Header

REBRANDING: MUSLIM PENEBAR AROMA DUNIA

July 8th, 2016 | Posted by admin_tsb in Taushiyah/Khutbah

REBRANDING:
MUSLIM PENEBAR AROMA DUNIA
Khutbah Idul Fitri 1437 H/2016 M disampaikan oleh:
Prof Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
(Professor of Islamic Studies at State Islamic University Sunan Ampel Surabaya-Indonesia)
Diselenggarakan oleh:
Kedutaan Besar Republik Indonesia Dhaka Bangladesh
1 Syawal 1437/ 06 Juli 2016

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahilhamdu.

Innalhamda lillah, nahmaduhu wanasta’inuh, wanastaghfiruhu. Wana’udzu billahi min syururi anfusina wamin sayyi-ati a’malina. Man yahdillahu fala mudlil-la lah, waman yudl-lillahu fala hadiya lahu. Asyhadu alla ilaha illahu wahadahu la syarika lah, wa-asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluh, la nabiyya ba’dah.

Allahumma shalli ‘ala sayyidina wa maulana Muhammadin wa’ala alihi washahbihi waman walah.

Amma ba’du, faya ‘ibadallah, ushikum waiyyaya bitaqwallah. Qalallahu Ta’ala: “Ya ayyuhalladzina amanu ittaqullaha haqqa tuqatih, wala tamutunna illa wa-antum muslimun.”

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Pada kesempatan ini saya mengucapkan kepada semua muslim di manapun berada: Ied Mubarak, Selamat Idul Fitri, selamat menjadi manusia baru, manusia yang lebih akrab dengan Tuhannya dan lebih beradab kepada sesama manusia tanpa melihat perbedaan etnis dan agama. Selamat Idul Fitri, selamat menempuh hidup baru dalam keluarga yang lebih berbahagia.

Semua kesalehan itu layak kita raih setelah sebulan penuh menahan makan, minum dan nafsu birahi di siang hari, lalu kita lanjutkan i’tikaf,  zikir dan shalat taraweh dan witir ratusan rakaat di malam hari. Tidak hanya itu, selama ramadhan kita memperbanyak sedekah dan kita menutup bulan suci itu dengan membayar zakat.

Kaum muslimin yang berbahagia.

Dalam khutbah singkat ini saya akan menyampaikan tiga kisah yang saya anggap mewakili tiga generasi, yaitu generasi Rasulullah, generasi sahabat dan generasi moderen. Tiga kisah ini tidak terjadi secara kronologis, akan tetapi mengandung pesan yang sama, dan pesan penting tersebut akan saya sampaikan pada akhir khutbah ini.

Pertama, kisah yang terjadi pada zaman Rasulullah. Suatu saat, Nabi SAW duduk bersama para sahabat senior di sebuah masjid. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh seseorang yang memasuki masjid dengan berkacak pinggang di atas untanya. Umar bin Khattab yang duduk berdampingan dengan Nabi langsung berdiri hendak mencekik orang itu, tapi Nabi mencegahnya.

Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib hampir tak dapat menahan diri ketika si badui itu berteriak-teriak mencari Nabi dengan berbagai ejekan. Tapi, Nabi dengan senyum lembut menghampiri orang itu dengan mengatakan, ”Akulah yang kau cari itu.” Badui Yahudi itu melanjutkan, ”Oh, jadi engkau yang mengajarkan syahadat, shalat, zakat dan  puasa itu?” “Betul,” jawab Nabi dengan muka yang tetap sejuk dan sopan. Tiba-tiba si badui membalikkan untanya untuk keluar masjid sambil berkata, “Saya kagum atas kelembutan Nabi. Saya akan masuk Islam dan mengajak semua penduduk sekampung untuk mengikuti agamanya.”

Kedua, kisah yang terjadi pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Ketika menjadi kepala negara, baju besi kesayangannya hilang dan ternyata di tangan orang Nasrani. Ketika dalam sidang sengketa kepemilikan baju itu, hakim memanggil Ali, ”Ya amiral mukminin (wahai pemimpin umat Islam).” Ali keberatan dengan panggilan itu, sebab menurutnya, setiap orang harus sama di depan hukum. Akhirnya, pengadilan memutuskan Ali tidak berhak mengklaim baju besi sebagai miliknya karena tidak bisa menunjukkan bukti kepemilikan.

Usai sidang si Nasrani mengakui bahwa baju itu sejatinya milik Ali bin Abi Thalib. Ia menyatakan masuk Islam atas kekaguman akhlak Ali di depan hukum. Ketika baju itu hendak dikembalikan secara sukarela, Ali menjawab, ”Biarlah itu milikmu sebagai kenang-kenangan dari saya atas agamamu yang baru.”

Ketiga, peristiwa ini terjadi pada Dr. Germanus, turis dari Hongaria yang sedang berlibur musim panas di Bosnia. Pada malam hari, ia keluar hotel untuk mengetahui praktek kehidupan orang-orang Bosnia sehari-hari. Ia jumpai sebuah kafe tidak jauh dari hotel dengan lampu yang remang-remang. Ketika sedang menikmati kopi hangat, tiba-tiba dua orang masuk dengan celana adat yang longgar dan dengan golok yang diselipkan di ikat pingangnya yang lebar. Ia gemetar melihat dua orang itu memandang dirinya dengan pandangan yang aneh. Teringatlah olehnya kisah-kisah kebengisan orang-orang muslim dengan wajah serupa mereka terhadap orang-orang yang tak seagama, sebagaimana ia baca dalam banyak buku dan media massa. Apalagi ketika melihat mereka berdua berbisik. Dalam pikirannya hanya satu, ”Sebentar lagi, mereka akan menggorok saya yang kafir ini.” Ia ingin lari keluar kafe, tapi tak berdaya. Ia benar-benar lemas.

Beberapa menit kemudian, sesuatu di luar dugaan terjadi. Salah seorang mereka memberi salam dan menghampirinya. Ia bahkan menyulutkan rokok untuknya dengan bahasa isyarat yang amat sopan. Setelah itu, ia mengundang makan siang di rumah untuk esok harinya. ”Inilah perjumpaan saya pertama kali dengan muslim di negara asing,” katanya. Ia sangat terkesan dengan tutur kata dan kelembutan sikapnya, sampai ia berminat mempelajari Islam. Pada malam harinya, ia didatangi Nabi SAW dengan jubah hijau dengan aroma yang khas, yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Ia lalu benar-benar bersyahadat untuk ikrar masuk Islam.

 

Para jamaah yang saya hormati.

Tiga kisah di atas memberi tauladan bagaimana kita harus bergaul dengan orang-orang non-Islam. Nabi SAW mengatakan:

Auhallahu Ta’ala ila Ibrahim, ya khalili, hassin khuluqaka walau ma’al kuffar tadkhulu madakhilal akbar/ Allah SWT pernah  berpesan kepada Nabi Ibrahim a.s: “Allah telah memberi wahyu kepada Nabi Ibrahim, “Hai kekasih-Ku, tunjukkan budi pekerti yang baik walaupun terhadap orang kafir, engkau akan masuk surga bersama orang-orang yang terbaik” (HR. Al Hakim dari Abu Hurairah r.a).

Mengapa saya memilih tiga kisah di atas dalam khutbah idul fitri di Dhaka tahun ini? Sebab branding umat Islam saat ini amat negatif, yaitu penganut agama yang bengis dan tega membunuh orang yang tidak seagama dengan cara-cara yang keji, bahkan terkadang terhadap sesama muslim. Orang-orang di luar Islam berlogika, orang-orang muslim ringan tangan untuk menghabisi nyawa sesama muslim hanya karena perbedaan aliran politik atau pemikiran, maka apalagi terhadap orang-orang yang berbeda agama. Kekejian terhadap non-muslim itu juga diperlihatkan hanya beberapa meter dari tempat shalat ini pada bulan suci, ketika ketika umat Islam Bangladesh sedang beri’tikaf dengan khusyuk di semua masjid untuk mengagungkan malam-malam lailatul qadar. Tujuh orang yang mengatasnamakan ISIS menyandera pengunjung Restorant Holey Artisan Bakery dan dengan bertakbir menyembelih 20 orang berkebangsaan Italy, Amerika, Jepang, Bangladesh dan India.

Saatnya kita membangun rebranding umat Islam sebagai penganut agama yang santun dan penebar aroma di tengah umat manusia, sebagaimana pesan Allah kepada Nabi SAW dan semua umatnya, ”Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ’alamin /Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan untuk menebar kasih kepada penghuni alam semesta” (QS. Al Anbiyak [21]: 107).

Idul Fitri adalah saat yang paling tepat untuk start kampanye dunia untuk rebranding muslim sebagai penebar kasih. Kita mulai dari lingkungan keluarga sendiri, lalu lingkungan tetangga dan tempat kerja, lalu ke tingkat yang lebih luas lagi. Biarlah kita tidak bisa menyaksikan hasil usaha ini, sebab diperlukan puluhan tahun untuk rebranding citra umat, tapi kita harus memulainya sekarang dengan ekstra keringat.

Kita harus membuka lembaran sejarah, bahwa penyebaran Islam yang begitu spektakuler di semanjung Arab, Afrika dan Asia lebih banyak disebabkan oleh daya tarik akhlak Nabi SAW dan umat Islam, bukan oleh pidato-pidato  mereka di mimbar-mimbar, apalagi oleh senjata yang menakutkan. Nabi SAW memang beberapa kali menggunakan kekerasan, tapi itu dilakukan dalam keadaan perang karena terpaksa mempertahankan diri dari serangan pihak lain. Itupun dilakukan dengan etika yang sangat terpuji menurut ukuran manusia beradab.

Kita harus sadar bahwa umat manusia semakin hari semakin terpelajar dan menuntut etika terpuji dalam segala hal. Jika semakin hari citra umat Islam tidak semakin baik, maka kitalah yang bertanggung jawab jika agama ini ditinggalkan orang di kemudian hari. Lalu, orang membenarkan sebuah tesis seorang ulama, al Islamu mahjubun bil muslimin (masa depan Islam bisa suram karena ulah muslim sendiri).

Allahu Akbar, kita songsong masa depan Islam dengan spirit idul fitri, semangat penyucian jiwa. Kita tebar aroma akhlak mulia demi kejayaan Islam dan kedamaian dunia.

Minal ‘Aidin wal Faizin. Ied Mubarok. Taqbbalallahu minna waminkum. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamdu.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

3 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *