Header

RAMAH ALAM, RAIH SALAM

February 5th, 2018 | Posted by admin_tsb in Artikel

RAMAH ALAM, RAIH SALAM
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ ١٠٧

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al Anbiyak [21]: 107).

sumber gambar: www.dreamstime.com

Pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa dalam Kitab Zabur telah tertulis bahwa bumi akan dikelola dengan baik oleh orang-orang yang beriman dan berakhlak mulia (‘ibadiyas shalihun), yaitu umat Nabi SAW. Ayat yang dikutip di atas merupakan kelanjutan ayat sebelumnya sebagai penegasan, bahwa Islam datang untuk rahmatan lil ‘alamin, yaitu pemberi kebahagiaan semua makhluk, yaitu manusia, jin, malaikat, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan alam secara keseluruhan.

Inilah ayat yang sangat pendek, hanya enam kata, tapi memiliki pesan yang luas tentang kedamaian dunia yang akan disumbangkan oleh Islam. Menurut Sayid Qutub, salah satu wujud  rahmatan lil alamin Islam adalah ajarannya tentang kesetaraan manusia, dan dorongan inovasi melalui kemerdekaan berfikir untuk memajukan kualitas kehidupan. Antara lain berupa apresiasi untuk sebuah inovasi. Jika ia gagal, penggagas diapresiasi dengan satu poin kebaikan, dan jika berhasil diberi bonus dua poin. Kepribadian Nabi SAW juga rahmatan lil alamin. Dialah satu-satunya manusia yang diberi predikat rahmatan lil alamin, dan satu-satunya yang bergelar rahim, satu sifat yang hampir sama dengan sifat Allah, ar Rahim (Yang Maha Penyayang), sebagaimana disebutkan dalam QS. At Taubah ayat 128.

Nabi SAW mengajarkan kita untuk menyayangi binatang, melarang memberi beban yang berat di atas punggungnya, dan melarang menyembelihnya dengan pisau yang kurang tajam. Nabi bahkan memberitakan adanya wanita yang dimasukkan ke neraka karena mengurung kucing sampai mati kelaparan. Sebaliknya, wanita pelacur dimasukkan ke dalam surga karena menyelamatkan nyawa seekor anjing. Anda manusia rahmatan lil ‘alamin, jika Anda menyayangi binatang seperti yang dilakukan Catherine van Eyk, turis Belanda yang menghentikan mobilnya di  Taman Nasional Kruger Afrika selatan, sehingga jalan macet selama 20 menit sebab 120 mobil berhenti, karena memberi kesempatan dua singa yang sedang bercinta.

Terhadap tanaman, Nabi SAW juga melarang kita memetik bunga sebelum mekar, agar lebah bisa menghisap sarinya dan kita bisa menikmati keindahannya. Ia juga melarang memetik buah sebelum matang agar dinikmati manusia sesuai dengan tujuan penciptaan semula  (M. Quraish Shihab, vol 8: 132-135).

Artikel ini ditulis untuk menyambut peringatan Hari Air Sedunia (22 Maret). Pada awal tahun 2018 ini, beberapa negara di Afrika mengalamai kekeringan air. Pada musim kemarau yang lalu, Indonesia juga mengalami hal yang sama. Presiden Joko Widodo menggelar rapat terbatas untuk mengatasi kekurangan air yang menambah penderitaan rakyat di beberapa daerah. Sekitar 3,9 juta jiwa merasakan dampak kekeringan, 56.334 hektar lahan pertanian kering kerontang, sehingga 18.516 hektar lahan pertanian gagal panen. Forum Ekonomi Dunia menempatkan krisis air sebagai  isu utama dalam satu dekade mendatang. Saat ini, 1 dari 10 penduduk dunia tidak memiliki akses ke air bersih. Atas nama pembangunan, berbagai lahan hijau kita tersapu bersih. 55 persen sungai di Tiongkok juga lenyap dalam waktu 20 tahun terakhir (Harian Kompas, nationalgeografic.co id).

Di sektor kehutanan juga tidak kalah mengerikan. 42 juta hektar dari 130 hektar hutan Indonesia telah gundul “plonthos” ditebang, sehingga Indonesia menciptakan “rekor” sebagai negara tercepat dalam perusakan hutan dibanding 44 negara pemilik hutan lainnya. Kebakaran hutan kita yang terjadi setiap tahun telah menghanguskan bahan baku obat, yang hanya satu-satunya di dunia dan menjadi incaran negara-negara farmasi. Satwa-satwa dalam hutanpun kehilangan habitatnya akibat kebakaran dan penggundulan tersebut. Dampaknya, bisa Anda saksikan, tanah longsor dan banjir bandang yang menyengsarakan jutaan manusia. Polusi udara akibat asap pabrik dan kendaraan juga telah memicu pemanansan global dan kerusakan paru-paru kita.

Nabi SAW memberi contoh hemat air. Ia berwudlu hanya dengan 1 mud air (0,76 ltr) (HR. Al Jama’ah dari Anas r.a). Ia juga menegur Sa’ad r.a ketika boros air dalam berwudlu (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar r.a). Allah SWT berfirman, “Sungguh, orang-orang boros itu saudara setan” (QS. Al Isra’ [17]: 26). Secara tidak langsung, Nabi memberi pesan untuk menyelamatkan kehidupan anak cucu kita. Perhatikan ayat-ayat Al Qur’an tentang air. Antara lain, “Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup” (QS. Al Anbiya’ [21]: 30). “Allah telah menciptakan langit dan bumi serta menurunkan hujan dari langit, kemudian Ia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan yang menjadi rejeki untukmu” (QS. Ibrahim [14]: 32). Dalam surat Al Waqi’ah [56]: 58-70, kita diingatkan Allah, dari manakah air yang engkau minum? Buatanmu sendiri atau pemberian Allah? Tidakkah tenggorokanmu menjadi segar karena air?. Perhatikan juga Surat Al Mulk [67] yang dibuka dengan firman tentang kehidupan dan kematian, lalu ditutup dengan peringatan akan terjadinya kekekeringan atau ketiadaan persediaan air sama sekali, “Katakanlah, terangkanlah kepadaku, jika sumber air kalian kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” (QS. Al Mulk 967]: 30).

Jika Anda berhemat air, menjaga kebersihan sungai, mengurangi berkendara bermotor, menyanyangi hewan, menjaga kelestarian hutan, memelihara keindahan taman dan kebun, ikut memikirkan kenyamanan hidup semua makhluk generasi mendatang, maka Anda manusia rahmatan lil alamin. Sebaliknya, jika Anda boros air, sekalipun dari sumur sendiri ataupun air sungai, membuang sampah seenaknya, bahkan tega-teganya membuang sampah dan limbah ke sungai, membuat derita hewan, menebang pohon semaunya, membakar hutan atau menggundulinya, menginjak taman-taman rumput yang indah di tempat publik, memetik bunga sebelum mekar, maka Andalah manusia la’natan lil alamin, yaitu penyebab penderitaan semua makhluk hidup. Jangan lupa, termasuk la’natan lil alamin adalah orang yang menyakiti hati pasangan hidup, anggota keluarga dan siapapun. Jadi, rahmatan lil alamin tidak hanya diartikan secara sempit untuk toleransi hidup di tengah masyarakat multikultural.

Jika seribu tahun mendatang, manusia merasakan kenyamanan hidup berkat jasa Anda memelihara alam ini, sekecil apapun, maka itulah pahala mengalir (jariyah) yang akan membuat Anda tersenyum di alam baka. Sebaliknya, jika terjadi sekecil apapun derita makhluk hidup akibat ulah Anda, maka itulah sumber tangisan yang Anda rasakan di alam baka itu. Na’udzu billah min dzalik. Saya yakin, salam Allah dan semua malaikatnya akan terus terkirim untuk Anda, manusia rahmatan lil alamin.

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 7, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, 122-124 (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, vol 8,  132-135, (3) Ibnu Majah, Al Hafidh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Yazid Al Qazwini, Sunan, Dar Al Fikr, Beirut,  2004. (4) http/trivia.id post (5) jawa Pos23 oktober 2017 p.1

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

One Response



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *