Header

Author Archives: admin_tsb

CERIA MELALUI PERSENTASE AL FATIHAH

January 17th, 2022 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

CERIA MELALUI PERSENTASE AL FATIHAH
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UINSA Surabaya Dan Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,  Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) orang yang sesat” (QS. Al Fatihah [1]: 1-7)

Surat Al Fatihah artinya surat pembuka kitab suci Al Qur’an. Nama lain surat ini adalah Ummul Kitab atau Ummul Qur’an, artinya surat ini adalah induk Al Qur’an, yaitu memuat pokok-pokok isi Al Qur’an. Dalam Surat Al Hijr [15]: 87, surat ini juga disebut As Sab‘ul Matsani, artinya tujuh ayat yang diulang-ulang setiap hari dalam shalat. Shalat adalah ibadah paling penting, dan surat Al Fatihah adalah doa paling pokok di dalamnya. Nabi SAW bersabda,  

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidaklah (sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah  (HR. Al  Jama’ah, dari Ubadah bin as-Shamit, r.a)

Surat Al Fatihah adalah surat yang pertama kali turun secara lengkap dengan semua ayatnya. Sedangkan iqra’ bismi rabbik …. dst (QS. Al Alaq [96]: 1-5) adalah ayat yang pertama kali turun, tapi tidak lengkap satu surat.    

            Sekarang perhatikan, mengapa Al Fatihah diawali dengan basmalah (bismillahirrahmainrahim)? Mengapa sifat Allah Yang Maha pengasih dan Maha Penyayang itu yang disebutkan pertama kali oleh Allah? Mengapa Allah tidak menyebutkan sifat-Nya yang lain, misalnya Yang Maha Menyiksa, Maha Perkasa, Maha Memaksa ? Sebab, dengan perkenalan Allah pertama kali sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, diharapkan tidak ada manusia yang bersedih dan pesimis, karena yang paling terkesan dalam otaknya adalah sifat Allah Yang Maha Pengasih, Tuhan yang selalu hadir menyertainya, serta menolong apa pun yang dimintanya. Bandingkan, jika otak seseorang terpenuhi dengan kesan sifat Allah Yang Maha Menyiksa dan Maha Memaksa? Al Fatihah mengajak manusia untuk selalu berpikir positif dalam segala hal.   

            Menurut psikolog, pebisnis, dan motivator, kesan pertama amat menentukan penilaian orang terhadap seseorang. Kelly Millar (2020) mengatakan, First impressions are crucial. They can make or break an opportunity. It’s human nature to make a judgement about someone when you first meet them, but did you know that people can formulate an opinion about you in less than 20 seconds!? (Kesan pertama amatlah penting. Ia bisa menciptakan atau menghancurkan kesempatan (emas). Sudah menjadi kodrat manusia untuk menilai seseorang ketika pertama kali berjumpa. Tapi, tahukah Anda bahwa orang membuat keputusan tentang diri Anda dalam waktu kurang dari 20 detik?).

            Bergembiralah dan optimislah dengan kasih Allah, meskipun Anda dalam cobaan hidup yang bertubi-tubi, atau sedang memikul dosa yang telah menggunung. Sambungkan jiwa Anda dengan otak yang telah terpenuhi sifat Allah Yang Maha Pengasih, yang kasih-Nya jauh melampaui kasih ibu kandung sendiri.     

       Jika Anda bersedih, jangan ceritakan kesedihan itu kepada orang lain. Sebab, ia makhluk yang tidak bisa berbuat banyak untuk menolong Anda. Bahkan, manusia seringkali bosan mendengarkan curahan hati Anda. Lebih baik, berwudulah dan shalatlah, lalu bacalah Al Fatihah secara perlahan-lahan dengan renungan mendalam, sebab semua bacaan Anda dalam Al Fatihah itu dijawab langsung oleh Allah. Betapa, saat itu, Anda menjadi orang paling terhormat, sebab bisa berdialog langsung dengan Tuhan Yang Maha Besar, melebihi kebanggaan Anda ketika mendapat kehormatan berbicara langsung dengan kepala negara. Ketika Anda membaca Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, Allah menjawab, “(Aku senang), engkau, hamba-Ku, telah menyanjung-Ku).  Ketika, Anda memohon petunjuk jalan yang lurus, Allah juga menjawab, “Inilah permintaanmu wahai hamba-Ku. Sekarang, adalah tugas-Ku untuk memenuhinya) (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a). Atas dasar itulah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah (2008: 30) berpesan, “Berhentilah setelah membaca satu ayat. Tunggulah jawaban Allah. Setelah itu, lanjutkan ayat berikutnya”

Sekarang, kita menghitung persentase dari tujuh ayat dalam Al Fatihah berdasar kandungannya. Ayat 1-5 (71.43 %) berisi sanjungan untuk Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengatur alam, Maha Penguasa pada hari pembalasan, Maha Mulia untuk disembah, dan Maha Pemberi Pertolongan. Sedangkan, ayat 6-7 (28.57%) berisi permohonan kepada Allah bimbingan ke jalan yang lurus.

Persentase di atas memberi inspirasi kita. Pertama, dalam beragama, kita harus mengedepankan hak-hak Allah untuk dipuji dan disanjung, daripada hak kita untuk meminta. Kedua, sebelum meminta, sebaiknya kita tunjukkan terlebih dahulu sejauhmana ibadah yang telah kita lakukan. Ketiga, jika ingin lebih berakhlak dan bahagia, maka perbanyaklah (70%) memuja, menyanjung, dan berpasrah kepada Allah, lalu gunakan sisanya (30%) untuk meminta. Inilah etika utama dan kunci kebahagiaan.

Berikut ini contoh doa yang berisi sanjungan kepada Allah, ”Wahai Allah, aku yakin, Engkau pasti, pasti, Maha Kuasa menolong aku. Engkaulah Tuhan, yang pasti, pasti, Maha Mengasihi aku. Engkaulah Tuhan Yang Maha Kuasa mengatur alam semesta, maka betapa mudahnya Engkau merubah keadaanku. Kepada-Mu, aku pasrah, pasrah, menyerahkan nasibku.” Sanjungan kepada Allah juga bisa dilakukan dengan membaca tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan kalimat-kalimat thayyibah lainnya. Andaikan Anda hanyut dalam sanjungan, sampai lupa meminta apa pun, maka Allah berjanji memberi Anda lebih banyak daripada orang yang hanyut dalam permintaannya.    

Doa yang penuh sanjungan dan kepasrahan di atas pasti lebih berakhlak dan lebih membahagiakan daripada doa yang hanya berisi permintaan. Misalnya, ”Wahai Allah, tolonglah aku untuk mengatasi kesulitan ini,  sembuhkan penyakitku, dan lunakkan hati pasanganku.”

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar Juz 1, p. 67-71; (2) M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah Vol 1: 3-17; (3) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 446-449); (4) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, cet 12, p.46-49.

BERSIHKAN HATI, HINDARI BEKAS SUJUD DI DAHI

January 10th, 2022 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

BERSIHKAN HATI, HINDARI BEKAS SUJUD DI DAHI
Dr. Abdus Salam Nawawi, MA, dan Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعٗا سُجَّدٗا يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗاۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ

“Muhammad itu utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya tegar terhadap tekanan orang-orang kafir, dan berkasih sayang sesama mereka.Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS. Al Fath [48]:29)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya, “Menjadi Sewangi Nabi.” Kali ini saya fokuskan apa maksud bekas sujud di dahi (min atsari sujud), dan bagaimana kiat menghapusnya. Menurut beberapa kitab tafsir, bekas sujud itu tidaklah fisik, melainkan non-fisk, yaitu akhlak mulia dampak dari sujud dalam shalat. Sayyid Qutb (1972) mengatakan, “Tanda keimanan bukan terletak pada bekas hitam di wajah, melainkan pada akhkal keseharian sebagai pengaruh dari ibadah (sujud) tersebut.”

Menurut Al-Maraghiy (t.th: 117), dan Wahbah al-Zuhailiy (1991: 207), “Arti bekas sujud adalah cahaya, keindahan, dan kedamaian yang terlihat pada wajah, akhlak mulia, ketundukan (khusyu’) dan kerendahan hati(khudhu’) seseorang yang terpancar pada wajahnya.”

Nabi SAW tidak suka melihat orang dengan dahi hitam bekas sujud di wajahnya itu.  Anas r.a menceritakan, Nabi SAW bersabda,

 إِنِّيْ لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ وَأَكْرَهُهُ إِذَا رَأَيْتُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرَ السُّجُوْدِ

 “Sungguh aku benci dan tidak menyukai orang yang di wajahnya terlihat bekas sujud antara kedua matanya.” (al-Syarbini, t.th: 31), dan (al-Biqa’iy, 1415/1995: 216).

Ibnul Atsir menambahkan,

وَفِيْ نِهَايَةِ ابْنِ الْأَثِيْرِ فِيْ تَفْسِيْرِ الثَّفَنِ: وَمِنْهُ حَدِيْثُ أِبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: رَأَى رَجُلاً بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ ثَفَنَةِ الْبَعِيْرِ، فَقَالَ: لَوْ لَمْ يَكُنْ هذَا لَكَانَ خَيْراً – يَعْنِي كَانَ عَلَى جَبْهَتِهِ أَثَرُ السُّجُوْدِ، وَإِنَّماَ كَرِهَهَا خَوْفاً مِنَ الرِّيَاءِ بِهَا

“Di dalam kitabnya, al-Nihayah (al-Nihayah Fi Gharibil Hadits wa al-Atsar, pent), Ibnul Atsir menjelaskan arti ats-tsafan (kulit yang mengeras). Menurutnya, Abu Darda’ r.a. pernah berjumpa dengan orang yang di antara kedua matanya terdapat kulit yang menebal seperti kulit unta. Ia mengatakan, “Andaikan tidak ada bekas sujud pada dahi orang ini, tentu lebih baik.” Ia mengkhawatirkan timbulnya riya’ (pamer dan bangga) dengan kebaikannya (al-Biqa’iy, 1415/1995: 143). Menurutnya, “Bekas sujud adalah sebuah kharisma, kehormatan, dan akhlak yang mengagumkan yang menjadi magnit kebaikan bagi orang lain.”

وَعَنْ بَعْضِ الْمُتَقَدِّمِيْنَ: كُنَّا نُصَلِّيْ فَلَا يُرَى بَيْنَ أَعْيُنِنَا شَيْءٌ وَنَرَى أَحَدَنَا الْآنَ يُصَلِّيْ فَيُرَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ رُكْبَةُ الْبَعِيْرِ فَلَا نَدْرِيْ أَثَقُلَتِ الرُّؤُوْسُ أَمْ خَشُنَتِ الْأَرْضُ.

“Sebagian ulama mutaqaddimin (generasi awal/abad 1-3 H) mengatakan, “Kami telah melakukan shalat, tapi tidak ada bekas di antara kedua mata kami. Sekarang, kami melihat banyak orang dengan “lutut unta” (kulit mengeras) di antara kedua matanya. Mungkin, akibat kepala mereka yang menekan berat di lantai, atau lantainya yang keras.” (Al-Syarbini, t.th: 31).

Bagaimana sujud Nabi SAW sehingga tanpa bekas hitam di dahi, walaupun sujudnya amat panjang. As Saa’idiy r.a berkata,

كَانَ إِذَا سَجَدَ أَمْكَنَ أَنْفَهُ وَجَبْهَتَهُ مِنَ الأَرْضِ وَنَحَّى يَدَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ

Nabi SAW bersujud dengan meletakkan hidung dan dahinya ke tanah, menjauhkan kedua tangannya dari dua sisi lambungnya, dan meletakkan dua telapak tangannya sejajar dengan kedua bahunya (HR.  Al-Tirmizi, No. 270).

Menurut Imam Haramain, bahwa cara sujud Nabi dalam hadis di atas dilakukan secara biasa, yaitu menempelkan hidung dan dahi ke tanah. Sedangkan Imam Nawawi menambahkan, Nabi menempelkan dahi dan hidung ke tanah dengan tekanan. Pendapat pertama sangat rasional, sebab lebih natural dan proporsional.

Inilah pergerakan posisi badan yang harus diperhatikan ketika bersujud. Pertama, ketika kita berdiri, termasuk ketika bangkit dari rukuk, berat badan bertumpu pada dua telapak kaki. Lalu, ketika bersujud, secara natural terjadi proses pembagian peran anggota badan untuk menopangnya. Kedua, ketika dua lutut diletakkan di tanah, keduanya menopang berat badan, khususnya paha sampai kepala. Ketiga, ketika mulai bersujud, dua tangan mengambil alih tugas menopang berat badan bagian atas, sekaligus menjaga keseimbangan dengan membentangkan keduanya antara kedua bahu dan lambung (bagi pria), atau menempelkan kedua tangan di dada (bagi wanita).

Keempat, ketika KITA dalam posisi “siap merangkak” itu, berat badan ditopang secara proporsional oleh tujuh anggota badan: (1) bagian belakang: dua telapak kaki tegak dengan menekuk jari-jari kaki agar menghadap kiblat; (2) bagian tengah:  dua lutut sebagai sokoguru, (3) bagian depan: dua tangan menopang berat badan bagian atas, sekaligus menjaga keseimbangan; (4) langkah terakhir, kita turunkan dahi secara perlahan ke lantai, mendatar, sejajar dengan hidung. Dalam posisi ini, leher dan kepala tidak menjadi penopang utama. Bekas hitam di dahi atau hidung hanya timbul, jika cara sujud tidak proporsional, yaitu leher dan kepala dijadikan penopang utama. Sebaiknya, gunakan sajadah atau alas yang agak empuk, agar dahi tidak bersentuhan dengan lantai yang keras.

Mungkin Anda bertanya, “Bukankah bekas hitam di dahi itu menjadi saksi sujud kita pada hari kiamat? Mengapa dihapus?” Benar, tapi ternyata Nabi SAW tidak menyukainya. Dahi Nabi juga bersih, tanpa bekas sujud. Alasan lainnya, kita diharamkan pamer dan bangga (riya’) atas sekecil apa pun kebaikan, sebab, riya’ adalah bagian dari syirik besar (menyekutukan Allah), sebuah dosa yang tidak diampuni Allah. Bisakah kita menjamin kebersihan hati dari syirik kecil, sebagaimana dikhawatirkan oleh Adu Darda’ r.a itu?. Menjaga hati dari kotoran dosa, harus diutamakan daripada mencari pahala. Salah satu kaidah penetapan hukum Islam adalah, “Dar-ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (Menghindari keburukan diutamakan daripada mendatangkan kebaikan)” (Dasuki Ibrahim, 2019: 84).

Selamat berlama-lama sujud seperti Nabi, tapi usahakan tanpa bekas sujud hitam di dahi.  

Referensi: (1) Sayyid Quthb, Tafsir Fi  Dhilal Al Qur’an, Jilid 6, Dar Asy Syuruq, Beirut, Libanon, 1972; (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, vol 12, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 558-563; (3) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 26, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 174; (4) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. X, p. 181;  (5)  Al Tirmidzi,  Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah, Sunan Al Tirmidzi, Dar Al Fikr, Beirut, Lebanon, 2005, nomor hadis 270; (6) Syamsuddin Muhammad bin Ahmad al-Syarbini, Tafsir al-Siraj al-Munir, Beirut :Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1441 H/1991M, juz, IV, h. 31; (7) Burhanuddin Abu al-Hasan Ibrahim bin ‘Umar al-Biqa’iy, Nuzhum al-Durar Fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1415/1995, juz VII, h. 216; (8) Wahbah al-Zuhailiy, Tafsir al-Munir, Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, t.th, juz 26, h. 207;  (9) Ahmad Mushthafa al-Maraghiy, Tafsir al-Maraghiy, Mesir: Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Mushthafa al-Babiy al-Halabiy wa Awladuh, t.th, juz 26, h. 117; (10) Dasuki Ibrahim, Al-Qawa`Id Al-Fiqhiyah (Kaidah-Kaidah Fiqih), Penerbit Noerfikri, Palembang, Cet 1, 2019, p. 84. 

RUKUK BERSAMA PERUKUK MENUJU KEMULIAAN

December 17th, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

RUKUK BERSAMA PERUKUK MENUJU KEMULIAAN
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

sumber gambar: http://www.salamdakwah.com/baca-artikel/kekeliruan-dalam-shalat–bagian-3-.html

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk” (QS. Al Baqarah [2]: 43)

Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang memerintahkan orang-orang Yahudi untuk mensyukuri nikmat, menepati janji, dan tidak mencampur-adukkan kebenaran dengan kesesatan. Sebagai kelanjutan, ayat ini menambahkan tiga perintah lainnya, yaitu mendirikan shalat, membayar zakat, dan tunduk patuh beragama bersama semua muslim.

Pertama, perintah shalat. Kata shalat dan derivasinya diulang dalam Al Qur’an sebanyak 92 kali, dan hampir separuhnya menggunakan kata “dirikanlah,” bukan “kerjakanlah” shalat. Kata yang pertama mengandung makna yang lebih dalam, yaitu perintah melakukan shalat dengan kesungguhan, kekhusyukan, dan kesempurnaan, mulai dari aturan wudu sampai aturan yang wajib dan sunah di dalam shalat,  ketepatan waktu, dan kesempurnaan bacaan Al Qur’an, doa-doa, dan shalawat Nabi SAW.  

Menurut Prof. Dr. Said Agil Siroj, MA., perintah shalat bisa dikaji dari beberapa tinjuan. Dari segi sejarah, perintah shalat diterima Nabi ketika ia menerima sejumlah cobaan berat yang dialami secara bertubi-tubi selama setahun (‘amul huzni). Khadijah r.a, istri terkaya yang membiayai semua kegiatan dakwah Nabi meninggal dunia. Dialah istri yang juga pandai memilih kata motivatif ketika Nabi bersedih. Ketika air mata Nabi belum kering, Abu Thalib, sang paman yang non-muslim dan selalu pasang badan membelanya dari ancaman orang kafir, juga meninggal. Cobaan berikutnya, Nabi dan sejumlah sahabat kelaparan, akibat boikot bahan makanan oleh orang kafir. Karena tekanan itu, Nabi mencoba meninggalkan Makkah menuju kota Thaif untuk mencari ketenangan sejenak. Tapi, di luar dugaan, justru Nabi mendapat lemparan batu, termasuk oleh anak-anak penduduk setempat, sehingga muka Nabi terluka berat. Saat itulah, Allah memberi hiburan dengan memanggilnya ke langit tertinggi (isra’ mi’raj) untuk menerima perintah shalat. Dalam kondisi demikian, sangatlah relevan firman Allah berikut,

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan kesabaran dan shalat. Dan sungguh shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” (QS. Al Baqarah [2]: 45).   

Perintah shalat yang diterima Nabi SAW ketika berada di langit tertinggi (mi’raj) juga mengandung arti, bahwa siapa pun bisa menaikkan ruhnya ke langit melalui shalat. Inilah yang telah berhasil dilakukan oleh orang-orang pilihan setelah berjuang puluhan tahun membersihkan hatinya (khawashul khawash) untuk bertemu, bahkan “melihat” Allah secara langsung, sebagai hadiah kecil sebelum hadiah besar berupa perjumpaan dengan Allah dalam surga kelak. Allah SWT berfirman,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, memandang Tuhannya” (QS. Al Qiyamah [75]: 22-23).

Dari segi statusnya, shalat adalah ibadah tertinggi dalam Islam. Maka, pengaruh shalat harus mewarnai akhlak keseharian sebagai identitas seorang muslim. Jadi, kekhusyukan shalat harus menghasilkan juga kekhusyukan sosial.

Kedua, membayar zakat. Kekhusyukan shalat juga ditandai dengan kesediaan membayar zakat harta (mal) dan zakat badan (fitrah) secara tepat waktu, tidak ditunda-tunda, dan tepat ukurannya  sesuai dengan ketentuan agama. Perintah shalat dan zakat yang selalu beriringan menunjukkan, bahwa kemuliaan muslim ditentukan bagaimana ia bisa membangun kedekatan dirinya dengan Allah dan dengan lingkungan, juga menyeimbangkan kebersihan hati dan kebersihan harta dari hak-hak orang miskin yang harus diberikan.    

Ketiga, rukuk bersama para perukuk. Shalat dan zakat ternyata belum cukup untuk mengantar manusia menjadi muslim mulia. Masih ada satu lagi yang harus dilakukan, yaitu menyatu dengan semua muslim untuk bersama-sama membangun masyarakat yang tunduk kepada hukum-hukum Allah. Umat Islam tidak hanya dituntut meluruskan shaf ketika shalat, tapi juga shaf dalam membangun bangsa yang beradab dan berkemajuan (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).

Perintah rukuk bersama para perukuk dalam ayat ini sejatinya dialamatkan kepada orang Yahudi, sebab mereka tidak mengenal rukuk dalam ibadah mereka. Tapi, ayat ini juga berlaku untuk umum. Perintah ini juga sebagai sindiran untuk orang-orang munafik, yang hanya mendengungkan kebaikan, tapi tidak melakukannya. Orang-orang Yahudi mengakui Muhammad sebagai Nabi yang khusus untuk bangsa Arab.

“Warka-uu ma’ar raaki-‘in” yang menjadi penutup ayat ini juga dijadikan dasar perintah shalat berjamaah. Memang, ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat berjamaah, tapi mereka satu pendapat, bahwa shalat berjamaah sebagai ibadah yang mulia. Menurut Ibnu Abdil Barr, hukum shalat berjamaah adalah fardhu kifayah. Sedangkan menurut Adh Dhahiri dan Imam Ibnu Hanbal, hukumnya fardhu ain, dan menurut pendapat ulama terbanyak, hukumnya adalah sunnah muakkadah (amat sangat dianjurkan). Hamka menyatakan, firman Allah ini adalah teguran untuk muslim yang berpandangan, “Yang penting, saya telah melakukan shalat, tidak harus bercampur dengan orang-orang di masjid.”

M. Quraish Shihab mengatakan, ayat ini mengajarkan tiga jenis kewajiban yang saling terkait, yaitu shalat sebagai kewajiban badaniyah (fisik), zakat sebagai kewajiban maliyah (harta), dan rukuk sebagai kewajiban imaniyah (keimanan), yaitu tunduk sepenuhnya kepada Allah. Hamka menambahkan, hanya dengan shalat yang khusyuk, dan zakat yang menghapus sifat kikir, seseorang dapat menyambungkan hatinya dengan masyarakat, khsususnya orang-orang miskin, yang telah diperas tenaganya, atau terhimpit ekonominya karena riba.

Sekali lagi, melalui ayat ini, kita tingkatkan usaha kita untuk meraih 3 K, yaitu kekhusyukan, kedermawanan, dan kebersamaan dalam semua lini pembangunan masyarakat.

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 1, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 190 (2) M. Qureish Shihab, Tafsir Al Misbah, vol. 1, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 215-217, (3) M. Sholeh Qosim dan A. Afif Amrullah, Tuntunan Shalat Seperti Nabi SAW, LTM PBNU, Jakarta cet 13 2020, p. iv-x.