Header

TANGAN EMAS, KERINGAT MUTIARA

March 22nd, 2013 | Posted by admin_tsb in Artikel

TANGAN EMAS, KERINGAT MUTIARA

Oleh: Prof Dr Moh Ali Aziz, M, Ag
Penulis Buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia

“Pak, tolong hentikan gerobak sebentar,” pinta pria bercelana selutut sambil berlari kepada penarik sampah. Saya mengamati pria berusia 60an itu sejak lama setiap saya olahraga pagi di halaman kantor perdagangan dekat rumah.  Setiap pagi buta setelah subuh, pria itu mencari botol bekas, kertas dan sebagainya di sekitar kantor. Ia menghentikan penarik sampah, semata-mata untuk mencari “barang berharga” sebelum dibawa ke tempat pembuangan.  Ia mengais sampah dengan tangan telanjang, tanpa risih dan tanpa takut terkena pecahan kaca.

Saya sempat istighfar dan menghentikan olah raga sejenak. “Betapa kontras kehidupan ini. Saya berolah raga untuk membakar kalori akibat kelebihan makan, sedangkan ia mencari makan dari tempat sampah untuk kebutuhan kalori,” heran saya dalam hati. Lalu saya mengingatkan diri sendiri dengan teguran Allah yang diulang berkali-kali dalam Al Qur’an, “fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dziban/maka nikmat manakah dari Tuhanmu yang (bisa) kamu ingkari?” (QS. Ar-Rahman [55]: 16). Dengan kata lain, “Masih adakah alasan untuk tidak berterima kasih kepada Tuhanmu?”

Ketika sampai di rumah, saya membuka kitab suci Al Qur’an untuk menghitung berapa kali Allah menegur saya dengan kalimat itu. Ternyata teguran itu diulang sebanyak 31 kali atau 45% dalam satu surat yang berisi 78 ayat. Saya berbisik dalam hati, “Ali, jika telingamu berfungsi dan mata hatimu terbuka, pasti teguran 31 kali itu cukup untuk merubah karaktermu yang suka mengeluh.”

Kembali ingatan saya tertuju kepada pencari barang bekas tadi. Betapa berat beban hidupnya. Agar tidak kedahuluan teman sprofesinya, ia harus bangun lebih awal. Kadang jam 02. 00 WIB  atau lebih awal. Itupun sekarang lahan sumber nafkahnya berkurang karena ada tren di kota-kota besar masyarakat menempel peringatan, “Pemulung dilarang masuk. ” Bagaimana nasib mereka kelak jika papan peringatan itu dipasang di semua gang kampung? Lahan mereka kemudian tinggal satu: TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Jangan dikira di situ tidak ada tantangan. Persaingan antar para pemulung juga sangat keras dan kejam.

Semakin berat tantangan hidup para pemulung, semakin besar apresiasi Allah untuk mereka. Mereka bertahan hidup dan pantang menggantungkan hidup pada orang lain, apalagi meminta-minta. Tidak sedikit di antara mereka menyekolahkan anak-anaknya dengan biaya yang bersumber dari lahan sampah. Nabi SAW memberi apresiasi pekerja halal dan mencela para peminta, ”Sungguh, sekiranya seorang di antara kamu mencari kayu bakar dan dipikulnya ikatan kayu itu, maka itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang yang mungkin diberi atau ditolaknya” (HR. Al Bukhari dan Muslim). Nabi SAW bahkan menunjukkan kehinaan para peminta di akhirat kelak. ”Siapapun di antara kalian yang selalu meminta-minta, kelak ia menghadap Allah Ta’ala dengan muka yang tidak berdaging sama sekali” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar r.a).

Suatu saat saya berbincang dengan seorang dari para pengais sampah. Lalu ia memberi taushiyah, “Pak, lebih baik hidup dari sampah, daripada menjadi sampah.” Sebenarnya, ini sindiran yang diperhalus untuk orang-orang berdasi tapi sebenarnya pencuri. Atau berpenampilan orang terhormat, tapi sebenarnya perampok uang rakyat. Hanya harum busana, tapi busuk prilakunya.

Pekerja keras demi beberapa butir biji beras itulah manusia bertangan emas. Butiran keringat mereka itulah mutiara termahal di mata Allah. Rintihan kelelahan mereka adalah paduan suara malaikat untuk penghibur mereka di surga. Jika Anda faham tulisan ini, pasti Anda lebih peduli kepada mereka. Saatnya Anda lebih menunjukkan kepedulian itu: siapkan sejumlah uang untuk memberi apresiasi kemandirian mereka, agar Anda ikut berbahagia mendengarkan paduan suara malaikat kelak.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

3 Responses

  • wati wati says:

    Semoga kita jadi manusia yang peduli dengan sesama,yang mana harta kita ada hak orang miskin ,anak yatim.semoga harta kita tidak menjadi setrika dineraka,tp menjadi kan penolong kita diakhirat nanti.Amiiii………

  • wati wati says:

    Assalamualaikum prof,Saya pengemar Prof ali .akhir -akhir ini saya mendengarkan kajian prof Ali diradio Elvictor,awalnya saya tahu ini dari kakak saya yang selalu aktif mengikuti kajian di pondok Al Jihat,Semoga kami sekeluarga diberikan rahmat selalu berjalan dijalan yang diridhoi Allah Amiin,Khususnya Saya pribadi bisa menjalankan nasihat ustat Ali dan diberikan kemudahan serta Rahmat Nya. Saya belajar kesabaran igin memperbaiki diri,karena saya ingin dalam ibadah saya selama tidak (Gabuk) .saya mohon bimbingan ustat karena saya merasa malu ibadah saya selama ini tak bernyawa

  • Yuuswatun Hasana says:

    Assalamu…wr wbr,..justru waktu prtma kali saya bertemu Prof Aziz ,saya trtegun.#ini manusia atau jelmaan Malaikatkah?batin saya.Dg berderet titel yg Prof Aziz sandang tapi dimata saya tidak ada sedikitpun kesombongan di diri Prof Aziz.Kerendahan hati,keramahan, & keakraban Prof Aziz kpd kami, para anak bangsa yg sedang mengais rizki dinegri orang ini,membuat batin ini bicara# subhanallah trnyata titel yg beliau sandang tdk membuat beliau sombong/tinggi hati.Prof tlah membagi ilmu dg ihlas untuk kami.Dimata saya Prof Aziz tak ada bedanya dg guru besar kami Bp KH.Muhaimin Karim MA,yg sangat peduli & sangat memulyakan kami yg rata2 kaum hawa yg lemah ini.Trima kasih Prof,ilmu panjenengan sangat2 bermanfaat buat kami,terutama saya,yg tlah mndapat bnyak sekali dampak positif dari TERAPI SHOLAT BAHAGIA,,,salam santun dari saya Prof,dan hanya ucapan terimakash yg bisa saya sampaikan.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>