Header

KHUTBAH IDUL FITRI 1442/2021
EMPAT KIAT SEDERHANA MERAIH KEBAHAGIAAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

 اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum muslimin Yth.

Hari ini, kita bersyukur kepada Allah, bisa menyelesaikan puasa Ramadan selama sebulan. Tidak hanya berpuasa, kita juga berlomba sedekah semampunya, dan memperbanyak shalat dan zikir dalam bulan yang mulia itu. Lalu, Ramadan kita akhiri dengan saling mendoakan dan memaafkan. Betapa indahnya susana hari ini.

Semoga keluarga kita yang telah kembali kepada Allah ikut merasakan kegembiraan selama Ramadan, bahkan selamanya, berkat doa-doa kita, khususnya selama bulan suci itu.  Dengan berkah Ramadan dan lailatul qadar, kita doakan juga, semoga anggota Polri dan TNI, dokter, perawat, sukarelawan, dan semua pegiat kemanusiaan, serta pejuang negara yang gugur dalam melaksanakan tugas mendapat kegembiraan berupa rahmat dan ampunan Allah dalam kuburnya. Amin.

Kaum muslimin Yth.

Bisakah kebahagiaan idul fitri ini berlanjut sampai Ramadan yang akan datang? Bisa, asalkan akhlak mulia selama Ramadan ini kita lanjutkan pada bulan-bulan berikutnya. Orang bijak atau ahlul hikmah mengatakan, ada empat kiat sederhana untuk meraih kebahagiaan. Pertama, perbanyak doauntuk orang lain. Jangan hanya fokus berdoa untuk diri dan keluarganya, padahal banyak orang di kanan kiri kita yang sedang dalam kesulitan dan kesedihan. Sekali lagi, perbanyak sedekah doa untuk orang lain, dan jangan memberitahukan doa itu kepada yang bersangkutan. Apa imbalan Allah untuk kita? Semua malaikat mendoakan kemudahan hidup kita karena ketulusan doa kita.

Kedua, segeralah sambut panggilan azan dengan berwudu dan shalat. Jangan teruskan bermain HP atau ngobrol, atau tertawa terbahak-bahak ketika azan berkumandang. Jangan tunda shalat, kecuali ada kepentingan yang benar-benar tak bisa ditinggalkan. Jangan bikin lelucon, yaitu ingin doanya cepat dijawab Allah, tapi ia tidak cepat menjawab panggilan-Nya.

Ketiga, perbanyak shalawat. Jangan pelit bershalawat, atau hanya menggenjot shalawat ketika menghadapi masalah. Shalawat juga berfungsi sebagai sayap yang menerbangkan doa-doa kita ke langit. Jangan lupa, inilah yang terpenting, yaitu setiap membaca shalawat, sertailah permohonan dalam hati, “Wahai Allah, harumkan akhlak kami seperti harumnya akhlak Nabi-Mu, dan kumpulkan kami bersamanya dalam surga-Mu.” Sebuah keluarga dijamin bahagia, jika setiap anggotanya selalu introspeksi atas kekurangan dirinya, lalu bertekad memperbaiki akhlaknya setiap kali membaca shalawat.

Keempat, jangan egois. Artinya, sering-seringlah menoleh ke kanan dan kiri untuk mencaritahu siapa yang sedang membutuhkan pertolongan. Itulah kelanjutan ibadah shalat yang selalu kita akhiri dengan salam ke kanan dan kiri. Jika ingin dibahagiakan Allah, bertanyalah terlebih dahulu, sudah seberapa banyak orang yang kita bahagiakan. Semakin banyak beban hidup orang yang kita ringankan, semakin banyak beban hidup kita yang diringankan Allah. Hanya harta yang sampai ke tangan orang yang dapat mengantarkan kita ke surga Allah.

Kaum muslimin Yth.

Agar kita bisa menolong orang secara materi, kita harus kerja, kerja dan kerja untuk mencari rizki sebanyak-banyaknya. Menolong orang tidaklah cukup hanya dengan tenaga dan doa. Akan lebih mantap, jika disertai bantuan finansial. Jadilah manusia pemberi, bukan yang diberi. Jadilah tangan di atas, bukan tangan yang di bawah. Jangan sekali-kali bergantung kepada belas kasih orang. Mandirilah, dan itulah kunci kemuliaan dan kejayaan kita.  Ali bin Abi Thalib r,a mengatakan, “Aku sudah kenyang dengan berbagai derita hidup, dan yang paling mengerikan adalah ketika aku mengharap belas kasih orang.”

Kaum muslimin Yth.

Keempat kiat sederhana meraih kebahagiaan itu saya singkat DAST, yaitu Doa, Azan, Shalawat, dan Tolong-menolong. Semoga khutbah ini bermanfaat. 

           اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Duduklah 7 detik. Lalu berdiri lagi melanjutkan khutbah kedua:

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ/  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ / وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهْ/ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهْ / اَمَّابَعْدُ/  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Catatan: (1) Khutbah idul fitri dilakukan setelah shalat, (2) khutbah bisa satu kali (tanpa duduk dan tanpa khutbah kedua), atau dua kali dengan selingan duduk.

RAHASIA SUKSES DAKWAH DUNIA

January 9th, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

RAHASIA SUKSES DAKWAH DUNIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: httpsfavpng.compng_viewarabic-world-north-africa-arab-world-arabian-peninsula-world-map-pngFexLGSkt

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali Imran [3]: 110).

            Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya (QS. Ali Imran: 104) yang berisi perintah amar ma’ruf nahi munkar (mengajak berbuat yang baik dan mencegah perbuatan dosa). Pada ayat ini dijelaskan lebih lanjut, bahwa dakwah atau amar ma’ruf nahi munkar harus berorientasi keimanan, bukan lainnya, sehingga bisa menyatukan dan menyejukkan masyarakat.  Dalam ayat ini juga tersirat perintah agar setiap muslim melakukan dakwah semampunya, meskipun ia bukan ahli agama. Gerakan dakwah yang masif inilah yang menjadi salah satu faktor keberhasilan dakwah di dunia.    

Dalam sebuah kajian Islam di USA, Dr. Muhammad Jawwad Chirri (w. 1994) ditanya oleh Wilson H. Guintin, Ph.D tentang faktor keberhasilan dakwah di dunia. Penanya yang Kristen dan ahli psikologi itu mengatakan, “Sejak berpendidikan, saya menjadi ragu tentang agama saya.” Ia menambahkan, bahwa agama-agama yang dipelajari sebelumnya tidak bisa mengobati kebimbangan keimananya, dan dialog dengan ulama besar inilah satu-satunya yang berhasil menghapus kebimbangannya.

Chirri adalah penulis puluhan buku dalam bahasa Arab dan Inggris, antara lain Muslim Practice; The Faith of Islam; Inquiries about Islam; Imam Husein, Leader of the Martyrs; dan The Brother of The Prophet Muhammad (the Imam Ali). Ia dibesarkan dalam keluarga Syi’ah di Libanon dan meraih gelar doktor teologi dari Iraq sebelum berhijrah ke Detroit, USA. Ia mendirikan sekaligus memimpin Islamic Center of America tahun 1962 setelah terlebih dahulu mendatangi Syekh Mahmud Shaltut di Universitas Al Azhar Mesir untuk mencari persamaan antara Sunni dan Syiah.

Menurutnya, ada tiga faktor yang mempercepat perkembangan Islam di dunia. Pertama, kepribadian Nabi sebagai pembawa Islam yang tidak mengambil jarak dengan masyarakat, tapi menyatu, bahkan dengan orang yang paling tak terhormat sekali pun. Masyarakat memandang Nabi sebagai kawan sekaligus pembimbing (QS An-Najm [53]: 2; At-Takwir [81]: 22). Juga mengakuinya secara aklamasi sebagai “al amin” yaitu manusia yang paling jujur dan bisa dipercaya (QS. Al-Qalam [68] : 4). Tak kalah pentingnya, ia tetap santun meskipun diperlakukan jahat oleh para atheis dan politheis (QS An-Nahl [16]: 125, QS. Ali Imran [3]: 159). Kepribadian Nabi inilah yang menjadi faktor utama percepatan penyebaran Islam. Selama memimpin, Nabi mampu mengelola perbedaan pendapat para penasihatnya sebagai sumber kekuatan, bukan sumber perpecahan. Ia dengan lincah mengelola konflik para penasehatnya seperti seorang musikus yang menggabungkan macam-macam bunyi alat musik menjadi lagu yang indah dan enak didengar.

Kedua, militansi para pengikut Nabi. Mereka siap mengurbankan harta, jiwa dan raga untuk perjuangan Nabi. Bandingkan dengan pengikut Musa a.s yang menolak diajak memasuki Yerussalam, bahkan mencemooh, “Silakan pergi sendiri dengan Tuhanmu, wahai Musa. Kami santai saja di sini.” (QS. Al-Maidah [5]: 24). Bandingkan juga dengan pengikut Isa a.s yang membiarkan Isa a.s dalam kesulitan. Sampai sekarang pun, setiap muslim di seluruh dunia memiliki militansi sebagai pendakwah sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing. “Ketika saya berkunjung ke Afrika pada tahun 1962, saya tidak menjumpai organisasi Islam yang secara khusus bergerak di bidang dakwah. Padahal, saat itu misi Kristen telah memiliki sebanyak 212.250 buah dengan dana yang melimpah. Sedangkan pusat dakwah Islam sedunia pada saat yang sama hanya memiliki kurang dari seratus buah. Itu pun dengan dana yang terengah-engah,” kata Chirri. Perkembangan Islam di semua benua sampai hari ini lebih banyak karena kekuatan pendakwah perorangan daripada dakwah yang teroganisir. Di Indonesia, kita menjadi saksi sejarah, bahwa Islam masuk ke Indonesia bukan oleh lembaga dakwah, melainkan para saudagar yang berdakwah di sela-sela kegiatan bisnisnya.

Ketiga, ajaran Islam yang logis dan jelas, berisi aturan hidup yang lengkap, serta menjunjung tinggi kesetaraan di antara semua manusia. Ajaran tentang keesaan Tuhan, kerasulan Nabi dan konsep kehidupan sesudah mati tidak berbelit-belit dan sukar dipahami. Setiap orang dapat langsung membaca kitab sucinya dan menjalankannya. Islam mengajak penganutnya untuk berilmu dan berwawasan luas (QS. Thaha [20]: 114; Az Zumar [39]: 9), dan mencela orang yang tidak mau belajar dan meneliti (QS. Al A’raaf [7]: 179). Oleh sebab itu, pantaslah manusia dipercaya sebagai khalifah untuk mengatur dunia (QS. Al-Baqarah [2]: 30-33).

Aspek lainnya tentang ajaran Islam yang menjadi daya tarik dunia adalah ajaran keseimbangan antara aspek benda dan rohani, atau antara perorangan dan kemasyarakatan. Islam tidak melarang mencari kesenangan duniawi (QS. Al Baqarah [2]: 201-202), bahkan mencela mereka yang tidak memanfaatkan karunia Allah (QS Al A’raf [7]: 31-32). Islam tidak mengajarkan manusia untuk melenyapkan kepribadiannya dan meleburkan diri pada masyarakat dan negara (QS. An Najm [53]: 39;  QS. Al Baqarah [2]: 286), tapi menekankan agar setiap muslim memiliki tanggungjawab sosial untuk ikut mengatur kehidupan sosial, antara lain adanya perintah shalat berjamaah, zakat dan sadakah (QS. Al  Baqarah [2]: 43, dan Az Zariaat [51]: 19).

Berdasarkan jawaban ulama di atas, maka untuk kesuksesan dakwah ke depan, kita harus melakukan tiga hal. Pertama, kita harus benar-benar menjadi teladan, sebab inilah daya sugesti yang terkuat bagi masyarakat untuk mengikuti jejak kita. Kedua, kita harus didampingi oleh teman-teman seperjuangan yang militan, kompak, dan siap mengurbankan apa saja yang dibutuhkan dakwah, serta lebih senang memberi daripada diberi. Ketiga, kita harus mampu menjelaskan Islam sesuai dengan watak aslinya, yaitu logis, simpel, menyemangati untuk berkarya besar, dan selalu menyenangkan, bukan menyusahkan, apalagi menggelisahkan orang.

KHUTBAH JUM’AT: WAKTU, SARANA BAHAGIA ATAU DERITA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن  اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ  وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ فَيَا عِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ  قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Para hadirin Yth.

Kita bersyukur diberi hidup sampai setahun silam, dan ditambah lagi usia sampai hari ini. Sekarang, saatnya syukur, syukur dan syukur, dan mintalah ampunan Allah. Sebab, dalam setahun itu, kita leboh sering mengeluh daripada mensyukuri semua keadaan. Ketahuilah, mengeluh itu penyakit hati yang mengurangi kekebalan dan kesehatan, merusak iman, dan mengundang murka Allah. Bertekadlah untuk menjadikan tahun ini tahun syukur, tahun bebas keluhan, tahun peningkatan iman, dan tahun sedekah untuk pembebasan manusia dari penderitaan.

Nikmat hidup setahun itu tidak main-main. Jangankan setahun, tambahan umur lima menit saja harus kita syukuri. Sebab, lima menit itu bisa menentukan masa depan seseorang. Jika ada saudara kita masuk Islam, atau bertobat, lima menit sebelum matinya, pasti nasibnya berubah secara drastis, dari murka ke surga, atau dari su-ul khatimah menjadi khusnul khatimah. Sebaliknya, jika ada sudara kita yang amat shaleh dan bahagia ceria bersama keluarga, lalu dalam waktu satu menit itu tak bisa mengontrol emosinya, sehingga mengucapkan kebencian yang membuat penganut agama lain atau sesama muslim terluka atau terhina, atau melakukan korupsi, maka pada bulan berikutnya, ia harus meninggalkan keluarga tercinta dan hijrah ke penjara, bahkan ada yang mati mengenaskan dalam penjara.

Itulah mahalnya waktu. Jangan remehkan waktu, walaupun hanya sedetik. Bisa saja sedetik menghasilkan miliaran rupiah atau kehilangan uang senilai itu. Seorang pelari pada olimpiade internasional gagal mendapat bonus lima miliar rupiah, karena selisih satu detik  dari pesaingnya. Itu kerugian dunia, lebih-lebih kerugian akhirat akibat kesalahan fatal dalam satu detik.

Para hadirin Yth.

Pada pergantian tahun ini, ayat yang paling tepat kita renungkan adalah QS. Al ‘Ashri ayat 1-3

وَالۡعَصۡرِۙ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ اِلَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ

Demi masa. Sungguh manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan kebaikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling mensihati untuk kesabaran (QS. Al Ashri [103]: 1-3)

Berdasar ayat-ayat ini, maka kita harus berhati-hati tentang waktu. Jika kita salah mengisinya, atau membiarkan berlalu tanpa kebaikan, maka kesengsaraan dunia akhirat yang kita rasakan. Sebaliknya, kita pasti akan memetik kebahagiaan, jika kita menggunakan waktu itu untuk meningkatkan keimanan, menambah perbuatan terpuji terhadap Allah dan sesama manusia, atau siap menasihati dan senang dinasihati, sama sekali tidak tersinggung, serta siap menyemangati dan merasa butuh disemangati orang dalam menjalani kehidupan yang berat dan berliku ini.

Semoga ayat ini menjadi pegangan kita menjalani umur setahun ke depan. Semoga juga kita diberi panjang umur, sehingga bisa melakukan syukur dan istighfar yang sama pada awal tahun depan. Amin.

اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهُ لِى وَلَكُمْ اِنَّهُ هُوَاالْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ