Header

RAHASIA SUKSES DAKWAH DUNIA

January 9th, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel

RAHASIA SUKSES DAKWAH DUNIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: httpsfavpng.compng_viewarabic-world-north-africa-arab-world-arabian-peninsula-world-map-pngFexLGSkt

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali Imran [3]: 110).

            Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya (QS. Ali Imran: 104) yang berisi perintah amar ma’ruf nahi munkar (mengajak berbuat yang baik dan mencegah perbuatan dosa). Pada ayat ini dijelaskan lebih lanjut, bahwa dakwah atau amar ma’ruf nahi munkar harus berorientasi keimanan, bukan lainnya, sehingga bisa menyatukan dan menyejukkan masyarakat.  Dalam ayat ini juga tersirat perintah agar setiap muslim melakukan dakwah semampunya, meskipun ia bukan ahli agama. Gerakan dakwah yang masif inilah yang menjadi salah satu faktor keberhasilan dakwah di dunia.    

Dalam sebuah kajian Islam di USA, Dr. Muhammad Jawwad Chirri (w. 1994) ditanya oleh Wilson H. Guintin, Ph.D tentang faktor keberhasilan dakwah di dunia. Penanya yang Kristen dan ahli psikologi itu mengatakan, “Sejak berpendidikan, saya menjadi ragu tentang agama saya.” Ia menambahkan, bahwa agama-agama yang dipelajari sebelumnya tidak bisa mengobati kebimbangan keimananya, dan dialog dengan ulama besar inilah satu-satunya yang berhasil menghapus kebimbangannya.

Chirri adalah penulis puluhan buku dalam bahasa Arab dan Inggris, antara lain Muslim Practice; The Faith of Islam; Inquiries about Islam; Imam Husein, Leader of the Martyrs; dan The Brother of The Prophet Muhammad (the Imam Ali). Ia dibesarkan dalam keluarga Syi’ah di Libanon dan meraih gelar doktor teologi dari Iraq sebelum berhijrah ke Detroit, USA. Ia mendirikan sekaligus memimpin Islamic Center of America tahun 1962 setelah terlebih dahulu mendatangi Syekh Mahmud Shaltut di Universitas Al Azhar Mesir untuk mencari persamaan antara Sunni dan Syiah.

Menurutnya, ada tiga faktor yang mempercepat perkembangan Islam di dunia. Pertama, kepribadian Nabi sebagai pembawa Islam yang tidak mengambil jarak dengan masyarakat, tapi menyatu, bahkan dengan orang yang paling tak terhormat sekali pun. Masyarakat memandang Nabi sebagai kawan sekaligus pembimbing (QS An-Najm [53]: 2; At-Takwir [81]: 22). Juga mengakuinya secara aklamasi sebagai “al amin” yaitu manusia yang paling jujur dan bisa dipercaya (QS. Al-Qalam [68] : 4). Tak kalah pentingnya, ia tetap santun meskipun diperlakukan jahat oleh para atheis dan politheis (QS An-Nahl [16]: 125, QS. Ali Imran [3]: 159). Kepribadian Nabi inilah yang menjadi faktor utama percepatan penyebaran Islam. Selama memimpin, Nabi mampu mengelola perbedaan pendapat para penasihatnya sebagai sumber kekuatan, bukan sumber perpecahan. Ia dengan lincah mengelola konflik para penasehatnya seperti seorang musikus yang menggabungkan macam-macam bunyi alat musik menjadi lagu yang indah dan enak didengar.

Kedua, militansi para pengikut Nabi. Mereka siap mengurbankan harta, jiwa dan raga untuk perjuangan Nabi. Bandingkan dengan pengikut Musa a.s yang menolak diajak memasuki Yerussalam, bahkan mencemooh, “Silakan pergi sendiri dengan Tuhanmu, wahai Musa. Kami santai saja di sini.” (QS. Al-Maidah [5]: 24). Bandingkan juga dengan pengikut Isa a.s yang membiarkan Isa a.s dalam kesulitan. Sampai sekarang pun, setiap muslim di seluruh dunia memiliki militansi sebagai pendakwah sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing. “Ketika saya berkunjung ke Afrika pada tahun 1962, saya tidak menjumpai organisasi Islam yang secara khusus bergerak di bidang dakwah. Padahal, saat itu misi Kristen telah memiliki sebanyak 212.250 buah dengan dana yang melimpah. Sedangkan pusat dakwah Islam sedunia pada saat yang sama hanya memiliki kurang dari seratus buah. Itu pun dengan dana yang terengah-engah,” kata Chirri. Perkembangan Islam di semua benua sampai hari ini lebih banyak karena kekuatan pendakwah perorangan daripada dakwah yang teroganisir. Di Indonesia, kita menjadi saksi sejarah, bahwa Islam masuk ke Indonesia bukan oleh lembaga dakwah, melainkan para saudagar yang berdakwah di sela-sela kegiatan bisnisnya.

Ketiga, ajaran Islam yang logis dan jelas, berisi aturan hidup yang lengkap, serta menjunjung tinggi kesetaraan di antara semua manusia. Ajaran tentang keesaan Tuhan, kerasulan Nabi dan konsep kehidupan sesudah mati tidak berbelit-belit dan sukar dipahami. Setiap orang dapat langsung membaca kitab sucinya dan menjalankannya. Islam mengajak penganutnya untuk berilmu dan berwawasan luas (QS. Thaha [20]: 114; Az Zumar [39]: 9), dan mencela orang yang tidak mau belajar dan meneliti (QS. Al A’raaf [7]: 179). Oleh sebab itu, pantaslah manusia dipercaya sebagai khalifah untuk mengatur dunia (QS. Al-Baqarah [2]: 30-33).

Aspek lainnya tentang ajaran Islam yang menjadi daya tarik dunia adalah ajaran keseimbangan antara aspek benda dan rohani, atau antara perorangan dan kemasyarakatan. Islam tidak melarang mencari kesenangan duniawi (QS. Al Baqarah [2]: 201-202), bahkan mencela mereka yang tidak memanfaatkan karunia Allah (QS Al A’raf [7]: 31-32). Islam tidak mengajarkan manusia untuk melenyapkan kepribadiannya dan meleburkan diri pada masyarakat dan negara (QS. An Najm [53]: 39;  QS. Al Baqarah [2]: 286), tapi menekankan agar setiap muslim memiliki tanggungjawab sosial untuk ikut mengatur kehidupan sosial, antara lain adanya perintah shalat berjamaah, zakat dan sadakah (QS. Al  Baqarah [2]: 43, dan Az Zariaat [51]: 19).

Berdasarkan jawaban ulama di atas, maka untuk kesuksesan dakwah ke depan, kita harus melakukan tiga hal. Pertama, kita harus benar-benar menjadi teladan, sebab inilah daya sugesti yang terkuat bagi masyarakat untuk mengikuti jejak kita. Kedua, kita harus didampingi oleh teman-teman seperjuangan yang militan, kompak, dan siap mengurbankan apa saja yang dibutuhkan dakwah, serta lebih senang memberi daripada diberi. Ketiga, kita harus mampu menjelaskan Islam sesuai dengan watak aslinya, yaitu logis, simpel, menyemangati untuk berkarya besar, dan selalu menyenangkan, bukan menyusahkan, apalagi menggelisahkan orang.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *