Header

CARA SHALAT GERHANA

May 25th, 2021 | Posted by admin_tsb in Lain-lain

CARA SHALAT GERHANA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”


A. Bukti Kekuasaan Allah. Gerhana adalah fenomena alam biasa, yang terjadi secara rutin beberapa kali dalam setiap tahun, sebagai bukti kekuasaan Allah. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah menyembah matahari maupun bulan. Tapi, sembahlah Allah Yang menciptakannya, jika hanya Dia yang kamu sembah” (QS. Fusshilat [41]: 37). “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu benar. Tidak cukupkah bahwa Tuhanmu benar-benar menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fusshilat [41]: 53). Jadi, gerhana matahari (kusuf) dan gerhana bulan (khusuf) sama sekali bukan pertanda adanya bencana, penyakit, dan sebagainya.


B. Dasar dan Hukum Shalat Gerhana. Nabi SAW bersabda, ”Sungguh matahari dan bulan adalah termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana itu tidaklah terjadi karena mati dan hidupnya seseorang. Maka, jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah, dan shalatlah” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari ’Aisyah, r.a).
Hukumnya: sunah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi laki-laki dan perempuan. Shalat gerhana diperintahkan mulai tahun 2 H.


C. Waktu Shalat: mulai muncul gerhana sampai selesai. Shalat tetap sah, sekalipun di tengah pelaksanaan shalat, gerhana sudah berakhir. Boleh juga dilakukan pada waktu-waktu terlarang shalat, yaitu setelah shalat subuh dan shalat ashar, dan sebagainya.


D. Cara Shalat: sebanyak dua raka’at, dengan dua rukuk dan dua sujud pada masing-masing raka’at. Caranya: (1) niat dalam hati ketika mengangkat tangan pada takbir pertama, (2) membaca Al Fatihah dan Surat Al Qur’an, (3) rukuk, (4) i’tidal, dan membaca Al Fatihah dan Surat Al Qur’an, (5) rukuk, (6) i’tidal, (7) sujud, (8) duduk di antara dua sujud, (9) sujud kedua, (10) berdiri untuk rakaat kedua, dengan cara yang sama dengan raka’at pertama, (11) tasyahud, (12) salam.


E. Beberapa Anjuran (bukan wajib): (1) mandi sebelum shalat, (2) dikerjakan secara berjamaah di masjid. Bisa juga di rumah, dengan berjamaah atau sendirian. Jika sendirian, maka tanpa khutbah, (3) tidak ada azan dan iqamah, hanya panggilan “as-shalaatu jaami’ah” (marilah kita shalat berjamaah), (4) khutbah (satu atau dua khutbah) setelah shalat. Jika semua jamaahnya perempuan, boleh khatibnya perempuan, (5) imam mengeraskan bacaan Al Qur’an, (6) mandi sebelum shalat, (7) memanjangkan bacaan Al Qur’an (kira-kira 80-100 ayat), sedangkan bacaan Al Qur’an pada raka’at kedua lebih pendek daripada rakaat pertama. Shalat dengan hanya membaca Al Fatihah tetap sah, (8) memanjangkan rukuk dan sujud dengan mengulang lebih banyak doa di dalamnya (kira-kira sepanjang bacaan 50-100 ayat), (9) memperbanyak doa, zikir, takbir, sedekah dan perbuatan baik lainnya.

Surabaya, 24-05-2021

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *