Header

SINGA DALAM SENYAP

September 11th, 2016 | Posted by admin_tsb in Artikel

SINGA DALAM SENYAP
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ قُلۡتُم مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبۡحَٰنَكَ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ عَظِيمٞ ١٦

sumber gambar: http://cdn.pcwallart.com/images/lion-roar-front-view-wallpaper-4.jpg

sumber gambar: http://cdn.pcwallart.com/images/lion-roar-front-view-wallpaper-4.jpg

Dan mengapa kamu tidak berkata, ketika mendengar berita bohong itu, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita membicarakan hal ini. Maha Suci Engkau (Wahai Tuhan kami). Ini adalah dusta yang besar.” (QS. An Nur [24]:16).

            Ayat di atas merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya tentang tuduhan busuk orang-orang munafik bahwa Aisyah, istri Nabi berselingkuh, berduaan dengan Sofwan bin Mu’aththil As-Sulami dalam perjalanan pulang dari perang Bani Musthaliq. Tuduhan itu menyebar begitu cepat sehingga menggegerkan umat Islam. Nabi SAW juga gelisah dan meminta pendapat Umar bin Khattab r.a. Umar bertanya, “Wahai Nabi, siapakah yang menikahkan tuan dengan Aisyah?” “Allah,” jawab Nabi. Umar berkata, “Apakah Allah menipu tuan?” Nabi menjawab: “Maha suci Engkau, wahai Allah. Ini benar-benar sebuah kebohongan (inna hadza buhtanun adhim).” Lalu turunlah ayat di atas dengan redaksi dan isi yang mirip dengan dialog Nabi dan Umar bahwa tuduhan itu sebuah kebohongan besar (buhtanun ‘adhim).

             Itulah salah satu kehebatan Umar ra. Ia seolah mengetahui bunyi wahyu yang akan diturunkan Allah. Tidak hanya itu, surat Al Maidah: 90, At Taubah: 84,  Al Anfal: 67 dan At Tahrim: 4-5 juga turun dengan redaksi dan isi yang mirip dengan perkataan Umar. Apa rahasia di balik kehebatan Umar?. Tidak lain karena ia pemimpin yang tegas dan berani dalam menegakkan keadilan di siang hari dan menunduk khusyuk penuh tangis di malam sunyi.

            Dengan fisik yang tinggi besar, berkepala botak, bertelapak kaki lebar, bersenjata  dua meter pedang di tangan kanannya, Umar benar-benar singa bagi siapapun yang merusak kehormatan umat Islam. Dialah yang menantang orang-orang kafir, “Malam nanti, saya dan Nabi berangkat hijrah ke Madinah. Silakan hadang saya jika kalian ingin menjadikan istri dan anak kalian janda dan yatim.” Ketika menjabat kepala negara, ia berpidato, “Saya tahu, banyak orang gelisah karena sikap keras saya. Untuk apa takut, jika ia tidak bersalah? Ketahuilah, sikap kerasku akan berlipat kepada siapapun yang zalim dan membuat rusuh di masyarakat. Aku akan menginjak kepala mereka sampai tunduk kepada kebenaran. Tapi, aku akan mencium kaki orang-orang yang berjiwa mulia dan hidup sederhana.”

            Suatu hari Umar memasuki Syira, salah satu wilayah kekuasaannya. Rakyat sudah menunggu sang khalifah di gerbang kota. Tapi yang datang adalah penunggang onta berbaju rombeng, telanjang kaki dengan pelana murahan. Mereka bertanya kepada penunggang onta ini, “Manakah khalifah kami?” Ia menjawab, “Orang yang kalian cari sekarang berada di depan kalian.” Mereka terpana, histeris berlarian memberitahu penduduk kota bahwa Umar telah tiba. Para pejabat sudah menyiapkan kuda terbaik dengan pelana yang pantas untuk kepala Negara, tapi Umar menolaknya, “Singkirkan kendaraan setan ini.” Umar baru bersedia menggunakan kuda itu setelah semua asesori mewahnya dilepas. Di tengah kota, Umar melihat beberapa pejabat menunggang kuda dengan pelana berbalut sutra. Ia turun dari kudanya, mengambil batu dan melempari mereka sambil berteriak, “Begitu cepat kalian berubah. Apakah dengan kendaraan mewah dan makanan enak-enak sepert ini kalian menyambut Umar? Dua tahun yang lalu, kalian masih hidup sederhana dan masih siap menahan lapar.” Umar berani melakukan semua itu karena ia telah memberi tauladan kesederhanaan sampai akhir hayatnya. Ketika menjelang mati, ia meminta Abdullah, anaknya untuk mengambil bantalnya, “Jangan-jangan Allah tidak berkenan melihat saya menikmati pengganjal kepala ini ketika aku bersiap kembali kepada-Nya.” Umar juga hanya memiliki satu gamis dengan 21 tambalan. Karenanya, ia pernah datang khutbah Jumat terlambat karena menunggu gamisnya kering.

            Ketika di mimbar khutbah pun, ia diprotes seseorang, ”Aku sama sekali tidak percaya khutbahmu. Kau tidak adil. Rakyatmu kamu beri sehelai kain, sedangkan sekarang engkau menggunakan dua helai.” Umar menoleh ke kanan dan kiri mencari anaknya, Abdullah. “Wahai anakku ini milik siapa?” “Milikku,” jawab sang anak. “Badanku besar, tidak cukup sehelai, maka saya minta jatah anakku,” lanjut Umar. Pemrotes itu kemudian melunak, “Kalau begitu, lanjutkan khutbahmu dan saya akan mendengarkannya.”

            Umar r.a mengetuk pintu dari rumah ke rumah para tentara yang bertugas di luar kota dan berhasil merontokkan imperium Persia dan Romawi. Dari luar rumah, Umar meminta para istri tentara itu mendektekan semua keperluannya. “Jika ibu punya pembantu, suruhlah dia ikut saya ke pasar agar berbelanja sesuai dengan kebutuhan ibu dan tidak salah beli,” pesan Umar.  Benarlah, Umar pergi ke pasar dengan beberapa pembantu rumah tangga berbaris di belakangnya. Mereka berbelanja sesuai dengan perintah majikan masing-masing dan Umar yang membayarnya.

            Tengah malam, Umar dengan isterinya, Ummu Kultsum mengangkut sekarung tepung, samin, daging sekaligus periuk untuk menolong seorang ibu di daerah terpencil yang merintih sakit menjelang persalinan. Beberapa lembar selimut untuk si bayi, popok, pakaian untuk sang ibu dan beberapa perlengkapan lainnya juga disiapkan. Ketika sampai di tempat, Ummu Kultsum langsung masuk rumah membantu persalinan, sedangkan Umar memasak makanan di luar. Tidak lama kemudian, terdengarlah suara jeritan bayi dari gubuk. Umar memanggil si suami untuk membawakan makanan yang telah dimasaknya untuk istrinya. Ummu Kultsum menyuapkan makanan untuk ibu yang berbahagia itu sampai kenyang.

            Umar yang segagah itu ternyata jiwanya amat lembut. Ia menunduk pasi ketika seseorang berkata kepadanya, “Tidak takutkah engkau kepada Allah?.” Setiap shalat tengah malam, air matanya membasahi jubahnya, badannya bergetar seperti anak burung yang tertiup angin. Lebih-lebih ketika membaca firman Allah, “Bacalah catatanmu. Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghitung perbuatanmu” (QS. Al Isra’ [17]: 14). Ia juga pernah roboh dari shalatnya, pingsan ketika membaca surat At Thur ayat 1-8.  Berkali-kali ia mengatakan, “Jika aku tidur siang, aku kehilangan rakyatku dan jika tidur malam aku kehilangan diriku.”

            Saya ingin menyebutkan satu pemimpin dunia yang tak kenal ampun terhadap perusak masa depan bangsanya. Saya sebutkan pemimpin di luar Indonesia agar tulisan ini tidak berbau politik. Ia adalah presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Setelah dilantik, dia berjanji akan membunuh 100.000 pengedar narkoba. Penggunapun akan ditembak di kepalanya, kecuali jika menyerahkan diri dan bertobat. Polisi, tentara, walikota, politikus atau siapa saja yang terbukti menjadi beking obat terlarang itu akan dilibas. Kepala kepolisianpun diancam bunuh jika tidak melaksanakan perintahnya. Benar, dalam dua bulan menjabat sebagai presiden (Juli dan Agustus 2016), ribuan orang sudah bergelimpangan merenggang nyawa dan sekitar 600.000 orang telah menyerahkan diri. Dia tahu tindakan ektrim itu melanggar HAM. Tapi, menurutnya, negara sudah benar-benar darurat, dan kejahatan narkoba sudah tidak bisa diatasi hanya dengan cara-cara konvensional.

            Negara ini membutuhkan singa yang meraung di siang hari dan siap menerkam dan mengunyah leher para koruptor, pengedar miras, narkoba, pelaku kejahatan seksual anak-anak, penyedia wanita pelacur dan semua penghancur masa depan bangsa. Tapi, pemimpin  itu juga harus seperti Umar bin Khattab yang bersujud panjang di malam senyap. Saya yakin, Andalah orangnya, insya Allah.

Sumber Bacaan: (1) Khalid Muhammad Khalid, Ma’a Umar (Umar Ibnul Khattab Mukmin Perkasa), terj. Abu Syauqi Baya’syud dan Mustafa Mahdami, Penerbit Media Idaman, Surabaya, 1989, cet. II (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985 (3) Abdullah bin Ibrahim Al Luhaidan, Al Buka-u ‘Inda Qira-atil Qur’an, Mirqat Publishing, Jakarta 2008 (4) Abdul Lathif Ahmad ‘Asyur, Al ‘Asyarotul Mubasysyaruna Bil-Jannah (Sepuluh Orang Dijamin Masuk Surga), Gema Insani Press, Jakarta 1996. (5) Nasy’at Al Masri, An Nabiyyu Zaujan (Nabi Suami Teladan) terj. Salim Basyarahil, Gema Insani Press, Jakarta, 1993 (6) Harian Jawa Pos 28 Agustus 2016.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

16 Responses



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *