Header

TIADA GERAH BERTAUSHIYAH

November 30th, 2015 | Posted by admin_tsb in Artikel

TIADA GERAH BERTAUSHIYAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?. Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman [55]: 29-32)

              Uraian ini bukan untuk menafsirkan ayat, namun menggali pesan penting dari pertanyaan Allah yang diulang-ulang dalam Al Qur’an, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Ayat ini diulang sebanyak 31 kali atau 45 % dari 78 ayat yang terdapat dalam surat nomor urut 55: Surat Ar Rahman. Allah SWT mengulang-ulang pertanyaan, “Masih adakah alasan kamu mengingkari nikmat Tuhanmu?” atau “Mengapa kamu menjadi pembohong, seolah Allah belum memberi sesuatu kepadamu?” Pelit syukur manusia antara lain disebabkan kebanyakan kita membesar-besarkan apa yang hilang dari kita dan melupakan yang masih banyak yang kita miliki. Agar Anda tidak terkena tamparan ayat itu, maka jika – misalnya – kaki kiri Anda patah, katakan, “Saya lupakan kaki yang patah karena kaki kanan dan dua tangan saya masih utuh.” Mensyukuri yang ada dan melupakan yang tiada merupakan kiat utama hidup bahagia.

              Pengulangan ayat sejenis juga terdapat pada surat-surat yang lain. Dalam surat An Naml [27] ayat 60-64, Allah mengulang firman-Nya secara berturut-turut sebanyak lima kali, ”Adakah di samping Allah ada tuhan yang lain?. Pertanyaan itu diulang-ulang ketika Allah menjelaskan kekuasaan-Nya dalam mencipta, memelihara dan memenuhi kebutuhan makhluk-Nya. Al Qur’an tidak hanya berfungsi untuk memberitahu, tapi juga meyakinkan Anda. Meyakinkan sesuatu kepada anak Anda jauh lebih sulit daripada hanya memberitahu.

              Pertanyaan Allah, Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran (dari al Qur’an)?, sebuah perintah mengambil pelajaran dari kisah umat para nabi terdahulu, juga diulang sebanyak empat kali pada surat Al Qamar [54]: 17,22,32,40). Demikian juga pengulangan ancaman siksa-Nya, Maka alangkah dahsyatnya adzab dan ancaman-ancamanKu.

              Dalam surat As Syu’ara’ [26], firman Allah, ”Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sungguh Tuhanmu Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang” diulang sebanyak delapan kali (8,67,103,127,139,158,174,190). Demikian juga pengulangan sampai sepuluh kali firman Allah dalam Surat Al Mursalat [77] yang berbunyi, ”Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran).

              Masih banyak lagi pengulangan ayat dalam satu surat atau beberapa surat yang berbeda. Dalam pengulangan itu kadangkala dengan redaksi yang sama dan kadang dengan redaksi yang sedikit berbeda. Orang yang tidak beriman atau tidak cerdas akan bertanya sinis, ”Apakah Allah kekurangan bahan, sehingga Dia harus mengulang-ulang ayat?” atau ”Betapa tidak sistematisnya Al Qur’an!” Sedangkan orang beriman dan cerdas akan mengucapkan subhanallah, kagum atas keindahan penyusunan pesan Al Qur’an. Sekali saja sebuah ayat disebut dalam Al Qur’an pastilah menunjukkan pentingnya pesan di dalamnya, apalagi disebut berkali-kali.

              Berdasar pengulangan ayat Al Qur’an, ahli sastra menilai betapa tinggi sastra Al Qur’an. Demikian juga kekaguman oleh ahli marketing, ahli psikologi, ahli komunikasi, atau ahli pendidikan tentang keagungan kandungan al-Quran. Penyampaian pesan yang berisi pikiran atau ide secara berulang-ulang dapat menguatkan ingatan penerima pesan. Para ahli Ilmu Jiwa moderen membuktikan pentingnya pengulangan dalam proses pembelajaran. Perusahaan besar menyediakan anggaran terbanyak untuk iklan sebuah produk secara berulang-ulang untuk mempengaruhi kecenderungan masyarakat mengonsumsinya sekalipun mereka sebenarnya telah mengetahui produk itu sejak lama.

              Menanamkan sebuah keimanan apalagi menyangkut sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara kasat mata (al ghaib), yaitu Allah, surga, neraka, hari kebangkitan dan sebagainya bukan pekerjaan mudah. Semua ayat yang diulang-ulang dalam al Qur’an itu berkaitan dengan keimanan. Semua muslim telah mengenal nama Allah, malaikat, hari pembalasan, surga, neraka dan sebagainya, karena semuanya merupakan pokok keimanan. Namun kebanyakan mereka hanya mengetahuinya, tidak sampai kepada keyakinan yang melahirkan akhlak mulia. Oleh sebab itu, pesan keimanan tidak cukup hanya sekali disampaikan.

              Belajar dari pengulangan ayat-ayat di atas, maka Anda tidak boleh bosan menyampaikan ajakan kebajikan atau mengingatkan orang. Sekalipun mereka jenuh, Anda tidak boleh ikut jenuh menyampaikan kebenaran. Anda tidak boleh gerah bertaushiyah kepada keluarga, teman bahkan pemerintah. Kita sering mendengar ungkapan, ”Sudah saya ingatkan sekali, dua kali bahkan tiga kali, namun ia tetap tidak berubah, maka sekarang saya membiarkannya. Ini adalah potret keputusasaan yang tidak sesuai dengan semangat Al Qur’an.

              Jika dalam surat Ar Rahman Allah sebagai Pencipta (al Khaliq) mengingatkan manusia (al makhluq) untuk beriman dan bersyukur kepada-Nya sebanyak 31 kali, dan itupun manusia tidak berubah, maka Anda tidak cukup mengingatkan sesama makhluk hanya tiga kali, sebagaimana ukuran maksimal yang sering Anda gunakan. Sepuluh kali lipat dari 31 kali pun belum cukup bagi Anda untuk menasehati mereka. Jika Anda tiba-tiba bosan menasehati orang karena telah lebih dari 3 kali nasehat, berarti Anda bermaksud menyaingi Allah dalam mengingatkan manusia. Jika Allah mengisi surat Ar Rahman dengan hampir lima puluh persen ayat yang diulang, maka bisa saja kita ambil pelajaran bahwa dibutuhkan separuh usia Anda untuk proses penyadaran keimanan. Jangan sekali-kali bosan memberi taushiyah sekalipun yang mendengar telah gerah. Jangan henti menasehati sekalipun yang menerima berberat hati. Perubahan perilaku seseorang perlu waktu. Tidakkah Allah SWT sendiri mengajari Anda kesabaran menjalani proses dalam segala hal ketika Allah menjelaskan penciptaan alam semesta selama enam hari, bukan dengan sekejap mata, meskipun Allah Maha Kuasa dengan Kun Fayakun. Bersabarlah menuggu proses perubahan orang, apalagi jika Anda menyadari bahwa suara Anda tidak memiliki resonansi dan wibawa di depan mereka karena akhlak Anda sendiri. Sekali lagi, jangan sekali-kali bosan dan gerah bertaushiyah. Allah SWT berfirman, ”Dan tetaplah memberi peringatan, karena sungguh peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman. (QS. Adz Dzariyat [51]:55).

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

One Response



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *