Header

SHALAT RAMADLAN, SHALAT KEBANGKITAN

July 3rd, 2014 | Posted by admin_tsb in Artikel

SHALAT RAMADLAN, SHALAT KEBANGKITAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“ Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang rukuk” (QS. Al Baqarah [2]:43)

Ayat di atas dengan jelas menjelaskan tiga perintah sekaligus, yaitu shalat, zakat dan shalat bersama-sama (jamaah). Bulan Ramadlan bulan yang paling tepat untuk membentuk pribadi muslim yang terbaik dalam menjalankan semua perintah itu, karena ketiganya ada di dalam bulan ramadlan. Anda wajib menjalan shalat lima waktu, dan inilah ibadah yang utama dalam Islam. Oleh sebab itu, orang yang meninggalkan shalat bagaikan orang hidup tanpa kepala. Jika Anda shalat tapi tanpa penghayatan, maka Anda bagaikan orang bertubuh sempurna tapi tanpa nyawa.

Tulisan ini difokuskan pada kajian shalat terutama pada bulan ramadlan. Di seluruh dunia, kita menyaksikan umat Islam berduyun-duyun ke masjid untuk menjalanksan shalat taraweh berjamaah di masjid, baik 8, 20 atau 36 rakaat. Shalat taraweh sebanyak 20 rakaat dilakukan sejak zaman pemerintahan Umar bin Khatttab ra. Kitab Dalilul Falihin menyebutkan, hitungan tersebut dipilih sebagai kelipatan dari 10 rakaat shalat sunah muakad (sangat dianjurkan) yang dilakukan sebelum atau sesudah shalat wajib setiap hari, yaitu 2 rakaat sebelum shalat subuh, 2 rakaat sebelum shalat dhuhur dan 2 rakaat sesudahnya, 2 rakaat setelah shalat maghrib dan 2 rakaat setelah shalat isyak. Atau mungkin menyesuaikan dengan jumlah shalat sunah muakad tersebut di atas ditambah 10 rakaat sunah ghairu muakad (tidak seberapa dianjurkan), yaitu 2 rakaat sebelum dhuhur dan 2 rakaat sesudahnya, 4 rakaat sebelum ashar dan 2 rakaat sebelum maghrib.

Wuh, luar biasa banyak. Jika Anda membiasakan semua sunah di atas, maka Anda telah melaksanakan 37 rakaat setiap hari, yaitu 17 rakaat shalat wajib ditambah 20 rakaat shalat sunah. Dalam bulan ramadlan, Anda bertambah mulia lagi karena masih menjalankan lagi 20 rakaat shalat taraweh. Belum lagi ditambah shalat witir dan shalat-shalat sunah lainnya. Dengan demikian, Anda telah melakukan shalat lebih dari 50 rakaat, jumlah rakaat shalat yang diperintahkan pertama kali ketika Nabi SAW melakuakn israk mikraj.

Untuk mencapai kualitas shalat sebanyak di atas, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan. Pertama, lakukan wudlu yang sempurna dengan penuh syukur dan permohonan ampunan atas semua anggota badan yang dibasuh atau diusap. Hindari wudlu dengan waswas (serba ragu keabsahan), sebab waswas adalah cermin atas kedangkalan ilmu dan kelemahan otak pelakunya. Upayakan jarak antara setiap waktu shalat itu tetap dalam keadaan suci. Allah SWT pernah memberitahu Nabi Musa as, “Jika kamu mendapat musibah, maka besar kemungkinan kamu tidak dalam keadaan suci. Maka salahkan dirimu sendiri.”

Kedua, kerjakan shalat awal waktu untuk menunjukkan kesungguhan Anda dalam mencari kebaikan. Shalat awal waktu mendatangkan ridla atau kesenangan Allah, shalat di tengah waktu mendatangkan kasih Allah dan shalat di akhir waktu merupakan ampunan-Nya. Artinya, Allah tidak menyukai Anda melakukan shalat di akhir waktu, tapi Allah masih memaafkannya.

Ketiga, laksanakan shalat berjamaah di masjid dan carilah barisan terdepan. Tunjukkan kepada Allah bahwa Anda siap berkompetisi untuk kebaikan (fastabiqul khairat). Tunjukkan pula bahwa Anda ingin serba terdepan dalam kebaikan, terdepan dalam kualitas diri Anda sebagai SDM di tempat kerja, terdepan sebagai suami teladan, sebagai ayah dan sebagainya, bahkan terdepan dalam memasuki surga. Anda juga akan memperoleh lebih banyak doa para malaikat daripada mereka yang ada pada barisan-barisan di belakang Anda. Jangan sekali-kali berlari ke neraka dengan melangkahi pundak orang karena ingin berada di barisan depan. Mengenai shalat berjamaah, Imam Haddad mengatakan, “Belum pernah saya jumpai satu hadispun bahwa Nabi SAW pernah shalat wajib sendirian.” Abdullah bin Mas’ud r.a berkata, “Salah satu tanda orang munafik adalah shalat wajib yang dilakukan sendirian. Pada masa Nabi SAW, banyak orang tua atau sakit yang digotong ke masjid.” Semarak taraweh di masjid adalah pendidikan terpenting untuk penanaman rasa cinta masjid. Percayalah, banyak solusi persoalan hidup dan berbagai kesuksesan Anda lebih banyak berkat doa orang-orang yang shalat berjamaah bersama Anda di masjid daripada doa Anda sendiri. Percayalah, jika selama hidup, Anda aktif shalat berjamaah di masjid, insya-Allah kelak Anda juga akan dishalati di masjid oleh banyak orang sebelum dibawa ke pemakaman.

Keempat, bangun pada akhir malam untuk makan sahur juga pendidikan yang amat berharga untuk membiasakan shalat tahajud. Itulah waktu terbaik untuk pendekatan diri kepada Allah. Silakan meminta apa saja kepada-Nya, apalagi disampaikan pada posisi terdekat Anda dengan Allah yaitu ketika bersujud. Itulah saat bersatunya waktu dan posisi kedekatan manusia dengan Allah. Tidak hanya doa yang disampaikan, tapi penyerahan secara total semua persoalan Anda kepada-Nya.

Dengarkan komentar orang-orang shaleh terdahulu mengenai shalat malam. Antara lain, “Selama 40 tahun saya beribadah, tidak ada yang lebih menyedihkan saya melebihi datangnya waktu fajar.” “Jika tidak ada shalat malam, untuk apa ada kelanjutan hidup saya.” Bangkitkan semangat Anda untuk membiasakan shalat malam, sekalipun hanya beberapa menit sebelum suhuh. Nabi SAW bersabda, “Lakukan shalat malam sekalipun hanya satu rakaat.” Artinya baru satu rakaat shalat malam, waktu shubuh sudah tiba. Shalat malam merupakan sarana utama menuju kemuliaan sebagaima dilakukan oleh orang-orang shaleh terdahulu. Jangan bermimpi meraih kemuliaan tanpa sujud di akhir malam. Shalat malam beberapa menit sebelum subuh dan dikerjakan secara terus menerus jauh lebih baik daripada shalat malam yang lama tapi dikerjakan sekali atau dua dalam sebulan. Memang berat untuk memulai, tapi ringan setelah menjadi kebiasaan. Bismillah.

Kelima, lakukan shalat dengan khusyuk dan tumakninah (tenang) baik secara fisik, tenang bacaan dan tenang hati. Larangan bangkit dari rukuk sebelum tumakninah, harus diartikan lebih mendalam sebagai sebuah pesan penting, “Jangan bangkit dari rukuk sebelum Anda memperoleh ketenangan batin.” Shalat dalam keadaan puasa menjamin shalat Anda bebas dari pikiran makanan dan bebas dari rasa mengantuk. Ketika makanan memenuhi perut Anda, energi Anda terkuras untuk mencerna. Sedangkan ketika pencernaan tidak bekerja, maka energi Anda berfungsi untuk menghidupkan otak dan hati.

Perintah shalat yang diikuti perintah membayar zakat menunjukkan shalat yang baik adalah shalat yang melahirkan kesadaran sosial. Shalat ramadlan telah berfungsi demikian, sehingga umat Islam membayar zakat dan berlomba-lomba untuk bersedekah selama bulan suci. Secara tidak langsung, Anda dididik untuk lebih suka memberi daripada diberi. Muslim terbaik adalah muslim yang memerdekakan dirinya dari mental meminta dan menggantungkan orang lain. Malaikat Jibril pernah turun ke bumi untuk menyampaikan berita itu kepada Nabi SAW. (wa’izzahu istighna-uhu ‘aninnas). Jauhilah sikap mengeluh atas apapun yang Anda terima, sebab keluhan menunjukkan kualitas shalat Anda. Allah SWT berfirman, “Sungguh, manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” (QS Al Ma’arij [70]:19-23).

Shalat ramadlan diharapkan membangkitkan Anda untuk lebih banyak menjalankan shalat sunah, lebih menyintai masjid, lebih aktif berjamaah di masjid, lebih sering shalat malam, lebih peka terhadap lingkungan sosial, lebih mandiri serta bahagia karena berhasil menghapus mental ketergantungan kepada orang lain dan lebih ikhlas, ridla dan tidak mengeluh terhadap takdir Allah. Selamat menjalani proses kebangkitan melalui shalat ramadlan menuju hidup yang lebih bahagia. (Sumber utama: Kitab Al Nasha-ih Al Diniyyah wa Al Washaya Al Imaniyyah karya Imam Habib Abdullah bin Haddad, Kitab Dalilul Falihin karya Moh bin Allan As Shiddiqi dan beberapa sumber lainnya).

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

3 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *