangis bersahutan dengan suara tangis dinding masjid yang menjadi saksi atas peristiwa itu. Nabi SAW lalu mempersilakan ‘Akasyah untuk menyampaikan tuntutan. “Kedhaliman tuan terjadi dalam persiapan perang Badar. Untaku persis di samping unta tuan. Ketika tuan mengangkat tongkat penyebat, tongkat itu mengenai punggungku. Aku tidak tahu itu sengaja atau tidak.”

Nabi SAW lalu memangggil Bilal untuk berangkat ke rumah Fatimah, putrinya. “Ambilkan tongkat yang dimaksud ‘Akasyah itu.” Dalam perjalanan kembali dari rumah Fatimah, Bilal menarik nafas panjang, memikirkan apa yang akan terjadi setelah tongkat ini di tangan ‘Akasyah. Fatimah juga heran bercampur sedih mengapa ada orang yang tega melakukan pembalasan kepada ayahandanya. Abu Bakar, Umar dan Ali secara bergantian berdiri memohon ‘Akasyah agar melakukan pembalasan kepada mereka sebagai ganti pembalasan kepada Nabi. Nabi SAW menolak tawaran itu dengan mengatakan, “Allah Maha Mengetahui kebaikan kalian.” Nabi tetap mempersilakan ‘Akasyah untuk melakukan pembalasan segera.

Sebelum melakukan pembalasan, ‘Akasyah meminta Nabi untuk benar-benar menegakkan keadilan seadil-adilnya. Setelah tongkat yang asli di tangannya, ‘Akasyah memohon agar Nabi melepas bajunya, karena sewaktu terjadi pemukulan pada dirinya waktu itu, ia sedang tidak berbaju. Nabi SAW pun menuruti perintahnya, bahkan ia kemudian menelungkup. Suara tangisan para sahabat semakin merata di semua sudut masjid.

Sebuah drama besar terjadi. ‘Akasyah ternyata membuang tongkat dari tangannya. Justru ia memeluk Nabi SAW dan menempelkan tubuhnya sambil berkata, “Wahai Nabi, aku korbankan jiwa ragaku demi tuan. Hati siapa yang tega melakukan qishah (pembalasan) pada tuan. Aku hanya ingin kulitku yang bersentuhan dengan kulitmu terselamatkan dari api neraka.” Para sahabat serentak lega dan tersenyum melihat adegan itu. Nabi SAW lalu memuji ‘Akasyah di depan kaum muslimin, “Jika kalian semua ingin melihat wajah calon penghuni surga, lihatlah orang ini.”

  Begitulah semangat penegakan keadilan yang dilakukan oleh Nabi. Tentu Anda masih ingat janji keadilan Nabi, “Andaikan anakku, Fatimah mencuri, akulah yang akan memotong tangannya.” Sudahkah Anda resapi wasiat Allah dan Rasulullah SAW ini? Saya yakin jawaban Anda: ya. Pernahkah Anda berbohong untuk keselamatan pribadi atau keluarga atau kelompok? Saya yakin jawaban Anda: tidak. Jika ya, Anda harus bertobat sebab telah mengkhianati semangat keadilan yang telah diwariskan oleh Nabi SAW, dan Anda telah menanam benih kehancuran masa depan manusia. Wallahu ‘alamu bisshawab.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *