Header

Author Archives: admin_tsb

ALUMNI NERAKA

September 3rd, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

ALUMNI NERAKA
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, “Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah [2]: 201)

Ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya yang menjelaskan adanya orang-orang yang memohon kenikmatan dunia semata ketika berhaji. Maka, sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan doa terbaik adalah yang berisi permohonan kenikmatan dan keselamatan dunia dan akhirat.

Menurut Ibnu Abbas r.a, beberapa penduduk Arab pedalaman, ketika wukuf di Arafah, memohon, “Wahai tuhan kami, jadikan tahun ini tahun banyak hujan, tahun kesuburan, dan tahun banyak anak yang tampan.” Mereka tidak meminta sama sekali yang berkaitan dengan akhirat. Lalu, datanglah beberapa orang mukmin yang berdoa untuk kepentingan dunia dan akhirat. Maka turunlah dua ayat tersebut untuk menunjukkan doa yang terbaik. 

Inilah doa yang paling lengkap dan sering dibaca Nabi SAW. Melalui doa dalam ayat ini, kita memohon: (1) kebaikan (hasanah) di dunia, yaitu rizki yang melimpah, ilmu yang menambah prestasi dan keimanan, keluarga bahagia, kesehatan, dan akhlak yang mulia, (2) kebaikan (hasanah) di akhirat, yaitu kemudahan dalam pengadilan akhirat, serta masuk surga bersama Nabi SAW, dan (3) masuk surga tanpa harus melewati siksa neraka karena masih adanya dosa yang belum terampuni. Kelompok ketiga inilah yang dijelaskan hadis berikut,

عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ اَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَاَهْلُ النَّارِ النَّارَ ثُمَّ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى أَخْرِجُوْا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ اِيْمَانٍ فَيُخْرَجُوْنَ مِنْهَا قَدِ اسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِى نَهْرِ الْحَيَاءِ اَوِالْحَيَاةِ فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا تَنْبُتُ الْحَبّةُ فِى جَانِبِ السَّيْلِ اَلَمْ تَرَ اَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً رواه البخارى

Abu Sa’id Al Khudriy r.a berkata, “Rasulullah SAW bersabda, kelak semua penghuni surga akan memasuki surga, dan penghuni neraka memasuki neraka. Lalu, Allah SWT memerintahkan (para malaikat), “Keluarkan dari neraka orang yang dalam hatinya terdapat sebesar atom keimanan!” Maka, mereka dikeluarkan dalam keadaan fisik yang hitam terbakar. Mereka lalu dimandikan di sungai penghapus rasa malu (nahrul haya’), atau sungai pemberi kehidupan yang baru (nahrul hayah). Maka, mereka berubah (menjadi putih) seperti biji yang tumbuh di tepi sungai. Tidakkah engkau saksikan tumbuhan itu menjadi kuning, melengkung nan indah? (HR. Al Bukhari)

Mereka yang dikeluarkan dari neraka ini oleh penghuni surga disebut “Al Jahannamiyyun” atau “alumni neraka” (HR. Al Bukhari dari Anas bin Malik r.a). Semua alumni itu dimasukkan ke surga secara bertahap, dan orang yang terakhir dikeluarkan berjalan dengan merangkak. Ketika diperintah Allah masuk surga, ia kembali menghadap Allah, karena terlihat olehnya surga sudah penuh. Begitulah sampai tiga kali. Lalu, Allah meyakinkan, “Masuklah ke surga yang luasnya sepuluh kali dari luas dunia!” Ia terkejut kegirangan, “Wahai Allah, Engkau Rajadiraja, apakah Engkau menyindir atau menertawai saya?” Nabi menceritakan peristiwa ini dengan tersenyum sampai gigi gerahamnya terlihat, lalu bersabda,

ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً

“Itulah tingkatan terendah untuk penghuni surga” (HR.  Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud, r.a)

Di antara para alumni neraka itu, ada orang mukmin yang memohonkan pertolongan untuk temannya yang masih belum dikeluarkan. Ia bersaksi, teman itu berpuasa, shalat dan haji bersamanya. Lalu, Allah memerintahkan agar teman itu diajak keluar. Allah memerintahkan lagi, “Cari orang-orang lainnya yang di dalam hatinya terdapat sekecil atom keimanan untuk diajak keluar dari neraka.” Maka, berduyun-duyunlah mereka keluar dari neraka. Abu Sa’id Al Khudriy, pembawa hadis ini mengatakan, inilah bukti limpahan kasih Allah kepada hamba-Nya, sebagaimana dijanjikan dalam Al Qur’an,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

“Sungguh Allah tidak bertindak zalim sekecil atom pun. Jika ada kebaikan sekecil atom, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberi pahala yang besar dari sisi-Nya” (QS. An Nisa: 40). Allah lalu berfirman,

شَفَعَتِ الْمَلَائِكَةُ ، وَشَفَعَ النَّبِيُّوْنَ ، وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُوْنَ ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

 “Malaikat telah memberi syafa’at (pertolongan), demikian juga Nabi dan orang-orang mukmin. Maka tinggallah (Aku) Yang Maha Pengasih, (pasti lebih besar pertolongan-Ku kepadanya).”

Kemudian Allah menggenggam satu genggaman dari neraka dan mengeluarkan semua orang yang tak punya pahala kebaikan sedikit pun (kecuali kalimat la ilaha illallah). Mereka telah menghitam karena lama terbakar, lalu diputihkan dengan sungai kehidupan agar tidak malu ketika memasuki surga (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al Khudriy, r.a).    

Abu Hurairah, r.a berkata, Nabi SAW bersabda, “Ada orang yang tidak membawa kebaikan sama sekali ketika meninggal. Semasa hidupnya, ia hanya suka memberi pinjaman. Kepada juru tagihnya, ia selalu berpesan agar memudahkan penagihan, bahkan membebaskan hutangnya, jika benar-benar tidak mampu, dengan harapan mendapat pembebasan dari neraka. Ketika meninggal, Allah bertanya tentang kebaikan yang pernah dilakukan, dan ia hanya bercerita tentang pembebasan hutang. Maka, Allah berfirman, “Sungguh, Aku telah membebaskanmu.”

Hanya ada satu kunci memasuki surga, yaitu kalimat la ilaha illallah. Tapi, tak ada jaminan kita bisa memasukinya secara langsung. Ada tiga cara agar memasuki surga tanpa harus menjadi alumni neraka. Pertama, hentikan dosa mulai sekarang dan perbanyak istighfar dan perbuatan baik penghapus dosa, sehingga tidak tersisa satu pun dosa yang belum terampuni ketika kita berpulang. Kedua, perbanyak shalawat Nabi. Ketiga, lebih seringlah berkumpul dengan ulama, ustad, dan orang-orang saleh agar mereka menjadi saksi atas kebaikan kita. Keempat, bebaskan manusia dari kemiskinan, kecemasan, ketakutan, kelaparan, kebodohan dan semua jenis penderitaan lainnya, agar kita layak dibebaskan dari semua derita akhirat.

Referensi: (1) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 1, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p 531-532 (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 2, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 142-144, (3)  Hasbi As-Shiddiqi,  2001 Mutiara Hadis, jilid 1, p. 470.

KIAT SABAR

August 30th, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

KIAT SABAR
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اصۡبِرُوۡا وَصَابِرُوۡا وَرَابِطُوۡا وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian, kuatkanlah kesabaran, dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu), serta bertakwalah kepada Allah, agar kalian berbahagia.” (QS. Ali Imran [3]: 200)

Inilah ayat penutup surat Ali Imran yang berisi perintah sabar, bela negara, dan takwa. Ayat ini dijadikan penutup surat, sebab pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan beratnya tantangan menyebarkan agama karena banyaknya orang munafik, dan kekuatan musuh yang sangat tangguh. Maka, pada ayat ini, orang Islam diperintahkan untuk memiliki kesabaran, keuletan dan komitmen bela negara lebih dari yang dimiliki musuh. Hamka mengatakan, “Hanya penyelam yang tahan lama di dasar laut yang bisa mengambil mutiara. Hanya orang yang sabar, tangguh dan ulet yang sukses dunia akhirat.”

Secara tidak langsung, ayat ini menjelaskan, kesabaran hanya bisa diperoleh dengan usaha yang sungguh-sungguh dan kontinyu. Allah berpesan, “Bersabarlah dan kuat-kuatkanlah untuk bersabar.” Mengingat beratnya kesabaran, maka kita diperintahkan untuk memohon bantuan Allah. Ia mengajarkan kita berdoa, “Wahai Allah kosongkanlah kesabaran (di langit, lalu tuangkanlah di hati) kami, dan wafatkanlah kami sebagai muslim (sejati)” (QS. Al A’raf [7]: 126). Abu Hurairah, r.a mengatakan, raihlah kesabaran, sebab ia kunci untuk meraih pahala yang tak terbatas. “Sungguh, hanya orang-orang yang sabarlah yang diberi pahala tanpa batas” (QS. Az Zumar [39]: 10). Ali bin Abi Thalib, r.a juga mengatakan, kesabaran itu seperti kepala dalam tubuh. Jika kepala sudah tidak ada, maka busuklah jasad kita. Jika tidak ada kesabaran, pasti rusaklah akhlak kita, dan hancurlah masyarakat kita.

Dalam hitungan Imam Al Ghozali, terdapat 70 ayat tentang perintah sabar. Bahkan, ayat perintah memohon pertolongan berupa kesabaran dan shalat diulang dua kali dalam surat yang sama (QS. Al Baqarah [2]: 45 dan 153). Nabi SAW dan para sahabat membaca Surat Al ‘Ashr setiap mengakhiri pertemuan, karena di dalam surat itu terdapat perintah untuk saling menguatkan kesabaran.

Secara garis besar, ada tiga macam sabar, yaitu sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar menjauhi larangan-Nya, dan sabar menghadapi musibah. Dengan versi yang berbeda, Ali bin Abi Thalib, r.a juga menyebutkan dua macam sabar. Pertama, sabar menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya sakit, miskin, doa yang lama belum dikabulkan Allah, dan sebagainya. Kedua, sabar terhadap sesuatu yang diinginkan. Misalnya, ingin makan dan minum, tapi tidak dilakukan, sebab belum lapar, atau demi orang lain yang lebih membutuhkan. Uraian kali ini fokus tentang sabar menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan. 

Ada empat kiat sabar menghadapi kenyataan yang tidak kita inginkan. Pertama, sisi-sisi positif dari kejadian itu harus dicari. Jika sisi positif itu sudah ditemukan, maka Anda akan lebih mudah untuk bersabar, bahkan bersyukur kepada Allah. Misalnya, dalam perjalanan menuju tempat berlibur, Anda bersama istri dan anak terjatuh dari motor, sehingga mengalami luka berat dan patah tulang. Lalu, Anda kembali pulang. Beberapa saat kemudian, ada berita musibah besar, yaitu tanah longsor yang merenggut ratusan nyawa pengunjung. Anda pasti bersyukur, sebab andaikan tidak mengalami kecelakaan, maka Anda sekeluarga ikut terkubur dalam longsoran tanah itu. Jadi, seringkali sebuah musibah diberikan Allah untuk menyelamatkan manusia dari musibah yang lebih besar.  

Al Qur’an juga mengajarkan mencari sisi postif dalam segala hal, termasuk dalam kehidupan rumah tangga, “Dan janganlah kamu melupakan kelebihan (pasangan) di antara kamu. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Baqarah [2]: 237). Baca juga QS. An Nisa’ [4]: 19. Suatu contoh, di saat istri menjengkelkan Anda, segera ingatlah sisi positif istri Anda. Misalnya, “Istriku memang sering marah, tapi dialah yang paling sabar merawat ibuku sekian tahun.” Ketika tetangga mencaci Anda dengan keji, maka jangan lupa, bahwa rumah Anda pernah nyaris terbakar, andaikan tidak cepat dipadamkan tetangga itu.

Kedua, tauhid harus diperkuat, yaitu keimanan bahwa hanya Allah yang mengatur alam semesta ini. Imam Al Fasyani berkata, “Pada hakikatnya, tidak ada pelaku kejadian di dunia ini selain Allah. Jika ada orang datang mencaci Anda, maka Allah lah yang mengirim orang itu untuk menguji keimanan Anda. Jika Anda marah kepadanya, berarti Anda marah kepada Allah.” Jika sadar demikian, lalu beranikah Anda jengkel kepada Allah?

Ketiga, sebab-sebab yang mendorong terjadinya peristiwa yang menjengkelkan itu harus dicari. Jika Anda sakit, bisa jadi akibat kurang olah raga, atau porsi makan Anda yang tidak terkontrol. Jadi, jangan “salahkan” Allah atas penyakit itu. Ketika karyawan Anda salah menjalankan perintah, jangan-jangan diakibatkan perintah Anda yang kurang jelas. Misalnya, perintah itu tidak tertulis dengan jelas, atau hanya disampaikan secara lisan, sehingga kurang didengar oleh karyawan itu. Jadi, jangan tergesa-gesa menyalahkan orang.

Keempat, gunakan kata “belum” sebagai ganti kata “tidak.” Jika anak Anda gagal ujian, jangan katakan “tidak” lulus, tapi katakan, “belum” lulus. Yakinlah, suatu saat, ia lulus. Ia bukan “tidak” berhasil, tapi “belum” sukses. Bukan gagal, tapi hanya sukses yang tertunda.

Contoh lain, gunakan kata “belum” untuk suami Anda yang tidak bekerja. Yakinlah, bahwa  suatu saat, ia akan menghasilkan rizki untuk kebutuhan keluarga. “Hidup Masih Koma, Belum Titik,” itulah judul sebuah buku. Mungkin juga, istri Anda “belum” bisa berbicara sopan dengan mertua. Itu kan sekarang?! Hidup selalu berproses. Yakinlah, ia tidak selamanya bersikap kasar kepada orang tua. Anda juga dituntut bersabar menunggu perubahan seseorang. Sebab, perubahan memerlukan waktu. Allah SWT bisa saja menciptakan alam semesta hanya dalam sedetik. Tapi, Allah menciptakannya selama enam hari, semata-semata untuk mengajarkan kasabaran menuggu sebuah proses.

Empat kiat meraih kesabaran tersebut, agar mudah diingat, saya singkat SITA SEBEL (Sisi positif, Tauhid, Sebab, dan Belum). Selamat berproses menjadi manusia yang lebih tenang, sejuk dan sabar. Sikap positif inilah yang paling membahagiakan keluarga dan paling besar pengaruhnya terhadap kekebalan Anda melawan berbagai penyakit.   

Referensi: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 4, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 210-211 (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 2, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 387-390, (3) Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, UIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 2015, cet. X, p. 152 (4) Moh. Ali Aziz, Doa-Doa Keluarga Bahagia, Penerbit Kun Yaquta Foundation dan PT Duta Aksara Mulia, Surabaya, 2014, cet. III, p. 110.

BERUBAHLAH

August 20th, 2021 | Posted by admin_tsb in Artikel - (0 Comments)

BERUBAHLAH
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag.

sumber gambar: https://probonoaustralia.com.au/news/2018/04/sponsoredcontent-introducing-definitive-nonprofit-sector-change-management-masterclass/

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sungguh, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu komunitas sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar ra’d [13]: 11)

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kekuasaan dan kemurahan-Nya. Ayat ini menunjukkan lanjutan kemurahan Allah itu, yaitu Ia mengutus empat malaikat untuk menjaga keselamatan manusia, dan Allah juga memberi pertolongan kepada manusia yang berkemauan merubah nasibnya.

Hampir pada setiap waktu dan tempat, manusia menghadapi ancaman bahaya. Bisa saja, makanan lezat yang dikonsumsi membawa kematiannya, disebabkan kuman dan bakteri yang membahayakan, di luar dugaan, ikut masuk ke dalam perutnya. Bisa juga malapetaka terjadi ketika seseorang tidur nyanyak di atas kasur empuknya. Lalu, gempa dahsyat merobohkan rumah dan menggencet semua anggota keluarganya. Di jalan raya, di tempat kerja, di tempat rekreasi, dan di mana pun, selalu ada ancaman bahaya. Untuk menjaga Anda dari bahaya itu, Allah mengutus dua malaikat di depan dan di belakang Anda pada siang hari, dan dua lainnya pada malam hari. Empat malaikat itulah yang disebut Mu’aqqibat dalam ayat ini.

Dengan penjagaan malaikat pengawal itu, seringkali terjadi keajaiban yang disebut ‘inayatullah, yaitu pertolongan Allah di luar nalar manusia. Sedangkan kejadian yang sesuai dengan nalar manusia disebut sunnatullah. Misalnya, ketika seseorang tertubruk mobil dan meninggal di tempat, maka inilah sunnatullah. Tapi, jika ia tertubruk dan terlempar ke sungai, sehingga masih hidup, dan hanya patah tulang, maka itulah ‘inayatullah. Ia dilemparkan malaikat atas perintah ke sungai, sebab Allah masih menghendaki tambahan umur baginya. Tapi, kadangkala Allah melarang dua malaikat itu memberi perlindungan, jika Allah memang menghendaki yang bersangkutan meninggal saat itu.

Dalam ayat ini, sacara tersirat, Allah menunggu perubahan apa yang kita lakukan, sebelum Allah menentukan takdir-Nya. Jika Anda ingin mendapat kakayaan, maka Allah menunggu, apakah mindset dan cara kerja Anda sudah berubah. Jika cara berpikir dan pola kerja Anda tetap seperti semula, maka secara sunnatullah, tidak akan perubahan pada ekonomi Anda.

Ketika Anda mengharapkan jodoh, Allah juga menunggu apakah sikap Anda  masih tetap, tak berubah, yaitu melihat orang hanya pada kekurangannya? Allah juga menunggu apakah akhlak Anda yang tercela, bahkan berbicara yang selalu menyakitkan hati orang itu masih berlanjut, ataukah sudah berubah menjadi orang yang lembut dan terpuji. Jika tidak, maka Allah juga tidak akan merubah keadaan masa depan Anda.

Dalam lingkungan keluarga, Allah juga menunggu perubahan sikap Anda terhadap istri, ketika Anda mengharapkannya berubah menjadi istri yang lebih terpuji. Jika Anda tetap kasar, atau, misalnya, merahasiakan banyak hal, sampai mengharamkan istri membuka HP Anda, atau hal-hal lain yang seringkali menjengkelkan istri, tetap saja, tak berubah sama sekali, maka Allah juga tidak akan merubah istri sesuai harapan Anda. Mulailah merubah diri sendiri, sebelum mengharap orang lain berubah.

Kita selalu memohon kebahagiaan dunia akhirat. Maka, sekali lagi, Allah menunggu perubahan kita dalam menyikapi kehidupan. Jika kita terus mengeluh, kurang bersyukur, dan kikir sedekah untuk membahagiakan orang, maka Allah terus menunggu perubahan kita sebelum Allah membuat keputusan tentang diri kita.   

Kata “kaum” atau “komunitas” dan “mereka” pada ayat ini mengisyaratkan, bahwa perubahan bisa terjadi jika didukung banyak pihak. Ayat ini secara tidak langsung membenarkan kepemimpinan SAW. Sekalipun, ia bisa saja langsung meminta petunjuk Allah tentang langkah-langkah perjuangan membangun masyarakat, tapi ia selalu berkonsultasi atau mencari dukungan dari para sahabat seniornya, terutama Abu Bakar As Shiddiq ra., Umar bin Khattab r.a., Usman bin Affan r.a, dan Ali bin Abi Thalib, r.a. Perubahan tidak bisa dilakukan Nabi SAW seorang diri.

Perlunya kebersamaan itu juga tersirat dalam kata “kami” pada surat Al Fatihah ayat 6, “Tunjukkan “kami” jalan yang lurus.” Bukan, “Tunjukkan “saya” jalan yang lurus.” Dengan terjemahan bebas, melali QS Al Fatihah ayat 6 ini, kita memohon, “Wahai Allah, jadikan kami sekeluarga bahu-membahu untuk menjadi manusia yang terbaik.”

Tidak hanya itu, kebersamaan itu diisyaratkan juga dalam doa tasyahud, “Assalaamu ‘alainaa ‘wa’alaa ‘ibaadillaahis shaalihin.” (Wahai Allah, berikan kami keselamatan bersama semua hamba-Mu yang saleh.” Melalui doa ini, kita bertekad untuk bergandengan tangan dengan semua orang-orang saleh menuju kemuliaan, baik yang masih hidup, maupun yang telah wafat dengan doa.

Mulai hari ini, setiap bangun pagi, bersumpahlah untuk berubah menjadi orang yang lebih baik, minimal untuk hari itu. Yakinlah, Allah akan memberi takdir terbaik setelah mendengar tekad dan sumpah perubahan kita itu.

Sumber: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, juz 13-14, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 70 (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 6, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 228-240