Header

PPDS

July 1st, 2020 | Posted by admin_tsb in Artikel

PPDS
Acara “Sapa Hangat, Kajian dan Doa”
Zoom Meeting Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Jatim, 25 Juni 2020.
Oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

Yth. (1) Bapak DR. Dr. Sutrisno SpOG-K (Ketua IDI Jatim), (2) dan Bapak Dr. Dr. Achmad Chusnu Romdhoni Sp. THT-KL (K) FICS (Ketua Satgas Covid-19 Jatim), (3) Bapak Dr. dr Brahmana (Ketua IDI Surabaya) (4) Para Guru Besar dan Senior Dokter seluruh Jatim, (5) Pengurus IDI Wilayah Jatim, (6) Ketua IDI Cabang di seluruh Jatim, dan (7) Anggota IDI Wilayah Jatim terdampak Covid 19 dan keluarga.

Kita berdoa sejenak untuk para dokter, paramedis, pejabat, petugas, sukarelawan, dan siapa pun yang telah gugur dalam melaksanakan tugas. Semoga semua amal mereka diterima Allah, dosanya diampuni-Nya, dan dicatat di sisi-Nya sebagai syuhadak. Al Fatihah.  Bagi yang sakit di antara mereka, semoga Allah segera memberi kesembuhan.

Bagi para dokter, paramedis, pejabat, petugas, sukarelawan, donatur yang masih diberi tambahan umur sampai hari ini, semoga diberi kemudahan dan keselamatan dalam melaksanakan tugas. Al fatihah.

Kita doakan juga keluarga yang ditinggalkan, baik yang muslim maupun yang non-muslim semoga diberi kesabaran dan kebanggaan sebagai keluarga pejuang, dan anak-anak yang ditinggalkan menjadi orang-orang hebat melebihi keluarga yang telah meninggalkan mereka selamanya. Untuk menyemangati bapak dan ibu Yth dalam melanjutkan tugas mulia, saya akan menyampaikan kajian malam ini dengan judul PPDS

1.Pengabdian.

Niatilah pekerjaan bapak ibu Yth dengan benar, yaitu ibadah, bukan yang lain. Pengabdian itu bahasa arabnya adalah ibadah. “Nilai perbuatan ditentukan niatnya,” sabda Nabi.

Niat yang demikian itu harus dikuatkan terus setiap saat. Sebab, godaan untuk melenceng dari niat mulia ini datang setiap saat, dan pada siapa saja, sesuci apa pun dia. Mengendalikan hati bukanlah persoalan mudah. Maka, Nabi SAW selalu memohon, “Wahai Allah, bantulah aku untuk selalu mengingat-Mu.” Menata hati dalam semua langkah adalah bagian dari zikrullah itu.  Ali bin Abi Thalib r.a berkata, “Orang  yang hanya berorientasi isi perut, harga dirinya tidak jauh dari isi perutnya itu.”

Syuhadak artinya persaksian, yaitu kematian dengan persaksian para malaikat bahwa seseorang meninggal dalam perjuangan dengan niat ibadah. Jika salah niat, maka predikat syuhadak tidak berlaku.

Kita diciptakan Allah bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk manusia. “Kamu adalah komunitas terbaik yang dilahirkan untuk manusia” (QS. Ali Imran 3: 110). Untuk apa kita lanjutkan kehidupan, jika tidak memberi sumbangsih untuk kehidupan orang lain.

Abu Abdillah Sufyan bin Said Al-Tsauri, petapa, sufi, ahli hadis dan teologi yang lahir di Kufah tahun 715M dan wafat tahun 778M di Bashrah mengatakan, “Termasuk sadisme adalah doa yang terfokus pada diri sendiri, tanpa mendoakan orang lain.”

Semakin tinggi peran kita dalam menyejahterakan manusia, semakin tinggi juga kemuliaan kita. Nabi bersabda, “Orang yang tertinggi imannya, adalah yang paling baik akhlaknya dan paling besar sumbangsihnya untuk manusia.” Perhatikan, ibadah-ibadah individual yang seperti umrah, haji, shalat dan sebagainya tidak dijadikan ukuran utama dalam penilaian Allah

Pengabdian ini harus dilakukan secara maaksimal, antara lain smart working, hard working, endurance, and compassion.

Pengabdian yang dilakukan dengan tulus dan cinta pasti menghasilkan sesuatu yang positif. Alam semesta tercipta dengan indah, karena Allah mengerjakannya dengan cinta-kasih. “Kamu tidak akan melihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan yang Maha pengasih.” (QS. Al Mulk 67:

2. Penyelamatan Nyawa

Salah satu misi utama agama adalah penyelamatan nyawa (hifdhun nafs) untuk nyawa sendiri, dan lebih-lebih nyawa orang lain, muslim atau non-muslim. Bahkan, penyelamatan nyawa binatang. Maka, semua ibadah harus dilakukan dengan memperhatikan misi tersebut. Misalnya, wudu wajib diganti tayamum, jika air membahayakan kesehatan. Puasa tidak boleh dilakukan, jika membahayakan kesehatan. Shalat di masjid, umrah dan haji juga tidak boleh dilakukan jika membahayakan nyawa sendiri atau orang lain. Jadi, argumentasi, “Saat pandemi, manusia seharusnya lebih banyak di masjid” tidaklah selalu benar.

Jangan ceroboh dalam hal keselamatan nyawa. Ikutilah sunnatullah (hukum-hukum alam). Allah berfirman, “Janganlah kalian melakukan apa pun yang membawa kebinasaan” (QS. Al Baqarah 2: 195)

Islam amat menghargai nyawa manusia. Penyelamatan satu nyawa sama dengan penyelamatan semua generasi manusia, dan siapa pun yang menyebabkan kematian seorang, sama dengan membunuh semua generasi manusia. (QS. Al Maidah 5: 32).

Bersyukurlah, semua tenaga medis telah mendapat apresiasi Allah. Jean Gough, Direktur Regional Asia Selatan UNICEF mengatakan, “Tanpa tindakan segera, Covid-19 bisa menghancurkan harapan dan masa depan seluruh generasi. Tidak hanya kematian karena covid, tapi juga kematian anak-anak di Asia Selatan akibat tidak mendapat imunisasi dan nutrisi, karena semua dana terfokus untuk penanganan Covid-19. Mereka, lebih-lebih yang miskin atau di pedalaman yang jauh dari jaringan internet, juga mengalami krisis edukasi yang memprihatinkan.” (Jawa Pos, 23-6-2020, p.3)

3. Doa

Berdoalah setiap memulai dan mengakhiri tugas. Itulah ciri khas manusia beragama. Allah amat membenci orang yang jarang berdoa, sebab berarti ia congkak, bahwa dirinya bisa hidup tanpa Tuhan.

Doa tidak hanya berisi permohonan keselamatan, tapi juga keilmuan, sebab masih banya rahasia semesta, termasuk penyakit yang masih misteri. Selain covid, masih banyak ciptaan Allah yang belum ditunjukkan manusia. “Ilmu yang telah diberikan kepadamu amatlah sedikit” (QS. Luqman 31: 34). Juga mohonlah kekuatan iman dan akhlak di tengah berbagai goncangan. Pandemi adalah ujian keimanan. Ali bin Abi Thalib, r.a berkata, “Angin yang menerpa pohon, bukanlah untuk menguji batang, ranting dan daunnya, melainkan menguji kekuatan akarnya.”

Doa sebaiknya tidak hanya berisi sebuah permohonan, tapi juga sebaiknya berisi sanjungan, pujian, dan tawakal kepada Allah. Doa yang berisi permohonan semata akan menimbulkan kekecewaan, jika permohonan itu tidak terpenuhi. Sanjunglah Allah dan berserahlah kepada-Nya. “Katakan, Dialah yang Maha Pengasih. Kami sunguh beriman kepada-Nya, dan kepada-Nya kami berpasrah.” (QS. Al Mulk 67: 29). Lihat juga redaksi doa yang menyehatkan body and mind manusia pada Buku Terapi Shalat Bahagia, oleh Moh Ali Aziz, pada tabel di bagian akhir buku.

4. Syukur

Syukur berarti senang dengan apa pun pemberian Allah. Rasa senang inilah yang ikut menguatkan kekebalan kita. Dengan jiwa syukur itu, pelayanan kita juga amat menyenangkan pasien. Bagaimana mungkin menyenangkan orang, jika ia gagal menyenangkan diri sendiri. Mengobati pasien adalah pahala, dan menyenangkannya adalah tambahan pahala lainnya. Raihlah keduanya.

Sedih, takut, dan kecewa adalah kondisi kejiawaan yang manusiawi. Nabi pun mengalaminya. Tapi, menjadi terlarang, jika berkepanjangan, sebab kesdihan dan ketakutan yang berlebihan, secara tidak langsung, adalah penghinaan kepada Allah, seolah-olah Allah sudah tidak ada atau tidak mampu menolong manusia.

Kita harus menjadi pribadi yang paling apresiatif, tapi jangan sekali-kali mengemis apresiasi. Gantungkan harapan apresiasi itu dari Allah semata, bukan dari manusia. Jika tidak, hanya kekecewaan yang didapat, jika tidak terpenuhi. Apalagi, jika diingat, bahwa hanya sedikit manusia yang apresaitif. “Sedikit sekali hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’ 34: 13)

Tanamkan sekuat-kuatnya, bahwa berapa pun besarnya penghargaan manusia terhadap karya kita sama sekali tak sebanding dengan penghargaan dari Allah. “Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan asesorinya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kamu mengerti? (QS. Al Qasas 28: 60). Insentif untuk nakes yang dijanjikan pemerintah sebesar Rp. 3.7 T untuk 99.660 nakes yang terlibat penanganan covid-19 (Jawa Pos, 25-6-2020, p.12) tidaklah sebanding dengan resiko kematian mereka. Apalagi dibanding ganjaran Allah.

Dutch News in English (23-6-2020) melaporkan, “Part of Health workers want a different profession because of lack of appreciation.” Alhamdulillah, bukan tenaga medis di Indonesia.

Sekali lagi, syukur adalah senang. Maka, tetaplah riang, selalu berpikir positif dan optimis dalam mengahadapi semua tantangan. Sebab, itulah yang menyehatkan, dan itu pula yang amat menyenangkan Allah. Berpikir negatif atau positif adalah choices. Harvey Mackay mengatakan, “Optimis dan pesimis sama-sama masuk akal. Terserah Anda memilih yang mana.”

Surabaya, 24-6-2020

malzis@yahoo.com, www.terapishalatbahagia.net

Doa Penutup

  1. Wahai Allah, gantilah keringat panitia dan sponsor acara ini dengan parfum di surga nanti
  2. Wahai Allah, kami benar-benar kehilangan rekan-rekan kami yang telah kembali ke hadirat-Mu, tanpa sempat melambaikan tangan perpisahan karena protokol kesehatan. Kami bersaksi, mereka orang-orang baik dengan dedikasi tinggi. Ampunilah mereka.
  3. “Allahummaghsilhu….”Mandikan mereka dengan air sejuk pengampunan, lalu selimutilah dengan kehangatan kasih-Mu. Jadikan kuburan mereka lebih menyenangkan daripada rumahnya di dunia. Utuslah malaikat rahmat untuk mendampingi dan menghibur mereka, agar tidak kesepian di alam sana. Wahai Allah, jika mereka kembali kepada-Mu dengan sedikit pahala dan banyak dosa, maka jadikan kematian di tengah menjalankan tugas mulia itu sebagai pelipat pahala dan penghapus dosa.
  4. Berikan kesabaran keluarga yang mereka tinggalkan, baik muslim atau non-muslim, dan tanamkan pada mereka kebanggaan sebagai keluarga pejuang, serta yakinkan mereka, bahwa anak-anak mereka kelak akan menjadi bintang dunia, berkat doa yang diamini orang-orang baik malam ini, dan doa semua orang yang pernah ditolong semasa hidupnya.
  5. Wahai Allah, rahmatilah guru-guru kami yang telah mengantarkan kami menjadi manusia berilmu, terhormat dan berdedikasi tinggi. Jadikan semua ilmu yang telah kami amalkan pahala jariyah bagi guru-guru kami, juga kedua orang tua kami. Jadikan pula para dokter yang telah berada di sisi-Mu saksi atas ketulusan guru-guru kami dalam mendidik kami sebagai dokter dan paramedis.
  6. Bismillahi urqika…” Wahai Allah, melalui doa Malaikat Jibril yang pernah dibaca untuk kesembuhan Nabi dan kami baca malam ini, berikan semua tenaga medis dan paramedis yang sedang sakit, baik muslim atau non muslim. Berikan mereka keceriaan dan optimisme kesembuhan.
  7. “Innallaha Huwar Razzaq…” Wahai Allah, sumber kekuatan di alam semesta. Alirkan kekuatan-Mu pada otak kami, agar lebih cerdas dan menghasilkan temuan-temuan baru di bidang kedokteran. Alirkan juga pada hati kami, agar lebih bersyukur, optimis dan terbebas dari kecemasan. Alirkan juga kekuatan-Mu pada tubuh kami untuk menambah kekebalan tubuh kami dan selamat dari berbagai virus dan bencana lainnya.   

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *