Header

RUKUK BERSAMA PERUKUK MENUJU KEMULIAAN

December 17th, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

RUKUK BERSAMA PERUKUK MENUJU KEMULIAAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://www.salamdakwah.com/baca-artikel/kekeliruan-dalam-shalat–bagian-3-.html

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” (QS. Al Baqarah [2]: 43)

Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang memerintahkan orang-orang Yahudi untuk mensyukuri nikmat, menepati janji, dan tidak mencampur-adukkan kebenaran dengan kesesatan. Sebagai kelanjutan, ayat ini menambahkan tiga perintah lainnya, yaitu mendirikan shalat, membayar zakat, dan tunduk patuh beragama bersama semua muslim.

Pertama, perintah shalat. Kata shalat dan derivasinya diulang dalam Al Qur’an sebanyak 92 kali, dan hampir separuhnya menggunakan kata “dirikanlah,” bukan “kerjakanlah” shalat. Kata yang pertama mengandung makna yang lebih dalam, yaitu perintah melakukan shalat dengan kesungguhan, kekhusyukan, dan kesempurnaan, mulai dari aturan wudu sampai aturan yang wajib dan sunah di dalam shalat,  ketepatan waktu, dan kesempurnaan bacaan Al Qur’an, doa-doa, dan shalawat Nabi SAW.  

Menurut Prof. Dr. Said Agil Siroj, MA., perintah shalat bisa dikaji dari beberapa tinjuan. Dari segi sejarah, perintah shalat diterima Nabi ketika ia menerima sejumlah cobaan berat yang dialami secara bertubi-tubi selama setahun (‘amul huzni). Khadijah r.a, istri terkaya yang membiayai semua kegiatan dakwah Nabi meninggal dunia. Dialah istri yang juga pandai memilih kata motivatif ketika Nabi bersedih. Ketika air mata Nabi belum kering, Abu Thalib, sang paman yang non-muslim dan selalu pasang badan membelanya dari ancaman orang kafir, juga meninggal. Cobaan berikutnya, Nabi dan sejumlah sahabat kelaparan, akibat boikot bahan makanan oleh orang kafir. Karena tekanan itu, Nabi mencoba meninggalkan Makkah menuju kota Thaif untuk mencari ketenangan sejenak. Tapi, di luar dugaan, justru Nabi mendapat lemparan batu, termasuk oleh anak-anak penduduk setempat, sehingga muka Nabi terluka berat. Saat itulah, Allah memberi hiburan dengan memanggilnya ke langit tertinggi (isra’ mi’raj) untuk menerima perintah shalat. Dalam kondisi demikian, sangatlah relevan firman Allah berikut,

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan kesabaran dan shalat. Dan sungguh shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” (QS. Al Baqarah [2]: 45).   

Perintah shalat yang diterima Nabi SAW ketika berada di langit tertinggi (mi’raj) juga mengandung arti, bahwa siapa pun bisa menaikkan ruhnya ke langit melalui shalat. Inilah yang telah berhasil dilakukan oleh orang-orang pilihan setelah berjuang puluhan tahun membersihkan hatinya (khawashul khawash) untuk bertemu, bahkan “melihat” Allah secara langsung, sebagai hadiah kecil sebelum hadiah besar berupa perjumpaan dengan Allah dalam surga kelak. Allah SWT berfirman,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, memandang Tuhannya” (QS. Al Qiyamah [75]: 22-23).

Dari segi statusnya, shalat adalah ibadah tertinggi dalam Islam. Maka, pengaruh shalat harus mewarnai akhlak keseharian sebagai identitas seorang muslim. Jadi, kekhusyukan shalat harus menghasilkan juga kekhusyukan sosial.

Kedua, membayar zakat. Kekhusyukan shalat juga ditandai dengan kesediaan membayar zakat harta (mal) dan zakat badan (fitrah) secara tepat waktu, tidak ditunda-tunda, dan tepat ukurannya  sesuai dengan ketentuan agama. Perintah shalat dan zakat yang selalu beriringan menunjukkan, bahwa kemuliaan muslim ditentukan bagaimana ia bisa membangun kedekatan dirinya dengan Allah dan dengan lingkungan, juga menyeimbangkan kebersihan hati dan kebersihan harta dari hak-hak orang miskin yang harus diberikan.    

Ketiga, rukuk bersama para perukuk. Shalat dan zakat ternyata belum cukup untuk mengantar manusia menjadi muslim mulia. Masih ada satu lagi yang harus dilakukan, yaitu menyatu dengan semua muslim untuk bersama-sama membangun masyarakat yang tunduk kepada hukum-hukum Allah. Umat Islam tidak hanya dituntut meluruskan shaf ketika shalat, tapi juga shaf dalam membangun bangsa yang beradab dan berkemajuan (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).

Perintah rukuk bersama para perukuk dalam ayat ini sejatinya dialamatkan kepada orang Yahudi, sebab mereka tidak mengenal rukuk dalam ibadah mereka. Tapi, ayat ini juga berlaku untuk umum. Perintah ini juga sebagai sindiran untuk orang-orang munafik, yang hanya mendengungkan kebaikan, tapi tidak melakukannya. Orang-orang Yahudi mengakui Muhammad sebagai Nabi yang khusus untuk bangsa Arab.

“Warka-uu ma’ar raaki-‘in” yang menjadi penutup ayat ini juga dijadikan dasar perintah shalat berjamaah. Memang, ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat berjamaah, tapi mereka satu pendapat, bahwa shalat berjamaah sebagai ibadah yang mulia. Menurut Ibnu Abdil Barr, hukum shalat berjamaah adalah fardhu kifayah. Sedangkan menurut Adh Dhahiri dan Imam Ibnu Hanbal, hukumnya fardhu ain, dan menurut pendapat ulama terbanyak, hukumnya adalah sunnah muakkadah (amat sangat dianjurkan). Hamka menyatakan, firman Allah ini adalah teguran untuk muslim yang berpandangan, “Yang penting, saya telah melakukan shalat, tidak harus bercampur dengan orang-orang di masjid.”

M. Quraish Shihab mengatakan, ayat ini mengajarkan tiga jenis kewajiban yang saling terkait, yaitu shalat sebagai kewajiban badaniyah (fisik), zakat sebagai kewajiban maliyah (harta), dan rukuk sebagai kewajiban imaniyah (keimanan), yaitu tunduk sepenuhnya kepada Allah. Hamka menambahkan, hanya dengan shalat yang khusyuk, dan zakat yang menghapus sifat kikir, seseorang dapat menyambungkan hatinya dengan masyarakat, khsususnya orang-orang miskin, yang telah diperas tenaganya, atau terhimpit ekonominya karena riba.

Sekali lagi, melalui ayat ini, kita tingkatkan usaha kita untuk meraih 3 K, yaitu kekhusyukan, kedermawanan, dan kebersamaan dalam semua lini pembangunan masyarakat.

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 1, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 190 (2) M. Qureish Shihab, Tafsir Al Misbah, vol. 1, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 215-217, (3) M. Sholeh Qosim dan A. Afif Amrullah, Tuntunan Shalat Seperti Nabi SAW, LTM PBNU, Jakarta cet 13 2020, p. iv-x.

ETIKA PEMBELAJARAN DEMI KEBERKAHAN

November 25th, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

ETIKA PEMBELAJARAN DEMI KEBERKAHAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: https://mtsannurtempo.blogspot.com/2013/06/macam-macam-metode-pembelajaran.html

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan dalam berbagai pertemuan,” maka, lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan kepadamu. Dan, jika dikatakan, “Berdirilah,” maka, berdirilah, niscaya Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa tingkatan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Mujadilah [58]: 11)

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan larangan pembicaraan yang mengarah kepada perbuatan dosa. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan etika lainnya yang harus dipatuhi dalam setiap pertemuan, termasuk pembelajaran.

Menurut Muqatil bin Hubban, ayat ini turun pada hari Jumat, ketika Nabi SAW sedang memberi pengajaran di bawah tenda Shuffah, tempat penampungan para sahabat yang tidak memiliki tempat tinggal. Pada acara itu, penduduk asli Madinah (anshar) dan pendatang dari Makkah (muhajirin) berkumpul, dan berusaha mendekat Nabi. Di tengah pengajian, beberapa veteran Badar datang dan memberi salam. Hadirin hanya menjawab salam, tapi tidak memberi tempat mereka, padahal para veteran itu selalu disebut-sebut Nabi sebagai orang-orang terhormat dan dimuliakan Allah SWT. Maka, Nabi menyuruh hadirin berdiri untuk memberi tempat mereka. Mereka berdiri, namun dengan wajah yang cemberut. Sebagian mereka berbisik, “Demi Allah, ini tidak adil.” Mereka menggerutu, sebab mereka datang lebih awal dengan tujuan agar bisa mendekat Nabi, tapi setelah mendapat tempat yang nyaman, diminta pindah. Saat itulah, Nabi SAW bersabda:

رَحِمَ اللهٌ رَجُلًا يَفْسَحُ لِاَخِيْهِ

“Semoga Allah merahmati orang yang memberi tempat saudaranya” (HR. Ibnu Abi Hatim)

Sedangkan menurut Ibnu Abbas, r.a, ayat ini turun karena Tsabit bin Syammas, r.a datang terlambat dalam sebuah pertemuan di masjid, dan berusaha mendapat tempat di dekat Nabi. Maka, gegerlah para sahabat menyikapi tamu itu. Nabi baru tahu, bahwa tamu itu sengaja mendekat Nabi, sebab ia tuli. Maka, turunlah ayat ini.

Berdasar ayat ini, agar pembelajaran, termasuk kajian keagamaan menghasilkan ilmu yang berkah, yaitu menambah iman, ilmu dan kemuliaan, maka perhatikan tiga etika pembelajaran. Pertama, jangan acuh, masa bodoh, apalagi marah kepada orang yang datang terlambat. Sebaiknya, Anda berjiwa besar, rendah hati, mengalah memberi tempat mereka. Tak apalah posisi duduk Anda menjadi tak nyaman. Tapi, bergembiralah, sebab, dalam ayat ini, Allah berjanji akan melapangkan rizki di dunia, dan menyiapkan ruangan di surga yang longgar, nyaman dan menyenangkan untuk Anda.  Memang, idealnya “fisrt come, first served,” yang artinya, siapa yang datang pertama kali berhak mendapat layanan pertama kali. Orang yang datang lebih awal berhak mendapat tempat yang lebih nyaman. Tapi, kejadian yang tidak menyenangkan itu sengaja didatangkan Allah kepada Anda, yang dipanggil dalam ayat ini sebagai orang-orang beriman, untuk menguji sejauhmana akhlak Anda. Allah ingin mengetahui apakah Anda orang beriman dan berakhlak, ataukah orang beriman tanpa akhlak. Sebab, salah satu ciri orang mukmin adalah,

وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٌۚ

“Dan mereka (penduduk Madinah) itu mengutamakan (para pendatang dari Makkah) daripada mereka sendiri, meskipun mereka memerlukan” (QS. Al Hasyr [59]: 9).

Kedua, taatilah narasumber, dan patuhilah aturan panitia pelaksana. Misalnya, ketika dimohon bergeser tempat, berganti posisi, berdiri, dan sebagainya, maka segera lakukan. Tunjukkan kepada dunia, bahwa Anda muslim pecinta ketertiban dan benci kegaduhan. Bagaimana mungkin proses pembelajaran berjalan dengan baik, jika nara sumber dan pembelajar merasakan situasi yang tidak nyaman? Perintah berlapang-lapang dalam ayat lebih diarahkan pada kelapangan hati untuk menghormat orang lain. Orang mukmin selalu berlapang hati demi penghormatan kepada orang lain. Narasumber yang dimaksud dalam ayat ini bukan hanya ustad, kiai, imam dan sebagainya, tapi semua ilmuwan yang iman dan akhlaknya meningkat setelah merenungkan semua kejadian dan makhluk Allah (QS. Fathir [35]: 27-28).

Ketiga, ilmu yang diperoleh dari pembelajaran itu harus dilandasi keimanan. Jadi, terjadi perpaduan antara otak dan hati, antara iman dan ilmu, antara ilmu dan akhlak, dan antara pikir dan zikir. Itulah manusia ulul albab yang disebut dalam QS. Ali Imran [3]: 190-191, “Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang ulul albab, yaitu orang-orang yang zikir (mengingat Allah) sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, (seraya berkata), “Wahai Tuhan kami, tidalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.  Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Ayat ini memberi jaminan ketinggian martabat, kemuliaan, dan wibawa bagi siapa pun yang memiliki keimanan yang berbasis keilmuan, dan keilmuan yang melahirkan akhlak mulia. Jika tidak seimbang antara keduanya, maka seseorang tidak akan bisa meraih kejayaan dan kemuliaan. Prof. Hamka mengatakan, “Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi, dan ilmu tanpa iman, bagaikan lentera di tangan pencuri.” Seharusnya lentera digunakan untuk menerangi manusia agar tidak tersesat, tapi karena tak berakhlak, maka lentera itu justru digunakan untuk mencuri dan menyengsarakan orang. Ilmuwan Yahudi, Albert Einstein juga mengatakan, “Science without religion is blind; religion without science is lame” (Ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu lumpuh).  

Anda bisa belajar darui burung. Ia bisa yang terbang tinggi, karena dua sayapnya terpadu geraknya. Silakan terbang ke langit keberkahan dengan sayap ilmu dan iman. Jika tidak seimbang antara dua sayap itu, bersiaplah jatuh, tersungkur ke dalam jurang.

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 28, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 26-31 (2) M. Qureish Shihab, Tafsir Al Misbah, vol. 13, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 488-491.

ALUMNI NERAKA

September 3rd, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

ALUMNI NERAKA
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, “Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah [2]: 201)

Ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya yang menjelaskan adanya orang-orang yang memohon kenikmatan dunia semata ketika berhaji. Maka, sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan doa terbaik adalah yang berisi permohonan kenikmatan dan keselamatan dunia dan akhirat.

Menurut Ibnu Abbas r.a, beberapa penduduk Arab pedalaman, ketika wukuf di Arafah, memohon, “Wahai tuhan kami, jadikan tahun ini tahun banyak hujan, tahun kesuburan, dan tahun banyak anak yang tampan.” Mereka tidak meminta sama sekali yang berkaitan dengan akhirat. Lalu, datanglah beberapa orang mukmin yang berdoa untuk kepentingan dunia dan akhirat. Maka turunlah dua ayat tersebut untuk menunjukkan doa yang terbaik. 

Inilah doa yang paling lengkap dan sering dibaca Nabi SAW. Melalui doa dalam ayat ini, kita memohon: (1) kebaikan (hasanah) di dunia, yaitu rizki yang melimpah, ilmu yang menambah prestasi dan keimanan, keluarga bahagia, kesehatan, dan akhlak yang mulia, (2) kebaikan (hasanah) di akhirat, yaitu kemudahan dalam pengadilan akhirat, serta masuk surga bersama Nabi SAW, dan (3) masuk surga tanpa harus melewati siksa neraka karena masih adanya dosa yang belum terampuni. Kelompok ketiga inilah yang dijelaskan hadis berikut,

عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ اَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَاَهْلُ النَّارِ النَّارَ ثُمَّ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى أَخْرِجُوْا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ اِيْمَانٍ فَيُخْرَجُوْنَ مِنْهَا قَدِ اسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِى نَهْرِ الْحَيَاءِ اَوِالْحَيَاةِ فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا تَنْبُتُ الْحَبّةُ فِى جَانِبِ السَّيْلِ اَلَمْ تَرَ اَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً رواه البخارى

Abu Sa’id Al Khudriy r.a berkata, “Rasulullah SAW bersabda, kelak semua penghuni surga akan memasuki surga, dan penghuni neraka memasuki neraka. Lalu, Allah SWT memerintahkan (para malaikat), “Keluarkan dari neraka orang yang dalam hatinya terdapat sebesar atom keimanan!” Maka, mereka dikeluarkan dalam keadaan fisik yang hitam terbakar. Mereka lalu dimandikan di sungai penghapus rasa malu (nahrul haya’), atau sungai pemberi kehidupan yang baru (nahrul hayah). Maka, mereka berubah (menjadi putih) seperti biji yang tumbuh di tepi sungai. Tidakkah engkau saksikan tumbuhan itu menjadi kuning, melengkung nan indah? (HR. Al Bukhari)

Mereka yang dikeluarkan dari neraka ini oleh penghuni surga disebut “Al Jahannamiyyun” atau “alumni neraka” (HR. Al Bukhari dari Anas bin Malik r.a). Semua alumni itu dimasukkan ke surga secara bertahap, dan orang yang terakhir dikeluarkan berjalan dengan merangkak. Ketika diperintah Allah masuk surga, ia kembali menghadap Allah, karena terlihat olehnya surga sudah penuh. Begitulah sampai tiga kali. Lalu, Allah meyakinkan, “Masuklah ke surga yang luasnya sepuluh kali dari luas dunia!” Ia terkejut kegirangan, “Wahai Allah, Engkau Rajadiraja, apakah Engkau menyindir atau menertawai saya?” Nabi menceritakan peristiwa ini dengan tersenyum sampai gigi gerahamnya terlihat, lalu bersabda,

ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً

“Itulah tingkatan terendah untuk penghuni surga” (HR.  Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud, r.a)

Di antara para alumni neraka itu, ada orang mukmin yang memohonkan pertolongan untuk temannya yang masih belum dikeluarkan. Ia bersaksi, teman itu berpuasa, shalat dan haji bersamanya. Lalu, Allah memerintahkan agar teman itu diajak keluar. Allah memerintahkan lagi, “Cari orang-orang lainnya yang di dalam hatinya terdapat sekecil atom keimanan untuk diajak keluar dari neraka.” Maka, berduyun-duyunlah mereka keluar dari neraka. Abu Sa’id Al Khudriy, pembawa hadis ini mengatakan, inilah bukti limpahan kasih Allah kepada hamba-Nya, sebagaimana dijanjikan dalam Al Qur’an,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

“Sungguh Allah tidak bertindak zalim sekecil atom pun. Jika ada kebaikan sekecil atom, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberi pahala yang besar dari sisi-Nya” (QS. An Nisa: 40). Allah lalu berfirman,

شَفَعَتِ الْمَلَائِكَةُ ، وَشَفَعَ النَّبِيُّوْنَ ، وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُوْنَ ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

 “Malaikat telah memberi syafa’at (pertolongan), demikian juga Nabi dan orang-orang mukmin. Maka tinggallah (Aku) Yang Maha Pengasih, (pasti lebih besar pertolongan-Ku kepadanya).”

Kemudian Allah menggenggam satu genggaman dari neraka dan mengeluarkan semua orang yang tak punya pahala kebaikan sedikit pun (kecuali kalimat la ilaha illallah). Mereka telah menghitam karena lama terbakar, lalu diputihkan dengan sungai kehidupan agar tidak malu ketika memasuki surga (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al Khudriy, r.a).    

Abu Hurairah, r.a berkata, Nabi SAW bersabda, “Ada orang yang tidak membawa kebaikan sama sekali ketika meninggal. Semasa hidupnya, ia hanya suka memberi pinjaman. Kepada juru tagihnya, ia selalu berpesan agar memudahkan penagihan, bahkan membebaskan hutangnya, jika benar-benar tidak mampu, dengan harapan mendapat pembebasan dari neraka. Ketika meninggal, Allah bertanya tentang kebaikan yang pernah dilakukan, dan ia hanya bercerita tentang pembebasan hutang. Maka, Allah berfirman, “Sungguh, Aku telah membebaskanmu.”

Hanya ada satu kunci memasuki surga, yaitu kalimat la ilaha illallah. Tapi, tak ada jaminan kita bisa memasukinya secara langsung. Ada tiga cara agar memasuki surga tanpa harus menjadi alumni neraka. Pertama, hentikan dosa mulai sekarang dan perbanyak istighfar dan perbuatan baik penghapus dosa, sehingga tidak tersisa satu pun dosa yang belum terampuni ketika kita berpulang. Kedua, perbanyak shalawat Nabi. Ketiga, lebih seringlah berkumpul dengan ulama, ustad, dan orang-orang saleh agar mereka menjadi saksi atas kebaikan kita. Keempat, bebaskan manusia dari kemiskinan, kecemasan, ketakutan, kelaparan, kebodohan dan semua jenis penderitaan lainnya, agar kita layak dibebaskan dari semua derita akhirat.

Referensi: (1) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 1, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p 531-532 (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 2, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 142-144, (3)  Hasbi As-Shiddiqi,  2001 Mutiara Hadis, jilid 1, p. 470.