Header

SUKSES BISNIS DEBU SYARIAH

September 4th, 2012 | Posted by admin_tsb in Artikel

SUKSES BISNIS DEBU SYARIAH

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

“Al Qur’an itu bagai intan. Dari sisi manapun dilihatnya, Anda tetap menyaksikan cahaya indahnya” kata Abdullah Darraz, penulis buku An-Naba-ul Adhim. Satu ayat Al-Qur’an bisa difahami dari berbagai sudut pandangan, dan semuanya menakjubkan. Pesan Al Qur’an juga bisa menimbulkan getaran kalbu secara berbeda antara satu pembaca dengan pembaca lainnya, karena masing-masing memiliki disiplin ilmu, pengetahuan dan pengalaman hidup yang tidak sama.

Pada suatu hari, saya menjelaskan Surat Ali Imran di depan hadirin tentang perang Nabi di medan Badar dan Uhud. Dalam sesi tanya jawab, ada pertanyaan di luar dugaan, karena tidak pernah saya dengar sebelumnya. “Dari mana mereka mendapatkan logam dan bagaimana cara pembuatan pedang pada saat itu?”. Pantas, penanya itu dosen kimia. Lain lagi pertanyaan orang yang setiap harinya berbicara hukum Islam, “Bagaimana cara memakamkan para syuhada’, apakah dalam satu lubang untuk semuanya atau masing-masing satu lubang?”

Sekarang giliran Anda. Apa kira-kira yang ada dalam benak Anda ketika membaca firman Allah SWT berikut “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah 7-8). Lagi-lagi di luar dugaan saya, ternyata ayat itu juga bisa dikaitkan dengan bisnis perusahaan. Inilah yang yang akan saya jelaskan dalam tulisan ini, sebagai kelanjutan tulisan sebelumnya, “Para Pembantu Rahimakumullah”.

KH Sofwan Rembang pernah memanggil putranya, Ahmad yang salah satu bisnisnya pengangkutan bahan-bahan bangunan untuk proyek di sebuah desa. Sudah tentu, penduduk desa yang terlewati ratusan truk setiap harinya mengeluh dengan debu yang memasuki celah-celah lubang rumahnya. Tidak terkecuali, jamaah mushala dan masjid di sepanjang jalan itu juga tidak nyaman bersujud di atas lantai yang berdebu. “Ahmad, jangan dikira kamu akan lepas dari pertanyaan Allah di akhirat tentang sekecil butir debu yang menyakiti hati mereka, sekalipun engkau sendiri tidak bisa melihatnya,” Itulah nasehat ces-pleng KH Sofwan yang menohok hati sang putra.  Kiai Sofwan masih belum puas dengan nasehat itu, lalu ia menambahkan, “Apa engkau tidak takut kepada Allah, jika seorang saja dari penduduk desa itu wadul (melapor) kepada Allah atas kedhalimanmu? Pasti, bisnismu tidak berkah, dan cepat atau lambat engkau akan hancur.”

Ahmad segera bangkit dari dari tempat duduknya dan menemui tokoh-tokoh masyarakat semua desa yang terlintasi truk-truk pengangkutnya. Dalam perjalanan, ia selalu terngiang-ngiang dengan nasehat pedas abahnya. Di depan mereka, tanpa basa-basi, Ahmad langsung menjanjikan jutaan rupiah setiap bulan untuk semua mushala dan masjid di sepanjang jalan yang terimbas debu. Beberapa bulan kemudian, Ahmad memberitahu akan selesainya proyek dan berpindah ke lokasi lain. Serentak mereka memohon agar memperpanjang kontrak proyek, sebab dana sumbangan yang mereka terima masih sangat dibutuhkan. “Saya bersyukur, berarti saya telah terhindar dari kedhaliman debu” kata Ahmad sambil menambahkan bahwa sejak itu, usahanya semakin berkembang dan berkah. “Dana untuk semua masjid sebanyak itu, jauh lebih sedikit dibanding jika urusan itu sampai ke kepolisian dan pengadilan” kenang Ahmad yang sekarang mendirikan pondok pesantren besar dan lembaga pendidikan formal serta mengelola perusahaan Travel Umrah dan Haji dan sejumlah perusahaan lainnya. “Menurut saya, inilah bisnis syariah, bisnis yang menafikan kedhlaiman sekecil apapun” kata KH Ahmad Sofwan Ilyas, nama populer kiai tersebut. Menurutnya, bisnis syariah tidak hanya terjauh dari kedhaliman, tapi juga mendatangkan keberkahan. Sudah ratusan orang yang diberangkatkan haji atau umrah olehnya.

“Ada lagi contoh konkrit bisnis syariah lainnya” kata kiai yang hampir semua anak cucunya hafal Al-Qur’an ini. Ia memiliki puluhan mobil yang disewa tahunan oleh sejumlah perusahaan. Ia tahu bahwa biaya termahal untuk sebuah rental mobil adalah perawatan, disamping jaminan keamanan. Ia memanggil semua sopir di rumahnya. Mereka adalah sopir milik perusahaan yang kebetulan mengemudikan mobil kiai.  Di depan mereka, kiai ini mengajak dialog. “Apakah sampean semua mempunyai anak?” “Ya pak kiai” jawab mereka. “Ada yang masih sekolah?” “Ada”. “Lebih mahal mana harga mobil saya dengan anak sampean?.” Tanpa menunggu jawaban, kiai menambahkan, “Semua biaya sekolah anak sampean saya tanggung. Sebagai imbalannya, tolong semua mobil yang setiap hari di tangan sampean itu dirawat dengan kasih sayang seperti saya menyayangi anak sampean semua.” Pembaca pasti bisa membayangkan wajah sumringah wong cilik yang mendapatkan biaya sekolah semua anaknya.

Dengan cara itu, para sopir tidak hanya merasa ikut memiliki, tapi juga dengan sukarela membelikan sendiri kebutuhan-kebutuhan kecil perawatan mobil. Hasilnya sangat menakjubkan. Biaya perawatan mobil jauh lebih kecil dibanding dengan biaya perawatan pada rental-rental lainnya. Harga jualnya setelah setahun dua tahun juga masih sangat tinggi. Keuntungan semakin banyak dan jumlah mobil yang disewakan menjadi semakin banyak pula. Pada akhir pembicraaan saya di akhir Ramadlan 1433 H itu, KH Ahmad Sofwan Ilyas menformulasi wasiat abahnya dengan sebuah pesan, “Berikan kebahagiaan kepada semua orang sekalipun hanya setitik debu, engkau akan mendapat keberkahan sepenuh langit. Hindari kehdlaiman sekecil debu, sebab “debu” itu akan terbang ke arasy, dan engkau akan dikutuk malaikat sepenuh langit. Anda tidak akan bahagia dan bisnis Anda pasti hancur suatu saat”.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *