Header

PUYER ILAHIYAH

April 1st, 2019 | Posted by admin_tsb in Artikel

PUYER ILAHIYAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan yang baik, mereka itulah adalah  makhluk yang terbaik. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya (QS. Al Bayyinah [98]: 7-8).

Ayat di atas menjelaskan pujian Allah untuk orang-orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan yang baik sebagai makhluk terbaik, sekaligus disediakan surga ‘Aden untuk mereka. Allah senang melihat mereka dan mereka juga senang dengan balasan itu. Balasan yang agung itu diberikan kepada mereka sesuai dengan akhlak mereka sewaktu di dunia yang selalu senang hati, puas, dan tidak mengeluh sama sekali atas apapun perintah dan takdir Allah, lebih-lebih yang tidak sesuai dengan harapan, seperti sakit, kemiskinan, bencana, dan sebagainya.   

            Tulisan ini terilhami sebuah buku terlaris di Arab Saudi (2018), Liannaka Allah, Rihlah Ilas Samaa-is Saabi’ah (Karena Engkau Allah, Sebuah Perjalanan Jauh ke Langit Tujuh) oleh Syekh Ali bin Jabir Al Fayfi. Dalam salah satu bab di dalamnya yang berjudul As-Syaafy (Tuhan Maha Penyembuh), dijelaskan bahwa sikap ridho dan senang atas takdir Allah merupakan syarat utama kesembuhan seseorang dari penyakit bersamaan dengan beberapa ikhtiar lainnya. Tulisan ini merupakan ringkasan dari bab tersebut dengan beberapa tambahan. 

As-Syaafy adalah nama Allah yang menjadikan siapapun yang memanggilnya akan riang dan optimis, bahkan sirnalah apapun kecemasannya. Nama itulah yang meyakinkan Anda, bahwa Ia Maha Kuasa menyembuhkan segala penyakit dengan perantaraan suatu sebab atau tanpa sebab sama sekali. Maka, panggillah As-Syaafy dalam setiap doa Anda untuk meminta kesembuhan dengan sepenuh hati, tanpa sedikitpun keraguan.

Ada seorang ayah yang bersedih di rumah sakit Arab Saudi karena anaknya sakit dan tidak ada harapan sembuh. Ketika shalat isyak, ia mendengar sang imam membaca ayat “..dan gembirakanlah orang-orang yang bersabar” (QS. Al Baqarah [2]: 155), maka berkuranglah kesedihannya. Ia lalu teringat firman Allah, Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menghalanginya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 35: 2). Sejak itu, ia semakin bersemangat berdoa, dan tidak lama kemudian, sang anak sembuh total.

            Ada juga orang tua yang lain yang hampir putus asa karena anaknya terkena penyakit kebutaan. Semua anggota keluarga ikut berdoa, tapi tidak ada tanda-tanda kesembuhan. Tiba-tiba datanglah tamu yang berpesan, “Bersedekahlah dengan niat untuk kesembuhan anakmu, sebab Nabi SAW bersabda, “Daawuu mardhaakum bis shadaqah” (sembuhkan penyakit kalian dengan sedekah) (HR. At Thabrany). Setelah nasihat itu dijalankan, anak itu berangsur-angsur sembuh dari kebutaan.

            Kadangkala Allah SWT memberi penyakit agar Anda lebih empati, merasakan derita orang lain. Jika melalui penyakit itu Anda lebih empati lalu membantu untuk biaya berobat dan kebutuhan sehari-hari mereka, maka penyakit Anda akan sembuh, sebab tujuan Allah mendatangkan penyakit telah tercapai. Jika penyakit itu diberikan agar Anda lebih merendah (tawadhu’) dan bertobat kepada Allah, lalu melalui penyakit itu, Anda lebih tawadlu’, merendah dan bertobat, maka penyakit Anda akan diangkat oleh Allah, sebab tujuan pemberian penyakit telah tercapai. Yang pasti, sebuah penyakit diberikan Allah untuk menguji sejauhmana kesabaran dan perasaan hati Anda menerimanya. Jika Anda menerima penyakit itu dengan ikhlas dan senang hati, tanpa keluhan sama sekali, maka sirnalah penyakit Anda, sebab tujuan pemberian penyakit tersebut telah terpenuhi.

            Ketika Nabi Ayyub a.s sakit bertahun-tahun dan semua anaknya juga diwafatkan Allah, ia tetap tenang dan dengan senang hati menerimanya. Maka Allah memberinya kesembuhan. Ayyub a.s berdoa, “Wahai Tuhanku, sungguh aku sedang ditimpa penyakit, dan Engkaulah Tuhan Yang Paling Maha Pengasih di antara para pengasih” (QS. Al Anbiyak [21]: 83). Inilah redaksi doa yang istimewa, sebab doa itu mencerminkan racikan antara keyakinan, kepasrahan dan optimisme. Doa itu lebih menonjolkan pengakuan kemurahan Allah dan kepasrahan kepada-Nya daripada mengajukan sebuah permintaan; lebih mengedepankan hak Allah berupa sanjungan dan pujian untuk-Nya, daripada permintaan kesembuhan yang merupakan hak manusia. Inilah doa afirmatif yang disebut oleh Syekh Ali bin Jabir Al Fayfi doa mumtali-un bil yaqiin (doa dengan keyakinan sepenuhnya). Melalui doa itulah, Allah memberi obat kesembuhan yang ternyata tidak jauh, yaitu mata air di bawah kakinya. Allah SWT memerintahkan Ayyub a.s, “Hentakkan kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum” (QS. Shad [38]: 42). Melalui ayat ini, Allah menjelaskan bahwa obat penyakit Anda bisa saja dalam dirimu sendiri, atau tidak jauh dari Anda.

            Mungkin Anda pernah menerima resep dokter berbentuk puyer yaitu racikan dari berbagai jenis obat, karena menurutnya, penyakit Anda tidak bisa disembuhkan hanya dengan satu jenis obat. Dalam perspektif Islam, untuk sebuah kesembuhan, tidak cukup hanya dengan pergi ke dokter, tapi perlu juga pengaturan pola hidup. Keduanya juga belum cukup, masih harus disertai juga doa, memperbanyak sedekah, istighfar dan taubat. Racikan puyer ilahiyah itupun masih belum cukup, masih diperlukan sikap ridho, ikhlas, dan senang atas penyakit itu seperti yang dicontohkan Ayyub a.s. Dan inilah unsur yang paling berat dari semua bahan racikan puyer tersebut.

Bernafaslah dengan doa Radhitu billahi Rabba..dst (wahai Allah, saya sungguh senang apapun keputusan-Mu). Penuhilah hati dengan sumpah itu, dan konsentrasikan ke bagian tubuh yang sakit. “Minumlah” setiap pagi dan petang puyer ilahiyah yang berisi ikhtiar, doa, istighfar, tobat, sedekah, dan sumpah keikhlasan, ridho dan senang dengan apapun pemberian Allah.  Yakinlah, sebentar lagi Anda akan menyaksikan sebuah keajaiban.

Referensi: (1) Ali bin Jabir Al Fayfi, Liannaka Allah, Rihlah Ilas Samma-is Saabi’ah (Karena Engkau Allah, Sebuah Perjalanan Jauh ke Langit Tujuh), Darul Hadharah Linnasyri Wat Tauzi’, Riyadh, Makkah, 1439 H/2018, cet. 22, p. 67-83 (2) Moh. Ali Aziz, 60 Manit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2018.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *