Header

PEDOMAN PUASA RAJAB

February 4th, 2022 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

PEDOMAN PUASA RAJAB
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag.

A. Ayat Al Qur’an
Allah telah menentukan empat bulan mulia (al-asyhurul hurum) dari 12 bulan hijriyah yang ditetapkan (QS. At-Taubah [9]:36), yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

B. Hadis yang Disepakati Ulama
Banyak hadis yang secara khusus memerintahkan puasa pada bulan Muharram dan Sya’ban. Sedangkan perintah puasa pada dua bulan mulia lainnya (Rajab dan Dzulqa’dah) berdasar pada hadis yang bersifat umum berikut ini. Seorang pria dari kampung Al-Bahilah, yang bernama Abu Mujibah Al-Bahili datang kepada Nabi, lalu Nabi memberi perintah kepadanya,
صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ
“Berpuasalah dari (sebagian hari) bulan-bulan mulia dan tinggalkan” Nabi mengulang nasihat itu tiga kali, sambil menggengamkan tangan, dan melepaskan jarinya satu per satu. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Al-Baihaqi dari Abu Mujibah Al Bahili dengan sanad yang kuat ) (Sayid Sabiq, Fiqh Sunnah, 3: 204-205).

C. Hadis yang Belum Disepakati Ulama
Ada
beberapa hadis yang validitasnya belum disepakati oleh semua ulama. Pertama, sabda Nabi, “Barangsiapa puasa sehari di bulan Rajab, maka ia seperti puasa sebulan. Barangsiapa berpuasa tujuh hari, maka ditutuplah untuknya tujuh (semua) pintu neraka Jahanam. Barangsaiapa berpuasa delapan hari, maka dibukalah untuknya delapan (semua) pintu surga. Barangsiapa berpuasa sepuluh hari, maka semua kesalahannya diganti dengan kebaikan.”
Kedua, “Dalam surga terdapat sungai yang diberi nama Rajab. Airnya lebih putih dari susu, dan rasanya lebih manis dari madu. Siapa yang berpuasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan diberi minum dari sungai itu.” Ketiga, “Rajab adalah bulannya Allah; Sya’ban bulanku (Nabi), dan Ramadan bulannya umatku.”
Keempat, “Pada malam mi’raj, saya (Nabi) melihat sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu, dan lebih harum dari minyak wangi. Saya bertanya pada Jibril a.s, “Wahai Jibril, untuk siapakah sungai ini? Jibril a.s menjawab, “Wahai Muhammad, sungai ini untuk orang yang membaca salawat untukmu di bulan Rajab ini.”

D. Puasa Rajab
Bagi yang berpuasa Rajab, untuk menghindari kontroversi, lakukan dengan cara: (1) jadikan hadis pada poin B sebagai landasan, bukan hadis-hadis pada poin C, (2) berniatlah untuk meraih rida Allah melalui puasa pada bulan-bulan mulia, (3) berniatlah juga untuk latihan penguatan diri melawan hawa nafsu, atau pemanasan tahap 1 (puasa Rajab), tahap 2 (puasa Sya’ban) sebelum memasuki bulan Ramadan, (4) jangan hanya berpuasa pada bulan Rajab, tapi berpuasalah juga pada bulan-bulan mulia lainnya, terutama bulan Muharram dan bulan Sya’ban, (5) jangan menentukan tanggal secara khusus. Kerjakan kapan saja, (6) bagi Anda yang sudah berpuasa Daud, lanjutkan, dan jangan berpuasa Rajab. Bagi yang sudah istiqamah puasa sunah lainnya, misalnya Senin-Kamis, lanjutkan, dan boleh dengan niat ganda, yaitu niat puasa Senin-Kamis sekaligus Rajab. Tidak harus puasa Rajab secara khusus.

E. Apresiasi dan Doa selama Rajab dan Sya’ban
Berikan penghormatan kepada saudara kita, baik yang berpuasa Rajab atau tidak. Jangan mencacinya, sebab masing-masing memiliki landasan hukum. Puasa selain Ramadan hanyalah sunah, sedangkan mencaci orang hukumnya haram. Selama Rajab dan Sya’ban, semua muslim hendaklah memperbanyak doa,

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana, wa ballighna Ramadhana
“Wahai Allah berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban, dan berikan kami kesempatan puasa Ramadan.”

Surabaya 02-02-2022, Kun Yaquta Foundation, Terapi Shalat Bahagia.

CERIA MELALUI PERSENTASE AL FATIHAH

January 17th, 2022 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

CERIA MELALUI PERSENTASE AL FATIHAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UINSA Surabaya Dan Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,  Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) orang yang sesat” (QS. Al Fatihah [1]: 1-7)

Surat Al Fatihah artinya surat pembuka kitab suci Al Qur’an. Nama lain surat ini adalah Ummul Kitab atau Ummul Qur’an, artinya surat ini adalah induk Al Qur’an, yaitu memuat pokok-pokok isi Al Qur’an. Dalam Surat Al Hijr [15]: 87, surat ini juga disebut As Sab‘ul Matsani, artinya tujuh ayat yang diulang-ulang setiap hari dalam shalat. Shalat adalah ibadah paling penting, dan surat Al Fatihah adalah doa paling pokok di dalamnya. Nabi SAW bersabda,  

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidaklah (sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah  (HR. Al  Jama’ah, dari Ubadah bin as-Shamit, r.a)

Surat Al Fatihah adalah surat yang pertama kali turun secara lengkap dengan semua ayatnya. Sedangkan iqra’ bismi rabbik …. dst (QS. Al Alaq [96]: 1-5) adalah ayat yang pertama kali turun, tapi tidak lengkap satu surat.    

            Sekarang perhatikan, mengapa Al Fatihah diawali dengan basmalah (bismillahirrahmainrahim)? Mengapa sifat Allah Yang Maha pengasih dan Maha Penyayang itu yang disebutkan pertama kali oleh Allah? Mengapa Allah tidak menyebutkan sifat-Nya yang lain, misalnya Yang Maha Menyiksa, Maha Perkasa, Maha Memaksa ? Sebab, dengan perkenalan Allah pertama kali sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, diharapkan tidak ada manusia yang bersedih dan pesimis, karena yang paling terkesan dalam otaknya adalah sifat Allah Yang Maha Pengasih, Tuhan yang selalu hadir menyertainya, serta menolong apa pun yang dimintanya. Bandingkan, jika otak seseorang terpenuhi dengan kesan sifat Allah Yang Maha Menyiksa dan Maha Memaksa? Al Fatihah mengajak manusia untuk selalu berpikir positif dalam segala hal.   

            Menurut psikolog, pebisnis, dan motivator, kesan pertama amat menentukan penilaian orang terhadap seseorang. Kelly Millar (2020) mengatakan, First impressions are crucial. They can make or break an opportunity. It’s human nature to make a judgement about someone when you first meet them, but did you know that people can formulate an opinion about you in less than 20 seconds!? (Kesan pertama amatlah penting. Ia bisa menciptakan atau menghancurkan kesempatan (emas). Sudah menjadi kodrat manusia untuk menilai seseorang ketika pertama kali berjumpa. Tapi, tahukah Anda bahwa orang membuat keputusan tentang diri Anda dalam waktu kurang dari 20 detik?).

            Bergembiralah dan optimislah dengan kasih Allah, meskipun Anda dalam cobaan hidup yang bertubi-tubi, atau sedang memikul dosa yang telah menggunung. Sambungkan jiwa Anda dengan otak yang telah terpenuhi sifat Allah Yang Maha Pengasih, yang kasih-Nya jauh melampaui kasih ibu kandung sendiri.     

       Jika Anda bersedih, jangan ceritakan kesedihan itu kepada orang lain. Sebab, ia makhluk yang tidak bisa berbuat banyak untuk menolong Anda. Bahkan, manusia seringkali bosan mendengarkan curahan hati Anda. Lebih baik, berwudulah dan shalatlah, lalu bacalah Al Fatihah secara perlahan-lahan dengan renungan mendalam, sebab semua bacaan Anda dalam Al Fatihah itu dijawab langsung oleh Allah. Betapa, saat itu, Anda menjadi orang paling terhormat, sebab bisa berdialog langsung dengan Tuhan Yang Maha Besar, melebihi kebanggaan Anda ketika mendapat kehormatan berbicara langsung dengan kepala negara. Ketika Anda membaca Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, Allah menjawab, “(Aku senang), engkau, hamba-Ku, telah menyanjung-Ku).  Ketika, Anda memohon petunjuk jalan yang lurus, Allah juga menjawab, “Inilah permintaanmu wahai hamba-Ku. Sekarang, adalah tugas-Ku untuk memenuhinya) (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a). Atas dasar itulah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah (2008: 30) berpesan, “Berhentilah setelah membaca satu ayat. Tunggulah jawaban Allah. Setelah itu, lanjutkan ayat berikutnya”

Sekarang, kita menghitung persentase dari tujuh ayat dalam Al Fatihah berdasar kandungannya. Ayat 1-5 (71.43 %) berisi sanjungan untuk Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengatur alam, Maha Penguasa pada hari pembalasan, Maha Mulia untuk disembah, dan Maha Pemberi Pertolongan. Sedangkan, ayat 6-7 (28.57%) berisi permohonan kepada Allah bimbingan ke jalan yang lurus.

Persentase di atas memberi inspirasi kita. Pertama, dalam beragama, kita harus mengedepankan hak-hak Allah untuk dipuji dan disanjung, daripada hak kita untuk meminta. Kedua, sebelum meminta, sebaiknya kita tunjukkan terlebih dahulu sejauhmana ibadah yang telah kita lakukan. Ketiga, jika ingin lebih berakhlak dan bahagia, maka perbanyaklah (70%) memuja, menyanjung, dan berpasrah kepada Allah, lalu gunakan sisanya (30%) untuk meminta. Inilah etika utama dan kunci kebahagiaan.

Berikut ini contoh doa yang berisi sanjungan kepada Allah, ”Wahai Allah, aku yakin, Engkau pasti, pasti, Maha Kuasa menolong aku. Engkaulah Tuhan, yang pasti, pasti, Maha Mengasihi aku. Engkaulah Tuhan Yang Maha Kuasa mengatur alam semesta, maka betapa mudahnya Engkau merubah keadaanku. Kepada-Mu, aku pasrah, pasrah, menyerahkan nasibku.” Sanjungan kepada Allah juga bisa dilakukan dengan membaca tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan kalimat-kalimat thayyibah lainnya. Andaikan Anda hanyut dalam sanjungan, sampai lupa meminta apa pun, maka Allah berjanji memberi Anda lebih banyak daripada orang yang hanyut dalam permintaannya.    

Doa yang penuh sanjungan dan kepasrahan di atas pasti lebih berakhlak dan lebih membahagiakan daripada doa yang hanya berisi permintaan. Misalnya, ”Wahai Allah, tolonglah aku untuk mengatasi kesulitan ini,  sembuhkan penyakitku, dan lunakkan hati pasanganku.”

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar Juz 1, p. 67-71; (2) M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah Vol 1: 3-17; (3) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 446-449); (4) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, cet 12, p.46-49.

BERSIHKAN HATI, HINDARI BEKAS SUJUD DI DAHI
Dr. Abdus Salam Nawawi, MA, dan Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعٗا سُجَّدٗا يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗاۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ

“Muhammad itu utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya tegar terhadap tekanan orang-orang kafir, dan berkasih sayang sesama mereka.Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS. Al Fath [48]:29)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya, “Menjadi Sewangi Nabi.” Kali ini saya fokuskan apa maksud bekas sujud di dahi (min atsari sujud), dan bagaimana kiat menghapusnya. Menurut beberapa kitab tafsir, bekas sujud itu tidaklah fisik, melainkan non-fisk, yaitu akhlak mulia dampak dari sujud dalam shalat. Sayyid Qutb (1972) mengatakan, “Tanda keimanan bukan terletak pada bekas hitam di wajah, melainkan pada akhkal keseharian sebagai pengaruh dari ibadah (sujud) tersebut.”

Menurut Al-Maraghiy (t.th: 117), dan Wahbah al-Zuhailiy (1991: 207), “Arti bekas sujud adalah cahaya, keindahan, dan kedamaian yang terlihat pada wajah, akhlak mulia, ketundukan (khusyu’) dan kerendahan hati(khudhu’) seseorang yang terpancar pada wajahnya.”

Nabi SAW tidak suka melihat orang dengan dahi hitam bekas sujud di wajahnya itu.  Anas r.a menceritakan, Nabi SAW bersabda,

 إِنِّيْ لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ وَأَكْرَهُهُ إِذَا رَأَيْتُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرَ السُّجُوْدِ

 “Sungguh aku benci dan tidak menyukai orang yang di wajahnya terlihat bekas sujud antara kedua matanya.” (al-Syarbini, t.th: 31), dan (al-Biqa’iy, 1415/1995: 216).

Ibnul Atsir menambahkan,

وَفِيْ نِهَايَةِ ابْنِ الْأَثِيْرِ فِيْ تَفْسِيْرِ الثَّفَنِ: وَمِنْهُ حَدِيْثُ أِبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: رَأَى رَجُلاً بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ ثَفَنَةِ الْبَعِيْرِ، فَقَالَ: لَوْ لَمْ يَكُنْ هذَا لَكَانَ خَيْراً – يَعْنِي كَانَ عَلَى جَبْهَتِهِ أَثَرُ السُّجُوْدِ، وَإِنَّماَ كَرِهَهَا خَوْفاً مِنَ الرِّيَاءِ بِهَا

“Di dalam kitabnya, al-Nihayah (al-Nihayah Fi Gharibil Hadits wa al-Atsar, pent), Ibnul Atsir menjelaskan arti ats-tsafan (kulit yang mengeras). Menurutnya, Abu Darda’ r.a. pernah berjumpa dengan orang yang di antara kedua matanya terdapat kulit yang menebal seperti kulit unta. Ia mengatakan, “Andaikan tidak ada bekas sujud pada dahi orang ini, tentu lebih baik.” Ia mengkhawatirkan timbulnya riya’ (pamer dan bangga) dengan kebaikannya (al-Biqa’iy, 1415/1995: 143). Menurutnya, “Bekas sujud adalah sebuah kharisma, kehormatan, dan akhlak yang mengagumkan yang menjadi magnit kebaikan bagi orang lain.”

وَعَنْ بَعْضِ الْمُتَقَدِّمِيْنَ: كُنَّا نُصَلِّيْ فَلَا يُرَى بَيْنَ أَعْيُنِنَا شَيْءٌ وَنَرَى أَحَدَنَا الْآنَ يُصَلِّيْ فَيُرَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ رُكْبَةُ الْبَعِيْرِ فَلَا نَدْرِيْ أَثَقُلَتِ الرُّؤُوْسُ أَمْ خَشُنَتِ الْأَرْضُ.

“Sebagian ulama mutaqaddimin (generasi awal/abad 1-3 H) mengatakan, “Kami telah melakukan shalat, tapi tidak ada bekas di antara kedua mata kami. Sekarang, kami melihat banyak orang dengan “lutut unta” (kulit mengeras) di antara kedua matanya. Mungkin, akibat kepala mereka yang menekan berat di lantai, atau lantainya yang keras.” (Al-Syarbini, t.th: 31).

Bagaimana sujud Nabi SAW sehingga tanpa bekas hitam di dahi, walaupun sujudnya amat panjang. As Saa’idiy r.a berkata,

كَانَ إِذَا سَجَدَ أَمْكَنَ أَنْفَهُ وَجَبْهَتَهُ مِنَ الأَرْضِ وَنَحَّى يَدَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ

Nabi SAW bersujud dengan meletakkan hidung dan dahinya ke tanah, menjauhkan kedua tangannya dari dua sisi lambungnya, dan meletakkan dua telapak tangannya sejajar dengan kedua bahunya (HR.  Al-Tirmizi, No. 270).

Menurut Imam Haramain, bahwa cara sujud Nabi dalam hadis di atas dilakukan secara biasa, yaitu menempelkan hidung dan dahi ke tanah. Sedangkan Imam Nawawi menambahkan, Nabi menempelkan dahi dan hidung ke tanah dengan tekanan. Pendapat pertama sangat rasional, sebab lebih natural dan proporsional.

Inilah pergerakan posisi badan yang harus diperhatikan ketika bersujud. Pertama, ketika kita berdiri, termasuk ketika bangkit dari rukuk, berat badan bertumpu pada dua telapak kaki. Lalu, ketika bersujud, secara natural terjadi proses pembagian peran anggota badan untuk menopangnya. Kedua, ketika dua lutut diletakkan di tanah, keduanya menopang berat badan, khususnya paha sampai kepala. Ketiga, ketika mulai bersujud, dua tangan mengambil alih tugas menopang berat badan bagian atas, sekaligus menjaga keseimbangan dengan membentangkan keduanya antara kedua bahu dan lambung (bagi pria), atau menempelkan kedua tangan di dada (bagi wanita).

Keempat, ketika KITA dalam posisi “siap merangkak” itu, berat badan ditopang secara proporsional oleh tujuh anggota badan: (1) bagian belakang: dua telapak kaki tegak dengan menekuk jari-jari kaki agar menghadap kiblat; (2) bagian tengah:  dua lutut sebagai sokoguru, (3) bagian depan: dua tangan menopang berat badan bagian atas, sekaligus menjaga keseimbangan; (4) langkah terakhir, kita turunkan dahi secara perlahan ke lantai, mendatar, sejajar dengan hidung. Dalam posisi ini, leher dan kepala tidak menjadi penopang utama. Bekas hitam di dahi atau hidung hanya timbul, jika cara sujud tidak proporsional, yaitu leher dan kepala dijadikan penopang utama. Sebaiknya, gunakan sajadah atau alas yang agak empuk, agar dahi tidak bersentuhan dengan lantai yang keras.

Mungkin Anda bertanya, “Bukankah bekas hitam di dahi itu menjadi saksi sujud kita pada hari kiamat? Mengapa dihapus?” Benar, tapi ternyata Nabi SAW tidak menyukainya. Dahi Nabi juga bersih, tanpa bekas sujud. Alasan lainnya, kita diharamkan pamer dan bangga (riya’) atas sekecil apa pun kebaikan, sebab, riya’ adalah bagian dari syirik besar (menyekutukan Allah), sebuah dosa yang tidak diampuni Allah. Bisakah kita menjamin kebersihan hati dari syirik kecil, sebagaimana dikhawatirkan oleh Adu Darda’ r.a itu?. Menjaga hati dari kotoran dosa, harus diutamakan daripada mencari pahala. Salah satu kaidah penetapan hukum Islam adalah, “Dar-ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (Menghindari keburukan diutamakan daripada mendatangkan kebaikan)” (Dasuki Ibrahim, 2019: 84).

Selamat berlama-lama sujud seperti Nabi, tapi usahakan tanpa bekas sujud hitam di dahi.  

Referensi: (1) Sayyid Quthb, Tafsir Fi  Dhilal Al Qur’an, Jilid 6, Dar Asy Syuruq, Beirut, Libanon, 1972; (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, vol 12, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 558-563; (3) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 26, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 174; (4) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. X, p. 181;  (5)  Al Tirmidzi,  Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah, Sunan Al Tirmidzi, Dar Al Fikr, Beirut, Lebanon, 2005, nomor hadis 270; (6) Syamsuddin Muhammad bin Ahmad al-Syarbini, Tafsir al-Siraj al-Munir, Beirut :Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1441 H/1991M, juz, IV, h. 31; (7) Burhanuddin Abu al-Hasan Ibrahim bin ‘Umar al-Biqa’iy, Nuzhum al-Durar Fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1415/1995, juz VII, h. 216; (8) Wahbah al-Zuhailiy, Tafsir al-Munir, Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, t.th, juz 26, h. 207;  (9) Ahmad Mushthafa al-Maraghiy, Tafsir al-Maraghiy, Mesir: Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Mushthafa al-Babiy al-Halabiy wa Awladuh, t.th, juz 26, h. 117; (10) Dasuki Ibrahim, Al-Qawa`Id Al-Fiqhiyah (Kaidah-Kaidah Fiqih), Penerbit Noerfikri, Palembang, Cet 1, 2019, p. 84.