Header

TIDUR PRODUKTIF

May 8th, 2017 | Posted by admin_tsb in Artikel

TIDUR PRODUKTIF
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://stuartsmythe.com/

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦ مَنَامُكُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱبۡتِغَآؤُكُم مِّن فَضۡلِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَسۡمَعُونَ ٢٣

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan” (QS. Ar Rum [30]:23).

Ayat di atas termasuk di antara enam ayat yang unik, karena dibuka secara berturut-turut (ayat 20-25) dengan frasa yang sama, “wa min ayatihi” (dan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah). Semua ayat tersebut mengingatkan Anda untuk lebih cerdas dan mengapresiasi nikmat-nikmat dan kekuasaan Allah SWT, yaitu penciptaan alam semasta, proses perkembangan kehidupan manusia, keluarga bahagia, kebinekaan bahasa dan budaya, dan kenikmatan tidur yang dianugrahkan Allah untuk Anda sebagaimana disebut pada ayat di atas.

Betapa nikmatnya seorang musafir yang tidur di bawah pohon rindang dengan angin sepoi-sepoi setelah perjalanan jauh yang melelahkan. Atau seorang ibu yang tertidur lelap setelah seharian menggendong bayinya yang sedang sakit. Allah SWT berfirman, “Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat” (QS. An Naba’ [78]: 9). Mengantuk yang menjadi pengantar tidurpun harus Anda syukuri. “Kemudian setelah kesedihan menimpamu, Dia memberikan kantuk yang dirasakan sebagian kelompok dari kalian” (QS. Ali Imran [03]: 154).

Dengan tidur, Anda bisa beristirahat dari kerja keras atau dari daftar keinginan dan khayalan yang memenuhi otak Anda. Badan sebenarnya mengeluh akibat padatnya aktivitas Anda. Demikian juga mental dari pikiran yang terus menerus bekerja. Mengapa kita harus bersyukur atas kenikmatan tidur? Sebab, dengan tidur yang cukup, Anda memperoleh kondisi fisik yang segar untuk melanjutkan tugas-tugas rutin selanjutnya. Paling tidak, ada enam manfaat tidur nyenyak, yaitu menyehatkan jantung, mencegah kanker payudara dan usus besar, mengurangi stres pada jiwa dan raga, menguatkan kembali energi, meningkatkan daya ingat otak, dan memperbaiki sel tubuh yang telah rusak.

Di tengah waktu-waktu tidur itu, Anda sebaiknya menyisihkan sedikit waktu untuk shalat malam, agar hidup Anda selalu terbimbing. Nabi SAW bersabda, “Kerjakanlah shalat malam, sebab itu kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kamu, juga mendekatkan kamu kepada Tuhanmu, menghapus kesalahan-kesalahanmu, dan menjauhkan kamu dari perbuatan dosa” (HR. Al Turmudzi dari Abu Umamah r.a).

Tidur dan mimpi telah lama dikaji secara ilmiah. Setelah lama diperdebatkan, ternyata kesimpulannya sama dengan apa yang dinyatakan dalam Al Qur’an, bahwa tidur merupakan mati kecil, sebab saat itu, ruh berpisah untuk sementara waktu dari jasad. Adapun mati besar adalah lepasnya ruh dalam waktu yang lebih lama sampai bersatu kembali pada hari kiamat. “Allah-lah yang mengendalikan  jiwa (orang) ketika matinya dan (mengendalikan) jiwa (orang) yang belum mati pada saat tidurnya” (QS. Az Zumar [39]: 42). Oleh sebab itu, sebaiknya Anda memulai tidur dengan membaca basmalah, dan bangun tidur membaca hamdalah sebagaimana diajarkan Nabi SAW untuk menyatakan terima kasih atas menyatunya kembali ruh dan jasad.

Pada saat tidur, ruh berkelana cukup jauh atas kehendak Allah dan bisa bertemu dengan ruh-ruh lainnya di alam semesta. Saat itulah, mimpi terjadi, bisa mimpi buruk atau baik. Jika mimpi itu baik, maka itulah percikan cahaya kenabian. Nabi SAW bersabda,

 لَمْ يَبْقَ بَعْدِى مِنَ النُّبُوَّةِ اِلَّا الْمُبَشِّرَاتُ قَالُوا وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ

“Tidak ada lagi (isyarat) kenabian setelah kematianku kecuali al mubassyirat. Para sahabat bertanya, “Apakah al mubassyirat itu?” Nabi menjawab, “Mimpi yang baik” (HR. Malik, Abu Dawud, Al Bukhari dari Abu Hurairah r.a).

Tidur itu nikmat dan menyehatkan. Alangkah lebih menyenangkan, jika disertai mimpi yang indah, bertemu dengan Nabi SAW. Itulah cahaya kenabian yang terpancarkan untuk Anda, dan pasti hal itu benar-benar Nabi SAW. Ia bersabda, “Siapapun yang menjumpai aku alam tidurnya, maka ia bagaikan menjumpai aku dalam keadaan terjaga. (Ketahuilah) setan tidak akan bisa menyerupai aku” (HR. Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Al Tirmidzi).

Mimpi berjumpa dengan Nabi SAW juga bagian dari kenikmatan surga yang didahulukan pemberiannya di dunia bagi auliyak atau kekasih-Nya (QS. Yunus [10]: 63). Semakin dekat dengan Nabi SAW, semakin besar kemungkinannya ia datang kepada Anda, tidak hanya dalam mimpi, tapi juga ketika terjaga, sebagaimana dialami para sahabat dan orang-orang mulia terdahulu. Seorang pria penduduk Madinah tiba-tiba melihat Nabi SAW di tengah cahaya yang belum penah dilihat sebelumnya. Ia bimbang dan bertanya dalam hati, “Benarkah ini nabi yang aku rindukan?” Nabi SAW menjawabnya, “Benar, akulah Rasulullah.” Semakin dipandang, semakin bertambahlah cahaya itu, lalu menghilang.

Husin Muhammad Syaddad bin Umar dalam bukunya Kaifiyatul Wushul Liru’yati Sayyidinar Rasul, Muhammad SAW menulis kumpulan pengalaman 134 orang suci tentang perjumpaan dengan Nabi SAW.  Caranya?  Buku itu menjelaskan, “Lakukan shalat dua rakaat dan bacalah Al Qur’an sebanyak-banyaknya menjelang tidur.” Sungguh tidur Anda amat bernilai, sebab Anda tidur dalam keadaan suci dengan iringan Al Qur’an yang suci pula.  Penulis buku itu juga bertanya dengan sedikit heran, “Mengapa perjumpaan dengan Nabi SAW tidak menjadi bagian dari cita-cita harian Anda?.

Jika kita gagal berjumpa dengan nabi, tak apalah, sebab mimpi bukan tujuan utama, melainkan perantara kedekatan kita dengannya. Insya-Allah kita akan berjumpa dengan Nabi SAW ketika Izrail mencabut nyawa kita. Jika itupun tidak tercapai, masih ada harapan terakhir, yaitu berjumpa dengannya di surga, dan itu pasti terjadi, sebab ia bersabda, “Al mar-u ma’a man ahabba (seseorang akan disatukan di surga dengan kekasihnya).” Wahai Rasulullah, kami benar-benar mencintai, menauladani dan merindukanmu. Kami berharap, mata hati kami terus berenang di lautan cinta denganmu, dan Allah SWT menerbitkan cahaya-Nya, sehingga tersingkaplah segala penghalang (hijab) antara kami dan Dia.”

Referensi: (1) Moh. Ali Aziz, Doa-doa Keluarga Bahagia, (2) Husin Muhammad Syaddad bin Umar, Kaifiyatul Wushul Lirukyati Syyidinar Rasul (Doa-doa Mimpi Bertemu Nabi SAW), terj. Moh. Al Mighwar, Pustaka Hidayah, Bandung, Cet. I, 2002 (3) Abd Razaq Naufal, Ir, Al Qur’an dan Sains Modern, Husaini, Bandung, tt.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

One Response

  • robiyah says:

    Assalamu‘alaikum, Maha Suci Alloh,dengan segala karunia-Nya,sungguh beruntung menurutsaya, yang pernah mimpi bertemu Nabi Muhammad S.A.W,,,

    Terimakasih banyak Prof, atas artikel tersebut.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *