Header

PUASA, NYALAKAN PELITA DI DADA

May 20th, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel

PUASA, NYALAKAN PELITA DI DADA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://asysyariah.com/ulama-pelita-dalam-kegelapan

ثُمَّ قَسَتۡ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَٱلۡحِجَارَةِ أَوۡ أَشَدُّ قَسۡوَةٗۚ وَإِنَّ مِنَ ٱلۡحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنۡهُ ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ وَإِنَّ مِنۡهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخۡرُجُ مِنۡهُ ٱلۡمَآءُۚ وَإِنَّ مِنۡهَا لَمَا يَهۡبِطُ مِنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ٧٤

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Dan sungguh di antara batu-batu itu ada sungai-sungai yang mengalir darinya, dan di antara batu-batu itu, benar-benar ada yang terbelah, lalu keluarlah mata air dari padanya, dan di antara batu-batu itu pula, benar-benar ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Baqarah [02]: 74).

            Ayat di atas menjelaskan adanya hati manusia yang mati, gelap dan mengeras bagaikan batu, sehingga tidak dapat tertembus cahaya Allah.Bandingkan dengan hati yang lunak, hidup dan siap manerima cahaya Allah, sebagaiman dijelaskan dalam Al Qur’an, “Sungguh orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, hati mereka bergetar, apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, iman mereka bertambah (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal” (QS. Al Anfal [08]: 02).

            Mengapa hati manusia mati dan mengeras? Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Adh-Dhabi’i, penulis buku Sanabilul Khair menjelaskan sebab-sebab yang mematikan hati manusia. Pertama, mengonsumsi makanan dan minuman melebihi yang dibutuhkan tubuh. Sebab yang pertama ini benar-benar menohok, karena kita kerapkali gagal menahan diri dari makan dan minum yang sesuai dengan selera, apalagi jika gratis, padahal kita sejatinya tidak lapar dan tidak pula haus. Rosyadi Achmad memberi nasihat, “Makan Anda yang pertama ketika lapar adalah kebutuhan, sedangkan makan kedua adalah nafsu yang akan menambah bodoh, malas dan penyakit, sebab akan menghasilkan lemak yang tersimpan di bawah permukaan kulit.”   

            Kedua, mengoleksi pakaian dan asesori atau berdandan secara berlebihan. Prilaku ini sudah pasti mengundang pemborosan dan berbau pamer, padahal boros dan show off sama-sama paling disukai setan. Tidak hanya itu, kadangkala pakaian tersebut sangat ketat atau terbuka pada bagian-bagian tertentu sehingga mengundang nafsu birahi lain jenis. Mungkinkah cahaya Allah menembus hati orang yang berada dalam dekapan setan itu? Perhatikan gaya hidup kebanyakan orang Indonesia sekarang yang cenderung konsumtif demi kepuasan pribadi, lupa etika dan kurang bersedekah.

            Ketiga, berbicara tentang hal-hal yang tidak penting dalam percakapan sehar-hari, baik langsung ataupun melalui media sosial. Perhatikan, tidak sedikit orang yang kuat berlama-lama ngobrol atau chatting tentang berbagai hal, namun tidak sabar berpanjang-panjang membaca Al Qur’an dan buku-buku ilmiah atau keagamaan.

Keempat, banyak bergurau, bahkan terbahak-bahak persis gelak-tawa setan. Anas r.a bercerita, “Rasulullah SAW pernah berkhutbah dengan semangatnya yang luar biasa, yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Beliau berkhutbah, Lau ta’lamuna ma a’lam ladlahiktum qalilan walabakaitum katsira” (andaikan kalian mengetahui apa yang telah saya ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Anas melanjutkan, ”Para sahabat langsung menutup muka sambil menangis terisak-isak” (HR. Bukhari Muslim). Imam Hasan Al Bashri pernah menjumpai pemuda yang tertawa terbahak-bahak, lalu menegurnya, ”Apakah engkau telah mendapat jaminan selamat dari siksa neraka? Apakah ada kepastian bahwa engkau dimasukkan ke surga?.” Pemuda cengengesan itu menjawab, ”Belum.” “Mengapa kamu bisa tertawa seperti itu?” kata Hasan Al Bashri. Sejak itu, pemuda tersebut bertaubat dan menjadi orang yang saleh.

            Kelima, tidak menyediakan waktu untuk introspeksi setiap hari. Setiap hari Anda hanya fokus pada kebersihan dan penampilan fisik di depan cermin, dan lalai kebersihan ruhani dan penampilan akhlak mulia. Anda rajin periksa ke dokter untuk mengobati penyakit, lalu membayar dan berterima kasih kepadanya, tapi Anda tidak pernah datang kepada orang yang dekat kepada Allah untuk memeriksakan penyakit hati. Anda justru tersinggung dan tidak berterima kasih ketika orang yang dengan sukarela menunjukkan penyakit hati Anda, misalnya kikir, sombong, pamer, banyak bicara, dan sebagainya. Anda juga tiada henti menilai prilaku negatif orang sampai lupa mengurai sifat-sifat negatif Anda sendiri. Anda pandai berbicara soal moral di atas panggung, tapi cacat budi pekerti dalam keluarga sendiri dan masyarakat umum. Mengapa Anda tidak introspeksi melalui duduk tasyahud ketika Anda bershalawat kepada Nabi SAW? Antara lain, “Wahai nabiku, inilah aku yang masih jauh dari sunahmu. Pergaulanku dengan semua orang muslim dan non-muslim, sesama jenis dan lain jenis belum seperti pergaulan yang engkau contohkan kepadaku. Wahai nabiku, rumah tanggaku belum seperti rumah tanggamu. Wahai nabiku, ibadahku belum seperti ibadahmu. Wahai nabiku, cara bicaraku belum seperti cara bicaramu. Wahai nabiku, cara makan dan minumku belum seperti cara makan dan minummu. Wahai nabiku, sampai usiaku yang sekian ini, aku belum memiliki karya besar untuk kemanusiaan dan agama seperti karya-karyamu. Wahai nabiku, aku kurang bersabar menghadapi apapun cobaan hidup seperti kesabaranmu. Wahai nabiku, aku malu berjuta shalawat kepadamu, namun wajahku masih jauh dari wajahmu.”

            Keenam, sering mendengarkan atau menyaksikan hal-hal yang sama sekali tidak memberi nilai positif dalam pembinaan jiwa dan semangat berkarya. Kita diajari nabi SAW untuk berdoa, “Waj’al fi sam’i nura, wafi bashari nura / wahai Allah berikan cahaya-Mu pada pendengaran dan penglihatanku.” Kedelapan, melanjutkan tidur di atas kasur, atau melanjutkan kegiatan yang tidak terlalu penting, padahal panggilan azan telah terdengar. Anda ingin Allah segera merespon doa Anda, namun Anda tidak merespon segera panggilan-Nya.

            Apakah Anda benar-benar berminat menyalakan pelita di dada yang sekarang telah redup atau bahkan mati itu? Jika ya, ramadhan inilah saatnya yang paling tepat untuk menyalakannya. Semoga.

Referensi: (1) Kementerian Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Al Jumanatul ‘Ali, Bandung, 2005; (2) Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Adh Dhabi’i, Sanabilul Khair, Investasi Akhirat, terjemah: Tsaniananda Fidyatul Ch, Penerbit: Tinta Medina, Creative Imprint of Tiga Serangkai, Solo, Cet. I, 2016, hlm. 72-73; (3) Rosyadi Achmad, Terapi Sapu Jagad, Penerbit: Sapu Jagad Corp, Sidoarjo, cet.1.2015;  (4) As Samarqandy, Syekh Nashr bin Muhammad bin Ibrahim, Tanbighul Ghafilin, Maktabah wa Mathba’ah Al Hidayah, Surabaya, t.t. hlm. 70

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *