Header

SHALAT DENGAN GENDONG BAYI

May 21st, 2015 | Posted by admin_tsb in Konsultasi Keluarga Bahagia

SHALAT DENGAN GENDONG BAYI
oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

Tanya:

Assalamu’alaikum wr wb.

Saya ibu muda dengan seorang bayi usia 6 bulan. Suami sering kerja luar kota dan saya sendirian tanpa pembantu. Ketika si mungil lagi cerewet, saya kadang melakukan shalat dhuhur dikumpulkan pada shalat ashar. Atau shalat maghrib saya kerjakan pada shalat isyak. Itu benar-benar terpaksa, sebab tidak ada pembantu yang mengganti saya untuk menggendong bayi. Jika saya letakkan di kasur, dia menangis sampai kaku badannya. Itu hanya sesekali, sebab kadangkala si bayi tidur pulas ketika saya menjalankan shalat atau pekerjaan rumah yang lain.

Apakah saya boleh meniru wanita-wanita Timur Tengah yang saya lihat melalui internet shalat sambil menggendong anaknya. Seingat saya, guru-guru agama kita di sekolah menjelaskan bahwa gerakan tiga kali dalam shalat bisa membatalkan shalat. Bagaimana solusinya ustad.

Demikian, atas jawaban ustad, saya ucapkan terima kasih.

Khudzaifah – Perak Surabaya

Jawab:

            Saya sangat bangga mendengar ibu yang masih muda tapi memiliki ketegaran menjadi ibu rumah tangga dengan penuh kesabaran dan ketaatan beragama yang luar biasa. Sama sekali tidak tergambar pada ibu perasaan kesal atau mengeluh. Saya yakin, ketegaran dan keimanan ibu akan membuahkan kebahagiaan rumah tangga dan kesuksesan sang anak di kemudian hari.

            Menurut saya, lebih baik ibu shalat dengan menggendong si bayi daripada melakukan jamak shalat, yaitu menggandeng dua shalat wajib dalam satu waktu, antara dhuhur dan ashar atau maghrib dan isyak. Tapi jika keadaan sangat memaksa dan itu berkaitan dengan keselamatan si bayi, maka jamak shalat diperbolehkan. Misalnya, si bayi sakit panas yang tinggi dan baru saja ditangani dokter, setelah itu ia menetek ibu dengan damai dan tenang. Jika menyusui itu dihentikan, ia meronta-ronta dan waktu shalat hampir habis, maka justru sebaiknya jamak shalat dilakukan, sebab itu bagian dari proses percepatan kesembuhan si bayi. Islam diturunkan kepada manusia bukan untuk membuat manusia tersiksa.

            Apakah hanya di internet ada wanita shalat menggendong bayi? Ternyata, Nabi SAW juga pernah melakukannya untuk cucunya. Inilah persaksian yang diberikan oleh Abu Qatadah r.a. Ia bercerita bahwa Nabi SAW shalat sedang Umamah putri Zaenab, yaitu putri Nabi SAW berada di pundaknya. Ketika beliau rukuk, anak itu diletakkan, dan ketika bangkit dari sujud, anak itu diambil lagi dan diletakkan di pundaknya kembali. ‘Amir berkata, “Saya tidak menanyakan shalat apa yang sedang dikerjakan itu.” Tapi Ibnu Juraij berkata, “Saya telah diberitahu oleh Zayd bin Abi ‘Itab dari Umar bin Sulaim bahwa itu adalah shalat shubuh.” (HR. Ahmad, An Nasa-i dan lain-lain).

Al Fakihani berkata, hadis di atas tidak hanya menunjukkan diperbolehkannya shalat dengan menggendong anak, tapi juga menunjukkan kecintaan bahkan pemuliaan Nabi SAW terhadap anak perempuan. Ini sebuah kririk secara tidak langsung kepada bangsa Arab waktu itu yang sama sekali tidak menyukai anak perempuan. Mereka malu anak perempuan sebagai anaknya, bahkan sebagian mereka menguburnya hidup-hidup.

Agar ibu lebih mantap terhadap jawaban atas pertanyaan ibu, berikut ini saya kutipkan lagi kesaksian yang diberikan oleh Abdullah bin Syidad. Suatu ketika Rasulullah SAW memimpin shalat dhuhur atau ashar. Dua cucunya, Hasan dan Husein dibawa ke depan dan diletakkan di sampingnya lalu ia bertakbir. Nabi bersujud sangat lama, sampai salah seorang sahabat mengangkat kepala dikira beliau telah bangkit dari sujud. Maka ia sujud kembali, karena Nabi masih bersujud. Ketika itulah, sabahat itu menyaksikan salah satu cucunya sedang menaiki punggung Nabi SAW. Usai shalat, beberapa sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi Anda sujud sangat lama sampai kami menduga ada sesuatu yang terjadi atau sedang menerima wahyu.” Nabi menjawab, “kullu dzalika lam yakun, walakinna ibny irtahalani fakarihtu an a’jalahu hatta yaqdly hajatahu (semua itu tidak terjadi. Hanya saja cucuku menaiki punggungku dan aku tidak ingin memutusnya dengan segera sampai ia puas)” (HR. Ahmad, An Nasa-i dan Al Hakim). Wallahu a’lamu bisshawab.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

3 Responses

  • Nashir Ahmed says:

    Assalamualaikum. Wr. Wb.
    Nyambung pertanyaan ustadz, bagaimana dengan popok bayi tersebut yang pasti ada pipisnya? Syukron ustadz.
    Wasalamualaikum. Wr.wb.

  • M. Yahya says:

    Asww Prof….

    Semoga Allah SWT selalu membimbing kita ke jalan yang DIRIDHOI…

    Dalam beberapa kesempatan di masjid saya menjumpai beberapa perbedaan. Apakah perbedaan-perbedan berikut ada yang menjurus ke bidah atau bagaimana?

    1. Pada saat akan memulai sholat ada yang melafalkan UZHALLI dst….. baru takbir dan ada yang tidak pakai
    UZHALLI (mereka sudah niat) dan langsung takbir.
    2. Pada saat imam membacakan AL-FATIHA kemudian dilanjutkan dengan membaca SURAH(T) (dalam sholat
    MAGHRIB, ISYA dan SHUBUH). Apakah makmum diam tanpa membaca AL-FATIHA atau ikut membaca
    AL-FATIHA. Sedangkan dalam sholat DZUHUR dan ASHAR seperti apa? Bagaimana pula dengan doa
    IFTITAH bagi makmum yang ikut sholat berjamaah tersebut, apakah boleh membacanya atau tidak perlu?
    3. Ketika saat akan sujud ada jamaah yang duluan lututnya sampai dilantai dibandingkan tangannya atau
    sebaliknya.
    4. Saat tasyahhud awal maupun tasyahhud akhir ada jamaah yang jari telunjuk kanannya bergerak-gerak dan
    ada yang tidak.
    5. Ketika sholat mau selesai dan akan ditutup dengan salam, ada yang mengusap mukanya dengan tangan dan
    ada yang tidak.
    6. Bagaimana adab berdoa? Apakah tangan perlu diangkat atau tidak. Dan apakah doa itu ditutup dengan me-
    ngusap muka atau tidak.

    Demikian PROF, terima kasih atas pencerahannya…

  • Aulia Nurul Islam says:

    subhanallah, Allah selalu memudahkan hambaNya yang taat



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *