Header

SHALAT BERSAMA MALAIKAT IZRAIL

January 25th, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel

SHALAT BERSAMA MALAIKAT IZRAIL

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

Siapakah malaikat yang paling akrab dengan Anda? Tentu Malaikat Raqib dan Atid. Mereka berdua mengikuti ke manapaun Anda pergi dengan kamera canggih tajam gambar dan peka suara. Pori-pori Anda yang terkecil terekam olehnya. Anda masuk ke WC sekalipun, mereka tidak boleh ketinggalan. Lalu, siapa malaikat yang paling jarang Anda temui? Siapa lagi jika bukan Malaikat Izrail. Ia hanya datang ketika jatah hidup Anda sudah habis. Saya dan Anda berharap, malaikat pencabut nyawa itu datang, ketika kita sedang berjuang di medan pengembangan Islam, sedang menolong fakir miskin, sedang sujud shalat, atau sedang merasakan sakit di rumah sakit tapi hati tetap ikhlas, ridla dan tanpa mengeluh sedikitpun terhadap takdir Allah SWT.

Salah satu orang berbahagia dengan kematian seperti di atas adalah Bansor, pria berusia 50 tahun di kelurahan Wage Sidoarjo. Bapak dari empat orang anak ini hanya muslim sebentar ketika akad nikah, dan kembali ke agama semula tidak lama setelah pernikahan. Memasuki usia limapuluhan, ia mengidap tumor besar di leher. Semakin hari semakin membesar bersamaan dengan penyakit barunya: paru-paru basah. Pada tanggal 26 Desember 2012 yang lalu, ia meminta Ustad Suwita, ustad yang tinggal sekampung untuk membimbingnya masuk Islam.

Di depan anggota keluarga yang non-muslim, ia dibimbing sang ustad mengucapkan  syahadat sebagai ikrar masuk Islam. Anehnya, setiap kali mengucapkan syahadat, tenggorokan lelaki paruh baya itu selalu tersumbat. Matanya lalu tertuju ke tembok rumah dengan melotot dan membentak, “Siapa kamu?”. Ia tidak pernah menceritakan “siapa” yang dibentak di tembok rumahnya itu. Syahadat baru bisa diucapkan dengan lancar pada usaha ketiga kalinya. Pada hari-hari berikutnya, sesuai dengan permintaan, Ustad Suwita lalu mengajarkan bagaimana cara-cara shalat.

Pada hari keenam sebagai muslim, ustad Suwita mengajarkan Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia. Ustad mengajarkan isi buku itu agar ikhlas, ridla dan menghindari mengeluh terhadap penyakit tumornya. Ia diajari juga untuk menyerahkan segala penyakitnya kepada Allah khususnya dalam setiap rukuk dan sujud. Sehari sebelumnya, ustad muda yang sangat ikhlas mengajar terjemah Al Qur’an itu memang datang ke rumah dan minta diajari  isi dan praktek buku tersebut.

Ajaib, pada keesokan harinya, benjolan besar di leher mualaf itu mulai mengempis. Ia semakin yakin akan fungsi shalat dan dahsyatnya ridla dan pasrah dalam sujud untuk semua masalah. Akan tetapi, Allah menghendaki lain. Pada hari Selasa minggu pertama tahun 2013, ia dipanggil Allah SWT selamanya. Pada detik-detik akhir pemakaman, adik kandungnya juga mengikuti jejak sang kakak: meminta dibimbing masuk Islam. Sang isteri menangis histeris, “Oh Allah, puluhan tahun aku berjuang agar suamiku masuk Islam kembali dan mengerjakan shalat yang benar. Aku sangat sedih kehilangan kekasih dan tulang punggung rumah tangga. Tapi, aku bersyukur dan bangga, suamiku telah mati sebagai muslim. Aku haru menyaksikan jenazah suamiku sedang senyum seperti sedang berpamit manja kepadaku.”

Peristiwa di atas mengingatkan kita, bahwa jeritan doa seorang istri akan petunjuk Allah secara terus menerus dengan keyakinan akan pertolongan Allah, pasti dikabulkan oleh Allah. Tapi, pendoa perlu kesabaran ekstra. Maukah Anda bersabar menunggu jawaban doa sampai tiga puluh tahun seperti yang dialami istri Mas Bansor itu?

Setiap pemohon harus tunduk kepada kehendak Allah berupa jadual terpenuhinya permohonan. Kita harus sabar menunggu jawaban Allah. Jika sedikit saja ada perasaan terburu-buru, permohonan itu tidak akan dikabulkan Allah. Doa dengan harapan terkabulnya permohonan secara terburu-buru berarti mendikte Allah. Berarti pula ia bertindak sebagai manusia yang melebihi Maha Kuasanya Allah SWT. Seolah-olah ia memaksa Allah bertindak sesuai dengan kemauan kita.  Na’udzu billah min dzalik.   Nabi SAW bersabda, “Permohonan seorang di antara kalian akan dikabulkan Allah selama ia tidak tergesa-gesa dan berkata,”qad da’awtu rabbi, falam yastajib li /saya sudah berdoa kepada Tuhanku, tapi Tuhanku belum saja mengabulkannya)” (HR Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a).

Kedua, bagi siapapun yang sedang diberi ujian apapun oleh Allah, berusahalah sekuat tenaga untuk ikhlas menerimanya. Ketika Anda mengeluh, Anda sebenarnya sedang memprotes Allah. Keluhan tidak menyelesaikan masalah, bahkan menambah derita Anda. Anda merasakan dua lapis sakit: raga dan jiwa atau  fisik dan mental. Tidak hanya itu, jika ditakdirkan meninggal pada saat mengeluh, Anda berarti berjumpa dengan Tuhan yang Anda protes. Anda berjumpa dengan musuh Anda: Allah. Na’udzu billah. Tapi jika Anda sakit, tapi ikhlas, ridlo dan senang hati menerimanya, Anda beruntung karena sakit hanya satu sisi: fisik semata. Proses penyembuhan juga lebih cepat. Ada lagi bonus tertinggi, jika Anda meninggal dalam keadaan ikhlas dan ridlo atas takdir Allah, Anda berarti berjumpa dengan kekasih Anda: Allah. Dalam sujud terakhir menjelang kematian, malaikat Izrail sebenarnya sedang menunggu di sebelah Anda. Beberapa malaikat lain juga sedang menunggu membawa ruh yang harum yang keluar dari pribadi tumakninah:  sabar, ikhlas, ridlo dan pasrah itu ke langit tertinggi.

Almarhum pak Bansor baru seminggu menjadi muslim dan baru beberapa kali shalat, tapi dengan shalat yang singkat itu, ia telah berprestasi: mati dengan membawa jiwa tumakninah. Saya yakin, di langit tertinggi para malaikat berebut,  “Aku sajalah yang mengantar ruh harum Bansor ke singgasana Allah.” Saatnya, saya dan Anda berjuang menguatkan jiwa sabar, ikhlas, ridlo dan pasrah melalui ruku dan sujud yang lebih lama dari kebiasaan sekarang.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

4 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *