Header

PENGGANTI YANG TELAH PERGI

November 4th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel

PENGGANTI YANG TELAH PERGI
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ

“(Orang-orang yang sabar itu adalah) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” (Sungguh, kami adalah milik Allah, dan sungguh kepada-Nyalah kami kembali)” (QS. Al Baqarah [02]: 156)

Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan bahwa setiap orang pasti menghadapi aneka ujian. Jangan bermimpi hidup tanpa cobaan, sebab kita berada di dunia, bukan di surga. Kita sering mendengar kalimat penyemangat, “Berani hidup, berani menghadapi cobaan.” Cobaan itu bisa berupa psikis, seperti kegelisahan karena peristiwa yang telah dialami atau kecemasan terhadap sesuatu yang belum terjadi. Juga bisa berupa pisik, seperti sakit, kekurangan keuangan untuk biaya hidup, dan sebagainya. Sebagai kelanjutan, ayat di atas menjelaskan bahwa orang mukmin akan tetap tegar menghadapi apapun cobaan, karena dalam dirinya telah terhunjam sebuah keyakinan, bahwa jiwa, raga dan harta adalah milik Allah, dan pasti akan diambil kembali oleh-Nya.

Jika Anda mendapat pinjaman motor, Anda tidak boleh melarang pemiliknya mengambilnya kembali. Demikian itulah tamsil yang sederhana tentang makna ayat di atas. Nyawa, raga, dan harta adalah milik Allah, maka kita tidak boleh menghalangi-Nya jika Allah mengurangi atau mengambilnya. Setiap hari kita telah menguatkan mental dengan ayat kursi, “Milik Allah-lah semua yang ada di langit dan bumi.” Keyakinan demikian itulah yang menjadi penangkal paling ampuh dari ancaman stres. Jadi, secara hakikat, sebenarnya kita dilarang mengatakan, “ini tanganku, atau ini kakiku.” Jika Anda mengakuinya sebagai milik Anda, maka Anda harus bisa menunjukkan surat kepemilikan yang sah. Dan, jika Anda mengakuinya sebagai sewa dari Allah, Anda harus menunjukkan surat persawaan yang sah dengan biaya persewaan yang jelas.

            Dari penjelasan di atas, Anda bisa memahami mengapa Nabi SAW menganjurkan orang yang mengalami sebuah musibah untuk membaca doa,  

إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اَللّٰهُمَّ عِنْدَكَ أَحْتَسِبُ مُصِيْبَتِيْ فَـآجِرْنِيْ فِيْهَا وَأَبْدِلْنِيْ بِهَا خَيْرًا مِّنْهَا

“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun” (Sungguh, kami adalah milik Allah, dan sungguh kepada-Nyalah kami kembali).”  Wahai ­Allah, musibah ini dari-Mu, maka berilah pahala untuk kami me­lalui musibah ini. Berikan kami ganti yang lebih baik daripada yang telah hilang dari kami.” (HR. Abu Daud dari Ummu Salamah r.a).

            Ummu Salamah r.a adalah wanita yang paling terkesan dengan doa ini, karena melalui doa itu, ia mendapatkan anugerah yang besar setelah mendapat musibah. Nama asli janda yang cantik dan cerdas dari keluarga berpengaruh di Mekah ini adalah Hindun binti Abi Umayyah. Ia terkenal dengan panggilan Ummu Salamah, karena anak pertama dan empat anaknya bernama Salamah. Sedangkan suaminya, Abdullah bin Al Asad Al Makhzumi lebih dikenal dengan Abu Salamah.

Suami-istri ini sangat setia kepada Nabi dan mengikutinya hijrah ke Abesinia. Adapun untuk hijrah ke Madinah, keluarga hanya mengijinkan suami Ummu Salamah, sedangkan Ummu Salamah dan anak-anaknya harus tetap tingal di Mekah. Setahun kemudian, Ummu Salamah dengan setengah memaksa, baru diijinkan menyusul suaminya di Madinah. Itupun dengan catatan, ia berangkat sendiri, tanpa diantar oleh siapapun. Meskipun Ummu Salamah tidak mengetahui jalan yang harus dilalui menuju Madinah, ia tetap berangkat dengan mengendarai unta sambil menggendong anaknya.

Ketika sampai di desa Tan’im, Ummu Salamah yang kehilangan arah ditolong oleh non-muslim yang berbaik hati mengantarnya sampai gerbang kota Madinah. Di sana, ia amat senang bertemu suami yang telah setahun berpisah. Ia juga bangga bersuami tentara yang terkenal cerdas dan kuat dalam perang Badar dan Uhud. Dalam perang yang terakhir itulah, ia terluka berat, lalu meninggal di rumahnya dengan didampingi Nabi SAW. Ummu Salamah terpukul, sebab suami yang jauh-jauh didatangi dari Mekah dengan pengurbanan yang luar biasa harus meninggalkannya selamanya. Sejak itulah ia membaca doa di atas.

Beberapa sahabat melamar si janda shalihah itu, termasuk dua sahabat senior, Abu Bakar dan Umar. Tapi, semua ditolak olehnya. Beberapa waktu setelah itu, ia terkejut, sebab pelamar berikutnya adalah Nabi SAW. Ia amat bergembira menerima lamaran itu dengan mengatakan, “Wahai Nabi, saya sudah tua dan dari keluarga biasa. Saya juga memiliki banyak anak.” 

Inilah buah doa Ummu Salamah. Ia mendapat suami yang jauh lebih mulia dari suami yang pergi meninggalkannya. Ketika berkumpul dengan para istri nabi lainnya, ia minder terutama terhadap Aisyah dan Hafshah, sebab mereka dari keluarga terhormat, yaitu Abu Bakar As Shiddiq dan Umar bin Khattab. Ummu Salamah termasuk istri yang istimewa, sebab dialah yang mendampingi Nabi dalam perang Hunain dan perebutan kembali kota Mekah (fat-hu Makkah). 

Dialah istri yang pernah bertanya kepada Nabi, “Mengapa wanita tidak diberi kesempatan berperang seperti lakai-laki? Mengapa pula, kami hanya mendapat separuh dari hak laki-laki dalam pembagian harta waris?” Nabi tersenyum bangga mendengar pertanyaan yang mencerminkan kecerdasan dan semangat juang sang istri. Saat itulah turun Surat An Nisa’ ayat 32-34 yang berisi larangan iri-hati terhadap kekayaan atau kelebihan yang diberikan Allah kepada seseorang, dan bahwa lelaki adalah pemimpin yang bertanggungjawab di tengah keluarga. Setelah Nabi wafat, Ummu Salamah menolak ajakan Aisyah untuk bergabung melawan kelompok Ali bin Abi Thalib r.a., dan pada tahun 39 H, ia meninggal dunia dalam usia 84 tahun.

Tanamkan sekuat-kuatnya keyakinan isi kalimat istirja’ (inna lillahi wainna ilayhi raaji-uun), agar Anda tegar dan tidak stres ketika suatu saat mendapat cobaan berat yang terkait dengan keluarga, harta, kesehatan, karir, dan sebagainya. Dan, bacalah doa di atas ketika musibah sudah terjadi, agar Allah memberi pengganti yang lebih indah daripada apa yang telah pergi atau lepas dari tangan Anda, bisa di dunia atau di akhirat kelak.

Sumber: Fathi Fawzi Abdul Mu’thy, Mawaqif fi Hayatir Rasul Nuzilat Fihi Ayatun Qur’aniyyah,  diterjemahkan oleh penerbit Mizan dengan judul “Kisah Nyata Di Balik Turunnya Ayat Suci Al Qur’an,”  Penerbit Mizan, Jakarta, 2008, p. 151-172.     

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *