Header

ALUMNI NERAKA

September 3rd, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel

ALUMNI NERAKA
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, “Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah [2]: 201)

Ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya yang menjelaskan adanya orang-orang yang memohon kenikmatan dunia semata ketika berhaji. Maka, sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan doa terbaik adalah yang berisi permohonan kenikmatan dan keselamatan dunia dan akhirat.

Menurut Ibnu Abbas r.a, beberapa penduduk Arab pedalaman, ketika wukuf di Arafah, memohon, “Wahai tuhan kami, jadikan tahun ini tahun banyak hujan, tahun kesuburan, dan tahun banyak anak yang tampan.” Mereka tidak meminta sama sekali yang berkaitan dengan akhirat. Lalu, datanglah beberapa orang mukmin yang berdoa untuk kepentingan dunia dan akhirat. Maka turunlah dua ayat tersebut untuk menunjukkan doa yang terbaik. 

Inilah doa yang paling lengkap dan sering dibaca Nabi SAW. Melalui doa dalam ayat ini, kita memohon: (1) kebaikan (hasanah) di dunia, yaitu rizki yang melimpah, ilmu yang menambah prestasi dan keimanan, keluarga bahagia, kesehatan, dan akhlak yang mulia, (2) kebaikan (hasanah) di akhirat, yaitu kemudahan dalam pengadilan akhirat, serta masuk surga bersama Nabi SAW, dan (3) masuk surga tanpa harus melewati siksa neraka karena masih adanya dosa yang belum terampuni. Kelompok ketiga inilah yang dijelaskan hadis berikut,

عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ اَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَاَهْلُ النَّارِ النَّارَ ثُمَّ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى أَخْرِجُوْا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ اِيْمَانٍ فَيُخْرَجُوْنَ مِنْهَا قَدِ اسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِى نَهْرِ الْحَيَاءِ اَوِالْحَيَاةِ فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا تَنْبُتُ الْحَبّةُ فِى جَانِبِ السَّيْلِ اَلَمْ تَرَ اَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً رواه البخارى

Abu Sa’id Al Khudriy r.a berkata, “Rasulullah SAW bersabda, kelak semua penghuni surga akan memasuki surga, dan penghuni neraka memasuki neraka. Lalu, Allah SWT memerintahkan (para malaikat), “Keluarkan dari neraka orang yang dalam hatinya terdapat sebesar atom keimanan!” Maka, mereka dikeluarkan dalam keadaan fisik yang hitam terbakar. Mereka lalu dimandikan di sungai penghapus rasa malu (nahrul haya’), atau sungai pemberi kehidupan yang baru (nahrul hayah). Maka, mereka berubah (menjadi putih) seperti biji yang tumbuh di tepi sungai. Tidakkah engkau saksikan tumbuhan itu menjadi kuning, melengkung nan indah? (HR. Al Bukhari)

Mereka yang dikeluarkan dari neraka ini oleh penghuni surga disebut “Al Jahannamiyyun” atau “alumni neraka” (HR. Al Bukhari dari Anas bin Malik r.a). Semua alumni itu dimasukkan ke surga secara bertahap, dan orang yang terakhir dikeluarkan berjalan dengan merangkak. Ketika diperintah Allah masuk surga, ia kembali menghadap Allah, karena terlihat olehnya surga sudah penuh. Begitulah sampai tiga kali. Lalu, Allah meyakinkan, “Masuklah ke surga yang luasnya sepuluh kali dari luas dunia!” Ia terkejut kegirangan, “Wahai Allah, Engkau Rajadiraja, apakah Engkau menyindir atau menertawai saya?” Nabi menceritakan peristiwa ini dengan tersenyum sampai gigi gerahamnya terlihat, lalu bersabda,

ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً

“Itulah tingkatan terendah untuk penghuni surga” (HR.  Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud, r.a)

Di antara para alumni neraka itu, ada orang mukmin yang memohonkan pertolongan untuk temannya yang masih belum dikeluarkan. Ia bersaksi, teman itu berpuasa, shalat dan haji bersamanya. Lalu, Allah memerintahkan agar teman itu diajak keluar. Allah memerintahkan lagi, “Cari orang-orang lainnya yang di dalam hatinya terdapat sekecil atom keimanan untuk diajak keluar dari neraka.” Maka, berduyun-duyunlah mereka keluar dari neraka. Abu Sa’id Al Khudriy, pembawa hadis ini mengatakan, inilah bukti limpahan kasih Allah kepada hamba-Nya, sebagaimana dijanjikan dalam Al Qur’an,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

“Sungguh Allah tidak bertindak zalim sekecil atom pun. Jika ada kebaikan sekecil atom, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberi pahala yang besar dari sisi-Nya” (QS. An Nisa: 40). Allah lalu berfirman,

شَفَعَتِ الْمَلَائِكَةُ ، وَشَفَعَ النَّبِيُّوْنَ ، وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُوْنَ ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

 “Malaikat telah memberi syafa’at (pertolongan), demikian juga Nabi dan orang-orang mukmin. Maka tinggallah (Aku) Yang Maha Pengasih, (pasti lebih besar pertolongan-Ku kepadanya).”

Kemudian Allah menggenggam satu genggaman dari neraka dan mengeluarkan semua orang yang tak punya pahala kebaikan sedikit pun (kecuali kalimat la ilaha illallah). Mereka telah menghitam karena lama terbakar, lalu diputihkan dengan sungai kehidupan agar tidak malu ketika memasuki surga (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al Khudriy, r.a).    

Abu Hurairah, r.a berkata, Nabi SAW bersabda, “Ada orang yang tidak membawa kebaikan sama sekali ketika meninggal. Semasa hidupnya, ia hanya suka memberi pinjaman. Kepada juru tagihnya, ia selalu berpesan agar memudahkan penagihan, bahkan membebaskan hutangnya, jika benar-benar tidak mampu, dengan harapan mendapat pembebasan dari neraka. Ketika meninggal, Allah bertanya tentang kebaikan yang pernah dilakukan, dan ia hanya bercerita tentang pembebasan hutang. Maka, Allah berfirman, “Sungguh, Aku telah membebaskanmu.”

Hanya ada satu kunci memasuki surga, yaitu kalimat la ilaha illallah. Tapi, tak ada jaminan kita bisa memasukinya secara langsung. Ada tiga cara agar memasuki surga tanpa harus menjadi alumni neraka. Pertama, hentikan dosa mulai sekarang dan perbanyak istighfar dan perbuatan baik penghapus dosa, sehingga tidak tersisa satu pun dosa yang belum terampuni ketika kita berpulang. Kedua, perbanyak shalawat Nabi. Ketiga, lebih seringlah berkumpul dengan ulama, ustad, dan orang-orang saleh agar mereka menjadi saksi atas kebaikan kita. Keempat, bebaskan manusia dari kemiskinan, kecemasan, ketakutan, kelaparan, kebodohan dan semua jenis penderitaan lainnya, agar kita layak dibebaskan dari semua derita akhirat.

Referensi: (1) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 1, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p 531-532 (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 2, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 142-144, (3)  Hasbi As-Shiddiqi,  2001 Mutiara Hadis, jilid 1, p. 470.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *